Wednesday, April 25, 2007

Ibu, Bumi, dan Buku adalah Ibuku

Oleh Muhidin M Dahlan

April adalah bulan ketika Hari Kartini (21), Hari Bumi (22), dan Hari Buku Internasional (23) terpahat dalam susunan atau siklis kalender yang unik, berkesinambungan, dan memiliki kedalaman makna; bukan saja siklis itu mempertemukan hari seorang perempuan penulis diperingati, hari kala bumi diupacarai, dan hari ketika buku dirayakan, tapi juga trisum itu mempertemukan bagaimana pengetahuan diolah, dituliskan (cum digerakkan), dan diabadikan.

Kartini yang lahir pada 21 April 1879 atau dalam takwim Jawa 28 Rabiulakhir 1808 di Jepara, sudah lazim kita kenal sebagai ibu yang memperjuangkan emansipasi perempuan. Tapi lebih dari itu ia sejatinya “ibu penulis”; yang tak hanya berpengaruh di tingkat lokal, tapi menusuk sampai ke jantung kolonial di belahan Eropa (Netherlands).

Kartini bukanlah orang yang terdidik formal. Ia hanya enam tahun mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (Sekolah Rendah Belanda) pada 1885 sejak usianya genap 6 tahun. Atas prestasi itu pula Kartini menjadi perempuan kedua Pribumi yang mengenyam pendidikan dasar. Ia sudah mengiba-iba untuk masuk Hoogere Burger School (Sekolah Menengah Atas). Tapi tak beroleh izin. Malah ia disekam tujuh tahun lamanya dalam sangkar kadipaten.

Tapi pikiran tak pernah bisa tersangkar; sebagaimana Hatta pernah bilang: “Kalian bisa memenjarakanku; tapi selama aku bersama buku, aku tetap bebas.” Justru dalam sangkar rumahan itu Kartini belajar autodidak. Majalah atau koran terkenal seperti Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, maupun De Locomotief dilahapnya. Karya Multatuli bertitel Max Havelaar dimamahnya.

Dari bacaan-bacaan itulah ia mengenal Revolusi Perancis dengan ketiga semboyannya yang terkenal: liberte, egalite, fraternite, roman-roman Eropa, gerakan perempuan Eropa, ruap atmosfer sosial-politik di Eropa, hingga laporan sidang-sidang Staten General (Parlemen Belanda).

Dan yang paling monumental dari itu semua adalah korespondensinya dengan 12 orang teman-teman ‘maya’nya di Belanda. Surat-surat tersebar itu lalu disunting dan dikumpulkan Mr. J. H. Abendanon dan terbit pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Usai Gelap Berpendarlah Terang). Tapi karya Kartini bukan hanya itu. Tercatat ada dua buku kebudayaan yang membuatnya menjadi penulis sohor, yakni Het buwelijk bij de Kodjas (Upacara Perkawinan pada Suku Koja) dan De Batikkunst in Indie en haar Geschiedenis (Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya). Buku yang kedua ini yang membawa ukiran Jepara melanglang ke pelbagai penjuru dunia.

Melihat deretan karya itu, maka Kartini bukan hanya pejuang emansipasi berkebaya, tapi juga ibu epistolari (ibu dalam tradisi bersurat) dan ibu penulis (buku). Sosoknya yang baru ini mengingatkan kita kepada Dewi Saraswati dalam tradisi weda. Dalam Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan—shakti—dari Brahman. Ia adalah metafor dari dewi yang menguasai Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan.

Kalau pengetahuan adalah feminin, maka bumi, baik dari sisi spiritual maupun mitologi, kerap digambarkan sebagai perempuan sebagai dewi. Maulana Rumi dalam sekuplet syairnya mengibaratkan langit adalah lelaki dan bumi adalah perempuan. Sementara mitologi Yunani tegas menunjukkan bahwa bumi adalah jelmaan seorang dewi bernama Alia dan penyanggahnya adalah Dewa Atlas.

