Saturday, April 18, 2009

Dihujat Karena Melanggar Tabu

Oleh Muhamad Sulhanudin

Masyarakat kerap mengecap seorang pengarang sesat lantaran karyanya dianggap menyimpang.

“Resfreshing itu sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.”

Tuhan menggeleng-gelengkan kepala membaca petisi yang ditulis para nabi di surgaloka. Dipanggillah Muhammad dari Madinah, Arabia karena tercantum sebagai penandatangan pertama.

Setelah menghadap Tuhan dan menyampaikan alasannya untuk turba ke bumi, Muhammad akhirnya diizinkan Tuhan untuk melakukan riset dengan ditemani Jibril. Di tengah jalan, buroq –kuda sembrani– yang ditunggangi Muhammad dan Jibril tertabrak sputnik Rusia. Muhammad dan Jibril terpental. Beruntung ia tersangkut di gumpalan awan yang empuk.

Setelah berdiskusi cukup lama dengan Jibril, akhirnya mereka turun ke Jakarta dengan menyamar sebagai elang. Dari atas pasar Senin Jibril dan Muhammad mendapati para pelacur sundal sedang bersolek. Di bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang kena raja singa. Di mana-mana penyakit Nasakom telah menjangkiti setiap orang di mana umat muslim terbesar bermukim di negara ini.

****

Langit Makin Mendung adalah cerpen karangan Ki Pandjikusmin. Diterbitkan di Majalah Sastra Th. VI No.8, Agustus 1968. Muhammad dalam cerpen Langit Makin Mendung tentu saja tokoh rekaan seperti halnya tokoh-tokoh dalam karya fiksi pada umumnya. Begitu pula dengan Tuhan, Jibril dan nama-nama lainnya tak lebih dari tokoh fiktif belaka. Menurut HB Jasssin yang menjadi penanggungjawab Majalah Sastra, Pengarang hanya menggambarkan ‘ide tentang Tuhan dan Nabi’, bukannya menggambarkan Tuhan atau Nabi yang sebenarnya.

Namun cerpen itu dianggap telah menghina Islam. Penggambaran Muhammad apalagi Tuhan, haram hukumnya. Jassin dituntut ke pengadilan karena tak mau membuka identitas Ki Pandjikusmin. Sebagai konsekwensinya, Majalah Sastra dilarang terbit. Jassin menganggap tuduhan menghina Islam terlalu berlebihan. Baginya kenyataan kreatif tak identik dengan kenyataan obyektif.

Bagi Wiratmo Sukito cerpen Langit Makin Mendung secara capaian artistik jelek dan merupakan kitsch. Tapi ia tak membenarkan tindakan Kejaksaan Tinggri Sumatera Utara yang memberangus Majalah Sastra karena di dalamnya terdapat karangan yang dianggap menghina islam. Dalam dunia sastra, menurut Wiratmo, yang berhak melakukan pengadilan sastra tak lain adalah kritikus sastra yang memiliki integritas sastra yang besar.

Dalam artikel “Seniman Islam di Tengah Masyakat Modern” (Minggu Indonesia Raya, 22 Desember 1968) HB Jassin mengkritik sikap tidak toleran masyarakat kita yang suka melakukan pelarangan. Dalam kaitanya dengan sastra dan kesenian, Jassin mengharapkan adanya peningkatan penghayatan para seniman atas ajaran agama, sehingga mereka dapat menyampaikan sesuatu yang tidak bertentangan dengan akidah agama tanpa menghilangkan kemerdekaan mencipta.

Di sisi lain, Jassin juga mengharapkan akan lahirnya kritikus yang dengan pengetahuan agamanya dapat menilai karya-karya seniman Islam dari sudut keislaman tanpa menghadapkan paksaaan kepada kebebasan mencipta.

Menutup artikelnya itu, Jassin menulis “Apabila (sebagian) golongan Islam tidak merubah sikapnya terhadap seniman, maka saya kuatir para seniman pada suatu ketika akan terjadi perpisahan antara seniman dan masyarakat islam, perpisahan yang mungkin meruncing menjadi permusuhan yan tak ada gunanya malahan akan merugikan kedua belah pihak.”

Bahrum Rangkuti yang tampil sebagai pembela Jassin, berdebat sengit dengan Hamka di kubu yang menentang pemuatan cerpen Langit Makin Mendung. Bahkan ketika hakim bertanya kepada Hamka yang waktu itu menjadi penanggungjawab majalah Pandji Masjarakat, apakah ia akan memuat cerpen Ki Pandjikusmin jika dikirim ke majalahnya, “Murtad dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat,” jawab Hamka. Meski Hamka secara tegas menentang pemuatan cerpen itu, tapi Hamka minta hakim membebaskan Jassin.

Selain Wiratmo Sukito, Bahrum Rangkuti dan Hamka masih banyak nama-nama besar lain yang terlibat dalam debat pro-kontra pemuatan cerpen Langit Makin Mendung di Majalah Sastra pimpinan HB Jassin itu. Pro kontra ini setidaknya berlangsung selama tiga tahun (1968-1970) dengan pembahasan secara intens dari topik seni, agama hingga masalah sosial, filsafat dan politik.

Oleh majlis hakim, seperti dikutip dari “Pledoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung” (Melibas, 2004) HB Jassin divonis hukuman satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Jassin naik banding. Namun hingga Jassin meninggal, ia sendiri belum pernah menerima surat vonis dan tak mengetahui keputusan pengadilan tinggi.

***

Pelarangan karya sastra karena dianggap melanggar ajaran agama juga menimpa Muhidin M Dahlan. Tahun 2005 ia mendapatkan surat somasi dari Majlis Mujahiddin Indonesia (MMI) karena dianggap telah menodai ajaran agama Islam lewat novelnya Adam dan Hawa (Scriptamanent, 2005). Bahkan oleh MMI surat somasi itu juga ditembuskan kepada Polda Metro Jaya. Jika dalam waktu 7×24 jam penulis tak menarik bukunya dari peredaran dan memusnahkan, maka akan dituntut secara hukum.

Dalam Adam dan Hawa dikisahkan jika Adam tidak diciptakan dari tanah liat sebagaimana yang dimaktubkan dalam Al Qur’an, tapi dari ketiak Tuhan. Karena keluar dari ketiak tuhan, maka Adam menyebut dirinya sebagai putra tuhan. Selain itu juga dikisahkan bahwa Hawa bukanlah perempuan pertama yang diciptakan Tuhan untuk Adam. Perempuan pertama yang dipertemukan dengan Adam adalah Maia. Adam digambarkan sebagai pribadi yang haus seks. Tiap hari ia minta Maia meladeni hasratnya. Tapi lama-lama Maia mengeluhkan sikap Adam yang dominan dan suka memerintah. Karena ogah terus-terusan diposisikan di bawah ketika bersetubuh dengan Adam, Maia diusir dari Taman Eden. Lalu datanglah Hawa sebagai pengganti Maia.

Terusirnya Maia dari Taman Eden menyimpan dendam yang kelak akan dibalaskan oleh anak perempuannya, Marfuah. Marfuah adalah anak hasil hubungan Maia dengan Idrus, adik Adam. Marfuah bersiasat untuk membangkitkan birahi Adam hingga pamannya yang sudah uzur itu kehabisan tenaga. Di saat itulah Marfuah segera menghujamkan senjata yang telah dipersiapkan ke tubuh Adam hingga tewas bersimbah darah.

Semua peristiwa dalam novel ini diceritakan dengan bahasa yang kocak, garang dan dengan imajinasi liar penulisnya.

Jauh hari sebelum Muhidin menulis Adam dan Hawa, tahun 1957 AA Navis dengan imajinasi liarnya menggambarkan kehidupan alam kubur melalui cerpen Man Robbuka. Kalimat “Man Robbuka” dalam ajaran Islam diajarkan sebagai pertanyaan pertama yang akan ditanyakan oleh malaikat penjaga kubur ketika seseorang meninggal. Artinya, siapa tuhanmu?

Dua tokoh Jamain dan Jamalin memiliki karakter yang bertolak belakang. Jamain suka madat dan main perempuan dan Jamalin rajin beribadah. Tapi di akherat Jamalin yang saleh dimasukkan ke neraka, sedang Jamain yang durhaka malah masuk syurga.

Ketika malaikat penjaga kubur menanyai Jamain “Siapa Tuhanmu?” Jamain mengira pertanyaan itu “Apa yang kau bawa?” Waktu itu Jamain sedang dalam keadaan teler. Sebelum meninggal Jamain telah berpesan kepada teman-temannya untuk ikut menguburkan semua barang madat yang ia punya selama hidup di dunia, termasuk majalah-majalah pornonya.

