Monday, October 29, 2007

Semangat Menulis dari Tiongkok

Oleh Mohammad Eri Irawan

Menulis itu bikin sehat! Tak percaya? Tulisan Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan yang diturunkan berseri di koran ini menjadi penebal keyakinan itu. Membaca tulisan Pak Dahlan soal pengalaman pribadinya menjalani transplantasi liver di Tiongkok, timbul semangat yang terus merayap di hati ini. "Jadilah penulis, jadilah penulis!" demikian hati ini terus memancangkan tekad.

Tulisan berseri Pak Dahlan adalah pancangan semangat menulis yang menggugah. Secara khusus, ada satu seri tulisan Pak Dahlan yang membuat saya "terbakar" semangat. Yaitu, saat ia bertanya kepada pembaca: Berubahkah model penulisan saya? Apa tulisan saya masih sedeskriptif dulu? Apa aliran kalimatnya masih hadir dan mengalir?

Dia lantas bernubuat soal bagaimana tulisan yang deskriptif itu dirajut dari kata per kata. Dia mendedah bagaimana seorang penulis harus takzim pada kerja-kerja yang detail. Dia menebalkan fondasi keyakinan bahwa penulis adalah homo aviator, pengembara yang mesti menjumput makna dalam setiap depa langkahnya.

Tulisan Pak Dahlan tidak hanya ingin mengabarkan "sesuatu", tapi tulisannya adalah "sesuatu itu sendiri". Tulisannya bukan hanya berisi pancangan semangat untuk terus menulis, tapi tulisannya adalah semangat itu sendiri. Dan, itu semua dilakukan saat Pak Dahlan dalam kondisi yang belum pulih benar. Itulah mengapa saya yakin bahwa menulis itu bikin sehat!

Jurnalis senior sekaliber Pak Dahlan saja masih terus merekonstruksi ulang setiap hasil tulisannya. Ia seolah merasa tulisannya belum mapan, meski sudah puluhan tahun mengabdikan hela napas dan derap langkahnya untuk dunia aksara. Dalam kondisi yang masih relatif lemah, dia bercerita panjang-lebar soal bagaimana penulis harus bekerja dengan detail. Semangat dan nubuat macam ini mengingatkan saya kepada antropolog Clifford Geertz yang sebulan ini dibincangkan di rubrik ini.

Geertz pernah bernubuat soal saling berimpitannya dunia jurnalisme dan penelitian. Di sinilah kerja-kerja yang detail diwajibkan. Jurnalisme dan dunia tulis-menulis secara umum, menurut Geertz, adalah proses "mengikat" realitas ke dalam sebuah teks multiguna. Begitu juga dengan penelitian yang merupakan kegiatan "membekukan" realitas menjadi "replika" bermakna.

Dengan demikian, melalui tulisan, para penulis akan memberi arah terang bagi kehidupan. Alhasil, tulisan akan tetap mengabadi sepanjang zaman karena manfaat yang dihasilkannya. Di sinilah, Pak Dahlan mengajarkannya dengan semangat yang berapi-api.

Bagi saya, pancangan semangat dari Tiongkok, negeri di mana Pak Dahlan menjalani transplantasi dan pemulihan, itu menggambarkan betapa tulisan mempunyai daya abadi. Tak salah jika Pramoedya berujar, "Dan jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan..."

Ya, tulisan akan menjadi suluh bagi gelapnya peradaban manusia. Hingga di sini, Pak Dahlan berhasil meneguhkan hati saya, bahwa menjadi penulis bukan pilihan yang keliru! Tulisan Pak Dahlan menyalakan api semangat, menyikat habis energi negatif dalam hati yang coba menggoyahkan cita-cita menjadi penulis.

Dalam kondisi yang sakit dan dalam pemulihan, Pak Dahlan justru tidak berleha-leha. Dia "merayakan" pemulihannya dengan menulis.

Dan, model semacam ini --menjadikan menulis sebagai sarana perayaan dari sakit-- adalah model yang ditakzimi para penulis besar dunia. Christine Clifford, misalnya. Dia penulis besar yang mengidap kanker. Di tengah perawatan medis yang harus dijalaninya berbulan-bulan, dengan pancangan semangat yang membaja, dia terus menulis dan menetaslah buku pertamanya, Not Now…I’m Having a No Hair Day!

Tak lama kemudian, setelah sukses operasi, buku selanjutnya lahir: Our Family Has Cancer, Too! Kedua buku itu menyabet sejumlah penghargaan dan beroleh sambutan luas publik internasional.

Ada pula penulis Barbara Jeanne Fisher. Dia didiagnosis menderita penyakit multiple sclerosis. Selama enam minggu matanya mengalami kebutaan sementara. Tak hanya itu. Dokter mengabarkan ada komplikasi hebat di tubuhnya, dan umurnya ditaksir tak lama lagi. Dia pun bergulat dengan sedih. Apalagi, penyakitnya kemudian semakin parah. Ahli saraf menemukan keanehan saat tes darah: ada penyakit Lupus. Foto sinar-X memperlihatkan tulang punggungnya sangat rapuh.

Namun, Barbara tak patah arang. Dia terus mengembarakan dirinya pada lautan aksara. Dia mengirimkan artikel-artikel pengalaman pribadinya ke media massa. Bahkan, karena keteguhannya menulis, ia dipercaya menjadi fasilitator dan penyemangat di sebuah laboratorium menulis di Terra Community College, Ohio, yang muridnya adalah anak-anak muda pencinta dunia aksara. "Aku bisa berada di tempat yang kusukai, dengan orang-orang yang kucintai, dan melakukan hal yang paling kusenangi: menulis," tulis Barbara di buku Chicken Soup for the Writers Soul yang disunting Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Bud Gardner (buku itu sudah di-Indonesia-kan awal tahun ini). Berangkat dari pengalaman sakitnya, dia pun melahirkan novel Stolen Moments pada Maret 1999.

Dua kisah penulis di atas, plus kisah Pak Dahlan, adalah bukti bahwa menulis itu bikin sehat! Ketiganya mengafirmasi bahwa menulis adalah cara untuk menyehatkan jiwa-raga, sebab tulisanlah yang membuat kita bisa memaknai dan menemukan kebaruan setiap detik.

Ketiganya, Christine Clifford, Barbara, dan Pak Dahlan, kuat dan terus bergairah meski sakit karena satu obsesi: ingin terus menulis! Fisik mereka masih lemah karena sakit dan dalam masa pemulihan, tapi semangat menulisnya tetap menyala-nyala. Sesuatu yang patut diteladani.

* Mohammad Eri Irawan, pengelola sebuah rumah baca di pinggiran Jember. Dimuat di Harian Jawa Pos Edisi 28 Oktober 2007


No comments: