Saturday, April 18, 2009

Karena Sastra Bukan Khotbah Jumat

Oleh Muhamad Sulhanudin
Reporter: Leny Nuzuliyanti, Siti Andriyani, Wiwik Hidayati

Novel pertama Inet Ini Memang Gila, Tapi Ini Cinta diterbitkan Lingkar Pena Publihing House. Munah, tokoh sentral dalam novel itu, tengah jatuh cinta dengan Kiwil, kriwil, suka ngupil anak Pak Sadeli. Tapi Haji Nasir, babe Munah menentang hubungan putrinya dengan si anak band yang dandanannya superaneh itu. Karena sudah terlanjur cinta mati, Munah akan kawin lari jika babenya tetap tak mengizinkan.

Ketika menerima naskah dari Inet, Asma Nadia meminta Laela Imtichanah untuk membaca dan memberikan komentar. “Saya langsung tergilai-gilai dengan gaya berceritanya yang mengalir lancar bagai air dan ceritanya yang emang lucu selucu si Inet, sang pengarang. Settingnya yang Betawi abis mengingatkan saya dengan Si Doel, juga kampung halaman saya di Jatinegara. Eh, saya kan masih ada keturunan Betawi, lho. Dalam hati saya bilang, naskah ini harus segera terbit!” komentar Laela seperti dikutip dari milis FLP.

Laela adalah editor, sedang Asma Nadia CEO Lingkar Pena Publishing House (LPPH). LPPH yang didirikan tahun 2003 merupakan penerbitan mandiri milik Forum Lingkar Pena (FLP).

Bagi Nenden Nurjanah, nama asli Inet, menulis fiksi remaja karena dia ingin memberikan pencerahan untuk para remaja. Selain itu juga lebih gampang dan lebih mudah diselami. Menulis untuk remaja, kata Inet, tak harus menggunakan kata “elo gue”. Cerita remaja yang baik akan memberikan pembaca hal-hal yang baik. “Banyak pelajaran yang bisa diambil. Sehingga banyak amalnya,” tutur Inet.

Sementara menurut Boim Lebon, menulis cerita untuk remaja bisa dilakukan oleh remaja dan juga mantan remaja. Seperti dirinya yang sudah tak remaja lagi, mengaku banyak bergaul dengan dunia remaja. Setelah mengetahui dunia mereka, lalu Boim menuliskannya dengan bahasa yang simpel agar mudah dibaca oleh pembacanya yang masih remaja.

“Sisi yang gaul dan yang islami itu bisa digabungkan dalam cerita. Cerita yang baik itu yang ada hikmahnya,” katanya. Bersama Hilman Hariwijaya, Boim menulis Lupus Kecil dan Lupus ABG yang populer di akhir tahun ‘80 dan ‘90-an.

Sebagian besar karya-karya penulis FLP yang beredar di pasaran lebih banyak berisi cerita remaja. Namun soal pemilihan tema, kata Boim Lebon, setiap penulis harus mengetahui kemampuan dirinya sendiri. “Dia mateng di mana, itu yang dia tekuni,” katanya. Karena Boim banyak bergaul dengan dunia remaja, maka ia juga banyak menulis cerita remaja.

“Mau menulis apa, itu pilihan penulis,” kata Asma Nadia, penulis yang telah banyak menerbitkan buku-buku remaja, baik fiksi maupun nonfiksi itu.

Buku kedua Inet Pengalaman Jilbab Pertamaku. Buku ini berisi kumpulan cerpen (kumcer) dari sejumlah penulis FLP. Jilbab Pertamaku memuat kisah-kisah pengalaman pertama penulis memakai jilbab. Ada yang mulanya sekadar ikut-ikutan, ada yang karena konflik dengan keluarga atau pacarnya sampai dengan yang karena takut kepanasan. Dalam setiap pergantian cerita diselipi komentar cowok tentang cewek yang berjilbab. Semua cerita dikemas dengan bahasa gaul khas remaja perkotaan. Atau istilah gaulnya, bahasanya gue banget gitu loh!

Selain tema-tema remaja, lagi-lagi jilbab diketengahkan sebagai tema tulisan. Apakah tema remaja islami ini memang telah menjadi jalur yang sengaja dipilih oleh penulis FLP?

****

Forum Lingkar Pena didirikan 22 Februari 1997. Bermula dari pertemuan Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Muthmainah dan beberapa mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia tahun 1997. Mereka berdiskusi tentang minat membaca dan menulis di kalangan remaja Indonesia. Dari diskusi itu, mereka menyadari kebutuhan masyarakat akan bacaan yang bermutu. Di sisi lain juga perlunya menampung para calon penulis. Akhirnya disepakati untuk membentuk organisasi kepenulisan dengan nama Forum Lingkar Pena, sebagai badan otonom Yayasan Prima. Pada Desember 2003, Yayasan Prima berubah menjadi Yayasan Lingkar Pena.

Dalam sepuluh tahun perkembangannya, seperti yang disampaikan dalam makalah Helvy Tiana Rosa dalam Konferensi Internasional HISKI di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia 8 Agustus 2007, FLP telah menerbitkan lebih dari 600 buku, bekerjasama dengan tak kurang dari 30 penerbit, dan membuka cabang di dari 125 kota di Indonesia dan manca negara, seperti Singapura, Hong Kong, Jepang, Belanda, Amerika, Mesir, Inggris.

Berapa jumlah anggota FLP sekarang?

Dalam release sebelumnya, delapan tahun FLP (2005), organisasi kepenulisan ini telah beranggotakan sekitar 5000 orang, hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 diantaranya menulis secara aktif di berbagai media. Dari 500 orang ini berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula. Jika pada tahun 2005, sebanyak 5000 anggota FLP telah tersebar di hampir 30 propinsi dan mancanegara, sementara publikasi karya FLP kini semakin meluas, jumlah anggotanya sampai dengan tahun ini sudah barang tentu telah mengalami peningkatan yang signifikan.

Keberhasilan FLP merekrut anggota dan meluaskan jaringannya tak lepas dari peran majalah remaja Annida. Annida berdiri tahun 1991. Sebelum mendirikan FLP, Helvy Tiana Rosa telah menjadi Redaktur Pelaksana di Majalah Annida dari tahun 1991-1999. Tahun 1999 Helvy diangkat menjadi Pemimpin Redaksi dan pada tahun 2001 ia mengundurkan diri karena ingin berkonsentrasi mengajar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Karena sejarah kelahiran FLP yang juga dibidani oleh salah satu anggota redaksi Annida, maka dalam perjalannya Annida dan FLP berjalan berbarengan. Banyak penulis FLP yang mengasah kemampuan menulisnya dengan mengirimkan karyanya ke Annida. Dan bahkan selama 10 tahun keterlibatan Helvy di Annida, majalah fiksi remaja islami itu menjadi media komunikasi yang efektif bagi Forum Lingkar Pena (FLP). Hampir seluruh anggota FLP adalah pembaca dan penulis majalah Annida yang mendaftar menjadi anggota melalui majalah tersebut. Pasca-Helvy, keredaksian Annida di bawah kepemimpinan Muhammad Yulius dan FLP di bawah kepengurusan Irfan Hidayatullah, hingga kini masih tetap erat bergandeng tangan.

Di Semarang, FLP berdiri tahun 2000. Sebagai ketua pertama adalah Yeni Mulati atau yang lebih dikenal dengan nama pena Afifah Afra Amararotullah, mahasiswa Fakultas MIPA Jurusan Biologi Undip.

“Awalnya bukan FLP. Kita punya klub penulis, namanya Seruni. Terdiri 5 sampai 6 orang. Semuanya mahasiswa MIPA. Perintisnya Mbak Yeni. Di sana kita nulis apa saja. Fiksi juga nonfiksi. Lalu terdengar ada FLP. Kita kemudian mengajukan proposal ke pusat, ke Mbak Helvy. Mbak Yeni atau Afifah Afra itu ditunjuk sebagai koordinatornya. Masalah struktur kita ngikuti pusat,” terang Ryas di kantornya, SMP-SMU Islam Terpadu, Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah, Semarang.

Belum selesai kepengurusan ketua pertama, Afifah Afra diganti Laila Imtichanah. Kasus yang sama terjadi lagi pada kepengurusan kedua. Laila Imtichanah diganti oleh Ryas Nurdiana. Pergantian Afifah Afra dan Laila Imtichanah di tengah kepengurusan karena yang bersangkutan telah lulus kuliah.
Pasca kepengurusan Ryas hingga sekarang, sudah berganti dua kepengurusan, yakni di bawah kepengurusan Muhammad Wahyu Saputra, mahasiswa Sastra Perancis Unnes 2002 dan sejak tahun 2007 Ali Marghosim, mahasiswa Elektro Undip 2005. Dengan demikian, dari awal berdirinya tahun 2000 hingga 2008 ini, kepengurusan FLP Semarang telah melewati lima kali kepengurusan. Ketua yang terakhir, Ali Marghosim menjabat untuk periode 2007-2009. Masa setiap kepengurusan ditetapkan dua tahun.

Di Fakultas Sastra Undip, FLP mengembangkan jaringan melalui Keluarga Mahasiswa Muslim Sastra (KMMS). Komunitas Sastra dan Studi Islam (KSSI) adalah wadah yang digunakan para mahasiswa Sastra Undip untuk belajar menulis fiksi islami. Didirikan tahun 2005, saat kepengurusan Syaiful Qohar, mahasiswa Sastra Inggris 2003. KSSI merupakan badan semiotonom KMMS.

Perintis awal KSSI adalah Ellita Permata (mahasiswa Sastra Inggris 2002, alumni, red) dan Fairus Failasuf. Pada masa awal KSSI, saya sering menemukan potongan kertas yang berisi cerita hikmah sampai nukilan hadits yang ditempel di mading Mushola PKM Sastra Undip dan juga mading di depan sekretariat KMMS. Apakah seperti itu yang dimaksud sastra islami menurut anggota KSSI?

Syafaatul Aisyiah yang saat ini menjabat sebagai Ketua KSSI periode 2007-2008 mengatakan, pada masa awal terbentuknya KSSI berkonsentrasi pada pelatihan kepenulisan. Tapi dalam perjalanannya kemudian KSSI lebih fokus pada penulisan sastra islami. Dua tahun terakhir ini KSSI kerap menyelanggarakan kegiatan workshop penulisan bekerjasama dengan FLP Semarang.

Dari Ali Marghosim, ketua FLP Semarang 2007-2009, saya mendapat keterangan jika FLP Semarang kini telah memiliki beberapa rayon atau zona. Diantaranya Zona Pleburan yang dikoordinir oleh KSSI, Ngaliyan di kampus IAIN, Sekaran di kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Tembalang, kampus Undip. Diakuinya pula, seperti organisasi mahasiswa di kampus, seleksi alam berlaku dalam perekrutan anggota dan pengurus FLP Semarang.

Belum lama ini FLP Semarang melakukan rekruitmen anggota baru. Terkumpul 160 pendaftar. Jumlah itu termasuk FLP Pelajar. Sejak kepengurusan Ryas Nurdiana, FLP Semarang telah memiliki divisi FLP Pelajar yang anggotanya merupakan siswa SMU. Waktu itu FLP Pelajar dipusatkan di SMP-SMU Islam Hidayatullah, tapi kini kegiatan FLP dipusatkan di SMU 5 Semarang.

“Rekrutmen itu gampang sekali, yang daftar banyak. Setelah dilantik, seperti ekor tikus. Memang waktu rekruitmen kita mencari sebanyak mungkin, nanti akan ada seleksi alam. Di sastra, kita ngadain acara dua kali, karena tak menunjukkan komitmen 40 saya keluarkan, dan hanya tinggal 15 orang,” kata Ali.

****

Menulis bagi sejumlah penulis FLP, kata Ryas Nurdiana, hanya sarana untuk berdakwah. Tapi dia menolak jika yang disebut islami itu harus memuat ayat-ayat atau hadist. Yang lebih penting menurutnya, bagaimana nilai-nilai islam tercover dalam karya. Ia menyadari jika sejumlah penulis FLP masih terjebak pada tataran simbol. Pengagum budayawan Prie GS ini menyebut tulisan Prie GS sebenarnya lebih islami daripada tulisan anggota FLP.

“Pada awalnya kita memang dakwah. Kita pengen selain menulis juga berdakwah. Makna dakwah dan menggurui itu tipis sekali,” katanya.

Bagi Ryas dakwah dalam tulisan tetap penting. Agar tidak terkesan terlalu menggurui, penulis perlu meningkatkan kemampuan menulis. “Jika kita benar-benar melepaskan dakwah dan itu disampaikan ke komunitas dakwah, kita akan dikritik. Itu menulis untuk apa, kok nggak ada misinya sama sekali,” kata Ryas memberi alasan.

Apakah itu bisa diartikan bahwa karya-karya FLP dibaca di kalangan mereka sendiri, komunitas dakwah kampus?

Ryas mengaku belum pernah melakukan survei. Tapi sejauh pengamatannya, karya-karya penulis FLP diminati oleh teman-temannya di kampus.

Izzatul Jannah mengatakan, FLP sebenarnya tidak membidik kalangan pembaca tertentu. Kalaupun karya FLP dibaca oleh komunitas dakwah baik di kampus maupun di sekolah, itu terjadi secara alamiah. Ia yakin jika pembaca akan memilih buku yang sesuai dengan cara pandangnya, bacaan-bacaan yang dekat dengan kesehariannya.

“Mungkin mereka menemukan cara pikir yang sama kemudian cara berkontemplasi yang sama dengan buku-buku FLP sehingga akhirnya sebagian besar yang membaca adalah anak-anak remaja yang memiliki kecenderungan religius,” katanya.

“Tapi tidak menutup kemungkinan yang baca itu adalah nanti juga ketemu ama Mbak Titak. Pembacanya sangat unik. Pembacanya Mbak Titak itu ada yang pernah terlibat narkoba segala macam. Kemudian saya sarankan Mbak Titak, tulislah itu pengalamanmu tentang pembacanya itu supaya mereka mengerti bahwa yang baca FLP itu, buku-buku FLP itu bukan cuma anak-anak masjid. Bukan cuma anak-anak aktivis dakwah,” tambah Izzatul Jannah, Ketua FLP Wilayah Semarang. Izza, panggilan Izzatul Jannah, adalah generasi pertama FLP. Ia telah bergabung FLP dari sejak organisasi penulisan sastra islami ini didirikan tahun 1997.

Dalam FLP penulis diklasifikasikan menjadi empat tingkatan: mula, madya, andal dan inti. Penggolongan ini didasarkan pada tingkat kemampuan menulis. “Meskipun usianya sudah 45 tahun, kalau dia belum pernah mempublikasikan karyanya, itu masuk pemula. Kemudian madya, sudah mulai bermunculan di media lokal. Yang andal, dia sudah mulai masuk ke media nasional dan sudah punya buku, minimal antologi. Yang inti, dia sudah punya buku dan terkenal. Di semarang sendiri, yang nasional, yang punya buku saja baru sekitar 5. Kalau antologi sudah banyak,” kata Ryas Nurdiana.