Mendapati jawaban yang aneh, malaikat menjadi bingung. Selanjutnya Jamain malah menawari malaikat ganja dan mengajari cara menikmatinya. Setiap kali datang ke kubur Jamain, malaikat lupa akan tugas yang telah dititahkan tuhan kepadanya. Tiap kali datang, oleh Jamain malaikat diajak sakau. Giliran mendatangi Jamalin yang kuburnya bersebelahan dengan Jamain, malaikat masih terpengaruh oleh ganja yang diberikan Jamain. Karena itu, malaikat salah memasukkan Jamain ke syurga dan Jamalin ke neraka.

Cerita mengenai kehidupan akherat dalam karya fiksi juga dilakukan oleh Jamil Suherman melalui novel tipisnya Perjalanan ke Akherat yang diterbitkan tahun 1963. Memang tak sevulgar Man Robbuka karya Navis. Namun di sana ada penggambaran kehidupan setelah mati. Respon atas Man Robbuka dan Perjalanan Menuju Akherat juga tak seheboh respon masyarakat terhadap cerpen Langit Makin Mendung.

Perjalanan ke Akhirat semula merupakan cerita bersambung di Majalah Sastra, yang kemudian dinyatakan meraih hadiah kedua di majalah sastra bergensi itu tahun 1962. Setahun kemudian, karya ini diterbitkan sebagai buku oleh penerbit Nusantara, Bukittinggi, Jakarta. Cetakah kedua (1985) diterbitkan oleh Penerbit Pustaka, Perpustakaan Salman ITB, Bandung.

Perjalanan ke Akherat adalah sebuah novel keagamaan yang sebenarnya sarat dakwah, namun tetap menarik karena latar suasananya memang sangat mendukung keseluruhan cerita. Dikisahkan, Salim memberikan pembelaan ketika istrinya hendak dimasukkan ke neraka. Tapi oleh Tuhan dosa Salamah, istri Salim, tak bisa diampuni karena ia bunuh diri. Tuhan tak mengabulkan permintaan Salim. Baru setelah ibu Salamah datang memberikan pembelaan, atas dasar kasih sayangnya, akhirnya Tuhan membebaskan Salamah dari siksa api neraka.

Dari pertemuan itu akhirnya Salim tahu mengapa istrinya bunuh diri. Ternyata Kasim menjadi penyebab semua itu. Rupanya, Kasim yang seniman murtad itu berusaha menggoda Salamah hingga janda itu mata gelap dan terpaksa memilih perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan; bunuh diri.

Selain itu, Zikri yang juga harus mendapat siksa neraka karena perbuatan dosanya di dunia, mengisyaratan bahwa seorang haji atau seorang guru ngaji sekalipun tetap harus membayar mahal atas segala perbuatan dosanya di dunia.

Selain Perjalanan ke Akherat, Jamil Suherman juga menulis Muara (1958), Manifestasi (1963), Nafiri (1983), Ummu Kalsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985) dan Sakerah (1985).

Djamil merupakan penulis pertama dalam sastra Indonesia/Malaysia yang berani membicarakan secara langsung alam akhirat dalam bentuk novel. Dalam medium lainnya ada Asrul Sani dan Usmar Ismail dan tokoh-tokoh seniman Lesbumi, seperti dikutip dari esai HB Jassin (Minggu Indonesia Raya, 1968), beberapa tahun sebelumnya telah mengikutsertakan film dan teater sebagai alat dakwah untuk islam. Film Sehelai Rambut Dibelah Tujuh kala itu ditonton oleh umat islam dengan penuh minat. Tapi drama Iblis karya Muhamad Diponegoro di Yogya mendapatkan gangguan dari pihak-pihak yang tersinggung karena di sana ditampilkan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Iblis (Harian Kami, 1968).

Di era 60-an Djamil Suherman juga dikenal sebagai pengarang yang mengusung tema pesantren dalam karya fiksi. Namun rintisan Jamil tidak cukup berhasil, karena dengan layunya Jamil Suherman, maka mati pula gairah cerpenis pesantren. Cerpen atau novel khas pesantren baru muncul beberapa dekade kemudian. Menyebut salah satu diantaranya adalah Abidah El Khalieqy yang telah melahirkan sejumlah novel Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002) dan yang terbaru Geni Jora (2004).

Penolakan karya fiksi yang jangkuannya lebih luas karena dianggap menyimpang terjadi pada Satanic Verses karya Salman Rushdie yang diterbitkan tahun 1988. Keberatan atas karya itu datang dari umat muslim di berbagai negara. Bahkan Ayatullah Khomenei menyerukan agar penulis dihukum mati. Di sisi lain, keberatan juga datang dari pihak Vatikan melalui juru bicara Paus Yohanes Paulus II yang mengatakan bahwa Satanic Verses tak hanya melukai umat muslim tapi juga umat beragama lainnya. Meski mengecam karya itu, Paus menolak jika pengarangnya harus dihukum mati.

****

Agus Sunyoto menulis novel perjalanan bathin Syekh Siti Jenar. Dalam diskusi bukunya Suluk Malang Sunsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar yang merupakan jilid ke tujuh (LKIS, 2005), penulis mengatakan jika ada alasan politis di balik stigmatisasi yang dialamatkan oleh penguasa waktu itu kepada Syekh Siti Jenar. Menurutnya, ajaran wahdatul wujud atau dikenal manunggaling kawulo gusti, juga ditemukan dalam ajaran-ajaran Sunan Giri. Seperti dalam Serat Centhini yang juga menceritakan keturunan Sunan Giri, di dalamnya ada ajaran tersebut.

“Lalu jika Sunan Giri juga mengajarkan, kenapa yang dieksekusi cuma Siti Jenar. Jadi ada faktor politis sebenarnya,” terang Agus Sunyoto.

Syekh Siti Jenar adalah orang yang pertama kali melakukan perubahan sosial. Desa-desa “Lemah Abang” dari Cirebon, Kerawang sampai ke Jawa Timur dibuka oleh Siti Jenar. Oleh karena itulah Siti Jenar juga dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang. Siti Jenar kecil bernama San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh Isa Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan Alawi tersohor di Ahmadabad, India, yang berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dengan kota Tarim di Hadramaut.

Waktu itu masyarakat Jawa mengenal dua kelompok dalam masyarakat, yaitu “Gusti” dan “Kawulo”. Gusti adalah orang dalam keraton, kawulo orang di luar keraton. Orang Melayu mengatakan dirinya sahaya atau saya, itu sama artinya dengan kawulo yang berarti budak. Sebagai orang yang lebih berkuasa, gusti berhak atas apa yang dimiliki oleh kawulonya. Sehingga jika gusti berkehendak, maka kawulo tidak boleh menolak. Seperti ketika Gusti menghendaki ingin mempersunting gadis cantik anak si A, maka si A harus merelakannya.

Siti Jenar menyampaikan kepada orang desa-desa yang telah menjadi pengikutnya, bahwa mereka tidak boleh lagi menyebut dirinya dengan kawulo. Siti Jenar menyuruh murid-muridnya agar menyebut dirinya seperti raja, menyebut dirinya dengan “ingsun”. Siti Jenar juga memperkenalkan istiah-istilah Arab kepada para pengikutnya. Seperti kata rakyat dari ru’yah. Kemudian masyarakat dari musyarokah, yang artinya bekerjasama. Dalam pandangan Siti Jenar semua manusia itu sederajat.

“Kamu kan sederajat dengan raja,” kata Agus seolah menirukan Siti jenar. “Inilah yang membikin marah orang keraton. Karena itulah semua pengikut Siti Jenar ini disebut golongan “abangan”. Orang yang tidak punya toto kromo, nggak karu-karuan, sebutan itu dialamatkan kepadanya. Alasannya sebenarnya politis, bukan karena ajarannya sesat,” tambah Agus.

Memang kemudian Siti Jenar dicitrakan buruk sekali di masyarakat sebagai penyebar aliran sesat. Itu, kata Agus, karena semua babad yang ditulis di keraton antipati dengan Siti Jenar.

Dr. I. Kuntara Wiryamartana mengatakan, novel Agus Sunyoto tersebut akan bermasalah jika dibaca oleh mereka yang fanatik. Bagi mereka yang fanatik, islam itu harus dibersihkan dari pengaruh Jawa. “Mengerikan Jowo kurunge tauhid. Mau beli jawa kurunge tauhid? Jowo ki nggone berhala, nggone menyan, kuwi kudu di resi’i. Kan gitu. Tapi ini sangat berani. Mereka yang disindir di situ, terimo opo ora.”

Kuntara melihat ada teka-teki dalam novel karya Agus Sunyoto itu. Yakni seperti dalam bunyi “uninang-uninong”. Kuntara membacakan bagian yang dimaksud.

“Taukah Tuan Syaikh akan rahasia di balik kata ‘uninang-uninong’?” Abdul jalil tersenyum dan berkata, “Sungguh tinggi nilai pertanyaan tuan. Sebab jawaban dari itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi hanya bisa dibuktikan dengan kenyataan.” “Aku tidak paham dengan jawaban Tuan Syaikh. Jika kata ‘uninang’ dibaca, hasilnya bisa bermacam-macam tergantung siapa yang menafsirkan. Uninang bisa dimaknai nanang? yaitu kepala botak yang diketuk. Tergantung siapa yang menafsirkan.”

“Pernah baca suluk wujil?,” tanya mantan pengajar Sastra Jawa UGM yang sejak beberapa tahun lalu memilih mengundurkan diri dari almamternya dan tinggal di Giri Sonta, Ungaran.

“Sak kedep dumugi Mekah. Kalau ikut para wali itu cukup sujud dari Demak nggak perlu ke Mekah untuk naik haji. Ada padanan begitu dalam novel ini. Kalau bukan novel, ini sangat berbahaya, pengarang iso di…. hmmm…”

“Terus apalagi, ‘Tu Tu… Han Hantu’. Tuhan itu sisi baik, Hantu itu sisi buruk. Kalau orang tidak mau menikmati, pasti sudah mutah. Wes ngoyoworo opo iki,” tambah Romo Kun, panggilan I Kuntara. Meskipun demikian, Romo Kun mengaku menikmati pengalaman demi pengalaman yang dikisahkan oleh pengarang karena darinya ia bisa belajar banyak hal.

Agus Sunyoto mengakui ada reaksi ketidaksepakatan dengan isi novelnya. “Lho bukunya mas Agus kok modelnya seperti itu. Dianggap Tuhan itu milik semua orang. Milik semua bangsa, milik semua makluk. Itu kan nggak bener. Karena tuhan yang bener tuhan itu Alloh.”

Komentar-komentar itu memang tidak disampaikan secara langsung kepada Agus, tapi lewat saudara atau teman-temannya. Bagi Agus, dirinya hanya merefleksikan keyakinan orang-orang yang dipandang Syekh Siti Jenar seperti itu. Menurut Siti Jenar, semua makhluk, termasuk iblis tuhannya satu, Alloh. “Iblis itu nggak mau nyembah Adam karena Tuhan dia cuma Alloh saja. Jadi semuanya sama. Bahkan dalam Al Qur’an ditegaskan, burung yang terbang itu sedang bertasbih memuji Tuhan. Tuhan yang satu itu. Apakah orang itu memahami dengan persepsi yang berbeda-beda, itu sebenarnya tuhan satu,” terang Agus.

Ajaran Syekh Siti Jenar banyak disalahartikan oleh masyarakat. Itulah sebabnya, dia dicitrakan negatif. Menurut Lukman Hakim, Pemimpin Redaksi Tabloid Sufi, sejak zaman Ibnu Arabi, Jabir bin Hayat hingga Attirmidzi pada abad 2 Hijriyah, tidak ada satupun ulama tasawuf yang menyebut wahdatul wujud. Yang pertama kali memperkenalkan istilah itu adalah Ibnu Taimiyah karena menuduh aliran Ibnu Arabi wahdatul wujud.

Wahdatul wujud dalam bahasa Inggirs diterjemahkan menjadi Panteism. Isitilah itu mengacu pada kesatuan antara makhluk dengan Tuhannya. Orang yang telah mencapai tahapan ini akan menyebut dirinya adalah Tuhan karena Tuhan telah menyatu dalam dirinya. Tuduhan Ibnu Taimayah kepada Ibnu Arabi itu terus berlanjut. Dalam istilah kita dikenal “Manunggaling Kawulo Gusti”. Padahal yang manunggal itu wujud, bukan maujudnya. “Kalau wujud itu kan mustakhil. Kita itu nggak ada tuhan yang satu-satunya wujud. Kata ‘wahdah’ itu mengidhoahkan atau menyandarkan pada kata ‘maujud’.”

Dalam Al Qur’an disebutkan, pertama kali manusia akan ditanya oleh Tuhan, “Aku ini tuhanmu atau bukan?” Semua manusia mengatakan “Iya, bala syahidnaa.” Kata syahidnaa, kemudian muncul ashadu. Karena ini kesaksian jiwa. Kesatuan jiwa saja yang manunggal. “Tetapi kemudian difahami filsafat, kalau sudah memahami tuhan, kenapa menyembah Alloh. Ini manipulatif,” kata Lukman Hakim.

Batas antara surga dan neraka, kata Lukman, sangat tipis. Ajaran sufi yang benar itu ada syariat, ada tarekat, kemudian hakekat. “Tiga hal ini mestinya berjalan bareng. Bukan syariat itu menuju hakekat, bukan. Syariat itu, ya perintah tuhan. Perintah hubungan dengan ibadah lahiriah. Karena itu ibadah ada geraknya. Ada ruang dan waktunya. Karena itu dalam syatriat orang tak wajib menjalankan syarat kalau tidak ada ruang dan waktu. Orang gila, orang lupa, orang tidur, anak, dan orang mati. Selama kita masih melihat bentuk, kita wajib.”

Lukman mengutip perkataan Abu Yazid Al Bistami “Apapun persepsimu tentang tuhan yang itu terbayang, berwarna, berbentuk, berarah, itu pasti bukan tuhan”. “Karena itu semua karakteristik makhluk,” jawab Lukman.

Lalu jika ajaran Siti Jenar mirip Hindu, Budha, atau ajaran teosifis di kristiani apakah sebenarnya sama?

“Ya tidak sama. Seperti, ini kok kelihatannya sama. Karena itu ada kalimat ‘ngono yo ngono nangeng ojo ngono’. Karena untuk meredam para demosntran, muncul kalimat ‘ngono yo ngono nageng ojo ngono’. Padahal itu ajaran sufisme yang sangat tinggi. Begitu juga manunggaling kawulo gusti digunakan oleh penguasa untuk menidnas rakyat, itu juga manipulasi.”

Lukman mencontohkan ayat dalam Al Qur’an “Wahai Orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul dan para pemimpinmu”. Ayat itu sebenarnya tak boleh dibaca oleh para pemimpin, tapi hanya dibaca oleh para rakyat. Lalu ayat apa yang harus dibaca pemimpin? “Wa’mur bil adli wal ihsan”. Perintahlah dengan adil dan baik untuk menyejahterakan rakyat. Seperti juga ayat “Arrijallu qowamunaa ala nisaa”. Laki-laki adalah pemimpinnya wanita. Ayat ini tidak boleh dibaca oleh suami. Yang boleh dibaca oleh suami “Waa syiru hunna bil makruf”. Artinya, hidupilah keluargamu dengan baik. “Reposisi ini yang menimbulkan kalau dibaca tidak pas, jadinya manipulatif,” terang Lukman.

****

Di tanah rantau “Melayu” perdebatan ajaran wahdatul wujud telah berlangsung beberapa abad lalu yang melibatkan perseteruan sengit antara pengikut Hamzah Fansuri dan Nuruddin Al Raniri. Nuruddin menulai Hamzah Fansuri telah menyabarkan ajaran sesat kepada para pengikutnya. Oleh karena itulah, setelah Sultan Iskandar Muda mangkat (1636) dan digantikan oleh Iskandar Tsani yang telah akrab dengannya selama ia dalam “pengasingan”, Nuruddin segara mengambil kesempatan untuk melakukan pelarangan atas ajaran-ajaran Fansuri. Bahkan karya-karyanya dibakari. Tak hanya itu, pengikutnya juga diburu.

Memang, kali pertama Nuruddin menginjakkan kaki di kerajaan Acheh, ia telah lebih dulu ditolak karena ajarannya bersebarangan dengan paham wujudiyah yang dianut oleh kalangan kerajaan waktu itu. Dengan perasaan kecewa, ia pun hengkang dan meneruskan perjalanannya. Besar kemungkinan untuk sementara ia menetap di Semenanjung Tanah Melayu, tepatnya di Pahang (tempat kelahiran Iskandar Tsani). Ia tidak patah semangat dan menunggu saat yang tepat untuk kembali lagi ke Aceh. Di tempat ini pulalah ia banyak menulis kitab. Dari peristiwa “penolakan” itu barangkali rasa “dendam” tumbuh. Sehingga ketika Iskandar Tsani berkuasa, Nuruddin tak menyia-nyiakan kesempatan untuk “balas dendam”.

