Monday, October 29, 2007

Malu Aku Jadi Kutubuku

Oleh Endah Sulwesi

Pada suatu petang, iseng-iseng saya menonton siaran televisi dari salah satu stasiun tv swasta nasional. Layar di depan saya mempertontonkan sebuah tayangan singkat tentang seorang perempuan sederhana bernama, sebut saja, Kiswanti. Ibu berusia kira-kira 50-an tahun ini, tampak mengayuh sepeda di jalan kampung yang lengang.

Keranjang berwarna merah yang terletak di depan setang sepedanya, penuh berisi buku. Demikian pula di bagian boncengannya. Sampai di desa yang di tuju, Kiswanti langsung diserbu oleh beberapa orang anak yang rupanya telah menunggunya sejak tadi. Ya, mereka adalah para pelanggan yang menyewa buku-buku Kiswanti.

Selanjutnya oleh narator dikisahkan siapa Kiswanti sesungguhnya. Perempuan berkerudung yang hanya tamatan sekolah dasar ini, pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kemiskinan orang tuanya membuatnya terpaksa tak mampu meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Namun demikian, kendala tersebut tak lalu menyurutkan minatnya terhadap buku-buku dan bacaan.

Berangkat dari pengalaman hidup yang kurang beruntung itu, menumbuhkan sebentuk tekad di hati Kiswanti untuk menularkan kegemarannya membaca kepada masyarakat di sekitarnya. Maka, mulailah ia mengumpulkan buku-buku untuk disewakan kepada warga di kampungnya melalui perpustakaan pribadinya. Sampai saat ini, koleksinya sudah mencapai 1.900 buku dan majalah. Berikutnya, ia melebarkan jangkauan usahanya hingga merambah ke kampung-kampung tetangga dengan menggunakan sepeda.

Tayangan singkat itu menyentak saya. Sungguh mulia apa yang sudah diperbuat oleh Kiswanti dalam kaitannya dengan upaya memasyarakatkan gemar membaca. Dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya, Kiswanti tanpa gembar-gembor telah turut mencerdaskan bangsa.

Sementara itu, apa yang sudah saya lakukan sebagai orang yang mengaku kutu buku dan pencinta sastra selama ini? Tindakan nyata apa yang sudah saya perbuat bagi orang-orang di sekitar saya untuk menumbuhkan kecintaan membaca? Cukupkah hanya sampai pada mengikuti acara-acara diskusi dan bedah buku saja sambil sesekali menulis resensi dan laporannya? Memadaikah hanya dengan rajin menyambangi pameran-pameran buku dan menghabiskan uang di sana padahal belum tentu buku-buku tersebut sanggup say a baca semuanya? Puaskah saya hanya dengan ikut berteriak-teriak mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mulai gemar membaca tanpa melakukan suatu tindakan nyata yang menyentuh langsung ke masyarakat?

Rasanya, yang terjadi adalah justru perilaku yang kontra-produktif. Boro-boro, misalnya, menyumbangkan buku-buku bagi yang memerlukan, meminjamkannya pun saya nyaris tidak pernah. Khawatir buku-buku kesayangan saya rusak atau bahkan tidak dikembalikan sama sekali. Padahal kian hari, jumlah buku di lemari saya kian bertambah banyak dan membutuhkan banyak tempat juga. Saya jadi sangat pelit jika menyangkut urusan dengan buku.

Saya terlalu mencintai buku-buku saya sehingga sering tidak rela kehilangannya. Jangankan sampai hilang, cacat sedikit saja saya sudah panik. Saya menjaga buku-buku saya seperti menjaga peti harta karun. Sampai-sampai keempat keponakan saya yang masih kecil-kecil itu sering menjadi korban teriakan saya kalau mereka coba-coba menyentuh “harta” tersebut.

Hah. Kalau begini, bagaimana saya bisa mengajari mereka mencintai buku dan gemar membaca? Saya sibuk menyerakahi buku-buku saya untuk diri saya sendiri.

Sungguh malu saya “berhadapan” dengan sosok mulia Ibu Kiswanti, karena dibandingkan dirinya, apa yang sudah saya kerjakan selama ini nyaris nol besar. Cuma manis di bibir saja. Komitmen saya untuk menularkan kegemaran membaca jangan-jangan hanya sekadar lip service. Tinggal menjadi jargon dan slogan saja.

Padahal, seandainya saya mau membagi sebagian kecil saja dari “harta” saya itu dengan yang lain, tentu akan lebih bermanfaat dari pada sekadar menjadi pajangan.

Sekiranya saya sudi menyumbangkan sedikit saja dari buku-buku saya yang tiga lemari itu untuk taman bacaan di sebuah rumah singgah (rumah bagi anak-anak jalanan) yang dikelola seorang teman, pasti akan banyak anak-anak yang dapat turut menikmatinya. Ikut serta membukakan “jendela” dunia bagi mereka yang tidak mampu membeli buku, seperti ketika saya kecil dulu yang hanya bisa membaca buku-buku bekas yang dibeli ayah saya dari pasar loak Jatinegara. Bukankah memberikan sebuah buku sama artinya dengan memberikan sekeping dunia?

1 comment:

chie chann said...

saya sangat terkesan pada sosok yang telah anda angkat dalam tulisan anda. sayapun mengajak anda sekalian untuk menyumbangkan sesuatu yang mungkin hanya sebuah pajangan di lemari anda,namun itu dapat menjadi jendela bagi sebagian orang di luar sana!