Ryas mengakui tema-tema yang diusung FLP hampir seragam. Ia mencontohkan tema cinta. Ia sendiri mengaku sengaja menulis tidak menggunakan kata “cinta”. “Saya bosan, karena setiap ke toko buku selalu menemui buku dengan kata cinta. Apakah harus dengan cinta?”

Menurut Ryas, banyaknya tema cinta terkait dengan kebutuhan segmen pembaca FLP. Tema cinta memang lagi booming. Tapi ia dan teman-teman di FLP Semarang tak ingin hanya berhenti sampai di situ. “Kalau periode pertama campur baur. Ada yang sastra berat, ada yang pop kayak punya saya dan Mbak Laela. Untuk selanjutnya kita punya kualifikasi. Ini untuk remaja, untuk umum. Dan masing-masing dari kita, menyadari kemampuan masing-masing.” Laela yang dimaksud Ryas adalah Laela Imtichanah, mantan Ketua FLP Semarang sebelum Ryas.

****

Booming karya FLP di satu sisi merupakan kebanggaan bagi anggota komunitas itu, setidaknya sebagai tolok ukur banyaknya anggota yang menghasilkan karya. Tapi di sisi lain mendapatkan sorotan dari pihak luar akan kualitas karyanya. Pasalnya, dari ratusan buku yang terbit tiap tahunnya hampir seragam: bercerita tentang remaja yang sebelumnya tak berjilbab, menjadi berjilbab; manusia yang menyadari kekhilafannya dan kemudian bertaubat. Atau yang sekarang lagi ngetren, biar gaul tapi tetap syar’i. Makanya akan ada judul “Pacaran Islami”, “Gaul Islami” dan islami-islami lainnya.

Apalagi pasca-meledaknya novel Ayat-Ayat Cinta yang dibicarakan di berbagai tempat dan kalangan di luar komunitas FLP, kini banyak bermunculan karya-karya sejenis. Mulai dari desain covernya perempuan khas timur tengah bercadar yang tampak mata, alis dan separuh hidungnya, hingga ke setting ceritanya.

Kondisi ini sebenarnya sudah disadari oleh internal FLP. Dalam Mukernas FLP di Bandung 2005, dibahas masalah kualitas karya anggota FLP. Oleh karena itulah, dalam kepengurusan FLP periode 2005-2009 di bawah kepemimpinan Irfan Hidayatullah yang menggantikan Helvy Tiana Rosa sebagai ketua pertamanya sejak awal tahun berdirinya 1997, dibentuk divisi kritik sastra dengan koordinatornya Ekky Imanjaya, alumnus Filsafat UI. Anggota divisi ini antara lain Firman Venayaksa, Herry Nurdi, Lusiana Monohevita, Nanik Susanti.

Selain itu, juga dibentuk Majelis Penulis FLP. Anggotanya, menurut Irfan, antara lain Helvy Tiana Rosa, Golagong, Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy. Majlis penulis dibentuk untuk menjalankan fungsi kontrol agar kualitas karya anggota FLP terjaga.

Dalam Mukernas itu disepakati bahwa untuk mencantumkan logo FLP setiap buku akan melalui seleksi tim majlis penulis. Majelis penulis hanya ada di pusat, sehingga semua karya yang akan diterbitkan oleh anggota FLP dengan mencantumkan logo FLP harus terlebih dulu dikirim ke pusat.

Peraturan baru ini akan menguntungkan FLP secara organisasi juga penulis. Keuntungan bagi FLP, pertama, akan menaikkan citra FLP karena dengan diberlakukan fungsi kontrol itu kualitas karya-karya anggotanya ke depan akan terjaga. Juga akan ada pemasukan dana karena setiap kali pencatuman logo dikenakan iuran yang akan disetor ke FLP pusat.

“Image tulisan-tulisan FLP di masyarakat yang sangat mudah diterbitkan itu perlu digiring kearah perbaikan,” kata Irfan, yang juga dosen Sastra Indonesia Universitas Pandjajaran (Unpad) Bandung ini.

Menurut Irfan saat ini sudah ada beberapa penerbit besar yang melirik karya-karya anggota FLP. Seperti karya Asma Nadia Cinta Tak Pernah Menari telah diterbitkan Gramedia (Gramedia Pustaka Utama, 2003). Memang, setelah booming fiksi islami karya anggota-anggota FLP di pasaran, sejumlah penerbit besar melirik pasar fiksi Islami yang ternyata tak kalah menjanjikan dari fiksi populer umum. Bahkan diantaranya ada yang membentuk divisi khusus, seperti Penerbit Mizan yang membuka Divisi Buku Anak dan Remaja Mizan (DAR! Mizan).

Dengan makin menguatnya jaringan penerbitan fiksi islami dan juga adanya wacana peningkatan kualitas karya para anggota FLP, di saat itulah FLP merasa perlu untuk mengukuhkan representasi identitasnya. Karakter FLP, kata Irfan, memiliki perbedaan dengan karya-karya yang keluar dari komunitas lain. Misalnya dari komunitas sastrawan santri. Masing-masing punya keunikan sendiri-sendiri.

“Itu akan terus dikontrol karena biasanya ada anggota FLP yang coba mengeksplorasi kebebasan berkarya. Itu mungkin diawasi dalam artian kita menjaga satu mainstream baru kesastraan yang itu prosesnya nanti didiskusikan. Tidak sensor, tapi didiskusikan majelis penulis dengan kapasitasnya misalnya didalam unit sastra ada 10 unit itu mencoba untuk mendiskusikan karya-karya yang mempunyai tendensi kearah sana. Itu secara ide ya. Kalau secara pengemasan dan lain sebagainya itu juga kita ingin meningkatkan ke arah karya yang lebih estetis. Selama ini kan lebih ke arah alur, hanya cerita saja. Pokoknya asal ada alur, ada tokoh, ada konflik dan sebagainya itu dah lolos. Mungkin nanti bisa lebih diseleksi lagi seperti di diskusi-diskusi,” terang Irfan.

Irfan mengakui masih adanya penggambaran secara hitam-putih oleh para angota FLP yang sebagain besar berlatarbelakang aktivis dakwah kampus. FLP, katanya, tak ingin membunuh ideologi mereka. Tapi ingin meramu yang fundamentalis dan lain sebagiannya itu dengan sebuah karya.

Irfan mencontohkan pengarang Mesir Yusuf al Qardhawi. Menurutnya, di Indonesia al Qardhawi dikenal seorang yang fundamentalis. Ia mengungkapkan tentang penjara-penjara di Mesir, Ikhwanul Muslimin. Kalau teknik mengungkapkan itu dalam karya sastra, menurutnya citra dan dampaknya akan lain. “Nah yang belum ada di FLP itu menjembatani antara background ideologis pengarang dengan cara estetika.”

Jika para sastrawan santri macam KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) atau Ahmad Tohari tak membatasi lagi antara islam dan nonislam, mengapa FLP masih berkutat pada persoalan identitas?

“Kalau Danarto dan Gus Mus mendekatkan kesastraan dengan kebudayaan islam di indonesia itu lewat kaca mata mereka. Ya kita dari sudut kita. Kita berhak memposisikan sesuatu. Unversalitas islam itu yang menjadi satu titik.”

“Tapi saya yakin, Gus Mus kemudian Danarto itu akan mengungkapkan sesuatu tidak seperti yang diungkapkan oleh Ayu Utami dan teman-temannya. Dalam artian tulisan itu tetap menjadi kepentingan walaupun mereka mengimbaskan pada kekaryaan. Mungkin karena posisi mereka dengan keilmuan yang lebih luas itu.”

Ekky Imanjaya punya pandangan lain. Alumni Filsafat Univesitas Indonesia (UI) yang kini menjabat sebagai koordinator Divisi Kritik Sastra FLP Pusat ini mengatakan, perbedaan corak keislaman penulis FLP dengan penulis islam lainnya terkait dengan pemahaman islam penulisnya. Semakin karya itu jauh dari simbol, karya itu akan semakin universal.

“Makanya saya tidak setuju disebut sebagai sastra islam, secara pribadi. Walaupun mas Gong sangat bersikeras. Karena mas Gong bilang identitas, kenapa emang. Ada apa memang dengan sastra islam. Outputnya sama itu mencerahkan, ada sesuatu pesan,” kata Ekky. Mas Gong adalah Golagong. Pendiri komunitas Rumah Dunia ini juga bergabung dalam FLP.

Menurut Ekky, orang menulis karena dia gelisah. Caranya menulis terserah. Lalu, perlu dipertimbangkan juga, dia menulis untuk siapa. “Apakah untuk sesama anak Rohis, sesama orang yang sudah mengerti islam, atau untuk dunia luar. Nah itu yang harus disebarkan bahwa kita menulis buat banyak orang. Untuk itu kita harus berbahasa dengan bahasa kaumnya.”

Pemahaman menulis untuk semua orang itu yang kurang dipahami oleh para penulis FLP. Dalam penilaian Ekky, mereka masih menulis hanya sesuatu yang dekat dirinya. “Mungkin untuk awal nggak masalah, hitam putih lah, penjahat yang jahat banget, harusnya ada peningkatan.”

Ekky justru lebih menyarankan jika penulis FLP mengacu pada karya-karya Kuntowijoyo. Karya Kuntowijoyo, kata Ekky, meski tidak menyebutkan embel-embel islam, tapi dia sangat islami. Ekky tak mempersoalkan adanya kata-kata “assalamualaikum” selama itu menjadi bagian inheren dalam karya. Sebaliknya, kata-kata itu juga tak menjamin sebuah karya akan menjadi lebih islami ketika hanya dijadikan sebagai tempelan.

“Kalau seorang itu muslim dia akan menginternalisasikan nilai-nilai keislamannya, ada proses, kemudian ada proses eksternalisasi. Jadi apapun yang dilakukan oleh seorang muslim itu dakwah tanpa harus ngomong, saya sedang berdakwah, itu otomatis. Itu pun terjadi ketika dia menulis. Ketika dia menulis nilai-nilai keislaman yang sudah diendapkan itu keluar,” kata Ekky yang mengaku pengagum Kuntowijoyo ini.

Kuntowijoyo selain sebagai sejarawan ia juga menulis novel dan cerpen. Salah satu karyanya yang dikenal luas adalah Khotbah di atas Bukit dan cerpennya Dilarang Mencintai Bunga-Bunga. Khotbah di atas Bukit bercerita tentang perjalanan spiritual tokohnya, Barman, yang menemukan “pencerahan” justru setelah dia menikmati kehidupan yang berkecukupan. Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga memenangkan Sayembara Cerpen Majalah Sastra tahun 1968. Sebelum meninggal dunia pada 22 Februari 2005, Kunto menuliskan “Maklumat Sastra Profetik” sebagai kredo kepenulisan karya sastranya.

Kumpulan cerpen Ekky yang berjudul Protes, menurutnya tidak ada kata-kata islam. Tapi oleh Asma Nadia diminta untuk diterbitkan di Lingkar Pena Publishing House. “Wah ini menurut saya dah nggak ada yang islami-islaminya, tapi masih kental nilai-nilai keislamannya, masukin saja,” kata Ekky menirukan Asma.

Ekky mengaku kerap mendorong teman-temannya di FLP untuk tidak hanya membaca buku-buku yang satu selera. Walaupun secara ideologi tidak sama, buku itu perlu dibaca sebagai referensi untuk memperluas wawasan penulis.

Jika ada yang memandang FLP ekslusif, bagi Irfan sebagai hal yang wajar karena setiap kehidupan itu plural. Ada sudut ini di kampus, ada juga sudut seperti pesantren di sana, ada juga keislaman. “Apa salah seorang yang punya background ideologis ingin mengungkapkan jati dirinya?”

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Moechtar Lubis, misalnya. Meski keduanya mengeksplorasi nilai-nilai budaya, tapi secara langsung maupun tidak, pengarang telah mengarahkan pembacanya. Keterjebakan sejumlah anggota FLP, khususnya yang masih pemula, dalam sesuatu yang bersifat simbol akan dibenahi dalam kepungurusan Irfan.

****

Sejumlah pihak di luar FLP menduga, kemunculan FLP untuk mengcounter merebaknya bacaan teenlit-chicklit. Belakangan FLP sering dikaitkan sebagai perlawanan terhadap sastra seks yang dalam istilah sastrawan Taufik Ismail “Sastra Madzhab Selangkang” (SMS) atau “Gerakan Syahwat Merdeka” (GSM). Visi FLP ingin menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan masyarakat/ummat. Namun kata “pencerahan” kerap disamaartikan dengan “berdakwah”.

Memang tak menjadi soal jika penulis akan berdakwah. Tapi masalahnya bagaimana mengemasnya. Jika dakwah itu terlalu vulgar, lantas apa bedanya dengan khotbah, apa bedanya dengan pamflet?

“Kalau buat yang berpandangan negatif, ya nggak apa-apa. Orang boleh saja punya pandangan yang berbeda. Tapi yang jelas, kami di FLP tetap akan berkarya, tetap akan memperbaiki kualitas karya FLP dan menjadi orang yang berbicara dengan karya, menjadi orang yang ada dengan karya. Jadi buat temen-temen yang berpandangan negatif, ya buktikan saja bahwa mereka bisa menulis yang lebih baik dari yang ditulis FLP,” tutur Helvy.

Joni Ariadinata yang sejak beberapa tahun terakhir ini ditunjuk sebagai pembina FLP mengatakan, sastra yang baik pasti ada pesan yang ingin disampaikan. Termasuk mereka yang mengklaim seni untuk seni, dalam karyanya juga ada sesuatu yang ingin disampaikan. Hanya saja akan menjadi soal ketika pesan hanya disempitkan menjadi moral, menjadi dakwah.

“Ada orang mengatakan karya itu baik kalau ada pesan moralnya, padahal pesan moral itu mengganggu. Apalagi jika pesan itu disampaikan secara vulgar seperti yang disampaikan anak-anak FLP, meski ini tidak semuanya. Kalau ingin menyampaikan ayat-ayat, kenapa disampaikan oleh sastrawan, yang pengetahuannya belum tentu memadai. Lebih baik oleh mereka yang pengetahuan agamanya lebih baik,” terang Joni Ariadinata.

Menurut Joni, sejumlah anggota FLP keliru menafsirkan bahwa sastra yang baik itu yang ada nasehatnya. “Khotbah Juma’t saja bosan, sebelum mendengarkan saja sudah apriori dulu kan. Sastra yang bergaya khotbah itu akan membosankan, seperti mendengarkan khotbah yang sebelumnya kita tahu isinya. Tiba-tiba dalam sastra akan disampaikan, akan membosankan.” “Tidak semua khotbah membosankan, ada kiai yang mumpuni, sehingga tidak membosankan. Tapi kebanyakan memang begitu,” tambah Joni.