Pengembaraan Hamzah dalam mencari Tuhan dapat kita lihat pada penggalan syairnya berikut; Hamzah Fansuri di dalam Mekkah/ mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah/ dari Barus ke Kudus terlalu payah/ Akhirnya dijumpa di dalam rumah. Jadi, jelaslah betapa beratnya pengorbanan Hamzah mencari Tuhan, baik secara lahir maupun batin. Ia mengembara dari Barus (kampung halamannya) hingga ke Mekkah. Pengembaraan ini dilakukan untuk menemukan hakikat dirinya, karena begitu manusia lahir ke dunia ia merasa asing dan jauh dari hakikat dirinya. Dan ternyata memang ia menemukan Tuhan ada dalam dirinya sendiri.

Dalam kitabnya Hill al-Zill, Nuruddin membantah dengan keras pendapat kaum wujudiyyah yang mengatakan bahwa dunia ini ialah bayangan Allah. Namun, hujatannya kepada Hamzah Fansuri paling lengkap terdapat dalam kitabnya Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, karena hampir seperenam isi kitab ini adalah tuduhannya atas kesesatan Hamzah.

Di sebalik tragedi ini nampaknya Nuruddin tidak hanya ingin mempertahankan ajarannya semata-mata, namun ada maksud terselubung, yaitu ingin merebut dan mempertahankan kedudukan di sisi Sultan Iskandar Tsani, seperti sedekat Syamsuddin di sisi Sultan Iskandar Muda. Kebencian Nuruddin berlanjut sehingga dalam karya besar seperti Hikayat Aceh tidak disebutkan nama seorang ahli tawasuf dan tokoh sastra Hamzah Fansuri. Hal ini tentulah menjadi kerugian yang besar bagi Aceh.

Yang agak aneh, mengutip tulisan Medri Osno, peneliti Balai Bahasa Banda Aceh, ternyata Nuruddin juga penganut paham wujudiyah. Hal ini dapat dilihat dalam kitabnya: Jawahir al-Ulum dan Hujjat al-Siddiq li Daf al-Zindik. Kitab ini merujuk pada pada ajaran Ibn ‘Arabi—sedangkan Ibn ‘Arabi adalah pendiri faham wujudiyah. Dalam kitab ini ia menggolongkan ada dua jenis wujudiyah, yaitu: mulhid dan muwahhid. Ia menganggap dirinya termasuk golongon muwahhid (lurus) sedangkan Hamzah dan pengikutnya dimasukkan ke dalam golongan mulhid (sesat) yaitu golongan yang berpendapat bahwa Allah imanen belaka, tidak transenden, dunia ini kekal, tidak mengakui bahwa Alquran tidak bersifat makhluk yaitu tidak tercipta, telah mendewakan diri sendiri, dengan penegasannya bahwa tidak ada perbedaan antara mereka dan Allah.

Kejayaan Nuruddin di Acheh tidak bertahan lama. Setelah Sultan Iskandar Tsani wafat (1644) dan digantikan oleh permaisuri Sultanah Safiatuddin, anak Iskandar Muda (1641-1675), maka bersamaan itu datanglah dari Mekkah seorang ulama asal Minangkabau bernama Saiful Rijjal ke Aceh. Ia merupakan seorang penganut faham wujudiyah Hamzah Funsuri. Perseteruan Nuruddin dengan wujudiyah bangkit kembali. Kali ini yang menang ulama wujudiyah Saiful-Rijal. Akibatnya, Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh secara tergesa-gesa sehingga tidak sempat menyelesaikan karangannnya yang berjudul Jawahir al-Ulum fi Kasyf al-Ma’lum (Hakikat Diri Dalam Menyingkap Objek Pengetahuan). Nuruddin meninggal di kota kelahirannya, Ranir, dalam tahun 1658.

Lalu, benarkah seperti yang dituduhkan oleh Nuruddin Al Raniri bahwa ajaran Hamzah Fansuri sesat? Tidakkah ada faktor lain yang menjadi pemicu “tragedi sufi” Acheh itu?

****

Novel Syekh Siti Jenar dalam tujuh jilid itu disusun Agus Sunyoto dari hasil penelitian sosial. Dia meneliti tentang tarekat-tarekat lokal. Data yang ia kumpulkan tak hanya teks histeriografi, tapi juga dari sumber orang yang masih hidup. Di Jawa Timur masih banyak pengikut tarekt Satariah, Akmaliyah yang semuanya dinisbatkan kepada Siti Jenar. Selain itu, ia menulis karya itu karena merasa prihatin dengan kondisi perkembangan Indonesia. Orang-orang di negeri ini masih menggunakan kerangka berpikir teknis, secara hitam dan putih. Mereka akan dengan mudah memberikan cap kafir kepada kelompok tertentu yang tak sepaham.

Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Ayu Utami Utami dalam bedah novel terbarunya Bilangan Fu (KPG, 2008) akhir September 2008 di Fakultas Sastra Undip. Berbeda dari dua novel sebelumnya, Saman dan Larung, Bilangan Fu menukik pada pencarian spiritual. Digambarkan dua putra desa bernama Parangjati dan Kupu-Kupu. Parangjati menempuh jalan spiritual dengan berbekal khasanah kearifan Jawa, sementara Kupu-Kupu menempuh jalur islam “ekstrem kanan”. Dua kubu ini akan berbenturan, karena satu mendekati dengan ilmu alam, satunya dengan syariat yang tekstual.

Ayu mengatakan, dalam novelnya kali ini ia mengkritik kelompok yang suka dengan mudah menghakimi orang lain dengan sebutan “kafir” dan merasa dirinya paling benar. Dengan mengambil tema yang berbeda dari kedua novel sebelumnya, bukan berarti Ayu akan lepas dari sorotan. Entah itu dari lawan “politik” sastranya, atau dari pembaca yang tak sepakat dengan apa yang disampaikannya.

Pencarian jalan spiritual juga dilakukan oleh tokoh Arleta dalam novel Memburu Kalacakra karya Ani Sekarningsih (Bentang, 2004). “Pengalaman batin adalah urusan pribadi masing-masing,” kata Arletta. Ketika pengalaman spiritual dipahami sebagai pengalaman batin, menilai “kealiman” seseorang yang tampak dari luar tak menjamin kadar religiusitas seseorang dalam arti yang sesunguhnya.

Arletta yang menjalin hubungan seks sebelum menikah jika dilihat dari kacamata awam jelas sudah menyalahi norma agama. Apalagi Arletta yang beragama islam menikah dengan laki-laki yang beragama Hindu Bali dengan upacara keagamaan Hindu. “Perbuatan yang tidak menyakiti siapa-siapa itu sama sekali tidak dirasakannya sebagai sesuatu yang ’salah’, melainkan sebagai pengalaman yang penting sebagai bagian dari perjalanan hidupnya dan pencarian spiritualnya,” kata Arleta memberi jawaban bahwa apa yang dilakukannya itu dilakukan sebagai pilihan sadar.

Jika menurut Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) novel Adam dan Hawa karya Muhidin M Dahlan sesat, bagi Damhuri Muhammad ikhtiar menggunakan perspektif agama dalam mengukur derajat ketersesatan teks sastra bukan perkara gampang. Bila kurang hati-hati, alih-alih ditemukan titik terang, justru yang diperoleh hanya cibiran bahwa menghubung-kaitkan antara sastra dan agama adalah mustahil dan sia-sia (Suara Karya, 05/03 2006).

Menurut Damhuri, Adam dan Hawa telah membongkar, merusak, merubuhkan pagar, merapuhkan kekokohan tafsir tekstual terhadap teks suci. Lalu bagaimana membangun pagar itu kembali? Bagaimana memperkokoh kerapuhan itu?

“Jawabannya tentu saja dengan membaca novel itu, menyelami ceruk-ceruk terdalamnya, menemukan asbab al-wurud-nya, menafsirkannya secara kontekstual dan tak tergesa-gesa menyimpulkannya sebagai buku sesat lagi menyesatkan, apalagi memurtadkan novelis yang (konon) masih berdarah santri itu.”

Diakui atau tidak, hingga saat ini masyarakat kita tampaknya lebih menyukai jenis bacaan yang menentramkan, ketimbang bacaan yang membuat mereka cemas.

“…. saya tidak bisa mengatakan: saya memilih kehidupan kreatif, tapi sementara itu saya tidak bersedia untuk, seperti kata Adam, dilemparkan dari Sorga yang tenteram ke dunia penciptaan yang resah. Sebab saya tidak bisa mengatakan: saya memilih kemerdekaan, tapi sementara itu tidak memilih bahaya,” tulis Goenawan Mohamad dalam esainya “Tentang Kemungkinan-Kemungkinan Kesusasteraan”.

Barangkali tulisan Goenawan Mohamad itu sesekali perlu kita renungkan. []

[Digunting dari Majalah Mahasiswa Universitas Diponegoro Hayamwuruk No.1/Th. XVIII/2008, "Fenomena Sastra Islami: Antara Pro dan Kontra".

No comments: