Saturday, March 22, 2008

Mengaji Srintil

Oleh D. Zawawi Imron

Dua minggu yang lalu, pagi-pagi buta, saya dan Ahmad Tohari berangkat dari Jogja menuju kota Wonosobo, yang berada di punggung Jawa Tengah. Pada Minggu yang ramah itu kami sengaja memilih jalan yang tidak ramai agar segera sampai tujuan. Lewat Mendut dan sisi timur Borobudur, lalu masuk ke pedesaan melalui jalan berliku-liku sampailah kami di Wonosobo. Kami menuju SMA Takhassus, 3 kilometer di luar kota.

Di situ, kami dan anak-anak SMA Takhassus mengaji tentang "Srintil", tokoh utama novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Menurut Maria Boniok yang menjadi pembahas, novel Tohari itu sangat menarik karena tokoh yang ditampilkan punya karakter yang kuat, di samping kemampuan Tohari begitu terampil bercerita tentang alam secara detail dan cermat.

Saya setuju dengan pendapat Maria. Pengembangan karakter tokoh-tokoh dalam Ronggeng Dukuh Paruk benar-benar membuktikan bahwa Tohari adalah pengamat watak yang cermat dan bisa memberi ciri yang jelas watak dan kepribadian tokoh-tokoh rekaannya. Meskipun sebuah novel adalah sebuah dunia rekaan (fiksi), Tohari membangun tokoh rekaannya selalu bertumpu pada realitas kehidupan.

Bahkan tokoh utama yang ditampilkan bukan orang yang baik seratus persen, bukan orang yang berhati putih tanpa noda dan dosa. Dalam novel itu ada tradisi yang menyakitkan, yaitu tradisi bukak klambu, lelang keperawanan ronggeng kepada lelaki yang mampu membelinya dengan harga mahal. Tetapi sebelum pelelangan itu, tokoh Rasus, pacar Srintil, diceritakan sempat melakukan coitus dengan Srintil. Sepasang muda-mudi teman sekampung di Dukuh Paruk itu melakukan "zina". Sebuah perlawanan terhadap tradisi atau perwujudan dari cinta, atau gabungan dari keduanya? Masing-masing pembaca punya hak memberi interpretasi yang berbeda.

Ketika novel itu baru terbit (1980-an), Tohari banyak mendapat kritik dari kalangan agama karena ia menceritakan dunia rongeng, sedangkan Tohari adalah putra tokoh agama yang memimpin pesantren. Seandainya kisah ronggeng itu ditulis oleh bukan Tohari, alur ceritanya tentu bisa menjadi lain, karena setiap pengarang punya imajinasi dan gaya bercerita yang berbeda. Paling tidak, Tohari telah menyelami sebuah dunia yang penuh geliat perjuangan dan penderitaan dengan latar belakang sebuah dusun sunyi yang tidak ada di dalam peta. Dukuh Paruk jelas bukan Jakarta, bukan Singapura, dan bukan New York yang mudah dicari di atlas.

Meskipun Dukuh Paruk tidak ada di dalam peta, kampung itu jadi terkenal dalam pencaturan sastra sampai ke mancanegara. Novel itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jepang, dan lain-lain, karena cara bercerita Tohari yang sangat menarik dan menyuguhkan kepedihan manusia secara realistit. Tohari tidak menghidangkan cerita yang membuat pembaca bermimpi tentang hidup senang dan tenteram tanpa perjuangan yang keras. Kisah Srintil tidak membuat pembaca ingin seperti Srintil. Tetapi pembaca mendapatkan pengalaman duka kemanusiaan yang mendalam sehingga punya sedikit bekal bagaimana mengunyah kepahitan hidup. Dari sini manusia diberi sinyal untuk tegar bergelut dan merenungi hidup menuju kearifan, atau paling tidak kepekaan terhadap duka dan derita hidup manusia.

Ahmad Tohari memang tidak ingin sekadar menghibur pembaca. Lebih dari itu dia ingin berbagi rasa dalam puncak-puncak kepedihan dan kegetiran yang singgah bersama musibah kehidupan.

Sosialisasi "Srintil" di SMA Takhassus pada 9 Maret 2008 di pesantren itu atas restu kiai. Karena itu, seusai acara kami diundang kiai untuk makan siang. Agaknya, kiai ingin punya murid yang punya apresiasi sastra, kepekaan estetik, dan penghayatan terhadap duka kemanusiaan lewat liku-liku kehidupan ronggeng yang jauh berbeda dengan nilai kehidupan pesantren. Sebuah upaya agar dunia ini tidak terasa sempit?

Pulang dari Wonosobo, saya cari buku Ronggeng Dukuh Paruk. Saya ingin membacanya kembali, mengasah rasa kemanusiaan saya, karena saya tetap ingin terharu mendengar perjuangan orang miskin, busung lapar, dan air mata akibat kezaliman. Tapi dengan terharu saja tidak cukup. Kita perlu sikap dan tindakan untuk memaknai keterharuan.

* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 23 Maret 2008

1 comment:

Ismail Tompo said...

Ass. Wr. Wb
hallo semua
saya marketing buku Qir'ah mengaji kilat dalam waktu 30 hari saja. bisa untuk anak2 maupun orang dewasa.
kapan lagi dapat buku kayak gini. kunjungi segera http://www.foslamic.blogspot.com
harga buku Rp. 30.000,pesan di 085242795822