Mempertimbangkan hal itu, hari bumi itu pun diupacarai. Secara historis ‘upacara’ itu ditarik pada 22 April 1970, tatkala sekira 20 juta orang turun ke jalan mendukung usaha penyelamatan bumi dari angkara perang dan penggunaan teknologi yang tak senonoh. Momentum yang kemudian dikenal sebagai Hari Bumi itu tak lepas dari khotbah setahun sebelumnya oleh seorang senator Amerika, Gaylord Nelson. Dalam pidatonya di Seattle ia mendesak adanya usaha penyelamatan lingkungan hidup, membangun tradisi green politics, serta pendidikan dan pencapaian teknologi yang berbasis ramah lingkungan.

Hari Bumi bukan saja sebagai hari bagaimana lingkungan mesti diurus baik-baik untuk keberlanjutan budaya hidup, tapi juga penghargaan kepada ibu yang secara simbolik tergores pada eksistensi bumi, serta bagaimana menjaga feminitas pengetahuan. Feminitas di sini bukan merujuk pada gender, tapi sebuah jerih kebijaksanaan manusia mencari dan mendayakan pencapaian pengetahuan untuk penyelamatan atas hasil-hasil yang ditumbuhkan bumi atau alam.

Dan hanya buku yang mengabadikan semua pencapaian itu. Buku merupakan artefak pengetahuan tertulis yang tak saja merekam semua keletihan manusia mencari ajar kepada bumi, tapi juga mencatat apa saja yang sudah dirusak manusia dan apa saja yang sudah diawetkannya.

Karena kesetiaannya merekam sejarah manusia bertumbuh dalam semesta (bumi), maka hari buku pun diperingati. Kalender Hari Buku Internasional dicomot dari sisi hidup duo penulis legendaris Eropa, yakni hari di mana Miguel de Cervantes Saavedra dikuburkan (23 April 1616) dan hari baptis William Shakespeare (23 April 1564).

Dari tangan penulis Spanyol, Cervantes, lahir sosok Don Kisot yang mempengaruhi begitu banyak pengarang dunia. Don Kisot dari La Mancha adalah absurditas yang coba mengkritik rasionalitas totok dari modernitas. Carventes tak mesti teriak-teriak di jalanan untuk lancarkan kritik. Cukup dihadirkannya sosok Don Kisot yang anti-hero dengan gaya olok-olok. Sementara pada Shakespeare kita temukan kesuburan melahirkan karya dan sekaligus bagaimana karya itu dipentaskan sedemikian rupa kepada publik yang lebih luas.

Kedua penulis itu berjumpa pada satu momentum bagaimana komedi dan tragedi satire coba ditunjukkan dengan memikat untuk sebuah visi besar menahan dan mengolok-olok arus keserakahan manusia memporak-porandakan bumi. Dengan buku, kampanye usaha penyelamatan itu memungkinkan bisa berlangsung secara terus-menerus dan menyebar hingga ke ceruk-ceruk bumi terpencil.

Karena itu momentum 21, 22, 23 April adalah momentum penghormatan pada ibu penulis kita, refleksi atas ibu bumi di mana kita berpijak, serta penghikmatan atas ibu pengetahuan (buku) dari mana pencerahan terus-menerus kita cecap.

Ibu, bumi, dan buku adalah ibuku. Maka trisum ketiga hari besar bagi peradaban itu bisa kita rangkum dan sekaligus peringati sebagai Hari Ibuku.

3 comments:

agung deha said...

Saya sadar ini sebuah othak-athik gathuk mathuk (otak atik yang pas dan enak). Sebuah kebetulan. Sesuatu yang kemudian dimaknai baru oleh penulisnya. Gaya berpikir yang menggabungkan ketersediaan fakta. Merangkum semua fakta dan menjadikannya pengetahuan baru. hehehehehe

peranita said...

sudut pandang yang beda.kebetulan yang diolah jadi menarik. refresh untuk para perempuan ,agar tak lupa cara juang kartini.

Aceh said...

Mmm, saya kira tulisannya cukup menarik... Tapi kalau kita lihat di www.worldbookday.com justru hari buku internasional itu tanggal 6 Maret, Mana yang betul?