Joni mengasuh rubrik ulasan cerpen di Majalah Annida yang sebagian besar penulisnya adalah anggota FLP. Setiap kali menemukan karya yang bernada khotbah, Joni tak segan-segan memberikan kritik pedas. Berkali-kali ia mencontohkan Kuntowijoyo yang dengan cantik mengajak orang mempunyai etos kerja seperti dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.

“Teman-teman FLP masih menuju ke sana. Saya ngobrol dengan Abdul Hadi. Dia khawatir karya-karya anak FLP ini akan merusak citra islam. Sekian ribu banyak penulis islam dan jelek. Di satu sisi ada benarnya. Tapi di lain sisi, Abdul Hadi sebagai orang luar yang tidak terlibat, gampang saja ngomong seperti itu. Kalau dia kuatir, mbok ya dia menemani. Makanya karena saya melihat kekhawitran itu, saya menemani. dan diantara mereka ada yang netes, satu, dua, tiga, sepuluh, bagus kan?”

Joni tidak hanya terlibat di FLP. Di Yogyakarta bersama sejumlah seniman dia membuat Jurnal Cerpen Indonesia. Idenya, selama ini cerpen yang dimuat di media mainstream punya banyak kelemahan. Diantaranya, ia akan bertimbang dengan banyak hal, seperti jumlah halaman. Belum lagi dengan beragamnya pembaca, dia juga akan melakukan penyaringan. Dua hal itu sudah membatasi kreativitas pengarang. Cerpen Joni Lampor menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2004.

Ahmad Tohari mengatakan, dalam syariah islam ada tingkatan. Begitu juga dalam sastra. Pada tahap awal masih bersifat formal, seperti bagaimana orang berjilbab, nama islami, pakaian islami. Kemudian ada yang substansial, yang sudah lebih mendalam. “Sastranya Mas Danarto tidak berbicara secara langsung. Tapi karya-karyanya sangat islami.”

Nuansa dakwah yang amat mencolok, dalam pengamatan penulis penulis Ronggeng Dukuh Paruk itu, dilakukan oleh anggota FLP pemula. Tapi Tohari percaya jika mereka dalam prosesnya akan berkembang menjadi penulis yang lebih baik.

“Kesantrian orang elkis, santri salaf sudah bergaul dengan lokal berbeda dengan kesantrian FLP. Dan itu bukan hal yang aneh. Santri yang ketemu islam di kampus akan beda lagi. Saya tak mempersoalkan itu. Kita jalannya sama, namanya saja yang beda. Titik temunya pada konsistensi membela kemanusiaan. Tuhan sendiri tidak menghendaki semuanya islam. Menurut saya, sastra itu dibaca semua orang. Kalau bergelut dengan segmen, itu hanya terminal keberangkatan, bukan tujuan,” terangnya. Elkis yang dimaksud Ahmad Tohari adalah LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) yang banyak menerbitkan kajian islam kritis.

****

Taufik Ismail menyebut FLP sebagai “Anugrah dari Allah untuk Indonesia”. Ia menilai kehadiran FLP perlu untuk menyemarakkan dunia sastra di tanah air. Selepas reformasi bergulir, banyak bermunculan karya teenlit-chicklit dan pengarang perempuan yang disebutnya telah “mencabul-cabulkan diri”.

Taufik bisa memahami masih adanya semangat yang kuat untuk berdakwah oleh sebagian anggota FLP belum diimbangi dengan kemampuan menulis yang baik. Tapi ia melihat itu sebagai sebuah proses. Dan dari sana FLP ke depan masih punya harapan. Soal kualitas karyanya, penerbit dan pembacalah yang akan menentukan. Kemudian juga ada kritikus sastra yang akan menimbang baik tidaknya karya mereka.

“Mereka harus diberitahu bahwa ketika kau akan berkhotbah itu berbeda ketika kau menulis karya sastra. Bedanya adalah di sini-disini, diberitahu dia,” tambahnya.

Agar berdakwah dan bersastra menemukan paralelnya, ada kriteria yang harus dipenuhi. Dakwah itu disampaikan dengan bahasa yang indah supaya orang yang membaca tidak bosan. Yang tak kalah penting menurut Taufik, karya itu tetap menggetarkan perasaan dan menyebabkan orang yang membaca ingat kepada sang Maha Kuasa.

“Puisi-puisi saya penuh dengan pesan-pesan keagaamaan, tapi puitis. Saya kira orang akan mendengarnya enak. Orang akan merasa indah. Saya bisa saja melangkah ke samping, menjadi seorang da’i. Tapi saya tidak melakukan itu.”

Sejak awal berdirinya FLP, Helvy Tiana Rosa selaku pendiri dan ketua FLP waktu itu mengakui sering meminta masukan kepada penyair yang dikenal lewat puisinya Tirani dan Benteng yang merupakan rekaman pergerakan mahasiswa ‘66 itu. Sampai kini Taufik diangkat menjadi penasehat FLP.

Ahmadun Yosi Herfanda menilai karya-karya yang dihasilkan oleh sejumlah penulis Forum Lingkar Pena secara kualitas bagus. Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, contohnya. “Mereka sering dapat penghargaan sastra. Sayangnya, nyaris tak ada kritikus yang secara serius mengamati dan membicarakan karya-karya mereka. Kritikus kita malah lebih suka membicarakan karya-karya yang cenderung esek-esek, seperti karya Ayu Utami dkk. Memang ada semacam ketidakadilan dalam tradisi kritik sastra kita.”

Terkait pemberian label “islami” pada karya-karya penulis FLP dan jaringannya, Ahmadun menilai itu dilakukan untuk kepentingan politik identitas dan segmen pembaca atau konsumen. “Dengan label Islami, ada identitas yang ditegaskan di sana, dan dan segmennya juga jelas, yakni para peminat bacaan yang Islami. Dengan label itu pula, konsumen merasa aman untuk membacanya, ibu-ibu juga aman kalau membelinya untuk anak-anaknya (remaja) karena tidak bakal salah pilih bacaan yang ngaco atau destruktif. Dari sisi ini, labelisasi itu jelas penting.”

Ahmadun Yosi Herfanda adalah redaktur budaya di Harian Republika. Namanya oleh para kritikus sastra kerap disandingkan dengan nama-nama besar macam Emha Ainun Najib, Abdul Hadi WM sebagai pengusung puisi-puisi sufistik yang pernah semarak pada tahun 70 dan 80-an. Pada kepengurusan Helvy Tiana Rosa, dia diangkat menjadi penasehat FLP. Kini ia masuk dalam jajaran Majlis Penulis FLP pusat.

Apresiasi serupa juga datang dari akademisi dan kritikus sastra Universitas Indonesia, Maman S Mahayana. Baginya langkah yang telah dilakukan oleh Forum Lingkar Pena dalam menumbuhkan kegairahan berkarya patut mendapatkan apresiasi. Terlepas dari kualitas karya yang dihasilkan, langkah untuk menghasilkan para penulis yang dilakukan FLP merupakan embrio yang dalam lima atau sepuluh tahun ke depan akan menjadi sastrawan penting di negeri ini.

“Saya gagal menyembunyikan kekaguman saya melihat gerakan yang dilakukan FLP, sebab dari sana, tiba-tiba saja berloncatan para penulis novel. Bukankah gerakan semacam ini, dalam sejarah sastra Indonesia, baru dilakukan oleh FLP?”

Taufik Ismail melihat kemunculan fiksi islami yang diusung oleh FLP sebagai sesuatu yang alamiah. Sama seperti fenomena lain yang terjadi pasca reformasi dimana setiap warga bisa melakukan apa saja, pengarang memperoleh kebebasan. Yang ia sayangkan justru kenapa kebebasan yang telah diperoleh itu disiasakan oleh pengarang untuk “mencabul-cabulkan diri” dalam karya mereka.

Taufik juga tidak keberatan jika FLP masih berkutat pada lingkaran sastra islami. Tapi apakah itu tidak akan menjadikan mereka terkesan ekslusif dan mengkotak-kotakkan karya sastra?

“Ekslusif juga nggak apa-apa. Itu adalah demi kebaikan dan untuk berlomba-lomba. Karena di luar islami itu, yang mencabul-cabulkan itu juga bersatu. Jadi kita berlomba-lomba. Kalau misalnya dari kalanagn agama lain mau buat gerakan sastra, nggak apa-apa. Kenapa kita harus merasa tidak tentram dengan itu.”

“Tapi apa salahnya captive market, kalau yang captive market itu juga tidak keberatan. Dan mereka mau membeli, mereka tidak dipaksa, mereka mau membeli. Dan itu laku,” tambah Taufik.

Taufik justu menyoroti minimnya kritikus sastra. Lini ini, katanya, masih bolong. Padahal kondisi sekarang dan dulu sudah jauh berbeda. Dulu pengarang belum begitu banyak jumlahnya, sehingga setiap sastrawan akan mendapatkan kritik yang memadai. Oleh karena itu, para penulis muda sekarang kurang mendapatkan kesempatan apresiasi dari para kritikus sastra. “Sesudah pak HB Jassin meninggal, siapa yang mengisi lowongan ini?”

Sejauh ini perkembangan fiksi islami menurut Taufik masih sebatas gejala. Yang ia harapkan adalah, munculnya para sastrawan yang menghasilkan karya bagus.

“Biarlah semuanya itu bergerak dulu. Seperti yang saya katakan kan, ada alur. Berproses. Pada waktunya yang mbeling-mbeling yang mencabul-cabulkan diri, sudah biarkan saja, nanti insya allah berkembang. Bumi kita ini bumi islam. Nanti akan mendapatkan jalannya sendiri. Saya mengharapkan jalan itu jalan yang baik. Saya nggak mau mengatakan ‘e ojo ngono, koe salah’, saya nggak mau mengatakan seperti itu. Dan saya tidak mau memberikan energi saya ke sana.”

[Digunting dari Majalah Mahasiswa Universitas Diponegoro, Hayamwuruk edisi No.1/Th. XVIII/2008, "Fenomena Sastra Islami: Antara Pro dan Kontra".
[+baca-]

Dihujat Karena Melanggar Tabu

Oleh Muhamad Sulhanudin

Masyarakat kerap mengecap seorang pengarang sesat lantaran karyanya dianggap menyimpang.

“Resfreshing itu sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.”

Tuhan menggeleng-gelengkan kepala membaca petisi yang ditulis para nabi di surgaloka. Dipanggillah Muhammad dari Madinah, Arabia karena tercantum sebagai penandatangan pertama.

Setelah menghadap Tuhan dan menyampaikan alasannya untuk turba ke bumi, Muhammad akhirnya diizinkan Tuhan untuk melakukan riset dengan ditemani Jibril. Di tengah jalan, buroq –kuda sembrani– yang ditunggangi Muhammad dan Jibril tertabrak sputnik Rusia. Muhammad dan Jibril terpental. Beruntung ia tersangkut di gumpalan awan yang empuk.

Setelah berdiskusi cukup lama dengan Jibril, akhirnya mereka turun ke Jakarta dengan menyamar sebagai elang. Dari atas pasar Senin Jibril dan Muhammad mendapati para pelacur sundal sedang bersolek. Di bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang kena raja singa. Di mana-mana penyakit Nasakom telah menjangkiti setiap orang di mana umat muslim terbesar bermukim di negara ini.

****

Langit Makin Mendung adalah cerpen karangan Ki Pandjikusmin. Diterbitkan di Majalah Sastra Th. VI No.8, Agustus 1968. Muhammad dalam cerpen Langit Makin Mendung tentu saja tokoh rekaan seperti halnya tokoh-tokoh dalam karya fiksi pada umumnya. Begitu pula dengan Tuhan, Jibril dan nama-nama lainnya tak lebih dari tokoh fiktif belaka. Menurut HB Jasssin yang menjadi penanggungjawab Majalah Sastra, Pengarang hanya menggambarkan ‘ide tentang Tuhan dan Nabi’, bukannya menggambarkan Tuhan atau Nabi yang sebenarnya.

Namun cerpen itu dianggap telah menghina Islam. Penggambaran Muhammad apalagi Tuhan, haram hukumnya. Jassin dituntut ke pengadilan karena tak mau membuka identitas Ki Pandjikusmin. Sebagai konsekwensinya, Majalah Sastra dilarang terbit. Jassin menganggap tuduhan menghina Islam terlalu berlebihan. Baginya kenyataan kreatif tak identik dengan kenyataan obyektif.

Bagi Wiratmo Sukito cerpen Langit Makin Mendung secara capaian artistik jelek dan merupakan kitsch. Tapi ia tak membenarkan tindakan Kejaksaan Tinggri Sumatera Utara yang memberangus Majalah Sastra karena di dalamnya terdapat karangan yang dianggap menghina islam. Dalam dunia sastra, menurut Wiratmo, yang berhak melakukan pengadilan sastra tak lain adalah kritikus sastra yang memiliki integritas sastra yang besar.

Dalam artikel “Seniman Islam di Tengah Masyakat Modern” (Minggu Indonesia Raya, 22 Desember 1968) HB Jassin mengkritik sikap tidak toleran masyarakat kita yang suka melakukan pelarangan. Dalam kaitanya dengan sastra dan kesenian, Jassin mengharapkan adanya peningkatan penghayatan para seniman atas ajaran agama, sehingga mereka dapat menyampaikan sesuatu yang tidak bertentangan dengan akidah agama tanpa menghilangkan kemerdekaan mencipta.

Di sisi lain, Jassin juga mengharapkan akan lahirnya kritikus yang dengan pengetahuan agamanya dapat menilai karya-karya seniman Islam dari sudut keislaman tanpa menghadapkan paksaaan kepada kebebasan mencipta.

Menutup artikelnya itu, Jassin menulis “Apabila (sebagian) golongan Islam tidak merubah sikapnya terhadap seniman, maka saya kuatir para seniman pada suatu ketika akan terjadi perpisahan antara seniman dan masyarakat islam, perpisahan yang mungkin meruncing menjadi permusuhan yan tak ada gunanya malahan akan merugikan kedua belah pihak.”

Bahrum Rangkuti yang tampil sebagai pembela Jassin, berdebat sengit dengan Hamka di kubu yang menentang pemuatan cerpen Langit Makin Mendung. Bahkan ketika hakim bertanya kepada Hamka yang waktu itu menjadi penanggungjawab majalah Pandji Masjarakat, apakah ia akan memuat cerpen Ki Pandjikusmin jika dikirim ke majalahnya, “Murtad dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat,” jawab Hamka. Meski Hamka secara tegas menentang pemuatan cerpen itu, tapi Hamka minta hakim membebaskan Jassin.

Selain Wiratmo Sukito, Bahrum Rangkuti dan Hamka masih banyak nama-nama besar lain yang terlibat dalam debat pro-kontra pemuatan cerpen Langit Makin Mendung di Majalah Sastra pimpinan HB Jassin itu. Pro kontra ini setidaknya berlangsung selama tiga tahun (1968-1970) dengan pembahasan secara intens dari topik seni, agama hingga masalah sosial, filsafat dan politik.

Oleh majlis hakim, seperti dikutip dari “Pledoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung” (Melibas, 2004) HB Jassin divonis hukuman satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Jassin naik banding. Namun hingga Jassin meninggal, ia sendiri belum pernah menerima surat vonis dan tak mengetahui keputusan pengadilan tinggi.

***

Pelarangan karya sastra karena dianggap melanggar ajaran agama juga menimpa Muhidin M Dahlan. Tahun 2005 ia mendapatkan surat somasi dari Majlis Mujahiddin Indonesia (MMI) karena dianggap telah menodai ajaran agama Islam lewat novelnya Adam dan Hawa (Scriptamanent, 2005). Bahkan oleh MMI surat somasi itu juga ditembuskan kepada Polda Metro Jaya. Jika dalam waktu 7×24 jam penulis tak menarik bukunya dari peredaran dan memusnahkan, maka akan dituntut secara hukum.

Dalam Adam dan Hawa dikisahkan jika Adam tidak diciptakan dari tanah liat sebagaimana yang dimaktubkan dalam Al Qur’an, tapi dari ketiak Tuhan. Karena keluar dari ketiak tuhan, maka Adam menyebut dirinya sebagai putra tuhan. Selain itu juga dikisahkan bahwa Hawa bukanlah perempuan pertama yang diciptakan Tuhan untuk Adam. Perempuan pertama yang dipertemukan dengan Adam adalah Maia. Adam digambarkan sebagai pribadi yang haus seks. Tiap hari ia minta Maia meladeni hasratnya. Tapi lama-lama Maia mengeluhkan sikap Adam yang dominan dan suka memerintah. Karena ogah terus-terusan diposisikan di bawah ketika bersetubuh dengan Adam, Maia diusir dari Taman Eden. Lalu datanglah Hawa sebagai pengganti Maia.

Terusirnya Maia dari Taman Eden menyimpan dendam yang kelak akan dibalaskan oleh anak perempuannya, Marfuah. Marfuah adalah anak hasil hubungan Maia dengan Idrus, adik Adam. Marfuah bersiasat untuk membangkitkan birahi Adam hingga pamannya yang sudah uzur itu kehabisan tenaga. Di saat itulah Marfuah segera menghujamkan senjata yang telah dipersiapkan ke tubuh Adam hingga tewas bersimbah darah.

Semua peristiwa dalam novel ini diceritakan dengan bahasa yang kocak, garang dan dengan imajinasi liar penulisnya.

Jauh hari sebelum Muhidin menulis Adam dan Hawa, tahun 1957 AA Navis dengan imajinasi liarnya menggambarkan kehidupan alam kubur melalui cerpen Man Robbuka. Kalimat “Man Robbuka” dalam ajaran Islam diajarkan sebagai pertanyaan pertama yang akan ditanyakan oleh malaikat penjaga kubur ketika seseorang meninggal. Artinya, siapa tuhanmu?

Dua tokoh Jamain dan Jamalin memiliki karakter yang bertolak belakang. Jamain suka madat dan main perempuan dan Jamalin rajin beribadah. Tapi di akherat Jamalin yang saleh dimasukkan ke neraka, sedang Jamain yang durhaka malah masuk syurga.

Ketika malaikat penjaga kubur menanyai Jamain “Siapa Tuhanmu?” Jamain mengira pertanyaan itu “Apa yang kau bawa?” Waktu itu Jamain sedang dalam keadaan teler. Sebelum meninggal Jamain telah berpesan kepada teman-temannya untuk ikut menguburkan semua barang madat yang ia punya selama hidup di dunia, termasuk majalah-majalah pornonya.

Mendapati jawaban yang aneh, malaikat menjadi bingung. Selanjutnya Jamain malah menawari malaikat ganja dan mengajari cara menikmatinya. Setiap kali datang ke kubur Jamain, malaikat lupa akan tugas yang telah dititahkan tuhan kepadanya. Tiap kali datang, oleh Jamain malaikat diajak sakau. Giliran mendatangi Jamalin yang kuburnya bersebelahan dengan Jamain, malaikat masih terpengaruh oleh ganja yang diberikan Jamain. Karena itu, malaikat salah memasukkan Jamain ke syurga dan Jamalin ke neraka.

Cerita mengenai kehidupan akherat dalam karya fiksi juga dilakukan oleh Jamil Suherman melalui novel tipisnya Perjalanan ke Akherat yang diterbitkan tahun 1963. Memang tak sevulgar Man Robbuka karya Navis. Namun di sana ada penggambaran kehidupan setelah mati. Respon atas Man Robbuka dan Perjalanan Menuju Akherat juga tak seheboh respon masyarakat terhadap cerpen Langit Makin Mendung.

Perjalanan ke Akhirat semula merupakan cerita bersambung di Majalah Sastra, yang kemudian dinyatakan meraih hadiah kedua di majalah sastra bergensi itu tahun 1962. Setahun kemudian, karya ini diterbitkan sebagai buku oleh penerbit Nusantara, Bukittinggi, Jakarta. Cetakah kedua (1985) diterbitkan oleh Penerbit Pustaka, Perpustakaan Salman ITB, Bandung.

Perjalanan ke Akherat adalah sebuah novel keagamaan yang sebenarnya sarat dakwah, namun tetap menarik karena latar suasananya memang sangat mendukung keseluruhan cerita. Dikisahkan, Salim memberikan pembelaan ketika istrinya hendak dimasukkan ke neraka. Tapi oleh Tuhan dosa Salamah, istri Salim, tak bisa diampuni karena ia bunuh diri. Tuhan tak mengabulkan permintaan Salim. Baru setelah ibu Salamah datang memberikan pembelaan, atas dasar kasih sayangnya, akhirnya Tuhan membebaskan Salamah dari siksa api neraka.

Dari pertemuan itu akhirnya Salim tahu mengapa istrinya bunuh diri. Ternyata Kasim menjadi penyebab semua itu. Rupanya, Kasim yang seniman murtad itu berusaha menggoda Salamah hingga janda itu mata gelap dan terpaksa memilih perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan; bunuh diri.

Selain itu, Zikri yang juga harus mendapat siksa neraka karena perbuatan dosanya di dunia, mengisyaratan bahwa seorang haji atau seorang guru ngaji sekalipun tetap harus membayar mahal atas segala perbuatan dosanya di dunia.

Selain Perjalanan ke Akherat, Jamil Suherman juga menulis Muara (1958), Manifestasi (1963), Nafiri (1983), Ummu Kalsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985) dan Sakerah (1985).

Djamil merupakan penulis pertama dalam sastra Indonesia/Malaysia yang berani membicarakan secara langsung alam akhirat dalam bentuk novel. Dalam medium lainnya ada Asrul Sani dan Usmar Ismail dan tokoh-tokoh seniman Lesbumi, seperti dikutip dari esai HB Jassin (Minggu Indonesia Raya, 1968), beberapa tahun sebelumnya telah mengikutsertakan film dan teater sebagai alat dakwah untuk islam. Film Sehelai Rambut Dibelah Tujuh kala itu ditonton oleh umat islam dengan penuh minat. Tapi drama Iblis karya Muhamad Diponegoro di Yogya mendapatkan gangguan dari pihak-pihak yang tersinggung karena di sana ditampilkan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Iblis (Harian Kami, 1968).

Di era 60-an Djamil Suherman juga dikenal sebagai pengarang yang mengusung tema pesantren dalam karya fiksi. Namun rintisan Jamil tidak cukup berhasil, karena dengan layunya Jamil Suherman, maka mati pula gairah cerpenis pesantren. Cerpen atau novel khas pesantren baru muncul beberapa dekade kemudian. Menyebut salah satu diantaranya adalah Abidah El Khalieqy yang telah melahirkan sejumlah novel Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002) dan yang terbaru Geni Jora (2004).

Penolakan karya fiksi yang jangkuannya lebih luas karena dianggap menyimpang terjadi pada Satanic Verses karya Salman Rushdie yang diterbitkan tahun 1988. Keberatan atas karya itu datang dari umat muslim di berbagai negara. Bahkan Ayatullah Khomenei menyerukan agar penulis dihukum mati. Di sisi lain, keberatan juga datang dari pihak Vatikan melalui juru bicara Paus Yohanes Paulus II yang mengatakan bahwa Satanic Verses tak hanya melukai umat muslim tapi juga umat beragama lainnya. Meski mengecam karya itu, Paus menolak jika pengarangnya harus dihukum mati.

****

Agus Sunyoto menulis novel perjalanan bathin Syekh Siti Jenar. Dalam diskusi bukunya Suluk Malang Sunsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar yang merupakan jilid ke tujuh (LKIS, 2005), penulis mengatakan jika ada alasan politis di balik stigmatisasi yang dialamatkan oleh penguasa waktu itu kepada Syekh Siti Jenar. Menurutnya, ajaran wahdatul wujud atau dikenal manunggaling kawulo gusti, juga ditemukan dalam ajaran-ajaran Sunan Giri. Seperti dalam Serat Centhini yang juga menceritakan keturunan Sunan Giri, di dalamnya ada ajaran tersebut.

“Lalu jika Sunan Giri juga mengajarkan, kenapa yang dieksekusi cuma Siti Jenar. Jadi ada faktor politis sebenarnya,” terang Agus Sunyoto.

Syekh Siti Jenar adalah orang yang pertama kali melakukan perubahan sosial. Desa-desa “Lemah Abang” dari Cirebon, Kerawang sampai ke Jawa Timur dibuka oleh Siti Jenar. Oleh karena itulah Siti Jenar juga dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang. Siti Jenar kecil bernama San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh Isa Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan Alawi tersohor di Ahmadabad, India, yang berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dengan kota Tarim di Hadramaut.

Waktu itu masyarakat Jawa mengenal dua kelompok dalam masyarakat, yaitu “Gusti” dan “Kawulo”. Gusti adalah orang dalam keraton, kawulo orang di luar keraton. Orang Melayu mengatakan dirinya sahaya atau saya, itu sama artinya dengan kawulo yang berarti budak. Sebagai orang yang lebih berkuasa, gusti berhak atas apa yang dimiliki oleh kawulonya. Sehingga jika gusti berkehendak, maka kawulo tidak boleh menolak. Seperti ketika Gusti menghendaki ingin mempersunting gadis cantik anak si A, maka si A harus merelakannya.

Siti Jenar menyampaikan kepada orang desa-desa yang telah menjadi pengikutnya, bahwa mereka tidak boleh lagi menyebut dirinya dengan kawulo. Siti Jenar menyuruh murid-muridnya agar menyebut dirinya seperti raja, menyebut dirinya dengan “ingsun”. Siti Jenar juga memperkenalkan istiah-istilah Arab kepada para pengikutnya. Seperti kata rakyat dari ru’yah. Kemudian masyarakat dari musyarokah, yang artinya bekerjasama. Dalam pandangan Siti Jenar semua manusia itu sederajat.

“Kamu kan sederajat dengan raja,” kata Agus seolah menirukan Siti jenar. “Inilah yang membikin marah orang keraton. Karena itulah semua pengikut Siti Jenar ini disebut golongan “abangan”. Orang yang tidak punya toto kromo, nggak karu-karuan, sebutan itu dialamatkan kepadanya. Alasannya sebenarnya politis, bukan karena ajarannya sesat,” tambah Agus.

Memang kemudian Siti Jenar dicitrakan buruk sekali di masyarakat sebagai penyebar aliran sesat. Itu, kata Agus, karena semua babad yang ditulis di keraton antipati dengan Siti Jenar.

Dr. I. Kuntara Wiryamartana mengatakan, novel Agus Sunyoto tersebut akan bermasalah jika dibaca oleh mereka yang fanatik. Bagi mereka yang fanatik, islam itu harus dibersihkan dari pengaruh Jawa. “Mengerikan Jowo kurunge tauhid. Mau beli jawa kurunge tauhid? Jowo ki nggone berhala, nggone menyan, kuwi kudu di resi’i. Kan gitu. Tapi ini sangat berani. Mereka yang disindir di situ, terimo opo ora.”

Kuntara melihat ada teka-teki dalam novel karya Agus Sunyoto itu. Yakni seperti dalam bunyi “uninang-uninong”. Kuntara membacakan bagian yang dimaksud.

“Taukah Tuan Syaikh akan rahasia di balik kata ‘uninang-uninong’?” Abdul jalil tersenyum dan berkata, “Sungguh tinggi nilai pertanyaan tuan. Sebab jawaban dari itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi hanya bisa dibuktikan dengan kenyataan.” “Aku tidak paham dengan jawaban Tuan Syaikh. Jika kata ‘uninang’ dibaca, hasilnya bisa bermacam-macam tergantung siapa yang menafsirkan. Uninang bisa dimaknai nanang? yaitu kepala botak yang diketuk. Tergantung siapa yang menafsirkan.”

“Pernah baca suluk wujil?,” tanya mantan pengajar Sastra Jawa UGM yang sejak beberapa tahun lalu memilih mengundurkan diri dari almamternya dan tinggal di Giri Sonta, Ungaran.

“Sak kedep dumugi Mekah. Kalau ikut para wali itu cukup sujud dari Demak nggak perlu ke Mekah untuk naik haji. Ada padanan begitu dalam novel ini. Kalau bukan novel, ini sangat berbahaya, pengarang iso di…. hmmm…”

“Terus apalagi, ‘Tu Tu… Han Hantu’. Tuhan itu sisi baik, Hantu itu sisi buruk. Kalau orang tidak mau menikmati, pasti sudah mutah. Wes ngoyoworo opo iki,” tambah Romo Kun, panggilan I Kuntara. Meskipun demikian, Romo Kun mengaku menikmati pengalaman demi pengalaman yang dikisahkan oleh pengarang karena darinya ia bisa belajar banyak hal.

Agus Sunyoto mengakui ada reaksi ketidaksepakatan dengan isi novelnya. “Lho bukunya mas Agus kok modelnya seperti itu. Dianggap Tuhan itu milik semua orang. Milik semua bangsa, milik semua makluk. Itu kan nggak bener. Karena tuhan yang bener tuhan itu Alloh.”

Komentar-komentar itu memang tidak disampaikan secara langsung kepada Agus, tapi lewat saudara atau teman-temannya. Bagi Agus, dirinya hanya merefleksikan keyakinan orang-orang yang dipandang Syekh Siti Jenar seperti itu. Menurut Siti Jenar, semua makhluk, termasuk iblis tuhannya satu, Alloh. “Iblis itu nggak mau nyembah Adam karena Tuhan dia cuma Alloh saja. Jadi semuanya sama. Bahkan dalam Al Qur’an ditegaskan, burung yang terbang itu sedang bertasbih memuji Tuhan. Tuhan yang satu itu. Apakah orang itu memahami dengan persepsi yang berbeda-beda, itu sebenarnya tuhan satu,” terang Agus.

Ajaran Syekh Siti Jenar banyak disalahartikan oleh masyarakat. Itulah sebabnya, dia dicitrakan negatif. Menurut Lukman Hakim, Pemimpin Redaksi Tabloid Sufi, sejak zaman Ibnu Arabi, Jabir bin Hayat hingga Attirmidzi pada abad 2 Hijriyah, tidak ada satupun ulama tasawuf yang menyebut wahdatul wujud. Yang pertama kali memperkenalkan istilah itu adalah Ibnu Taimiyah karena menuduh aliran Ibnu Arabi wahdatul wujud.

Wahdatul wujud dalam bahasa Inggirs diterjemahkan menjadi Panteism. Isitilah itu mengacu pada kesatuan antara makhluk dengan Tuhannya. Orang yang telah mencapai tahapan ini akan menyebut dirinya adalah Tuhan karena Tuhan telah menyatu dalam dirinya. Tuduhan Ibnu Taimayah kepada Ibnu Arabi itu terus berlanjut. Dalam istilah kita dikenal “Manunggaling Kawulo Gusti”. Padahal yang manunggal itu wujud, bukan maujudnya. “Kalau wujud itu kan mustakhil. Kita itu nggak ada tuhan yang satu-satunya wujud. Kata ‘wahdah’ itu mengidhoahkan atau menyandarkan pada kata ‘maujud’.”

Dalam Al Qur’an disebutkan, pertama kali manusia akan ditanya oleh Tuhan, “Aku ini tuhanmu atau bukan?” Semua manusia mengatakan “Iya, bala syahidnaa.” Kata syahidnaa, kemudian muncul ashadu. Karena ini kesaksian jiwa. Kesatuan jiwa saja yang manunggal. “Tetapi kemudian difahami filsafat, kalau sudah memahami tuhan, kenapa menyembah Alloh. Ini manipulatif,” kata Lukman Hakim.

Batas antara surga dan neraka, kata Lukman, sangat tipis. Ajaran sufi yang benar itu ada syariat, ada tarekat, kemudian hakekat. “Tiga hal ini mestinya berjalan bareng. Bukan syariat itu menuju hakekat, bukan. Syariat itu, ya perintah tuhan. Perintah hubungan dengan ibadah lahiriah. Karena itu ibadah ada geraknya. Ada ruang dan waktunya. Karena itu dalam syatriat orang tak wajib menjalankan syarat kalau tidak ada ruang dan waktu. Orang gila, orang lupa, orang tidur, anak, dan orang mati. Selama kita masih melihat bentuk, kita wajib.”

Lukman mengutip perkataan Abu Yazid Al Bistami “Apapun persepsimu tentang tuhan yang itu terbayang, berwarna, berbentuk, berarah, itu pasti bukan tuhan”. “Karena itu semua karakteristik makhluk,” jawab Lukman.

Lalu jika ajaran Siti Jenar mirip Hindu, Budha, atau ajaran teosifis di kristiani apakah sebenarnya sama?

“Ya tidak sama. Seperti, ini kok kelihatannya sama. Karena itu ada kalimat ‘ngono yo ngono nangeng ojo ngono’. Karena untuk meredam para demosntran, muncul kalimat ‘ngono yo ngono nageng ojo ngono’. Padahal itu ajaran sufisme yang sangat tinggi. Begitu juga manunggaling kawulo gusti digunakan oleh penguasa untuk menidnas rakyat, itu juga manipulasi.”

Lukman mencontohkan ayat dalam Al Qur’an “Wahai Orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul dan para pemimpinmu”. Ayat itu sebenarnya tak boleh dibaca oleh para pemimpin, tapi hanya dibaca oleh para rakyat. Lalu ayat apa yang harus dibaca pemimpin? “Wa’mur bil adli wal ihsan”. Perintahlah dengan adil dan baik untuk menyejahterakan rakyat. Seperti juga ayat “Arrijallu qowamunaa ala nisaa”. Laki-laki adalah pemimpinnya wanita. Ayat ini tidak boleh dibaca oleh suami. Yang boleh dibaca oleh suami “Waa syiru hunna bil makruf”. Artinya, hidupilah keluargamu dengan baik. “Reposisi ini yang menimbulkan kalau dibaca tidak pas, jadinya manipulatif,” terang Lukman.

****

Di tanah rantau “Melayu” perdebatan ajaran wahdatul wujud telah berlangsung beberapa abad lalu yang melibatkan perseteruan sengit antara pengikut Hamzah Fansuri dan Nuruddin Al Raniri. Nuruddin menulai Hamzah Fansuri telah menyabarkan ajaran sesat kepada para pengikutnya. Oleh karena itulah, setelah Sultan Iskandar Muda mangkat (1636) dan digantikan oleh Iskandar Tsani yang telah akrab dengannya selama ia dalam “pengasingan”, Nuruddin segara mengambil kesempatan untuk melakukan pelarangan atas ajaran-ajaran Fansuri. Bahkan karya-karyanya dibakari. Tak hanya itu, pengikutnya juga diburu.

Memang, kali pertama Nuruddin menginjakkan kaki di kerajaan Acheh, ia telah lebih dulu ditolak karena ajarannya bersebarangan dengan paham wujudiyah yang dianut oleh kalangan kerajaan waktu itu. Dengan perasaan kecewa, ia pun hengkang dan meneruskan perjalanannya. Besar kemungkinan untuk sementara ia menetap di Semenanjung Tanah Melayu, tepatnya di Pahang (tempat kelahiran Iskandar Tsani). Ia tidak patah semangat dan menunggu saat yang tepat untuk kembali lagi ke Aceh. Di tempat ini pulalah ia banyak menulis kitab. Dari peristiwa “penolakan” itu barangkali rasa “dendam” tumbuh. Sehingga ketika Iskandar Tsani berkuasa, Nuruddin tak menyia-nyiakan kesempatan untuk “balas dendam”.

Pengembaraan Hamzah dalam mencari Tuhan dapat kita lihat pada penggalan syairnya berikut; Hamzah Fansuri di dalam Mekkah/ mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah/ dari Barus ke Kudus terlalu payah/ Akhirnya dijumpa di dalam rumah. Jadi, jelaslah betapa beratnya pengorbanan Hamzah mencari Tuhan, baik secara lahir maupun batin. Ia mengembara dari Barus (kampung halamannya) hingga ke Mekkah. Pengembaraan ini dilakukan untuk menemukan hakikat dirinya, karena begitu manusia lahir ke dunia ia merasa asing dan jauh dari hakikat dirinya. Dan ternyata memang ia menemukan Tuhan ada dalam dirinya sendiri.

Dalam kitabnya Hill al-Zill, Nuruddin membantah dengan keras pendapat kaum wujudiyyah yang mengatakan bahwa dunia ini ialah bayangan Allah. Namun, hujatannya kepada Hamzah Fansuri paling lengkap terdapat dalam kitabnya Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, karena hampir seperenam isi kitab ini adalah tuduhannya atas kesesatan Hamzah.

Di sebalik tragedi ini nampaknya Nuruddin tidak hanya ingin mempertahankan ajarannya semata-mata, namun ada maksud terselubung, yaitu ingin merebut dan mempertahankan kedudukan di sisi Sultan Iskandar Tsani, seperti sedekat Syamsuddin di sisi Sultan Iskandar Muda. Kebencian Nuruddin berlanjut sehingga dalam karya besar seperti Hikayat Aceh tidak disebutkan nama seorang ahli tawasuf dan tokoh sastra Hamzah Fansuri. Hal ini tentulah menjadi kerugian yang besar bagi Aceh.

Yang agak aneh, mengutip tulisan Medri Osno, peneliti Balai Bahasa Banda Aceh, ternyata Nuruddin juga penganut paham wujudiyah. Hal ini dapat dilihat dalam kitabnya: Jawahir al-Ulum dan Hujjat al-Siddiq li Daf al-Zindik. Kitab ini merujuk pada pada ajaran Ibn ‘Arabi—sedangkan Ibn ‘Arabi adalah pendiri faham wujudiyah. Dalam kitab ini ia menggolongkan ada dua jenis wujudiyah, yaitu: mulhid dan muwahhid. Ia menganggap dirinya termasuk golongon muwahhid (lurus) sedangkan Hamzah dan pengikutnya dimasukkan ke dalam golongan mulhid (sesat) yaitu golongan yang berpendapat bahwa Allah imanen belaka, tidak transenden, dunia ini kekal, tidak mengakui bahwa Alquran tidak bersifat makhluk yaitu tidak tercipta, telah mendewakan diri sendiri, dengan penegasannya bahwa tidak ada perbedaan antara mereka dan Allah.

Kejayaan Nuruddin di Acheh tidak bertahan lama. Setelah Sultan Iskandar Tsani wafat (1644) dan digantikan oleh permaisuri Sultanah Safiatuddin, anak Iskandar Muda (1641-1675), maka bersamaan itu datanglah dari Mekkah seorang ulama asal Minangkabau bernama Saiful Rijjal ke Aceh. Ia merupakan seorang penganut faham wujudiyah Hamzah Funsuri. Perseteruan Nuruddin dengan wujudiyah bangkit kembali. Kali ini yang menang ulama wujudiyah Saiful-Rijal. Akibatnya, Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh secara tergesa-gesa sehingga tidak sempat menyelesaikan karangannnya yang berjudul Jawahir al-Ulum fi Kasyf al-Ma’lum (Hakikat Diri Dalam Menyingkap Objek Pengetahuan). Nuruddin meninggal di kota kelahirannya, Ranir, dalam tahun 1658.

Lalu, benarkah seperti yang dituduhkan oleh Nuruddin Al Raniri bahwa ajaran Hamzah Fansuri sesat? Tidakkah ada faktor lain yang menjadi pemicu “tragedi sufi” Acheh itu?

****

Novel Syekh Siti Jenar dalam tujuh jilid itu disusun Agus Sunyoto dari hasil penelitian sosial. Dia meneliti tentang tarekat-tarekat lokal. Data yang ia kumpulkan tak hanya teks histeriografi, tapi juga dari sumber orang yang masih hidup. Di Jawa Timur masih banyak pengikut tarekt Satariah, Akmaliyah yang semuanya dinisbatkan kepada Siti Jenar. Selain itu, ia menulis karya itu karena merasa prihatin dengan kondisi perkembangan Indonesia. Orang-orang di negeri ini masih menggunakan kerangka berpikir teknis, secara hitam dan putih. Mereka akan dengan mudah memberikan cap kafir kepada kelompok tertentu yang tak sepaham.

Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Ayu Utami Utami dalam bedah novel terbarunya Bilangan Fu (KPG, 2008) akhir September 2008 di Fakultas Sastra Undip. Berbeda dari dua novel sebelumnya, Saman dan Larung, Bilangan Fu menukik pada pencarian spiritual. Digambarkan dua putra desa bernama Parangjati dan Kupu-Kupu. Parangjati menempuh jalan spiritual dengan berbekal khasanah kearifan Jawa, sementara Kupu-Kupu menempuh jalur islam “ekstrem kanan”. Dua kubu ini akan berbenturan, karena satu mendekati dengan ilmu alam, satunya dengan syariat yang tekstual.

Ayu mengatakan, dalam novelnya kali ini ia mengkritik kelompok yang suka dengan mudah menghakimi orang lain dengan sebutan “kafir” dan merasa dirinya paling benar. Dengan mengambil tema yang berbeda dari kedua novel sebelumnya, bukan berarti Ayu akan lepas dari sorotan. Entah itu dari lawan “politik” sastranya, atau dari pembaca yang tak sepakat dengan apa yang disampaikannya.

Pencarian jalan spiritual juga dilakukan oleh tokoh Arleta dalam novel Memburu Kalacakra karya Ani Sekarningsih (Bentang, 2004). “Pengalaman batin adalah urusan pribadi masing-masing,” kata Arletta. Ketika pengalaman spiritual dipahami sebagai pengalaman batin, menilai “kealiman” seseorang yang tampak dari luar tak menjamin kadar religiusitas seseorang dalam arti yang sesunguhnya.

Arletta yang menjalin hubungan seks sebelum menikah jika dilihat dari kacamata awam jelas sudah menyalahi norma agama. Apalagi Arletta yang beragama islam menikah dengan laki-laki yang beragama Hindu Bali dengan upacara keagamaan Hindu. “Perbuatan yang tidak menyakiti siapa-siapa itu sama sekali tidak dirasakannya sebagai sesuatu yang ’salah’, melainkan sebagai pengalaman yang penting sebagai bagian dari perjalanan hidupnya dan pencarian spiritualnya,” kata Arleta memberi jawaban bahwa apa yang dilakukannya itu dilakukan sebagai pilihan sadar.

Jika menurut Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) novel Adam dan Hawa karya Muhidin M Dahlan sesat, bagi Damhuri Muhammad ikhtiar menggunakan perspektif agama dalam mengukur derajat ketersesatan teks sastra bukan perkara gampang. Bila kurang hati-hati, alih-alih ditemukan titik terang, justru yang diperoleh hanya cibiran bahwa menghubung-kaitkan antara sastra dan agama adalah mustahil dan sia-sia (Suara Karya, 05/03 2006).

Menurut Damhuri, Adam dan Hawa telah membongkar, merusak, merubuhkan pagar, merapuhkan kekokohan tafsir tekstual terhadap teks suci. Lalu bagaimana membangun pagar itu kembali? Bagaimana memperkokoh kerapuhan itu?

“Jawabannya tentu saja dengan membaca novel itu, menyelami ceruk-ceruk terdalamnya, menemukan asbab al-wurud-nya, menafsirkannya secara kontekstual dan tak tergesa-gesa menyimpulkannya sebagai buku sesat lagi menyesatkan, apalagi memurtadkan novelis yang (konon) masih berdarah santri itu.”

Diakui atau tidak, hingga saat ini masyarakat kita tampaknya lebih menyukai jenis bacaan yang menentramkan, ketimbang bacaan yang membuat mereka cemas.

“…. saya tidak bisa mengatakan: saya memilih kehidupan kreatif, tapi sementara itu saya tidak bersedia untuk, seperti kata Adam, dilemparkan dari Sorga yang tenteram ke dunia penciptaan yang resah. Sebab saya tidak bisa mengatakan: saya memilih kemerdekaan, tapi sementara itu tidak memilih bahaya,” tulis Goenawan Mohamad dalam esainya “Tentang Kemungkinan-Kemungkinan Kesusasteraan”.

Barangkali tulisan Goenawan Mohamad itu sesekali perlu kita renungkan. []

[Digunting dari Majalah Mahasiswa Universitas Diponegoro Hayamwuruk No.1/Th. XVIII/2008, "Fenomena Sastra Islami: Antara Pro dan Kontra".
[+baca-]

Habis Gelap Terbitlah Gelap

Oleh Fahrudin Nasrulloh

Andai Kartini tidak lahir pada 21 April 1879, pastilah tidak akan muncul ledakan keperempuanannya hingga ia menulis Door Duisfernis Tot Licht yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang (P.N. Balai Pustaka, 1957). Ia tak lain adalah cermin tragedi perempuan di abad itu, saat harkat perempuan terperosok dan cuma berkubang ''riwa-riwi'' di sumur, dapur, dan kasur. Batinnya dilecut gelisah, dipukul topan badai keterbelakangan. Dirundung cita-cita, dihambat kasih sayang. Dikerangkeng adat dan dibutakan oleh peradaban bangsanya sendiri yang lama nian terjajah.

Siapa menyangka Kartini yang terlahir di Jepara itu lalu mencetuskan perubahan besar bagi kebangkitan perempuan Indonesia. Sebenarnya ia bukan apa dan siapa untuk digores dalam sejarah jika dibandingkan dengan sederet pejuang perempuan lain di negeri ini. Namun yang berharga darinya lebih karena 150 suratnya kepada Nyonya dan Tuan Abendanon. Terhadap dua londo baik budi ini, adik-adik Kartini pun menulis surat kepada mereka: Roekmini 29 surat, Kardinah (7), Kartinah (3), dan Seomatri (1). Sedangkan ayahnya (RMP Sosro Kartono) dan suami Kartini (Djojo Adiningrat) masing-masing menulis sepucuk surat untuk Tuan Abendanon.

Bagi Kartini, Nyonya Abendanon adalah ''ibu jiwa''-nya. Tempat bercurah bahagia dan derita. Tatkala malam-malam senyap pikirannya tidak tenang, saat tak ada obat tidur apa pun yang mujarab. Kegundahan yang terus mengisapnya hingga ia meratap tersedu dalam hati ketika Kardinah, adiknya, harus meninggalkannya untuk menjadi istri pilihan orang tuanya dan tersebab itu tak bisa membantunya mengajar anak-anak kampung. Air matanya tertumpah. Baju pengantin dan selambu kamar di malam pertama adiknya itu, di mata Kartini, tak lain hanyalah kain kafan belaka.

Lewat surat-surat itu, apa yang retak dari sisi gelap perempuan pelahan mulai tersingkap. Kartini sadar, dirinya tak akan lama di dunia, dan kata-kata yang dituangkan dalam tulisannya itulah kelak yang bakal abadi. Ia berpikir jauh ke depan bahwa harkat perempuan barangkali mustahil bangkit bila ia sendiri tak tergerak untuk menyorong perubahan. Serampung menyimak Kitab Hilda van Suylenburg dalam bahasa Melayu, ia bertanya-tanya mungkinkah perempuan bumiputera mendapatkan bacaan seperti ini? Membaca menjadi sesuatu yang asing dan mewah. Sementara banyak kaum alit di Jepara saat itu dilanda penyakit akibat kelaparan dan carut-marutnya buruh bergaji rendah yang ditelantarkan Belanda.

Pertanyaan kecil mungkin muncul di benak kita, apa sebenarnya yang menginspirasi Kartini hingga ia menulis 150 surat? Baginya barangkali tak ada cara lain di balik keterpasungan dirinya selain keakraban yang lekat pada mereka-mereka yang telah maju di Eropa dan terbuka untuknya berkeluh-kesah. Hanya pena dan kertas disulapnya menjadi ''lidah tajam'' demi menyuarakan jeritan nuraninya. Nyonya Ovink-Soer yang simpatik dan penuh cinta kasih, hingga Kartini bersurat padanya, bertarikh November 1899, dengan judul Pada Kakiku Ternganga Djurang, Diatas Diriku Melengkung Langit Terang Tjuatja. Nona Estella H. Zeehandelaar si pendengar keluh yang setia. Kartono, si kakak yang penyanyang dan penyemangat. Nellie van Kol, si penenang hati yang bergolak.

Dalam film RA Kartini besutan Sjumandjaja (dengan aktor Yenny Rahman, Adi Kurdi, Nani Wijaya, Andi Auri, dan Chintami Atmanegara) digambarkan saat Kartono berkunjung pulang dari sekolahnya di Belanda dan menyimak gemuruh hati Kartini yang menolak menjadi Raden Ayu. ''Nik, kau terlampau radikal dan tidak menghormati tata krama Jawa yang adiluhung. O, adikku, kini kedewasaanmu sungguhlah mulia tapi betapa penuh bahaya,'' kata Kartono.

Dengan mata sayu dan tubuh gemetar Kartini menukas, ''Yang paling ditakutkan saat ini justru menjadi dewasa, Kang Mas. Alangkah ngerinya, dan hal yang seperti itu pasti sebentar lagi akan datang. Kang Mas tahu kamar di belakang? Di sebelah kamar Mbak Yu Lastri, pintu kamar itu setiap kali terbuka sedikit, seolah kamar itu menerima Nik untuk dipingit, dikunci di dalamnya bertahun-tahun sampai harinya datang orang tua kita membawa seorang laki-laki yang belum pernah kita kenal untuk menjadi suami. Kejam sekali budaya yang menciptakan nasib semacam ini.''

Tapi apalah daya dirinya. Bakti dan kepatuhan pada orang tua mengatasi segala-galanya. Meski kepiluannya harus disekapnya sendiri di kamar pengapnya. Kehidupan Kartini saat itu hanya dapat meraba-raba bayangan adakah yang terkutuk dengan harkat keperempuannya? Atau berdamai saja dengan nasibnya yang nelangsa? Kerap pertanyaan demikian menggulung membanting pikirannya. Tapi tampaknya ia tak lelah untuk terus mencari titik terang. Merangkak-rangkak dan mencoba menggosok-gosok di ke-''gelap''-an tubuhnya. Sebentuk ikhtiar yang tulus dari lubuk hati terdalam bahwa perempuan juga layak mendapatkan pendidikan dan kesempatan mengembangkan potensinya sebagaimana laki-laki. Dan, ternyata, Kartini seda (meninggal dunia) muda pada 17 September 1904, setelah melahirkan anaknya, RM Soesalit. Tapi sampai kini dan sejauh manakah ia terus menjadi inspirasi?

Agaknya terlalu musykil menjawabnya. Surat-surat sederhana Kartini justru mengintrusi lelorong kesadaran kaum hawa. Kita juga akan teringat Anne Frank yang mati di usia 14 tahun yang merekam kebiadaban Nazi dalam The Diary of Anne Frank. Paling tidak, di negeri kita, Kartini sudah menggerakkan spirit yang luar biasa bagi semisal Pramoedya Ananta Toer yang menganggit novel Panggil Aku Kartini Saja atau catatan-catatan progresif revolusiover Ir Soekarno dalam Sarinah.

Senyatanya perempuan zaman sekarang bahkan diperhadapkan pada problematika modernitas yang rawan nan pelik. Segelung air bah peradaban global di mana kini banyak perempuan menjadi korban baik di ruang domestik, penganiayaan buruh, pelecehan seksual, hingga mengimbas pada kekejaman dan penelantaran anak. Memang musti ada yang memekikkan kepahitan demikian. Bukan nubuat getir: Habis Gelap Terbitlah Gelap. (*)

*) Fahrudin Nasrulloh, penggiat Komunitas Lembah Pring Jombang

[Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu, 19 April 2009]
[+baca-]

Kebanjiran (Buku) Motivasi

Oleh Fauzi A. Muda

Segala sesuatu akan mengalami perubahan, tapi hanya perubahan itu sendiri yang kekal. Barangkali itulah kata (motivasi) yang tepat untuk menggambarkan gairah industri perbukuan tanah air saat ini. Sebuah fakta yang terjadi pada lima tahun belakangan. Buku-buku motivasi memenuhi rak-rak toko buku, bahkan tidak sedikit yang dilabeli international bestseller.

Nama motivator Arab Saudi, Dr Aidh al-Qarni, telah menyedot perhatian umat muslim di dunia. Bukunya yang fenomenal, Laa Tahzan (2004), laris manis di pasaran. Konon untuk edisi Indonesia sudah cetak ulang hingga 30 kali. Laa Tahzan mampu memberi uraian yang mencerahkan serta membangkitkan rasa optimisme bernuansa Islami. Misalnya, mengajak masyarakat untuk tetap tegar dalam hidup karena ia hanya hidup sekali. Masyarakat juga diminta untuk tidak bersedih atas kesusahan yang menimpa mereka, karena sesungguhnya di balik kesusahan ada kemudahan dan di balik kesedihan ada kebahagiaan.

Fenomena al-Qarni seolah membangkitkan gairah penulisan, penerbitan, dan bisnis buku bertema motivasi. Nyatanya, hampir semua penerbit kemudian berbondong-bondong menerbitkan buku-buku bertema sama. Tidak hanya dari penulis asing, penulis lokal Indonesia pun juga bertebaran. Tidak sedikit bukunya yang akhirnya laris manis.

Kita juga masih ingat fenomena buku The Secret (2006) karya Rhonda Byrne yang diklaim sebagai rahasia terbesar yang pernah ada, terkubur, dan sengaja disembunyikan. Byrne juga mengklaim bahwa orang-orang hebat mengetahui dan mempraktikkan rahasia ini, dan dengan suka rela dia membagikannya kepada pembaca.

Sekadar menyebut nama beken; Stephen R. Covey, Robert T. Kiyosaki, Joe Vitale, Jack Canfield adalah pakarnya pakar motivasi. Selain mereka, juga hadir para motivator dalam negeri yang bermunculan, entah benar-benar ahli atau hanya ''ahli dadakan''. Sebab, hanya dengan menerbitkan satu buku motivasi saja, seorang penulis di Indonesia sudah berani mengklaim diri sebagai motivator andal level nasional.

Buku motivasi berkembang secara luar biasa yang, diakui atau tidak, mampu menggairahkan roda bisnis perbukuan. Buku motivasi muncul dengan banyak wajah dan mengkapling banyak bidang. Tanpa menyebut judul --karena saking banyaknya-- buku-buku motivasi terhampar mulai dari motivasi bisnis, motivasi hidup, motivasi jiwa, hingga motivasi urusan ibadah. Judul-judul yang ditawarkan memang mengandung kata-kata menggoda. Misalnya, miliarder, millionare, keajaiban, misteri, rahasia, happiness, way, road to, cara gampang, dan sebagainya.

Hingga buku-buku cetakan ulang, yang awalnya tidak menggunakan judul berbau motivasi, kini muncul dengan aroma motivasi yang kental. Misalnya buku berjudul Membangun Fondasi Ekonomi Umat: Meneropong Prospek Berkembangnya Ekonomi Islam, di edisi revisinya berganti judul menjadi Cara Kaya dan Menuai Surga (2007). Yang hebat lagi, terbit pula buku-buku motivasi tentang ragam-cara menjadi penulis bestseller beriming-iming finansial melimpah.

Sebagai pembaca, cukup miris melihat realitas ini. Buku-buku motivasi yang beredar di pasaran terasa hanya memberikan solusi instan yang ujung-ujungnya, pengembangan diri yang ditawarkan itu, diarahkan kepada keuntungan finansial an sich. Besarnya profit seakan-akan menjadi parameter bagaimana sebuah motivasi dan pengembangan diri itu dianggap sukses.

Realitas Psikologis

Yang terjadi, hal-hal yang berbau motivasi dan pengembangan diri memang begitu digemari oleh sebagian masyarakat Indonesia. Maka, tidak heran, kemudian lahirlah puluhan hingga ratusan buku-buku yang menawarkan ''kedamaian absurd'' atas berbagai tekanan hidup, laris manis.

Apakah ini menunjukkan kondisi masyarakat yang terpuruk, kemudian membutuhkan media untuk berkontemplasi serta introspeksi bagi upaya koreksi diri? Benarkah tingginya antusiasme khalayak terhadap hal-hal berbau pengembangan diri serta munculnya profesi motivator, merefleksikan keadaan masyarakat Indonesia saat ini? Benarkah dalih keuntungan finansial memberi kedamaian sejati?

Masalahnya, buku-buku yang berbau motivasi ini seringkali mendikte seseorang untuk berubah menjadi sesuatu yang terkesan artifisial. Pengembangan diri dan menjadi pribadi yang sukses bukanlah melalui seperangkat doktrin Anda harus begini atau Anda harus begitu. Karena dalam pengembangan diri, tidak ada yang praktis dan instan berdasar sebuah buku atau khotbah para motivator, tetapi sering melalui pertanyaan-pertanyaan mendalam yang bermunculan.

Saya teringat pesan salah satu pelaku penerbitan. Dia mengatakan, ''Prospek penjualan buku-buku problem solving, how to, ke depan masih bagus. Cobalah Anda tulis. Semua bidang bisa Anda tulis, yang penting masukkan kata-kata yang memotivasi, lebih-lebih ada embel-embel keuntungan finansial.''

Alih-alih mencerahkan, kalau semua ramai-ramai menulis buku motivasi, bisa-bisa malah jadi kebanjiran. (*)

*) Fauzi A. Muda, penulis, tinggal di Mojokerto

[digunting dari Jawa Pos edisi Minggu, 12 April 2009]
[+baca-]

Saturday, March 28, 2009

Repetisi Tabu (Kasus Terjemahan 'The Kite Runner')

Oleh Agung Prihantoro

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin membaca terjemahan The Kite Runner karya pertama Khaled Hosseini. Namun, baru menyimak paragraf pertama bab ''Satu, Desember 2001'' (hlm. 13) buku edisi 2008, saya tak kuasa melanjutkan pembacaan itu. Mengapa?

Sebetulnya, saya tak ingin menuliskan jawabannya. Sebab, sebagai penerjemah, saya agak letih melihat masih banyak karya terjemahan Indonesia dari yang sangat buruk, agak buruk, lumayan, sampai yang masih bisa disempurnakan. Kritik, kecaman, dan kajian menyangkut terjemahan Indonesia sudah sangat sering dilakukan, tetapi tetap menyisakan bertumpuk-tumpuk karya terjemahan yang cacat.

Keengganan saya meneruskan pembacaan itu karena pada alinea pertama saja pembaca sudah dihadapkan pada repetisi kata-kata ''beku'' dan ''masa lalu'' yang berlebihan dan membosankan. Coba perhatikan penggalan-penggalan kalimat berikut: Pada suatu hari yang beku...(kalimat pertama, baris ke-2) dan di dekat sungai yang membeku (kalimat kedua, baris ke-5 dan 6).

Perhatikan pula: Kita tak akan pernah bisa mengubur masa lalu (kalimat ketiga, baris ke-6 dan 7) dan masa lalu akan selalu menyeruak mencari jalan keluar. Sekarang, saat aku melihat kembali ke masa lalu (kalimat keempat dan kelima, baris ke-7, 8, dan 9).

Sebelum melangkah lebih jauh, kita patut bertanya apakah dalam edisi Inggrisnya Khaled mengerjakan repetisi yang sama? Jika ya, adakah maksud sastrawinya? Si penerjemah seharusnya dapat menangkap makna tersebut. Jika tidak, repetisi ''beku'' dan ''masa lalu'' itu memang perkara penerjemahan semata.

Pada alinea yang terdiri dari lima kalimat dan 12 baris itu, kata ''beku'' diulang sekali, dan ungkapan ''masa lalu'' diulang dua kali! Repetisi kata ''masa lalu" yang pertama bagus untuk menjaga koherensi dan rima. Tetapi repetisi keduanya menimbulkan efek jemu. Repetisi seperti itu juga mengurangi keindahan sastrawi buku New York Times Best Seller tersebut dan menunjukkan bahwa penerjemah dan penyuntingnya lalai atau bahkan mungkin miskin kosakata.

Dalam konteks ini, kata ''beku'' bermakna ''dingin sekali'' dan ''amat adem''. Adem memang termasuk ragam cakap, tetapi bisa menggantikan ''beku'' dengan efek konotatif serupa dan akan membuat paragraf jadi variatif dan indah. Kata ''masa lalu'' bisa disulih dengan ''masa silam'', ''tempo lampau'', atau ''waktu dulu''.

Repetisi semacam itu sejatinya tabu bagi kaum penyair, penulis, penyunting, dan penerjemah. Dalam karya ilmiah yang bahasanya dikenal kaku, repetisi sering sekali terjadi, dan ini dicibir habis oleh para penulis kreatif. Dalam karya sastra, terlebih-lebih puisi, repetisi yang sembarangan adalah tabu besar.

Claude L�vi-Strauss, seorang antropolog-strukturalis Prancis kelahiran Belgia, konon menulis otobiografi intelektualnya, Tristes tropiques (1955), tanpa pernah mengulang kata yang sama, kecuali kata-kata ganti, depan, dan sambung!

Sebaliknya, penyair Linus Suryadi A.G. selalu mengulang larik-larik prosa lirisnya dalam ''Pengakuan Pariyem'': Ya, ya, Pariyem saya/Maria Magdalena Pariyem lengkapnya/Iyem panggilan sehari-harinya/dari Wonosari Gunung Kidul/Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono/di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta".

Repetisi ala Linus itu tentu tidak tabu dan bahkan malah menguatkan nilai sastrawinya.

Soal gaya bahasa repetisi (terutama dalam karya fiksi), penerjemah biasanya dihadapkan pada setidaknya dua pilihan, yang sesungguhnya bisa saja dipadukan. Yakni mempertahankan gaya bahasa aslinya atau menulis ulang dengan gaya bahasa yang lebih indah. Pilihan pertama menuntut penerjemah untuk memahami benar gaya bahasa yang menjadi ciri khas penulisnya. Pilihan kedua dapat menjadikan gaya bahasa terjemahannya berbeda --lebih cantik-- dari aslinya. Lebih jauh lagi, terjemahan pilihan kedua boleh disebut sebagai ''karya asli yang diilhami oleh karya sumbernya'', dan hal ini diamini penerjemah senior Prof Dr Sapardi Djoko Damono.

Hatta, terlepas dari apakah Khaled melakukan repetisi tabu dalam edisi aslinya atau tidak, si penerjemah dapat menulis ulang tanpa repetisi tabu dengan tetap memperhatikan gaya bahasa aslinya. Terjemahan jenis ini dihasilkan dengan pendekatan reader-centered, yakni penerjemahan yang terfokus pada pembaca dan bahasa targetnya (bukan bahasa sumbernya). Dalam dunia pustaka kita, terjemahan semacam inilah yang dianggap sebagai terjemahan yang baik.

Satu hal lagi yang penting untuk senantiasa diingat ketika membincang karya terjemahan adalah pepatah ''karena nila setitik, rusak susu sebelanga''. Hanya gara-gara setitik tabu, sebuah karya terjemahan bisa dicap buruk.

Dalam kasus buku terjemahan The Kite Runner, tampaknya si penerjemah sudah belajar dari repetisi tabu sebelumnya, sehingga ketika menerjemahkan novel kedua Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns, ia dan penyuntingnya tak mengulangi kesalahan yang sama, sekurang-kurangnya pada paragraf pertama. (*)

*) Agung Prihantoro, penerjemah buku, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

* Dikronik IBOEKOE dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu, 29 Maret 2009 dengan judul "Repetisi Tabu".
[+baca-]

Saturday, May 17, 2008

Jangan Paksa Masyarakat Baca Buku!

Oleh Muhidin M Dahlan

Kepada para pemangku buku dan kutubuku yang angkuh dan sombong, saya tuliskan pamflet ini. Di negara yang tak punya seperangkat Undang-Undang Buku dan Perpustakaan ini, kelompok ini terus-menerus menebarkan teror ke dalam lubuk masyarakatnya yang bukan saja tak mampu membaca buku, tapi merasa aneh saja kenapa harus mencintai pekerjaan itu.

Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, memiliki buku bukan perkara mudah. Selain karena tradisi lisan (dan menonton) lebih dominan, penetrasi buku hanya berlangsung di perkotaan. Perpustakaan berhenti di ibu kota provinsi dan kabupaten dan itu pun nasibnya merana. Alhasil, untuk mengisi waktu luang yang sangat banyak, masyarakat beralih ke televisi. Dari sisi ekonomi, televisi juga praktis. Sekali beli nyaris semua informasi bisa diserap.

Dan, mereka menyayangkan kenapa begini jadinya masyarakat itu. Pamflet-pamflet membaca buku pun disebar rutin, baik oleh pemerintah maupun kelompok-kelompok partikelir. Lalu muncul Hari Buku Nasional yang secara sembrono diambil begitu saja dari hari berdirinya IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) pada 17 Mei 1950. Bisakah hari jadi sebuah organisasi dijadikan sebagai sandaran nilai, semangat, ketika oleh masyarakat penerbit sendiri memakzulkan keberadaannya. Tanyalah kepada penerbit-penerbit di Jogjakarta, mengapa mereka tak mengakui IKAPI sebagai payung buku nasional dan mendirikan pusparagam organ baru untuk melawan dan mengolok-oloknya seperti, APA (Asosiasi Penerbit Alternatif), API (Aliansi Penerbit Alternatif), SePI (Sarekat Penerbit Independen), dan IKAPO (Ikatan Penerbit Optimis). Kasus ini mirip organ PWI yang sekaligus hari lahirnya dipaksakan jadi Hari Pers Nasional. Padahal organ ini dengan sewenang-wenang turut membabat warganya sendiri, yang kemudian eksodus mendirikan organ lain.

Lalu ada Hari Kunjung Perpustakaan pada 14 September dan sekaligus bulan itu dijadikan Bulan Gemar Membaca. Gubernur Sutiyoso tak ketinggalan untuk mencanangkan Hari Anak Jakarta Membaca pada 24 Agustus 2006. Saya tak tahu 5.000 anak tingkat SD-SMA di Jakarta yang tumplek di Monas waktu itu datang untuk membaca buku, atau ngecengin cewek-cowok dan bermasyuk dengan pelbagai hiburan seperti nyanyian dan tarian tradisional.

Yang saya herankan juga membiak semacam anggapan dari kelompok yang sombong diri ini bahwa tidak membaca buku adalah "dosa". Maka, ada yang sambil merintih bawang bombay membeberkan bagaimana membaca buku di Indonesia berada di titik nol. Oh, sombong sekali. Mungkin ia benar, tapi ia tak memperhatikan tradisi panjang apa yang ada dalam kalbu masyarakat. Orang-orang sombong dan kalap diri ini juga lupa bahwa mereka tak juga memberi contoh yang baik. Banyak program buku dikibarkan pemerintah yang sok jago baca, tapi di sana juga kerakusan membumbung. Di Jogjakarta, Solo, Semarang, dan di mana-mana koran Jawa Pos memberitakan korupsi buku oleh aparat pemerintah sendiri. Para penerbit, tak peduli penerbit spesial buku agama atau buku sekuler dan umumnya anggota IKAPI, sikut-menyikut suap-menyuap untuk dapat jatah uang banyak dari penerbitan buku-buku pelajaran kaum belia itu. Uh, sungguh memalukan!

Membaca buku, mengapa harus jadi keharusan? Heran. Lalu mereka mengecam dengan semena-mena bahwa segala malapetaka ini disebabkan oleh televisi. Mereka tuding televisi sebagai sumber gegar budaya, kotak idiot, kotak dungu, tuhan kedua, bahkan setan jahat citra. Padahal, televisi bagi keluarga Indonesia saat ini sudah menjadi kebutuhan utama keluarga.

Televisi sejatinya hanya pengulangan paling modern dari tradisi visual yang sudah berlangsung turun-temurun di Indonesia. Panggung yang biasanya terbuka di lapangan kini dipersempit hanya dalam sebuah kotak kecil di tengah ruang keluarga.

Bagi aktivis perbukuan yang sombong dan angkuh ini televisi tak lain hanyalah sebuah kedangkalan berpikir. Televisi hanya memproduksi keseronokan ketimbang kebijaksanaan. Karena itu, membaca buku lebih mulia dari menonton televisi. Tradisi menonton hanya melakukan pengulangan dari kelisanan primer yang terus-menerus coba "dilenyapkan" para juru kampanye kemelekan aksara ini.

Mereka kecam program-program sinetron atau kuis murahan yang tak mendidik, tapi mereka lupa bagaimana memproduksi buku berkualitas dan mempertontonkan tauladan yang baik bagaimana memperlakukan buku sebagai laku pencerahan. Memangnya cuma televisi yang memproduksi keseronokan dan kedangkalan. Buku juga ada kok. Maka, ada "buku bajakan", "buku dodol" (buku yang sampulnya keren, promonya kuat, endorsement seabrek, tapi isinya kosong ngawur nggak jelas asal ngoceh); "buku msg" (buku yang renyah dan sangat enak dibaca, tapi isinya dangkal, bagaikan jajanan ber-msg, tidak meninggalkan kesan).

Ada juga "buku latah" (buku yang judul atau temanya ikut-ikutan dan atau dimuat mirip dengan buku yang terbit sebelumnya dan sukses). Contoh jenis buku ini adalah Di Atas Sajadah Cinta yang mirip dengan Ayat-Ayat Cinta; buku Rumah Pelangi yang dimirip-miripkan dengan Laskar Pelangi). Lalu "buku spanyol" (buku yang ditulis dengan cara sungguh ganjil: separo isinya nyolong dari buku orang lain).

Karena itu, pamflet ini menyeru-nyeru: jangan percaya sepenuhnya bahwa dunia buku dan aktivis-aktivisnya adalah brahmana dan kuil-kuil suci penyebar pencerahan. Omong-kosong itu semua. Mereka juga manusia yang berhasrat, punya nafsu merusak, dan tak ada bedanya dengan dunia yang mereka kutuk habis-habisan.

Karena keasyikan mengkritik televisi, mereka lupa bahwa masyarakat punya pandangan hidup sendiri bagaimana memperlakukan hidup. Sejarawan-sejarawan seperti Taufik Abdullah meyakini betul bahwa tradisi budaya lokal kita adalah lisan dan bukannya tulisan. Ingatan kolektif, pengetahuan, informasi atau perbendaharaan kultural apa pun ditransmisikan secara lisan dan visual.

Yang lahir dari kultura seperti itu kemudian bukanlah cendekiawan-pemikir, tapi kreator dan maestro upacara. Dan yang muncul dalam tradisi upacara adalah mantra dan rambu ibadat. Dalam perkembangannya mantra itu kemudian menubuh dalam syair, seloka, dongeng, sastra, dan sebagainya. Maka, jangan heran bila Indonesia melahirkan hanya seupilan maestro dalam bidang buku. Hal ini jauh berbeda dengan maestro tradisi seni visual (lukisan, patung, maupun kerajinan tangan rakyat) serta seni pertunjukan (teater, ketoprak, tari, kesenian rakyat, dan sebagainya).

Dan, memang bahasa Indonesia yang kita kenal ini pun bukan bahasa yang diperuntukkan untuk bahasa tulis, bahasa refleksi, bahasa filsafat. Bahasa ini tak punya struktur lampau, kini, dan akan datang. Semua bahasa sehari-hari dan hari ini (present tense). Karena itu disebut dengan lingua franca.

Maka, berhentilah berkhotbah muluk-muluk dan meneror masyarakat berlatar visual dan tontonan ini, hai para pemangku buku dan kutubuku! (*)

* Muhidin M. Dahlan, kerani di Indonesia Buku, anggota Dewan Kutu Buku Gila (KuBuGil), dan pimpinan program penulisan Kronik Kebangkitan Indonesia (1908-2008)

** Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 18 Mei 2008
[+baca-]

Mistifikasi Novel Sejarah

Oleh Zen Rachmat Sugito

Novel sejarah bisa menjadi "sumber sejarah". Tetapi tidak semua novel sejarah bisa dijadikan "dokumen sejarah" seperti yang diharapkan Misbahus Surur dalam esai "Mengais Realitas dalam Novel Sejarah" (Jawa Pos, 30/3/2008). Keberatan utama yang ingin saya ajukan terhadap esai Misbahus Surur (MS) terletak pada pengabaiannya terhadap pertanyaan mendasar: Dalam situasi apa dan dengan cara apa sebuah novel sejarah bisa diacu sebagai dokumen sejarah atau sumber sejarah apalagi buku teks sejarah?

Sebuah teks/dokuman bisa dianggap sebagai "dokumen sejarah" jika (dan hanya jika) dokumen itu berkaitan langsung dengan sebuah peristiwa sejarah. Naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik yang dibubuhi paraf Soekarno-Hatta bisa disebut sebagai "dokumen sejarah". Ilmu sejarah menyebut dokumen macam itu sebagai "sumber primer".

Koran yang memuat berita pembacaan proklamasi juga masuk kategori ini, sepanjang berita itu ditulis oleh wartawan yang menyaksikan peristiwa itu secara langsung. Sumber primer juga bisa merujuk pada semua bahan yang ditulis atau dikatakan oleh seseorang yang menyaksikan langsung peristiwa pembacaan proklamasi. Buku yang mencantumkan copy/repro naskah proklamasi yang asli tak bisa disebut dokumen sejarah atau sumber primer. Ia paling banter hanya menjadi "sumber sekunder".

Karena itu, serial novel Gajah Mada-nya Langit Kresna Hadi (yang disebut dalam esai Misbahus Surur) tidak bisa diperlakukan sebagai dokumen sejarah. Hal yang sama juga bisa dilekatkan pada roman Arus Balik atau Arok Dedes atau Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer.

Jika pun ingin mencari karya sastra yang bisa dijadikan sebagai dokumen sejarah mengenai Gajah Mada, pastilah itu merujuk pada Negarakrtagama yang memang menjadi rekaman langsung Sutasoma ihwal masa pemerintahan Hayam Wuruk. Untuk menyusunnya, Sutasoma bahkan ikut turnoi Hayam Wuruk ke beberapa wilayah mancanegara.

Pengandaian yang sama bisa diajukan pada novel Di Tepi Kali Bekasi-nya Pramoedya, novel dengan setting waktu yang dialami langsung oleh Pram; satu privilese yang memungkinkan Pram -setidaknya-- bisa mengerti suasana dan psikologi zaman di mana setting Di Tepi Kali Bekasi digelar.

Di Tepi Kali Bekasi bisa memberi gambaran mengenai kehidupan para pemuda yang menjadi tentara republik, terutama lewat tokoh utama bernama Farid. Kita bisa mendapatkan gambaran semangat para pemuda nasionalis itu serta seperti apa kehidupan sehari-hari mereka, termasuk meraba gaya mereka berpakaian.

Tapi itu saja tidak cukup. Untuk mengetahui secara akurat, diperlukan malacak kesaksian orang-orang yang mengalaminya langsung. Untuk memertajam akurasi, kita mesti membongkar-bongkar koran-koran pada masa itu, yang besar kemungkinan -misalnya-- ada yang pernah memajang potret belasan anak muda yang tergabung dalam kesatuan tentara republik sedang berbaris rapi.

Jika pun sebuah novel dijadikan sebagai sumber sejarah dalam sebuah karya historiografi, data yang digunakan pun biasanya tidak menyangkut soal detail mengenai keterangan tempat, waktu, atau kronologi peristiwa (5W+1H) melainkan digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai kesadaran zaman atau semangat zaman yang sedang tumbuh pada masa itu.

Ben Anderson sering menggunakan novel-novel sebagai latar untuk menjelaskan perubahan dan/atau semangat zaman yang sedang berlangsung pada periode sejarah tertentu. Misalnya novel No Moli Tangere-nya Jose Rizal untuk menangkap situasi dan semangat zaman pada periode kemunculan nasionalisme Filipina seperti yang ditunjukkan dalam karya klasiknya, Immagined Communities.

Dalam kasus studi sejarah Indonesia, Rudolf Mrazek banyak menampilkan fragmen-fragmen novel Student Hidjo-nya Mas Marco Kartodikromo untuk membangun argumentasi ihwal perubahan yang dipicu oleh merebaknya penggunaan teknologi modern. Mrazek akhirnya berhasil melahirkan Engginers of Happyland, satu-satunya karya yang meneropong perubahan yang sedang berlangsung di Hindia Belanda dengan membedah penggunaan teknologi modern dan peran para insinyur dan teknisi.

Novel yang mampu menggambarkan semangat dan situasi sebuah zaman (dan bukan akurasi 5W+1H-nya) itulah yang membuat kita memungkinkan mendapat gambaran (bukan akurasinya) mengenai dunia priyayi di lingkungan kraton bukan hanya dari disertasinya Prof Darsiti Soeratman, tapi bisa pula dari prosa liris Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi A.G. Hal sama berlaku, misalnya, untuk mengetahui situasi dan semangat zaman (bukan akurasi 5W+1H-nya) pada periode peralihan era kolonialisme dan era kemerdekaan, kita tak hanya bisa mengandalkan disertasi George Mc. Turner Kahin, tetapi bisa pula dari roman indah Burung-burung Manyar gubahan Romo Mangun (Y.B. Mangunwijaya).

Hal-hal tertentu dari Pengakuan Pariyem atau Burung-burung Manyar atau Di Tepi Kali Bekasi bisa dijadikan sumber sejarah, tetapi sama sekali tak bisa dijadikan dokumen sejarah.

Kehati-hatian macam itu penting, bukan untuk meneguhkan supremasi ilmu sejarah sebagai sumber paling otoritatif mengenai masa silam, tetapi justru untuk (1) tidak sembrono memukul rata semua novel sejarah bisa dijadikan sebagai sumber sejarah atau dokumen sejarah; (2) menempatkan novel sejarah pada proporsinya; dan (3) tidak memberi beban yang tidak semestinya pada novel sejarah.

Mengharapkan novel sejarah dan semua halaman dari sebuah novel sejarah bisa digunakan sebagai sumber sejarah sama dengan berharap setiap novelis menulis dengan tingkat akurasi data sejarah yang presisi; satu beban yang tidak mungkin dan tidak wajib dijawab para novelis dan lebih tepat disorongkan ke meja kerja para sejarawan.

Riset sejarah para novelis dilakukan untuk membangun karakter, percakapan, adegan, dan konflik-konflik sehidup mungkin dan semeyakinkan mungkin. Di tangan novelis, data-data sejarah diperlakukan sebagai bahan mentah yang diolah sedemikian rupa dengan mengerahkan imajinasinya yang (boleh saja) tanpa (pem)batas(an). Novelis tak terikat fakta fakta sejarah. Semua dapat berupa fiksi. Namun, dalam menyusun cerita, novelis dituntut membangun logika cerita (yang bisa tak ada hubungannya dengan logika aristotelian).

Sejarawan atau novelis sama-sama membuat konstruksi cerita yang koheren. Bedanya, sejarawan menunjuk kepada hal hal yang memang pernah ada, sementara novelis bisa dan sah-sah saja menggambarkan sesuatu yang tidak pernah ada. Sejarawan wajib tidak menambah-nambahi, sedangkan novelis bebas menciptakan apa, kapan, siapa, dan di mananya.

Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer bisa menjadi kanon sastra dan bahkan menggoncang diskursus sejarah pergerakan Indonesia bukan karena akurasinya memaparkan biografi Minke sebagai protonima karakter Tirtoadisoerjo, melainkan karena keberhasilan Pram menghidupkan karakter Minke dalam sebuah panggung fiksi yang tidak kalah hidup dan memikatnya. Pendek kata, daya goncang tetralogi Buru pada diskursus sejarah pergerakan Indonesia lebih karena karya itu berhasil secara literer dan sukses menggugah pembaca untuk mempertanyakan kembali narasi sejarah yang selama ini dianggap baku.

Dari sanalah gelombang rasa ingin tahu mengenai kehidupan dan peran Tirto yang sebenarnya bermunculan. Dari situlah diskursus sejarah pergerakan Indonesia yang hampir tak pernah menyebut-nyebut peran Tirto seperti digoncang dan pelan tapi pasti nama Tirtoadisoerjo mencuat ke dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia sebagai seorang protagonis yang tak bisa disepelekan begitu saja.

Pengandaian yang sama bisa kita ajukan -misalnya-- kepada novel Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe yang membangkitkan gerakan anti-perbudakan di Amerika yang berimbas pada Civil War. Uncle Tom’s Cabin bisa sedemikian berpengaruh bukan karena akurasi pemerian Stowe terhadap kehidupan para budak, melainkan karena Stowe melahirkan novel yang begitu berhasil membuat para pembacanya terharu dan terenyuh membayangkan kehidupan penuh derita seorang budak bernama Paman Tom yang dimiliki petani kaya bernama Arthur Shelby.

Ini bisa menjawab pertanyaan kenapa -misalnya-- dwilogi roman Pacar Merah Indonesia-nya Matu Mona alias Hasbullah Parinduri yang memaparkan sepak terjang Tan Malaka tak pernah memancing ribuan orang untuk membacanya. Dwilogi Pacar Merah Indonesia tidak terlalu berhasil secara literer dan tidak terlalu menggugah pembacanya, setidaknya bagi saya.

Matu Mona lebih sibuk menyusun kronik perjalanan Tan Malaka ketimbang menciptakan karakter-karakter penunjang lain yang hidup (macam Robert Suurhof atau Trunodongso dalam tetralogi). Kisah melankolik antara Tan Malaka dengan seorang perempuan Thailand tidak semenggugah kisah cinta Minke dengan Annelies atau Ang San Mey. Diskusi politik antara Tan Malaka dengan tokoh PKI macam Musotte (Musso) atau Alminsky (Alimin) tidak sehidup percakapan Minke dengan Jean Marais sewaktu memperdebatkan pilihan menulis dalam bahasa Melayu atau Belanda.

Jangan heran jika tetralogi Pulau Buru bisa "mendongkrak" sosok Tirtoadisoerjo dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia, lebih dari yang bisa dilakukan tulisannya Soebagjo I.N., disertasinya Ahmat Adam atau disertasi Takashi Shiraishi. Sementara publik dan media lebih berbondong-bondong menoleh kembali pada Tan Malaka berkat disertasinya Harry Poeze, bukan oleh dwiloginya Matu Mona.

Misbahus Surur tidak berlebihan sewaktu (dalam paragraf terakhirnya) menyebut novel sejarah berpeluang menjadi wacana tandingan dari narasi sejarah resmi. Tetapi, seperti yang sudah saya tunjukkan, hanya novel sejarah yang memukau secara literer dan mampu menggugah pembaca sajalah yang bakal mampu menggoncang diskursus sejarah.

Di situ, perdebatan ihwal seberapa akurat penggambaran historis sebuah novel sejarah menjadi hal sekunder. Jika pun akurat, anggap saja itu sebagai bonus bagi pembaca dari sebuah negeri yang narasi sejarahnya boyak di sana-sini. Harapan bahwa novel sejarah bisa mawujud sebagai sumber sejarah menjadi perkara nomor dua.

Tugas seorang novelis bukan untuk mengejar akurasi data sejarah agar karyanya bisa diacu sebagai sumber sejarah, melainkan untuk melahirkan novel yang segenap-genapnya berhasil secara literer dan mampu mendongkrak daya gugah pembacanya untuk mempertanyakan narasi sejarah dominan yang (mungkin) penuh dusta dan tipu daya.

Hanya kepada novel sejarah yang memenuhi kualitas literer di atas rata-rata sajalah kita bisa berharap. Bukan kepada novel yang punya akurasi data sejarah namun jongkok secara literer. Jika itu yang terjadi, novelis tersebut mungkin lebih berbakat menjadi sejarawan ketimbang novelis. ***
* Zen Rachmat Sugito, Chief Editor Jurnal NAGARA WEEKLY, Jakarta
** Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 18 Mei 2008
[+baca-]

Sunday, April 27, 2008

Kebijakan Buku yang Memberdayakan

Oleh Anita Lie

Kebijakan pemerintah untuk membeli hak cipta buku pelajaran, seperti tercantum dalam Peraturan Mendiknas Nomor 2 Tahun 2008, menyulut kontroversi.

Junaidi Gafar khawatir program ini akan gagal karena masalah buku pelajaran di Indonesia ”tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan kekuasaan” semata. Juga dicemaskan dampak mematikan pada industri penerbitan jika pemerintah ”memaksakan membeli hak cipta buku pelajaran” (Kompas, 24/3/2008).

Sebaliknya, Rab A Broto menyambut gembira kebijakan ini karena ”selama ini penerbit terlalu banyak menangguk untung dan kurang memedulikan kemaslahatan orang banyak” (Kompas, 7/4/2008).

Di lapangan, sistem ini mirip mafia, terkait oknum penerbitan dan percetakan, birokrat di Depdiknas, makelar, kepala sekolah, dan guru yang terjalin rapi.

Tujuan mulia

Peraturan Mendiknas (Permendiknas) ini patut disambut positif dan diharapkan bisa menjadi alternatif atas mahalnya dan pergantian buku pelajaran tiap tahun karena seringnya modifikasi kurikulum.

Pemerintah memang berhak dan wajib membuat regulasi yang melindungi masyarakat dan memastikan akses terhadap pendidikan bermutu tidak terhambat variasi harga buku. Tanpa regulasi, eksploitasi pasar buku pelajaran tidak hanya menyudutkan masyarakat, tetapi juga memengaruhi etika birokrat dan pendidik.

Umum dipahami, alokasi hingga 35 persen harga buku (biasanya untuk toko buku) dijadikan iming-iming bagi birokrat dan pendidik yang berwenang memutuskan buku yang akan dipakai siswa. Meski sudah ada regulasi, kolusi pasar buku pelajaran dengan pendidik tidak bisa penuh diberantas dan menantang ancaman sanksi yang ditetapkan Permendiknas No 26/ 2005.

Agar Permendiknas No 2/ 2008 bisa mengatasi keterjangkauan buku pelajaran, pelaksanaan kebijakan ini perlu mengantisipasi beberapa hal.

Pertama, ketika pemerintah melaksanakan hak dan kewajiban regulasi, eksekusi dari hulu ke hilir oleh pemerintah atau badan kepanjangan tangan pemerintah (Badan Standar Nasional Pendidikan) mengandung risiko terbentuknya tirani kekuasaan dalam lahan baru.

Pemerintah mempunyai kekuasaan dan dana untuk memberi hibah kepada calon penulis buku, menilai kelayakan, dan membeli hak cipta (Pasal 3 dan 4) serta mengatur perizinan, distribusi, dan penjualan melalui jalur birokrasi dan koperasi sekolah (Pasal 8 dan 11). Tawaran pemerintah untuk membeli hak cipta akan menggiurkan sebagian calon penulis yang tergoda memuluskan jalan bersama oknum yang berwenang menilai kelayakannya.

Mekanisme yang menjamin transparansi memang dibutuhkan. Tanpa mekanisme dan transparansi, dikhawatirkan mutu buku pelajaran yang diloloskan menjadi taruhannya.

Selama ini, di balik kekurangan industri buku pelajaran, kompetisi bebas antarpenerbit membangun mekanisme seleksi penulis. Hal ini ikut mengembangkan kualitas buku yang lolos proses seleksi.

Untuk menghindari tirani birokrasi pendidikan, pelaksanaan kebijakan buku pelajaran perlu menciptakan kemitraan dan kesetaraan dengan penerbit buku pelajaran dan terus berupaya memberdayakan masyarakat pendidik. Harus diakui, penerbit sudah punya pengalaman dalam memproduksi dan distribusi.

Pengawasan masyarakat

Kedua, kebijakan buku juga perlu memberi ruang pilihan bagi masyarakat. Pengalaman penerbit dalam industri buku memungkinkan mereka membuat buku bermutu dari segi isi, grafis, dan cetakan.

Pasal 11 Permendiknas No 2/ 2008 melarang peredaran buku penerbit oleh aparat birokrasi dan pendidik. Pasal ini dimaksudkan untuk menghilangkan kemungkinan kolusi antara penerbit dan pendidik. Sebaliknya, pasal ini tidak membatasi hak pilih atas buku yang dianggap lebih bermutu.

Ketiga, mengharapkan pengawasan masyarakat dalam pelaksanaan Permendiknas No 2/2008. Keberdayaan masyarakat pendidikan terhadap kebijakan publik dan praktiknya—bahkan yang terkait kemaslahatan masyarakat—belum memadai untuk menjadi pilar kekuatan yang setara dengan pilar negara dan pasar. Bahkan, saat berhadapan dengan kekuatan pasar buku pelajaran, masyarakat pendidik cenderung ikut terbawa arus pasar.

Keadaan ini semua seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi penerbit untuk memperbaiki situasi. Kebijakan rabat yang mengatasnamakan proses distribusi dan secara terselubung digunakan birokrasi dan pendidik untuk mengeruk untung seharusnya bisa digunakan untuk membangun kapasitas masyarakat pendidik.

Tantangan yang dihadapi pemerintah dalam menemukan penulis buku bermutu seharusnya bisa menjadi tanggung jawab sosial bagi penerbit untuk ikut memberikan pelatihan berkelanjutan bagi para calon penulis.

* Anita Lie Dosen FKIP Unika Widya Mandala, Surabaya; Anggota Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID)

* Digunting dari Harian Kompas Edisi 23 April 2008
[+baca-]