<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605</id><updated>2011-07-30T20:35:37.252-07:00</updated><category term='Soekarno'/><category term='Kriminal'/><category term='100 Buku Sastra'/><category term='Penjara'/><title type='text'>Esai i:boekoe</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2760013166704306906</id><published>2009-06-13T08:14:00.001-07:00</published><updated>2009-06-13T08:22:58.134-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soekarno'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penjara'/><title type='text'>Inggit dan Klandestin Buku Banceuy</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mencari consolation, hiburan hidup dari buku-buku. Saya membaca buku-buku. Saya meninggalkan alam ini, alam jasmaniah. Saya punya pikiran, saya punya mind terbang, meninggalkan alam kemiskinan ini, masuk di dalam ''world of the mind''; berjumpa dengan orang-orang besar, dan bicara dengan orang-orang besar, bertukar pikiran dengan orang-orang besar." (Soekarno)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua orang tahu, naskah pleidoi Indonesia Menggugat yang ditulis dan dibacakan Soekarno di Landraad Bandung pada 18 Agustus 1930 itu mencengangkan. Bukan hanya karena bahasanya bergemuruh, penuh gelora, propagandis, menghentak, menjambak, menunjuk, dan sekaligus membanting, melainkan juga naskah itu kaya akan literatur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengindeks naskah itu dengan jeli, maka kita dapatkan ada sekira 66 nama tokoh yang dikutip Soekarno. Sebut saja Albarda, Anton Menger, August de Wit, Bauer, Boeke, Brailsford, Brooshooft, Clive Day, Colenbrander, Daan van der Zee, de Kat Angelino, Dietrich Schafer, Dijkstra, Duys, Engels, Erskin Childres, Federik Peter Godfried, FG Waller, Gonggijp, Henriette Roland Holsts, Herbert Spencer, HG Wells, Houshofer, Huender, Jaures, John Robert Seeley, dan Jozef Mazzini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga Jules Harmand, Karl Kautsky, Karl Marx, Karl Renner, Kilestra, Koch, Kraemer, Lievegoed, Mac Swiney, Manuel Quezon, Michael Davitt, Multatuli, Mustafa Kamil, Parvus, Peter Maszlow, Pieter Veth, Raffles, Reinhard, Rouffaer, Rudolf Hilferding, Sandberg, Sarojini Naidu, Schrieke, Scmalhausen, Sister Nivedita, Sneevliet, Snouck Hugronje, Stokvis, Sun Yat Sen, Treub, Troelstra, van den Bergh van Eysinga, van Gelderen, van Heldingen, van Kol, van Lith, dan Vleming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh itu menempati posisi dari pelbagai penjuru aliran pemikiran; dari sosialis liberal, komunis, kaum agamawan, hingga penganjur kapitalis modern. Nama-nama itu berbaur dalam 33 judul buku yang dijadikan sandaran gagasan Soekarno di mana 99 persennya berbahasa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa Soekarno mendapatkan begitu banyak pasokan buku? Padahal, naskah itu ditulisnya saat ia disekap dalam penjara sudra Banceuy yang kotor dan jorok selama 330 hari. Dalam kamar sel no 5 berukuran 1.5 x 2.5 meter itu, Soekarno dijaga ketat dan berlapis oleh spion-spion karena dianggap sebagai musuh pemerintah kolonial kelas wahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Inggit Garnasih yang mengambil peran itu. Inggit adalah ibu kos Soekarno saat ia kuliah di ITB Bandung yang kemudian dinikahinya. Umur mereka terpaut cukup jauh, tapi Soekarno yang masih berusia ting-ting merasa lebih tenteram dalam dekapan Inggit ketimbang dengan putri Tjokroaminoto, Utari, yang kemudian dipulangkannya lagi ke Peneleh Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggit sadar bahwa Soekarno pemuda cerdas dan memiliki talenta besar sebagai seorang pemimpin nasional. Dan, sekaligus Inggit tahu Soekarno adalah hantu buku. Ia pelahap buku yang rakus. Bahkan, ketika rekannya yang membeli buku belum sempat membacanya, sudah direbut Soekarno duluan dan setelah selesai barulah buku itu dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalau buku yang saya anggap penting, saya baca dari A sampai Z. Dan yang penting-penting saya garis-bawahi. Saya tulisi dengan pendapat saya. Pendek kata saya orek-orek (corat-coret) setengah ajur (hancur) buku tersebut,'' seru Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi penjara dan pengucilan memutus semua itu, walau Soekarno tak sudah-sudah berteriak: ''Biar engkau meringkuk di antara empat tembok ini, tetapi besarkanlah engkau punya hati; ide yang terkandung di dalam dadamu memecahkan ini tembok, akan menjalar keluar tembok ini.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada posisi ini kerja Inggit, istri yang sangat setia dan mencintai Soekarno sepenuh-penuh diri itu, diperlukan. Soekarno boleh saja menjadi hantu buku yang lahap, tapi penjara Banceuy tetap mengharamkannya bertemu dengan buku. Inggitlah yang membuka jalan bagaimana Soekarno kembali bergulat dengan buku, terutama sekali saat ia sedang mempersiapkan sebuah pleidoi panjang atas rentetan tuduhan subversif yang dituduhkan pengadilan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan caranya sendiri yang sederhana, Inggit menempuh jalan klandestin. Mula-mula, Inggit mengutus kurir ke Jakarta untuk mengambil buku-buku milik Mr Sartono. Tak lupa Inggit memesan kurir untuk berpindah-pindah kendaraan agar tak diketahui spion-spion pemerintah kolonial yang berkeliaran menginternir aktivis-aktivis pergerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa lolos ke dalam penjara, buku-buku itu dililitkan Inggit distagennya dengan didahului puasa tiga hari supaya perutnya bisa kempis betul. Lolos dari pintu depan, tak berarti mata para spion Banceuy lepas. Namun Inggit selalu berhasil memperdaya penjagaan berlapis spion itu hingga Soekarno mendapatkan pasokan buku yang cukup dalam selnya yang apak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku pasokan Inggit itulah yang dinukil Soekarno secara diam-diam nyaris setiap malam. Pembelaan yang telah diterjemahkan ke dalam lusinan bahasa di daratan Eropa itu ditulis Soekarno di atas kaleng rombeng yang berbau pesing lantaran dipakai untuk buang hajat sekalian. Pada saat Soekarno ingin menulis, kaleng ini dibersihkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno butuh waktu empat pekan untuk membacakan pleidoi ini mulai 18 Agustus hingga 22 Desember 1930 dengan didampingi kwartet pembela: Sartono, Sasromuljono, Sujudi, dan R Ipih Prawiradiputra. Tapi Landraad tetap tak bergeming dengan keputusannya. Soekarno tetap dihukum 4 tahun penjara. Sementara tiga rekannya, Gatot Mangkupradja, Maskun, dan Supriadinata masing-masing kena 2 tahun, 1 tahun 8 bulan, dan 1 tahun 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini bukan soal gagalnya pleidoi itu membebaskan Soekarno dan rekan-rekannya dari interniran, melainkan bagaimana pleidoi itu sendiri menjadi naskah klasik yang paling gemilang yang dilahirkan manusia republik di masa pergerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara deretan kutipan pleidoi Soekarno itu, jangan dilupakan keringat dan ikhtiar Inggit Garnasih, perempuan pendamping paling setia dan tabah yang kemudian dibuang begitu saja oleh Soekarno lantaran dia mendapatkan gadis yang lebih muda di dataran Bengkulu: Fatmawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pernah dimuat di Harian Jawa Pos Edisi 7 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2760013166704306906?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2760013166704306906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2760013166704306906' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2760013166704306906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2760013166704306906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/06/inggit-dan-klandestin-buku-banceuy.html' title='Inggit dan Klandestin Buku Banceuy'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-4168851415209107897</id><published>2009-06-02T06:02:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T06:02:00.458-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kriminal'/><title type='text'>Korupsi dan Ulah Bejat Penerbit-penerbit Kelelawar</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Buku bukan hanya alat mencerahkan nalar, tapi juga tambang uang yang diperebutkan manusia-manusia rakus yang terdidik. Buku bukan hanya pengabadi nilai-nilai budi, melainkan juga menjadikan orang yang mungkin dulunya baik-baik berubah menjadi bejat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu apa anak-anak sekolah dasar sampai menengah itu tahu bahwa buku yang sedang mereka pelajari menjadi rebutan banyak penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegandrungan pada buku pelajaran itu barangkali bisa disigi dari jumlah uang beredar di sana luar biasa gigantiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, untuk satu judul buku pelajaran sekali naik cetak oplahnya bisa sampai 100 ribu eksemplar. Bandingkan dengan buku umum yang berkisar antara 3 sampai 5 ribu eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situs Indonesian Corruption Watch (ICW) pada 25 Agustus 2008 kita disuguhi daftar yang membuat kita terperangah betapa buruknya pengadaan buku pelajaran sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama sekali ulah hitam penerbit dan individu-individu yang bermain-main di sana. &lt;br /&gt;Tak tanggung-tanggung, Bank Dunia merilis daftar hitam penerbit-penerbit kelelawar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekira 27 penerbit, yakni: PT Penerbit Erlangga (Jakarta), PT Grasindo (Jakarta), PT Ganeca Exact (Bandung), PT Mitra Gama Widya (Jakarta), PT Mizan (Jakarta) dan PT Albama (Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada PT Trigenda Karya (Bandung), PT Pabelan (Jakarta), PT Surya Angkasa (Semarang), PT Edumedia (Surabaya), PT Tiga Serangkai (Semarang), PT SPKN (Bandung), CV Djatnika (Bandung), CV Titian Ilmu (Bandung), PT. Mega Jaya (??).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terusannya: CV Kendang Sari (Surabaya), CV Grafindo, CV Multi Trust, PT Pribumi Mekar, IKIP Malang/Yayasan Penerbit Ikip Malang, PT Indah Jaya Adipratama, PT Mitra Aksara Panaitan (Jakarta), PT Multi Adiwiyata, PT Remaja Rosda Karya (Bandung), PT Balai Pustaka (Jakarta), dan PT Kanisius (Yogyakarta). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat daftar itu pantas saja mutu buku pelajaran kita buruk. Mustahil berharap buku-buku bermutu diproduksi dengan cara-cara kotor dan jalan penyuapan di sana-sini. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-4168851415209107897?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/4168851415209107897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=4168851415209107897' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4168851415209107897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4168851415209107897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/06/korupsi-dan-ulah-bejat-penerbit.html' title='Korupsi dan Ulah Bejat Penerbit-penerbit Kelelawar'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-8130093489242623487</id><published>2009-04-27T14:58:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T14:58:00.211-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='100 Buku Sastra'/><title type='text'>Seratus Buku Sastra: Rindu-Benci Sastra &amp; Agama (8 dari 20)</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif dasar tentang hubungan antara agama, sastra dan pencerahan sosial tampaknya tercetak pertama kali dalam Robohnya Surau Kami.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruntuhan surau di sebuah kampung dalam komposisi literer “Robohnya Surau Kami” diposisikan sebagai simbol bagi runtuhnya hakikat keberagamaan karena laku-tafsir yang tidak tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai dan ajaran agama yang sifatnya formalistik dan preskriptif dianggap sebagai destruktif terhadap hakikat religius dari lembaga agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, diasumsikan bahwa agama mempunyai dua sisi, yakni sisi “bentuk” dan “isi”. Sisi “bentuk” maujud dalam format kelembagaan dan nilai-nilai yang dapat dicerap secara empirik-sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, ritual peribadatan yang dilakukan secara membuta adalah yang terutama. Sedangkan sisi “isi” adalah hakikat yang dibungkus oleh ritual itu dan memerlukan tafsiran tersendiri agar dapat dipahami dan efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen “Robohnya Surau Kami” menilai, ritual peribadatan secara membuta itu justru membusukkan hakikat. Maka pada saat terbitnya pertama kali pada tahun 1956, cerpen ini langsung digasak oleh pelakon agama yang lebih mementingkan sisi “bentuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tendensi purifikasi “Robohnya Surau Kami” diikuti oleh Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini keluar dari batas kampung dan memasuki ranah urban serta membahas geliat kelas intelektual dalam masyarakat yang melakukan politisasi “bentuk” dan “isi” agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nidah Kirani dilukiskan sebagai persona yang percaya bahwa nilai-nilai religius dapat menjadi kekuatan sosial politik untuk menghasilkan kemajuan dalam masyarakat. Tetapi nilai-nilai itu tidak dijalankan secara konsisten oleh para pelakonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai perjuangan itu dimanipulasi sedemikian rupa oleh para pelakonnya sehingga menjadi sekadar alat untuk memuaskan kepentingan pribadi atau golongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nidah yang frustrasi tidak dapat menerima bahwa religiusitas yang begitu cemerlang dalam ideal pejuang ternyata hanya merupakan semacam “kedok”, sehingga ia memutuskan untuk melakukan hal yang justru sangat bertentangan dari nilai-nilai yang ideal itu. Sikap Nidah adalah tamparan bagi para pelaku perjuangan politik berdasarkan agama. Dan karena itulah novel ini mesti “dihajar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Kotbah di Atas Bukit agak merenggangkan diri dengan soal sosial politik dan lebih cenderung memusatkan perhatian kepada sisi substansial dari ajaran agama, yaitu aspek rohaniahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Barman dijadikan sebagai perlambang bagi persona yang mencari hati diri yang mesti menggunakan seluruh daya pikir dan perasaannya untuk mencapai keseatian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra dan Religiositas adalah himpunan esai analitik yang mencoba membuktikan bahwa sifat religius adalah sifat yang inheren dalam sastra. Tesis utama yang mengikat esei-esei dalam buku ini adalah bahwa pada mulanya, sastra adalah religius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra merupakan ekspresi bahasa yang terlahir dari esensi yang misterius dan sakral dari wilayah spiritual yang paling fundamental dalam diri manusia. Sebaliknya, yang religius pun mempunyai sifat sastrawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revelasi wahyu dari arasy Tuhan mewujud dalam kata-kata yang nilai puitis dan kekuatan literernya tak tertandingi. Pengalaman-pengalaman indah seperti nikmat terbukanya hijab kesadaran (ma’rifatul aql) ketika membaca Kitab Al-Qur’an misalnya, menunjukkan bahwa kekuatan puitis merupakan suatu hal vital dari pencerahan religius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab suci merupakan wilayah paling sublim dan sakral dari bahasa umat manusia. Bahasa Kitab Suci merupakan jalinan tanda di mana dimensi Ilahiah dan dimensi Insaniah bertemu. Konvergensi ini selanjutnya menjadi jalan bagi intimitas komunikasi yang juga misterius antara Tuhan dengan mahluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara sastra, masyarakat luas, dan negara, menjadi heboh pada tahun 1968 sesudah terbitnya cerpen “Langit Makin Mendung”. Heboh Sastra 1968 adalah kumpulan pembelaan HB Jassin terhadap pengarang cerpen yang disiarkan pertama kali dalam majalah Sastra, Tahun VI, No. 48, Agustus 1968 itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam edisi cetak ulang pada tahun 2004, buku ini menjadi lebih luas karena dilengkapi dengan serangan yang ditujukan kepada para pembela cerpen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jassin bersikukuh bahwa niat cerpen itu bukanlah penodaan atau penghinaan agama. Sastra punya hukum-hukumnya sendiri yang bisa jadi berbeda dari hukum-hukum dalam realitas, apalagi hukum positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Jassin, “Anda tidak bisa menghakimi imajinasi.” Tetapi, nihilasi terhadap segala yang berpautan dengan cerpen itu sudah lebih dulu teradi: maalah Sastra dilarang beredar, anarkisme massa menjarah kantor redaksinya, dan Jassin sendiri divonis satu tahun kurungan dengan masa percobaan 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nihilasi terhadap majalah Sastra dan “proses pengadilan” terhadap H.B. Jassin memperlihatkan buruknya hubungan antara agama-negara di satu pihak dengan sastra di pihak lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak pertama yang memiliki otoritas dan kekuasaan, melakukan hegemoni dan donimasi terhadap pihak kedua yang dihuni oleh sekelompok minoritas. Dan pihak pertamalah yang menentukan, dengan ukuran normatif mereka, nasib sastra sebagai pihak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara sastra dan pelaku-pelakunya dengan kelompok pemeluk agama kembali memanas ketika muncul upaya estetifikasi teks ayat-ayat Al-Qur’an. Buku karya Jassin itu konon hanya dicetak terbatas, namun kabar tentangnya sudah lebih dulu merebak dan memicu perdebatan. Kontroversi Quran Suci Bacaan Mulia menjelentrehkan pro-kontra itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya itu sebenarnya mendapatkan dukungan dari pelbagai kalangan, termasuk dari Menteri Agama RI, Lajnah Pentashih Al-qur’an, MUI, dan juga dari sastrawan seperti Hamka yang menjabat sebagai Ketua MUI. &lt;br /&gt;Mereka menilai bahwa usaha Jassin ini adalah sebuah usaha yang agung karena di samping memperindah, juga akan melahirkan bahasa terjemahan yang lebih baik dari sebelumnya yang cendrung rancu dan bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, ia mendapat serangan dari kalangan umat Islam (yang ekstrem). Dengan terbitnya buku ini, H.B. Jassin tidak hanya dinilai telah merendahkan Qur’an tetapi ia telah merusaknya karena terdapat banyak kesalahan arti yang ditemukan di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecaman ini kemudian diperkuat dengan melihat latar belakang kehidupan dan kepribadian H.B. Jassin yang tidak memiliki keahlian dalam berbahasa Arab. Jassin tidak lebih hanyalah seorang kritikus sastra atau sastrawan, ia bukan “ulama” yang terjamin keilmuan Bahasa Arab-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya ayat-ayat Qur’an itu memang tidak bisa diindonesiakan secara tepat mengingat keterbatasan kosakata atau perbendaharaan bahasa Indonesia. Apalagi terjemahan yang dilakukan oleh Jassin ini bersifat puitis, otomatis akan bertambah sulit karena terikat dengan pola persajakan yang pada akhirnya berujung terhadap kekeliruan murad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu pula, karena bahasa puitis itu tidak mengungkapkan pesan secara langsung, otomatis ia akan sulit dipahami. (Bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[seri tulisan ini adalah pengantar memasuki buku yang ditulis Tim Sastra IBOEKOE, "100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan". Sebuah sekoci kecil sastra yang muda belia dan dikarunia Tuhan banyak waktu luang untuk menulis]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-8130093489242623487?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/8130093489242623487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=8130093489242623487' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8130093489242623487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8130093489242623487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/seratus-buku-sastra-rindu-benci-sastra.html' title='Seratus Buku Sastra: Rindu-Benci Sastra &amp; Agama (8 dari 20)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-9003115922265260292</id><published>2009-04-26T14:40:00.001-07:00</published><updated>2009-04-26T14:54:24.189-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='100 Buku Sastra'/><title type='text'>Seratus Buku Sastra: Perempuan sebagai Pusat [7 dari 20]</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tak Untung, Karmila, Pada Sebuah Kapal, Raumanen, Gadis Pantai, dan Saman berkisah tentang tokoh-tokoh perempuan sebagai sosok-sosok yang bertempat dalam suatu ruang sosial yang memaksakan hukum-hukum tertentu kepada mereka.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acapkali mereka kalah di hadapan paksaan hukum-hukum itu, kecuali pada Karmila yang dapat dikatakan berakhir bahagia. Terlepas dari kandungan sastrawinya—kecuali Gadis Pantai—novel-novel ini juga menjadi penanda penting bagi bangkitnya perempuan pengarang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis Pantai—yang ditulis oleh laki-laki—memandang perempuan dengan simpatik dan jauh lebih mau, tidak lagi memandang perempuan semata-mata sebagaimana yang dikodratkan atasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dalam novel ini adalah perempuan sebagai suatu kelas sosial. Tokoh Gadis Pantai mungkin memang merupakan eksemplar saja dari suatu jumlah, namun ia eksemplar yang memendarkan detail-detail dari kelasnya itu sedemikian rupa sehingga sosoknya menguarkan kesan maskulin dan unik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pada akhirnya si tokoh kalah, namun “perlawanan”-nya yang halus membedakannya dari sosok perempuan yang “diidealkan” dalam superstruktur yang dominan. Kisah Gadis Pantai dengan demikian menjadi kisah yang menghentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hentakan besar lain yang terkait dengan perempuan dimunculkan oleh Saman. Novel ini mengajukan pelukisan sosok perempuan langsung pada bagian yang kerap ditautkan dengannya: seksualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat novel itu terbit, seksualitas seringkali dipandang oleh masyarakat sebagai hal yang terlalu menjijikkan untuk dimanfaatkan dalam sebuah bangunan literer karena anggapan luas bahwa karya sastra harus menjalankan fungsi pengajaran—yang sering dimaknai sebagai pengajaran norma-norma kesusilaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas dalam sastra memang sangat menarik untuk diperdebatkan. Apakah yang menyebabkan dua buah karya yang sama-sama mengandung seksualitas dapat dibedakan menjadi karya sastra yang baik dan bacaan yang cabul? Sekitar 50 tahun yang lalu Umar Kayam pernah memberikan batasan-batasan yang cukup kokoh untuk hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kayam mengatakan bahwa soal seks adalah satu soal kemanusiaan yang terbesar yang akan selalu “mengganggu” kehidupan manusia, yang karenanya akan selalu kita jumpai dalam kesusastraan kapan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, satu hasil sastra yang menyangkut soal seks tidak mungkin kita anggap sebagai hasil sastra yang melanggar nilai-nilai kesusilaan, bila dia didukung oleh satu ide yang baik, dipersiapkan dengan mendalam dan matang dan memberi kita pengertian yang baik tentang kehidupan dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saman tampaknya memenuhi kriterium Pak Kayam tentang hasil sastra yang didukung oleh satu ide yang baik itu. Dan kita memang tidak akan mendapati kecabulan di dalam novel ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas diajukan sebagai keniscayaan yang tak terhindarkan, bahkan ketika tampil dalam bentuknya yang menyimpang: itu adalah realitas yang tak tertolak. Jadi, kenapa mengingkari yang tak tertolak itu? Bukankah lebih baik jika mencari kearifan hidup yang mungkin terkandung di situ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibanding dengan novel-novel tentang perempuan yang lain, Karmila mungkin dipandang dengan kening agak berkerut. Namun ia membukakan mata kita pada potensi prosa fiksi sebagai komoditi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini tidak dapat disangkal dengan laris dan populernya Karmila. Sesudah Sitti Nurbaya, Karmila adalah tokoh fiksi yang menjadi hidup di tengah-tengah masyarakat: ia menyusup dalam ke film dan disebut-sebut dalam lirik lagu populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Profesor Sapardi Djoko Damono, kejutan Karmila pada dekade 70-an itu dapat diterangkan dengan perkembangan ruang urban di Indonesia pada masa itu. Berbagai jenis pekerjaan baru muncul dalam masa itu dan banyak di antaranya yang terbuka bagi perempuan. Di antara perempuan-perempuan itu, ada yang sangat sibuk  namun ada juga yang punya sangat banyak waktu luang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sama-sama mengalami proses yang sama, yaitu berusaha sebaik-baiknya menjadi anggota dan sekaligus menciptakan masyarakat, atau kebudayaan, yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak mau menjadi kaum illiterate di dalamnya dan berusaha sebaik-baiknya untuk melek budaya. Mereka inilah yang kemudian mewarisi budaya kota. Agar senantiasa melek budaya, yang semakin global, mereka juga memerlukan informasi dari dunia sekitarnya dan juga dari seberang lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan akan kebudayaan baru inilah yang kemudian memancing timbulnya perempuan-perempuan sastrawan baru. Memang pada masa-masa sebelumnya pernah juga muncul perempuan-perempuan sastrawan, namun mereka kebanyakan sekadar “menulis” dan setelah itu “diam”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran mereka tentang perempuan dalam karya sastra yang mereka ciptakan cenderung “selembut bunga”. Namun pada dekade 1970-an ini, perempuan sastrawan tidak sekadar “menulis”, melainkan juga “bicara”, dalam arti ikut berperan aktif dalam pembentukan citra perempuan yang diinginkan dan juga berperan aktif dalam menggiatkan pasar perbukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bisa dimafhumi jika Karmila menggambarkan sosok utamanya sebagai sosok perempuan aktif, dinamis, dan kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideal ini adalah ideal yang baru dan dianggap cocok dalam konteks sosial yang baru di mana perempuan telah memperoleh peluang yang lebih lapang dan bergerak di lapangan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah sebab utama kenapa novel ini diakomodasi dengan manis oleh pasar. (Bersambung)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-9003115922265260292?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/9003115922265260292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=9003115922265260292' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/9003115922265260292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/9003115922265260292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/seratus-buku-sastra-perempuan-sebagai.html' title='Seratus Buku Sastra: Perempuan sebagai Pusat [7 dari 20]'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-3760031445976658949</id><published>2009-04-26T03:58:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T03:59:43.724-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='100 Buku Sastra'/><title type='text'>Seratus Buku Sastra: Puncak Surealisme (6 dari 20)</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi realis dalam sastra rupanya tidak memuaskan para pengarang kita. Kerangka realisme yang banyak dipakai dianggap tidak memberikan ruang yang cukup sehingga Godlob, Sumur Tanpa Dasar, dan Memorabilia pun muncul.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga karya itu mengingatkan kita pada Andre Breton yang pernah menyatakan bahwa kesenian harus berasal dari alam bawah sadar dan oleh karena itu seniman harus mendapatkan ilham sebebas-bebasnya dari imaji-imaji impiannya. Namun, seniman juga berusaha mencapai “super-realisme”, tempat antara batas-batas mimpi (dunia di dalam bawah sadar) dan kenyataan (dunia di dalam kesadaran) melebur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman pun diasumsikan sebagai seseorang yang memiliki kapabilitas untuk menembus sensor dari kesadaran dan membiarkan kata-kata dan imaji-imaji itu bermain dengan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godlob adalah sebuah kumpulan cerpen dengan tema-tema yang “melangit” dan diceritakan dengan cara yang surealistis. Di dalamnya kita mendapati pertemuan antara cerita-cerita yang sudah dikenal sebelumnya dengan hal-hal baru yang dibawa Danarto dan “dihantamkannya” sehingga segala isi badan cerita yang mapan itu berantakan dan terbentuklah bangunan cerita yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa dalam cerita juga seringkali musykil terjadi di alam nyata dan hanya mungkin terjadi di dalam angan-angan yang tak berbatas itu. Namun, pencampur-bauran cerita-cerita itu tidak dilakukan dengan sembarangan, melainkan dengan penuh perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, kita mendapati, misalnya, wawasan yang mendalam tentang kosmologi dalam cerpen berjudul “Godlob” yang mendedahkan oposisi biner yang melandasi kosmos. Sekilas, cerpen ini dan cerpen-cerpen lainnya merupakan “khotbah” tentang soal-soal eksistensial yang “berat” yang dibungkus dengan rangkaian cerita. Hanya berkat kemampuan bercerita pengarangnya saja maka “khotbah” atau “ajaran” itu tidak menjadi bacaan yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dapat dimafhumi bila pola cerita dalam cerpen-cerpen itu biasanya adalah pencarian seorang tokoh yang kebingungan karena tak tahu apa yang mereka cari namun kemudian menemukan pencerahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan dan alam setelah kehidupan banyak ditemukan di dalam kumpulan cerpen ini. Rintrik yang buta di dalam cerita “Hujan” dapat menjadi contohnya: bahkan di dalam cerita ini karakter Rintrik menekankan hubungannya dengan Tuhan dalam sebuah bentuk yang sangat manusiawi, ”Untuk terakhir kalinya apa keinginanmu?”, ”Syahwat yang besar sekali”, ”Apa itu?”, ”Melihat Wajah Tuhan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian para tokoh di dalam kumpulan cerpen “Godlob” mewakili suara-suara tentang realitas kehidupan manusia yang penuh dengan perjuangan mencari kebenaran. Kebenaran yang ditemui tidak pernah sejati dan selalu saja berubah bentuk dalam kehidupan manusia yang multidimensi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila surealisme a la Godlob adalah surealisme yang religius dan transendental, maka surealisme yang diusung oleh Memorabilia tampak aneh, absurd, dengan sinisme sosial yang bernuansa kelam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk cerpen-cerpen dalam himpunan cerpen itu berupa struktur narasi yang mengekspresikan kecemasan, kesunyian yang berbaur dengan kekerasan dan keliaran, dan memperlihatkan karakter tokoh-tokoh yang schizophrenik yang didukung oleh detail-detail yang cermat dan digambarkan pada tingkat yang paling esktrem, entah yang baik entah yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, konstruk sosial tentang anak laki-laki yang harus perkasa begitu melekat pada diri seorang ayah dalam cerita “Anak Ayah”. &lt;br /&gt;Keperkasaan itu diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melakukan tindakan kekerasan. Si ayah gemar menghajari si ibu, yang dianggap sebagai makhluk lemah. Contoh itu membuat si anak berani melakukan tindakan kekerasan dan pemerasan kepada sekelompok anak-anak sekolah. &lt;br /&gt;Ketika anak-anak itu melawan, si ayah menyuruh si anak melakukan perhitungan. Si anak membunuh salah satu dari anak-anak sekolah itu sehingga ia ditangkap dan dibui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada akhirnya, bukan kekerasan yang menjadikan seseorang manusia bahagia, melainkan kasih sayang. Selama di penjara, hanya ibunya yang menjenguk si anak. Hal itu membuat si anak menyadari bahwa ayahnya, yang sangat dipujanya itu, bukanlah sosok yang pantas untuk dipuja. Maka selepas dari penjara ia mencari si ayah dan membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan juga menjadi tampak sangat menjijikkan dalam “Keluarga Bahagia”. Tokoh aku semula tak ingin menikah karena sering melihat orangtuanya bertengkar dan berkelahi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si aku akhirnya jatuh cinta dan menikahi sebuah jerangkong, keluarganya dikaruniai “anak-anak serigala” yang sangat nakal, bahkan tega membunuh orang yang mengadu kepada si aku tentang kenakalan anak-anaknya. Si aku menyesal, tetapi ia tak berdaya menghadapi kenakalan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekelaman suasana dalam cerpen-cerpen Memorabilia seakan menyiratkan pandangan hidup yang pesimis. Dunia dipandang sebagai tempat yang sangat menjijikkan, kotor, tidak aman, dan penuh kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dengan mengingat Bertold Brecht, cerpen-cerpen itu justru bisa dimaknai lebih positif: Memorabilia seperti sekadar menunjukkan, bahwa bila konstelasi sosial, politik dan kemanusiaan dibiarkan terjadi seperti di dalam cerpen-cerpen “mengerikan” itu, maka kondisi “mengerikan” itu memang akan terjadi dalam kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godlob dan Memorabilia adalah puncak-puncak surealisme dalam sastra kita. Namun, bila Godlob banyak menerapkan teknik surealisme untuk mengolah tema-tema yang “melangit”, Memorabilia menerapkan teknik yang sama untuk tema-tema yang lebih “membumi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah juga kita temukan kearifan pencarian persona kreatif: selalu ada lanjutan bagi capaian sastra yang telah dianggap mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebalauan surealisme sekilas sulit untuk diterapkan dalam naskah lakon. Namun, Sumur Tanpa Dasar berhasil menyiasati trisula kesatuan di dalam drama. Ada dua buah alam yang dilukiskan oleh naskah ini, yaitu alam faktual dalam drama dan alam angan-angan yang ada dalam kepala Jumena. &lt;br /&gt;Dialog atau peristiwa dalam angan-angan dihadirkan pada panggung yang sama dengan yang terjadi di alam faktual dalam drama. Batas-batas masing-masing alam disiasati dengan pergantian giliran dialog dan tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Pemburu yang hanya hidup dalam kepala Jumena dapat berbicara dan beraksi di atas panggung. Pada saat yang sama, dialog dan peristiwa potensial dalam alam faktual diam. Demikian juga sebaliknya: bila alam faktual Jumena yang hendak diajukan kepada penonton, maka alam angan-angan membeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiasatan naskah ini tidak sebatas itu saja. Waktu pun disiasatinya. Bila salah satu alam sedang berlangsung, maka alam yang lain dilukiskan membeku baik ruang dan waktunya. Sehingga dua alam itu dapat terus berlangsung secara konsisten menurut hukum-hukumnya sendiri. Dengan cara inilah batas-batas teknis dalam pemanggungan suatu naskah lakon didobrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan teknik surealis semacam ini, Sumur Tanpa Dasar lebih cenderung mengisahkan manusia sebagai pribadi. Akibat-akibat sosial dari Jumena sang tokoh utama adalah keluaran dari apa yang berlangsung di dalam dirinya, yang tergambar dengan jelas melalui dialog dan peristiwa yang melibatkan Pemburu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan akan kematian, rasa sayang kepada harta, dan kecintaan kepada kerja keras, menjelma menjadi motif psikologis yang menyebabkan reaksi sosial di alam faktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi-asumsi eksperimentalistik-surealis Godlob, Sumur Tanpa Dasar, dan Memorabilia yang melahirkan “ketercekaman” dan “kekelaman” memperoleh imbangan dari Cantik Itu Luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik Itu Luka menawarkan kisah pergulatan nasib yang absurd yang kerap dialami oleh mereka yang hidup pada zaman peralihan. Pergantian kekuasaan kerapkali menyisakan banyak ruang kosong yang tak tersentuh oleh sistem kekuasaan yang baru dan sebagai gantinya diisi dengan chaos. Tokoh sentral Dewi Ayu dan tokoh-tokoh lainnya dalam novel ini berada dalam pusaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui balutan mitos dan legenda-legenda lokal, Eka Kuniawan berhasil menghadirkan nuansa komikal yang kental dan membuat penderitaan tokoh-tokohnya menjadi semacam lelucon kesedihan yang tak berkesudahan. &lt;br /&gt;Kesannya mungkin tragis, namun lucu dan ringan. Teknik ini sepadan dengan yang kita temukan pada Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Maquez yang kerap dilabeli sebagai “realisme magis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat “realisme magis” menyajikan kenyataan sebagai fakta yang dilumuri dengan berbagai macam mitos dan legenda dan berusaha menjungkirbalikkan keyakinan tentang kenyataan empirik yang diyakini sebagai suatu rumusan yang logis. Pada Cantik Itu Luka, semangat ini terbubuh sejak halaman pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematiannya. Seorang bocah gembala dibuat terbangun dari tidur siang di bawah pohon kamboja, kencing di celana pendeknya sebelum melolong, dan keempat dombanya lari di antara batu dan kayu nisan tanpa arah bagaikan seekor macan dilemparkan ke tengah mereka. Semuanya berawal dari kegaduhan di tengah kuburan tua.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melumernya realitas ke dalam cawan mitos dan legenda memaksa pembaca tenggelam dalam pusaran pertanyaan filosofis: milik siapakah sebenarnya realitas itu, masyarakat umum yang cenderung irasional ataukah milik para akademisi yang mendasarkan disiplin keilmuannya pada ketatnya kontrol rasionalitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarikan ke arah yang lebih “membumi” justru datang dari perpuisian Celana. Kumpulan puisi ini sering dianggap bernada satir yang humoristis dan mengajak pembacanya untuk tersenyum masam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafor-metafornya dibangun dari barang-barang sederhana yang ada di sekeliling. Namun, tentu saja, barang-barang sederhana itu tak lagi menjadi sederhana ketika telah diracik menjadi puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseharian dan kesederhanaan itu disampaikan dalam bentuk “cerita mini” yang punya awalan dan akhiran—biasanya akhiran inilah bagian yang paling “meninju” dalam bangunan puitiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu puisi Celana berkisah tentang seseorang yang berniat membeli celana namun tidak ada yang cocok dan akhirnya ia memutuskan untuk ke kuburan. Di sana, ia hanya ingin bertanya di mana sang ibu menyimpan celana yang dikenakannya semasa kecil dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada barang celana yang sederhana ini, kita bisa melekatkan banyak wacana, mulai dari ketubuhan hingga teori-teori intensionalisasi. Misalnya, kita bisa meletakkan celana sebagai kutub pembanding untuk mengumpamakan tema rasa malu dalam psikoanalisis Freudian. (Bersambung)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-3760031445976658949?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/3760031445976658949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=3760031445976658949' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/3760031445976658949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/3760031445976658949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/seratus-buku-sastra-puncak-surealisme-6.html' title='Seratus Buku Sastra: Puncak Surealisme (6 dari 20)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2631140616893380323</id><published>2009-04-24T17:32:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T17:35:36.478-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='100 Buku Sastra'/><title type='text'>Seratus Buku Sastra: Pencarian Penyair (5 dari 20)</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan abadi dalam hidup manusia menimpakan “kutuk” dan “berkat” pada saat yang bersamaan. Pertanyaan-pertanyaan memang telah coba dijawab oleh nalar—dan ilmu sebagai pirantinya. Namun ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan nalar. Jawabannya mungkin memang ada, namun berupa dugaan dan “lokalistis”—maksudnya, tidak disepakati sebagai jawaban yang secara universal dianggap “benar”. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pertanyaan tentang “roh”, “jiwa”, kelahiran, kematian, Tuhan, hubungan antarmakhluk hidup, eskatologi, usia, kosmologi, waktu, dan ruang, menimbulkan jawaban yang beragam. Pertanyaan “Siapakah atau apakah Tuhan itu?”, misalnya, dapat membuat dua orang yang berbeda agama dan keyakinan berdiskusi atau melakukan pencarian jawaban sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal-soal eksistensial seperti ini mungkin dapat dirumuskan dengan “tiga pertanyaan dasar dalam hidup”: Dari mana kita datang? Sedang apa kita dalam hidup ini? Ke mana kita pergi setelah mati?—betul, memang ini “judul” salah satu lukisan Gauguin. Soal-soal ini adalah rangsang pertama yang selalu melahirkan “tanya di hati” para pengarang kita. Hasilnya adalah karya-karya seperti Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus. Kedua buku ini memerlukan keterangan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua buku ini “patut dibaca” sebagai satu kesatuan karena ada banyak sajak penting yang sama-sama termuat ke dalam buku itu. Konsekuensinya dari segi pembacaan sangat penting. Profesor Teeuw, misalnya, menunjukkan ada perbedaan tekstual antara sajak “Kawanku dan Aku” dalam kedua terbitan itu. Dalam Deru Campur Debu, bait terakhir sajak itu berbunyi “Sudah larut sekali/Hilang tenggelam segala makna/Dan gerak tak punya arti”. Sedangkan dalam Kerikil Tajam, bunyinya adalah “Sudah larut sekali/Hingga hilang segala makna/Dan gerak tak punya arti”. Analisis Profesor Teeuw menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua versi itu: “hingga hilang” dianggap lebih baik ketimbang “hilang tenggelam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virtuositas Chairil dalam menyajak diimbangi dengan klop oleh kedalaman “isi” sajak-sajak dalam kedua buku yang terbit secara anumerta itu. Walhasil, banyak sajak Chairil yang sekaligus merupakan puisi suasana dan puisi ide karena efek yang ditumbulkannya dari teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensialisme sering dilekatkan pada sajak-sajak dalam buku-buku ini. Anasir yang paling sering dirujuk orang adalah hedonisme—baik positif maupun negatif—yang terkandung di dalam sajak-sajak itu. Bagi Jassin, seruan “Aku mau hidup seribu tahun lagi”, misalnya, pada masa sajak “Aku” ditulis adalah “goncangan” tersendiri terhadap kecenderungan umum yang berlaku pada masa sajak itu ditulis, yaitu kepasrahan total seperti yang dianjurkan oleh tradisi masyarakat Indonesia pada masa itu. Elan vital semacam inilah yang membuat penyairnya ditahbiskan sebagai “dewa sastra Indonesia” dan dipuja habis-habisan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang juga merujuk kepada ekspresi eksistensialis lain yang diajukan oleh Chairil, yaitu kematian, tepatnya pada sajak “Yang Terampas dan yang Putus”:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kelam dan angin lalu mempesiang diriku&lt;br /&gt;Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin&lt;br /&gt;Malam semakin merasuk, rimba jadi semati tugu&lt;br /&gt;Di karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang&lt;br /&gt;Lalu aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu&lt;br /&gt;Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang&lt;br /&gt;Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sajak yang berlainan “isi”-nya itu membuat kita menyadari kompleksitas kehidupan manusia. Seakan-akan sajak-sajak dalam buku-buku ini membukakan dugaan, bahwa orang yang haus akan hidup ternyata bisa juga sangat haus akan kematian.&lt;br /&gt;“Isi” dari buku-buku semacam Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam seringkali mendapatkan perhatian yang berlebih ketimbang “bentuk” sastra yang mewadahinya. Sehingga, kilauan wujudnya sebagai sebuah “komposisi sastra”—komposisi menyiratkan adanya campur tangan bakat, keahlian, dan ketekunan—seringkali kalah ketimbang “amanat” (atau “pesan” atau “isi”). Akibatnya cukup mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerlangan kedua buku itu membuat banyak orang hendak meniru sosok si pencipta. Sayangnya, yang kemudian ditirukan lebih banyak sekadar sosok lahiriah saja: penyair yang kumal, bohemian, “semau gue”, hedonistik. Sedangkan usaha penciptaan karya yang cerlang seperti kedua buku itu menjadi nomor dua: banyak penyair yang sekadar pesolek dan kenes namun miskin papa dalam soal karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam sering dirujuk sebagai perwujudan elan vital dan elan mortal pada titik paling ekstrem, Dan Kematian Makin Akrab, Atheis, duka-mu abadi, Ziarah, Sajak-sajak 33, Sebuah Radio, Kumatikan, dan Gairah untuk Hidup dan Gairah untuk Mati melakukan “pendalaman” pada ruang di antara kehidupan dan kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang di antara kedua titik itu terisi antara lain oleh pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan dan hubungan antarmakhluk (baik antarinsan maupun antara insan dengan makhluk lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atheis mendedahkan pergolakan keyakinan seseorang akan Tuhan sebagai causa prima bagi segala sesuatu Dan Kematian Makin Akrab adalah kumpulan sajak-sajak pilihan dari seorang penyair yang telah puluhan tahun menggeluti persajakan dan menampilkan sajak-sajak yang kontemplatif dan ideistis, seperti “Salju” dan “Dan Kematian Makin Akrab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Sajak-sajak 33 dan Sebuah Radio, Kumatikan banyak menyoal hubungan antara laki-laki dan perempuan. Melalui komposisi yang rumit, misalnya, Cocktail Party mengungkapkan kegeraman atas “nasib” perempuan yang “dikutuk” untuk hidup dalam sebuah dunia sosial yang partriarkhal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, duka-mu abadi adalah kumpulan komposisi literer yang banyak memanfaatkan simbol-simbol religius dan alam untuk mengartikulasikan pelbagai soal eksistensial. Gairah untuk Hidup dan Gairah untuk Mati langsung menyergap pembaca dengan judulnya, yang menggunakan tanda-tanda (hidup, mati) yang menjadi atribut dasar eksistensialisme—mahzab apapun. (Bersambung)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2631140616893380323?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2631140616893380323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2631140616893380323' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2631140616893380323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2631140616893380323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/seratus-buku-sastra-pencarian-penyair-5.html' title='Seratus Buku Sastra: Pencarian Penyair (5 dari 20)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-7805013794524107331</id><published>2009-04-23T19:36:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T19:39:59.023-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='100 Buku Sastra'/><title type='text'>Seratus Buku Sastra: Riuh Di Masa Jepang (4 dari 20)</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa pendudukan Jepang (1942-1945) adalah periode yang buruk dalam sejarah Indonesia. Masa ini sering dilukiskan sebagai masa di mana situasi perang membuat orang Indonesia sangat menderita.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukisan semacam ini merangsang timbulnya pandangan yang menempatkan para pelibat di dalamnya pada posisi yang oposisional secara eskstrem: ada penjajah dan ada pihak yang dijajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis jauh setelah masa itu berlalu, Dan Perang pun Usai punya kesempatan yang lebih luas untuk mendedahkan bahwa situasi perang pada masa itu sebenarnya mengandung kontradiksi-kontradiksinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letnan Ose, pribadi yang hidup—dan berpencaharian—dari adanya perang namun justru menginginkan perang itu selesai, Wimpie si Belanda interniran Belanda, Kliwon si Jawa romusha yang digelandang ke Riau, Satiyah yang diperbantukan kepada Ose, adalah sosok-sosok yang tidak pas jika ditempatkan dalam relasi oposisional yang kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh keberadaan sosok-sosok itu, kehidupan pada masa yang keras itu dalam roman ini adalah kehidupan yang bergradasi, tak melulu hitam-putih. Namun komposisinya secara keseluruhan pekat oleh ideal populer bahwa perang membuat manusia sengsara dan manusia harus dibebaskan dari kesengsaraan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan pembebasan itu rupanya bagi sebagian besar tokohnya adalah kematian. Namun demikian, mereka yang tetap hidup pun dipandang sebagai ideal juga, yang punya kemuliaannya sendiri. Maka dapat dimafhumi bila Letnan Ose tak melakukan harakiri sebagaimana teman-temannya sesama serdadu Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perang yang terjadi selama Revolusi Fisik (1945-1950) dipandang lebih kurang sebagai perang yang adil (just war) oleh bangsa Indonesia—dan juga oleh sebagian besar pengarang Indonesia. Dalam perang total itu berhadapan kekuatan-kekuatan yang tujuannya saling bertolak belakang: yang satu kepingin kembali berkuasa sedangkan yang satu lagi menolak dikuasai oleh penguasa yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan situasi selama Revolusi Fisik itu, yang saling berhadapan bukan hanya dua kekuatan lagi, melainkan lebih. Sejarawan kita mencatat bahwa selama periode genting itu timbul berkali-kali perpecahan sosial politik yang melibatkan kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang membuat publik sastra kita trenyuh sampai sekarang adalah tentang terbunuhnya Raja Penyair Pujangga Baru Amir Hamzah dalam revolusi sosial yang pecah di Sumatera Timur tak lama setelah Proklamasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lapangan politik, pihak “sini” goyah ketika suatu faksi politik menculik PM Hatta. Dalam lapangan ekonomi, Ori (Oeang Republik Indonesia) megap-megap digasak uang merah terbitan NICA. Dalam lapangan militer, TNI kacau balau sehingga NICA-KL/KNIL berhasil dua kali memuingkan garis pertahanan linear di Jawa dan Sumatera. Perpecahan semakin meluas ketika FDR melancarkan “kup” di Madiun pada 1948. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak “sana” sendiri terjadi bentrok antarpartai di Tweede Kamer ketika membahas persoalan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak dari semua kemelut itu adalah perang. Bangsa yang hendak dijunjung tinggi oleh karya-karya sastra berbahasa Indonesia terancam batal dan, bahkan, punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar Kawat Berduri dan Pulang adalah dua karya utama yang bercorak romantisisme revolusioner. Walaupun keduanya secara emosional menggambarkan peperangan itu sebagai perang yang syah dan secara keseluruhan merupakan glorifikasi terhadap periode penuh peluru dan pembunuhan itu, namun mereka punya asumsi-asumsi ideal masing-masing. &lt;br /&gt;Pagar Kawat Berduri terasa lebih kosmopolit dan “toleran” karena memberikan ruang yang lapang juga kepada tokoh “musuh” untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya tentang relasi Indonesia-Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam hal tokoh-tokoh Indonesia, kedua roman itu sama-sama melukiskan sebagaimana galibnya dan sebagaimana seharusnya pelukisan tokoh pejuang pada masa itu: keras hati, rela berkorban, mencintai Tanah Air, namun dengan perumitan yang memperlihatkan “daging dan tubuh” mereka sehingga menjadi sosok yang seolah-olah bernyawa, utuh-lengkap sebagai manusia, termasuk pula dengan rasa-rasa negatif seperti benci, iri hati, takut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika tokoh utama dalam Pulang adalah “pejuang” yang pernah menjadi anggota Heiho serta melakukan kebohongan publik, ia dilukiskan tetap berusaha memenuhi ideal pejuang yang populer pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar untuk narasi-narasi dalam Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma merentang sejak masa pendudukan Jepang hingga Revolusi Fisik. Inilah kumpulan narasi yang membuat banyak orang menuduh pengarangnya sebagai “defaitistis” dalam revolusi Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlawanan dengan karya-karya sastra yang memperlakukan masa Jepang dengan “intensifikasi kesengsaraan rakyat” dan revolusi dengan glorifikasi yang membuta-tuli, Dari Ave Maria penuh dengan narasi-narasi tentang “kejelekan-kejelekan” yang kontroversial dan skeptis, terutama dalam novelet “Surabaya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun “sisi lain” dari perjuangan itu justru menghadirkan warna lain dalam lanskap kesusastraan kita yang pada waktu itu masih hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya tutur dalam karya ini memang luar biasa dan “baru” bagi masanya yang masih belum lepas dari gaya romantik-impresionis. Dari Ave Maria ditulis dengan gaya yang disebut oleh HB Jassin sebagai “kesederhanaan baru”: kalimatnya pendek-pendek, pikiran-pikirannya meloncat-loncat, dalam satu kalimat terkandung banyak pikiran, pikiran dan perasaan tidak dituruti sampai yang sekecil-kecilnya, satu perkataan mengandung banyak asosiasi, artinya oleh satu perkataan itu orang jadi teringat pada banyak pikiran yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, Jassin menyatakan bahwa narasi-narasi Idrus bukanlah cerita pendek, akan tetapi “lukisan-lukisan”, yang melukiskan keadaan-keadaan, kejadian-kejadian, dan kelakukan-kelakukan orang seorang sekelilingnya, tapi tidak sampai menceritakan dari semula hingga akhirnya pertumbuhan sesuatu kejadian atau sesuatu jiwa. Dengan kebaruan-kebaruan itulah maka dari Dari Ave Maria ditabalkan sebagai pembaharu prosa sastra Indonesia modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Tak Ada Ujung mengambil garis yang sama sinisnya dengan Dari Ave Maria. Namun, gaya tutur karya yang ditulis setelah konfrontasi dengan pihak “sana” rampung ini berlawanan dengan Dari Ave Maria. Perkembangan jiwa adalah pokok yang utama dan ditelisik perkembangannya sebegitu detail sejak awal hingga akhir sehingga ditemukan sebab-sebab penyimpangan yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Isa, misalnya, diceritakan sembuh dari impotensi setelah ia mengetahui bahwa sebab penyakitnya itu adalah ketakutannya yang berlebihan kepada ketidakpastian dan kekerasan hidup yang muncul sebagai akibat masuknya kembali Belanda ke Indonesia. Dalam roman ini terlukiskan bahwa revolusi Indonesia, se-syah apapun, juga menimpakan akibat yang melukai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, Jalan Tak Ada Ujung memang sebenarnya sepakat dengan adagium yang telah kelewat sering diulang-ulang itu: “Revolusi memakan anak-anaknya sendiri”. (Bersambung)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-7805013794524107331?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/7805013794524107331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=7805013794524107331' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7805013794524107331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7805013794524107331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/100-buku-sastra-riuh-di-masa-jepang-5.html' title='Seratus Buku Sastra: Riuh Di Masa Jepang (4 dari 20)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2340104816823983669</id><published>2009-04-22T21:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T15:03:21.472-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='100 Buku Sastra'/><title type='text'>100 Buku Sastra: Keras dan Bertendens! (Esei 3 dari 20)</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah menarik bahwa daftar 100 buku ini dibuka dengan sebuah karya prosa yang terbilang “keras” pada masa terbitnya: Student Hidjo. Paling tidak ada dua sebab kenapa ia menjadi “keras”—atau, lebih tepatnya, dianggap “keras”. Sebab pertama, tentu saja, adalah isinya, dan yang kedua adalah pengarangnya, Mas Marco Kartodikromo, pendiri JIB yang langganan tertimpa delik pers pemerintah kolonial. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Student Hidjo tampaknya menjadi semacam prototip, atau motif dasar, bagi karya-karya sastra Indonesia modern sehingga dapat disebut sebagai “sastra yang melawan”. Atribut “melawan” ini selalu menjadi pusat tikai yang seru di sepanjang pertumbuhan kesusastraan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Melawan”, oleh para penyair dan pengarang kita, tampaknya seringkali dimaknai sebagai “melawan” dalam pengertian politis. Di sini, kita berjumpa lagi dengan keruwetan rumusan seni untuk seni dan seni yang bertendens. Uraian HB Jassin tentang seni bertendens tampaknya cukup untuk membenahi keruwetan itu. Seni memang mengandung tendens, kata Jassin, namun tendens itu seringkali dikacaukan dengan propaganda politik. Ini kelihatan jelas pada masa Jepang di mana seniman dan sastrawan diwajibkan untuk mencipta karya-karya untuk keperluan propaganda dalam rangka memenangkan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tendens dalam seni dan sastra bagi Jassin bersifat inheren, namun bukan berupa propaganda. Jassin mem-pra-anggap-kan bahwa karya sastra punya “tugas” untuk melakukan sesuatu demi perbaikan masyarakat dan itu dilakukan melalui pengajaran. Contoh yang diajukannya adalah Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, para pengarang kita memandang tendens itu dari sudut masing-masing. Hasilnya adalah karya-karya “bertendens” yang gradasi “pengajaran”-nya berbeda-beda. Seringkali kadar pengajaran yang paling kuat menguar adalah ketika suatu karya mendekatkan “pengajaran” itu dengan “perlawanan” politis. Dalam kelompok ini, terdapat enam buku, yaitu Student Hijo, Hikayat Kadiroen, Matinya Seorang Petani, Tirani dan Benteng, Saksi Mata, dan Aku Ingin Jadi Peluru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kadar tertentu, ada karya yang mencapai taraf folk-art: Aku Ingin Jadi Peluru adalah alamat untuk “puisi-puisi perlawanan”. Setiap kali orang bicara tentang “puisi perlawanan”, orang selalu merujuk buku ini—dan juga, tentu saja, penyairnya: Wiji Thukul. Sebabnya, di dalam buku ini ada larik yang hampir selalu diserukan dalam demonstrasi di jalanan: “hanya satu kata: lawan!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jauh sebelum runtuhnya Orde Baru, Tirani dan Benteng juga mencapai taraf yang sama dengan Aku Ingin Jadi Peluru. Untuk merujuk kepada berdirinya Orde Baru, tumbangnya Orde Lama, pengkhinatan G 30 s/PKI (sic!), orang akan merujuk buku ini. “Kami adalah Pemilik Sah Republik Ini”, misalnya, adalah “sajak wajib” ketika orang berbicara tentang pergolakan di sekitar tahun 1965-1966 di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anasir perlawanan yang lebih halus muncul dalam karya-karya terbitan awal Balai Pustaka. Badan bentukan kolonial ini mulanya diniatkan sebagai penyedia bacaan yang “aman” bagi masyarakat. “Aman” di sini diartikan terutama sebagai “tidak membahayakan kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda”. Maka jika ada anasir perlawanan yang progresif yang dimunculkan oleh badan yang disubsidi sangat besar oleh pemerintah kolonial, perlawanan itu haruslah bersifat sangat halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka karya-karya seperti Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, dan Salah Asuhan adalah karya-karya “melawan” yang telah mengalami domestifikasi atau publikisasi yang terbatas sifatnya: arah perlawanan tidak lagi ditujukan kepada pemerintah kolonial atau otoritas kekuasaan yang resmi melainkan kepada masyarakat sendiri, terutama kepada adat. Maka karya-karya ini lebih “lembut” walaupun sekaligus tampak ganjil bagi pembaca masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitti Nurbaya, misalnya, sering menjadi alamat bagi adat kawin paksa yang banyak dihujat. Padahal, Sitti Nurbaya dalam roman ini tidaklah terpaksa menikah lantaran adat, melainkan soal lain: ekonomi. Kejanggalan lainnya adalah asumsi prokolonial yang dikandungnya: Samsulbahri dilukiskan sebagai serdadu yang memerangi rakyat yang menolak belasting atau pajak yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial.&lt;br /&gt;Posisi sebagai “bacaan” aman menimbulkan kesulitan lain. Selain harus menyiasati sensor dari staf Balai Pustaka dan persaingan dengan “bacaan-bacaan liar”, ketiga karya itu harus berkompetisi dengan khotbah atau ceramah agama karena teknik penceritaan mereka seringkali tidak berbeda jauh dari khotbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjauhan karya sastra dari hal ihwal politik yang dilakukan oleh Balai Pustaka rupanya menimbulkan kesadaran bahwa gerakan politik dan ideologi saja tidak cukup. Kesadaran tentang transformasi sosial harus dirangsangkan kepada pelaku gerakan itu sendiri, yaitu masyarakat. Terlepas dari nuansa didaktis-khotbah yang membuatnya agak kaku sebagai karya sastra, Layar Terkembang memenuhi rumusan Jassin tentang “karya bertendens”. Roman ini mengajukan ide-ide cemerlang tentang hal ini, terutama tentang emansipasi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Belenggu bergerak semakin mendalam dengan melampaui batas sosial dan memasuki ranah psike. Monolog interior dalam Belenggu belum biasa digunakan pada masa roman ini terbit. Namun yang lebih belum biasa lagi adalah sikap dan ide yang diajukannya tentang hubungan pernikahan, peran intelektual dalam masyarakat, dan peran sosial perempuan. Saking janggalnya bagi masanya, novel ini ditolak oleh Balai Pustaka dan akhirnya diterbitkan oleh penerbit partikelir. Ketika diterbitkan pun, ia diterpa badai tanggapan sumir—termasuk, ironisnya, dari Sutan Takdir Alisjahbana yang menganjur-anjurkan modernisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif “perlawanan” ini menimbulkan sesuatu dalam pikiran. “Perlawanan” sebagai motif dasar, pola, sejajar dengan struktur “intrinsik” dalam karya sastra, terutama prosa fiksi. Bila pada puisi motif ini walaupun mudah “dirasakan” namun sukar “dibuktikan”, dalam prosa fiksi “perlawanan” adalah inheren dalam struktur “dalam” prosa fiksi yang aninom dan netral itu. Pola dasar dari cerita yang baik hanya itu-itu saja: pembukaan, pengenalan konflik, konflik, pemecahan masalah, penutup. Konflik di sini mengasumsikan adanya pihak-pihak yang saling berlawanan—kata “lawan” di sini menguarkan kesan agresif. Apakah hal ini berarti bahwa kita dapat memastikan bahwa “perlawanan”, “melawan”, “lawan”, adalah ajektif yang juga inheren dalam sastra Indonesia? (Bersambung)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2340104816823983669?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2340104816823983669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2340104816823983669' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2340104816823983669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2340104816823983669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/100-buku-sastra-keras-dan-bertendens.html' title='100 Buku Sastra: Keras dan Bertendens! (Esei 3 dari 20)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-5639298970029911281</id><published>2009-04-21T23:49:00.000-07:00</published><updated>2009-04-21T23:57:53.433-07:00</updated><title type='text'>100 Buku Sastra Indonesia yang Perlu Dibaca Sebelum Dikuburkan (esai 2 dari 20)</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;[seri tulisan ini adalah pengantar memasuki buku yang ditulis Tim Sastra IBOEKOE, "100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan". Sebuah sekoci kecil sastra yang muda belia dan dikarunia Tuhan banyak waktu luang untuk menulis]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang bukan serangkaian buku sastra terbaik. Tetapi bila suatu predikat memang diperlukan, maka “penting” boleh jadi lebih tepat. Dan karena “penting”, maka buku-buku ini “patut” untuk dibaca. &lt;span class="fullpost"&gt;Tentu saja predikat “penting” itu bakal memicu berondongan pertanyaan dan—mungkin—cercaan. Mengapa buku-buku ini penting? Apakah daftar ini hendak mengatakan bahwa buku-buku yang tak tercantum di sini “tidak penting”? Apakah kriteria pemilihan memang sudah “tepat” dan “valid”? Apa sebenarnya yang hendak digapai oleh buku ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se6-3PzXdsI/AAAAAAAAAWs/gkZestKHpyM/s1600-h/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se6-3PzXdsI/AAAAAAAAAWs/gkZestKHpyM/s200/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327405265569937090" /&gt;&lt;/a&gt;Di hadapan berondongan semacam itu, tentu dibutuhkan penjelasan-penjelasan. Penjelasan tentang kriteria adalah yang terutama. Pemaparan tentang soal ini tampaknya sudah mencukupi untuk menjadi titik berangkat. Dengan mencermati kriteria-kriteria itu, misalnya, kita dapat mafhum kenapa buku-buku babon seperti Pokok dan Tokoh karya Profesor A. Teeuw, Kalangwan karya P. Zoetmoelder, dan Tambera karya Utuy T. Sontani tidak “terpilih”—Profesor Teeuw dan Romo Zoet menulis dalam bahasa Belanda dan Tambera pada mulanya ditulis dalam bahasa Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali juga ada gugatan: kenapa mesti karya-karya yang pada mulanya ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain yang tersebutkan dalam kriteria? Untuk menjawab gugatan ini, ada baiknya kita mengingat lagi bahwa bahasa—bahan dan media karya sastra itu—punya relung-relung budaya sendiri yang hanya bisa dipahami, diucapkan, dan dikomunikasikan oleh komunitas pewicaranya—secara metaforis, HB Jassin menyebut bahwa karya sastra adalah “suara hati suatu bangsa”. “Relung-relung budaya” ini di dalam bahasa Indonesia, Melayu Tinggi, Melayu Rendah/Pasar/Lingua Franca, tentu berbeda dari “relung-relung budaya” dalam bahasa-bahasa daerah—apalagi bahasa asing—dan karena itu membutuhkan pengolahan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang dapat diajukan sebagai kebaruan—kita tidak dapat menghindari pretensi “modernis” ini—adalah bahwa 100 buku “penting” itu disusun sedapat mungkin dengan melandaskan diri pada sang karya, walaupun sang pengarang bagaimana pun juga tidak dapat disihkan begitu saja dari pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini orang yang memelajari pertumbuhan sastra kita dihadapkan pada suatu lanskap yang terpilah-pilah dengan jelas oleh periodisasi atau pembagian angkatan. Paling tidak ada empat periodisasi yang berbeda-beda dan saling bersaing, yaitu periodisasi sastra oleh HB Jassin, Ajip Rosidi, Pramoedya Ananta Toer-Lekra, dan Korrie Layun Rampan. Bila bukan berdasarkan periodisasi, maka yang digunakan sebagai dasar biasanya adalah sang pengarang, seperti yang telah dilakukan oleh Profesor Teeuw dan Keith Foulcher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keseratus buku yang “terpilih” di sini disajikan secara urut berdasarkan tahun, mulai dari yang tertua (1919) hingga yang paling muda (2005) tanpa mementingkan benar periodisasi yang telah “baku” maupun siapa sang pengarang yang telah menciptakan karya—walaupun demikian, periodisasi tetap diperhitungkan sejauh memang diperlukan. Untuk rangkaian buku seri, yang diambil sebagai pengurut dalam penyajian sedapat mungkin adalah terbitan pada tahun pertama. Karena lebih mementingkan sang karya, maka boleh jadi ada pengarang yang menyumbangkan dua buku atau lebih ke dalam daftar. HB Jassin, misalnya, menyumbangkan buku-buku kritik maupun kumpulan polemik yang bagi kami terlalu “penting” untuk disisihkan dari daftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keuntungan tersendiri dalam penyajian secara urut-tahun semacam itu. Kita dapat menghindari perdebatan usang tentang periodisasi atau angkatan dalam kesusastraan Indonesia modern. Perdebatan semacam ini sudah banyak dijumpai di tempat lain dan memberikan terlalu banyak perhatian kepadanya hanya akan menyendat langkah kita yang paling utama dalam laku bersastra: membaca sang karya. Lagipula pembagian angkatan biasanya dilakukan berdasarkan sang pengarang, bukan sang karya. Padahal, sang karyalah yang merupakan entitas paling penting dalam kesusastraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang sang karya dan sang pengarang ini, Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa pembaca kita punya kecenderungan untuk menempatkan sang pengarang di pusat walaupun semestinya yang berperan sebagai lakon utama di panggung sastra adalah sang karya. Pembaca kita “memaksa” sang karya untuk mundur atau bahkan menghilang ke balik punggung sang pengarang. Sang pengarang sendiri dimajukan dan, dalam bentuknya yang menakutkan, kecenderungan ini bahkan mencapai taraf nihilasi terhadapnya, seperti yang terjadi pada kasus Pramoedya Ananta Toer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberikan kesempatan kepada buku-buku sastra itu, sang karya, untuk tampil satu langkah lebih depan ketimbang sang pengarang, maka kita punya kesempatan yang lebih lapang untuk mengerti kenapa suatu karya tertentu punya jejak langkah yang kokoh dalam sejarah sastra. Dan bukankah kekokohan jejak itulah yang menjadi sebab utama kenapa sang pengarang selalu tersebut dalam sejarah sastra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk sementara, kita akan meminta sang pengarang untuk undur sejenak dan memberikan tempat paling depan kepada sang karya.&lt;br /&gt;Namun, alangkah bijak jika kita juga selalu mengingat peringatan Profesor Teeuw bahwa dalam membaca suatu karya sastra, kita menghadapi keadaan yang paradoksal. Di satu pihak, sebuah karya sastra atau karya seni pada umumnya, merupakan keseluruhan yang bulat, yang berdiri sendiri, yang otonom dan yang boleh dan harus kita pahami dan tafsirkan pada dirinya sendiri. Karya itu adalah sebuah dunia rekaan yang tugasnya hanya satu saja: patuh-setia pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di pihak lain, tidak ada karya seni mana pun juga yang berfungsi dalam situasi kosong: setiap sajak, cipta sastra atau karya seni, merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya, merupakan pola pelaksanaan pola harapan pada pembaca yang ditimbulkan dan ditentukan oleh sistem kode dan konvensi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara dunia otonom dengan horison harapan-konvensi literer ini menimbulkan soal yang cukup membikin ruwet pembicaraan tentang sastra. Acapkali pembicaraan tentang suatu karya sastra, sebagaimana pada pembicaraan tentang karya-karya seni, terantuk dinding tak tertembus bernama “selera”. Pembicaraan tentang karya sastra yang mengandung penilaian (dalam artian preskriptif, baik-buruk, benar-salah) dengan dasar “selera” ini biasanya menjelma menjadi kuldesak karena tidak ada dialog—kata Immanuel Kant, selera tidak dapat diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebuntuan pembicaraan berdasarkan “selera” itu kemudian oleh sebagian orang dipertentangkan dengan penilaian berdasarkan “kritik sastra”. Kritik sastra adalah cabang dari ilmu yang mensyaratkan obyektivitas dan menihilkan subyektivitas. Ia punya ukuran-ukurannya sendiri yang telah baku dan “ilmiah”—dan karena itu “benar”. Kekurangan kritik sastra semacam ini adalah kekakuan metode-metodenya dan ke-kering-an hasil-hasilnya. Banyak “jurnal sastra” yang “ilmiah” tak terbaca oleh khalayak yang lebih luas—mungkin karena memang tidak punya daya tarik untuk dibaca atau memang sengaja dibikin “tidak menarik untuk dibaca”—dan akhirnya membeku di rak-rak perpustakaan di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tidak secara ekstrem menggunakan salah satu dari kedua cara pendekatan dan penilaian itu, namun cenderung bergerak di antara ketegangan yang muncul di antara keduanya. Memang ini bukan cara membicarakan sastra yang “ilmiah”, namun paling tidak dengan cara ini telah dibuka suatu ruang dialog untuk bertegur sapa dengan sang karya dan juga dengan penilaian yang beragam atasnya. (Bersambung)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-5639298970029911281?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/5639298970029911281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=5639298970029911281' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5639298970029911281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5639298970029911281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/100-buku-sastra-indonesia-yang-perlu.html' title='100 Buku Sastra Indonesia yang Perlu Dibaca Sebelum Dikuburkan (esai 2 dari 20)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se6-3PzXdsI/AAAAAAAAAWs/gkZestKHpyM/s72-c/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-1501596651226316874</id><published>2009-04-21T05:32:00.000-07:00</published><updated>2009-04-21T05:57:15.390-07:00</updated><title type='text'>100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan (Esai 1 dari 20)</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;[seri tulisan ini adalah pengantar memasuki buku yang ditulis Tim Sastra IBOEKOE, "100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan". Sebuah tim sekoci kecil yang muda belia dan dikarunia Tuhan banyak waktu luang untuk menulis]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harus dipahami baik-baik bahwa buku ini tidak bermaksud mengajukan suatu daftar “buku-buku terbaik” ataupun “buku-buku terpenting”. Tujuan utama buku ini ialah pertama-tama untuk menemui buku-buku karya sastra yang menjadi penopang utama Pax Literaria Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se3CI6VL8gI/AAAAAAAAAWk/NPAaF5jI6g8/s1600-h/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 139px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se3CI6VL8gI/AAAAAAAAAWk/NPAaF5jI6g8/s200/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327127392602026498" /&gt;&lt;/a&gt;Tetapi nyatalah bagi kita bahwa topangan semacam itu bukan hanya akan terasa dalam lapangan kesusastraan belaka. Ada buku-buku yang memang memberikan topangan atau hanya berpengaruh di lapangan itu saja tanpa diketahui oleh khalayak yang lebih luas, tetapi banyak juga yang pengaruhnya meloncati batas lapangan itu dan memasuki lapangan kemasyarakatan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka masalah paling ruwet dalam pekerjaan seperti ini tentu saja masalah pemilihan. Secara otomatis sejumlah buku akan timbul seketika dalam pikiran dan subyektivitas akan turut campur. Dalam buku ini, subyektivitas itu dibangun oleh empat orang, yaitu An Ismanto, Anton Kurnia, Muhidin M Dahlan, dan Taufik Rahzen. Sedangkan sebagian besar dari buku-buku yang hinggap dalam pikiran dapat ditolak atau diterima dengan menggunakan beberapa ukuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tentu saja, buku itu adalah buku karya sastra Indonesia—dalam pengertian yang paling luas, yang artinya akan mencakup buku-buku sajak, novel, esei, catatan perjalanan, biografi, cerita pendek, lakon/drama, fiksi, cerita silat, komik, dan sebagainya. Dengan atribut “Indonesia” dimaksudkan bahwa buku itu pada mulanya ditulis dalam bahasa Indonesia, Melayu Tinggi dan/atau Melayu Rendah/Pasar/Melayu Lingua Franca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ia harus “menggoncang” kesusastraan Indonesia. “Goncangan” itu harus timbul sebagai akibat dari daya besar yang dimilikinya sebagai karya sastra. Di sini diasumsikan bahwa sebuah karya memiliki strukturnya sendiri yang komplet dan self-sufficient, sehingga ia dapat berdiri sendirian ketika menjumpai pembaca dan sendirian pula mempertahankan diri di hadapan pisau bedah kritikus dan pakar sastra yang kredibel. Selain itu ia juga harus mampu memancing pembicaraan atau perdebatan yang luas di kalangan kesusastraan dan boleh jadi juga di kalangan masyarakat yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, buku itu tidak akan disisihkan bila memberikan pengaruh besar terhadap situasi kemasyarakat secara umum, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tolok ukurnya ada dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolok ukur pertama, buku itu masuk dalam sejarah sastra “resmi”, artinya masuk ke dalam kurikulum pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yang diajarkan di sekolah. Dengan tolok ukur ini, maka sebagian besar dari karya-karya yang tercantum dalam buku-buku pelajaran bahasa Indonesia akan masuk ke dalam daftar. Alasannya, dengan masuk ke dalam kurikulum, maka semua orang yang pernah bersekolah dan mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia tentu kenal dengan buku-buku itu atau paling tidak pernah mengetahui nama pengarangnya—karena pastilah seorang pelajar di Indonesia oleh gurunya diperintahkan untuk “menghapal” judul-judul buku itu dan pengarangnya sekalian (ini adalah praktek yang umum di ruang-ruang kelas). Perkenalan inilah yang membangun pengertian awal khalayak tentang kesusastraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kita akan memberikan tempat utama kepada buku-buku yang telah memiliki “alamat” dalam kehidupan sehari-hari, seperti misalnya Sitti Nurbaya yang sering dirujuk orang ketika berbicara tentang adat dan kawin paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolok ukur kedua, buku itu punya pengaruh yang nyata terhadap atau dalam kehidupan masyarakat walaupun tidak “diakui” oleh kurikulum resmi, misalnya sangat diminati masyarakat sehingga laris dalam penjualan atau membuka perspektif “yang lain” dalam memandang isi ceritanya. Golongan ini dihuni oleh cerita silat, komik wayang, dan novel-novel yang sering dicap sebagai roman picisan atau novel pop, termasuk chicklit atau teenlit.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-1501596651226316874?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/1501596651226316874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=1501596651226316874' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/1501596651226316874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/1501596651226316874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/100-buku-sastra-indonesia-yang-patut.html' title='100 Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan (Esai 1 dari 20)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Se3CI6VL8gI/AAAAAAAAAWk/NPAaF5jI6g8/s72-c/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-858128842735393230</id><published>2009-04-18T19:00:00.002-07:00</published><updated>2009-04-18T19:02:28.112-07:00</updated><title type='text'>Karena Sastra Bukan Khotbah Jumat</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhamad Sulhanudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Reporter: Leny Nuzuliyanti, Siti Andriyani, Wiwik Hidayati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel pertama Inet Ini Memang Gila, Tapi Ini Cinta diterbitkan Lingkar Pena Publihing House. Munah, tokoh sentral dalam novel itu, tengah jatuh cinta dengan Kiwil, kriwil, suka ngupil anak Pak Sadeli. Tapi Haji Nasir, babe Munah menentang hubungan putrinya dengan si anak band yang dandanannya superaneh itu. Karena sudah terlanjur cinta mati, Munah akan kawin lari jika babenya tetap tak mengizinkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menerima naskah dari Inet, Asma Nadia meminta Laela Imtichanah untuk membaca dan memberikan komentar. “Saya langsung tergilai-gilai dengan gaya berceritanya yang mengalir lancar bagai air dan ceritanya yang emang lucu selucu si Inet, sang pengarang. Settingnya yang Betawi abis mengingatkan saya dengan Si Doel, juga kampung halaman saya di Jatinegara. Eh, saya kan masih ada keturunan Betawi, lho. Dalam hati saya bilang, naskah ini harus segera terbit!” komentar Laela seperti dikutip dari milis FLP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laela adalah editor, sedang Asma Nadia CEO Lingkar Pena Publishing House (LPPH). LPPH yang didirikan tahun 2003 merupakan penerbitan mandiri milik Forum Lingkar Pena (FLP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Nenden Nurjanah, nama asli Inet, menulis fiksi remaja karena dia ingin memberikan pencerahan untuk para remaja. Selain itu juga lebih gampang dan lebih mudah diselami. Menulis untuk remaja, kata Inet, tak harus menggunakan kata “elo gue”. Cerita remaja yang baik akan memberikan pembaca hal-hal yang baik. “Banyak pelajaran yang bisa diambil. Sehingga banyak amalnya,” tutur Inet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara menurut Boim Lebon, menulis cerita untuk remaja bisa dilakukan oleh remaja dan juga mantan remaja. Seperti dirinya yang sudah tak remaja lagi, mengaku banyak bergaul dengan dunia remaja. Setelah mengetahui dunia mereka, lalu Boim menuliskannya dengan bahasa yang simpel agar mudah dibaca oleh pembacanya yang masih remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sisi yang gaul dan yang islami itu bisa digabungkan dalam cerita. Cerita yang baik itu yang ada hikmahnya,” katanya. Bersama Hilman Hariwijaya, Boim menulis Lupus Kecil dan Lupus ABG yang populer di akhir tahun ‘80 dan ‘90-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar karya-karya penulis FLP yang beredar di pasaran lebih banyak berisi cerita remaja. Namun soal pemilihan tema, kata Boim Lebon, setiap penulis harus mengetahui kemampuan dirinya sendiri. “Dia mateng di mana, itu yang dia tekuni,” katanya. Karena Boim banyak bergaul dengan dunia remaja, maka ia juga banyak menulis cerita remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau menulis apa, itu pilihan penulis,” kata Asma Nadia, penulis yang telah banyak menerbitkan buku-buku remaja, baik fiksi maupun nonfiksi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kedua Inet Pengalaman Jilbab Pertamaku. Buku ini berisi kumpulan cerpen (kumcer) dari sejumlah penulis FLP. Jilbab Pertamaku memuat kisah-kisah pengalaman pertama penulis memakai jilbab. Ada yang mulanya sekadar ikut-ikutan, ada yang karena konflik dengan keluarga atau pacarnya sampai dengan yang karena takut kepanasan. Dalam setiap pergantian cerita diselipi komentar cowok tentang cewek yang berjilbab. Semua cerita dikemas dengan bahasa gaul khas remaja perkotaan. Atau istilah gaulnya, bahasanya gue banget gitu loh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tema-tema remaja, lagi-lagi jilbab diketengahkan sebagai tema tulisan. Apakah tema remaja islami ini memang telah menjadi jalur yang sengaja dipilih oleh penulis FLP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum Lingkar Pena didirikan 22 Februari 1997. Bermula dari pertemuan Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Muthmainah dan beberapa mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia tahun 1997. Mereka berdiskusi tentang minat membaca dan menulis di kalangan remaja Indonesia. Dari diskusi itu, mereka menyadari kebutuhan masyarakat akan bacaan yang bermutu. Di sisi lain juga perlunya menampung para calon penulis. Akhirnya disepakati untuk membentuk organisasi kepenulisan dengan nama Forum Lingkar Pena, sebagai badan otonom Yayasan Prima. Pada Desember 2003, Yayasan Prima berubah menjadi Yayasan Lingkar Pena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sepuluh tahun perkembangannya, seperti yang disampaikan dalam makalah Helvy Tiana Rosa dalam Konferensi Internasional HISKI di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia 8 Agustus 2007, FLP telah menerbitkan lebih dari 600 buku, bekerjasama dengan tak kurang dari 30 penerbit, dan membuka cabang di dari 125 kota di Indonesia dan manca negara, seperti Singapura, Hong Kong, Jepang, Belanda, Amerika, Mesir, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa jumlah anggota FLP sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam release sebelumnya, delapan tahun FLP (2005), organisasi kepenulisan ini telah beranggotakan sekitar 5000 orang, hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 diantaranya menulis secara aktif di berbagai media. Dari 500 orang ini berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula. Jika pada tahun 2005, sebanyak 5000 anggota FLP telah tersebar di hampir 30 propinsi dan mancanegara, sementara publikasi karya FLP kini semakin meluas, jumlah anggotanya sampai dengan tahun ini sudah barang tentu telah mengalami peningkatan yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan FLP merekrut anggota dan meluaskan jaringannya tak lepas dari peran majalah remaja Annida. Annida berdiri tahun 1991. Sebelum mendirikan FLP, Helvy Tiana Rosa telah menjadi Redaktur Pelaksana di Majalah Annida dari tahun 1991-1999. Tahun 1999 Helvy diangkat menjadi Pemimpin Redaksi dan pada tahun 2001 ia mengundurkan diri karena ingin berkonsentrasi mengajar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sejarah kelahiran FLP yang juga dibidani oleh salah satu anggota redaksi Annida, maka dalam perjalannya Annida dan FLP berjalan berbarengan. Banyak penulis FLP yang mengasah kemampuan menulisnya dengan mengirimkan karyanya ke Annida. Dan bahkan selama 10 tahun keterlibatan Helvy di Annida, majalah fiksi remaja islami itu menjadi media komunikasi yang efektif bagi Forum Lingkar Pena (FLP). Hampir seluruh anggota FLP adalah pembaca dan penulis majalah Annida yang mendaftar menjadi anggota melalui majalah tersebut. Pasca-Helvy, keredaksian Annida di bawah kepemimpinan Muhammad Yulius dan FLP di bawah kepengurusan Irfan Hidayatullah, hingga kini masih tetap erat bergandeng tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Semarang, FLP berdiri tahun 2000. Sebagai ketua pertama adalah Yeni Mulati atau yang lebih dikenal dengan nama pena Afifah Afra Amararotullah, mahasiswa Fakultas MIPA Jurusan Biologi Undip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awalnya bukan FLP. Kita punya klub penulis, namanya Seruni. Terdiri 5 sampai 6 orang. Semuanya mahasiswa MIPA. Perintisnya Mbak Yeni. Di sana kita nulis apa saja. Fiksi juga nonfiksi. Lalu terdengar ada FLP. Kita kemudian mengajukan proposal ke pusat, ke Mbak Helvy. Mbak Yeni atau Afifah Afra itu ditunjuk sebagai koordinatornya. Masalah struktur kita ngikuti pusat,” terang Ryas di kantornya, SMP-SMU Islam Terpadu, Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai kepengurusan ketua pertama, Afifah Afra diganti Laila Imtichanah. Kasus yang sama terjadi lagi pada kepengurusan kedua. Laila Imtichanah diganti oleh Ryas Nurdiana. Pergantian Afifah Afra dan Laila Imtichanah di tengah kepengurusan karena yang bersangkutan telah lulus kuliah.&lt;br /&gt;Pasca kepengurusan Ryas hingga sekarang, sudah berganti dua kepengurusan, yakni di bawah kepengurusan Muhammad Wahyu Saputra, mahasiswa Sastra Perancis Unnes 2002 dan sejak tahun 2007 Ali Marghosim, mahasiswa Elektro Undip 2005. Dengan demikian, dari awal berdirinya tahun 2000 hingga 2008 ini, kepengurusan FLP Semarang telah melewati lima kali kepengurusan. Ketua yang terakhir, Ali Marghosim menjabat untuk periode 2007-2009. Masa setiap kepengurusan ditetapkan dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Fakultas Sastra Undip, FLP mengembangkan jaringan melalui Keluarga Mahasiswa Muslim Sastra (KMMS). Komunitas Sastra dan Studi Islam (KSSI) adalah wadah yang digunakan para mahasiswa Sastra Undip untuk belajar menulis fiksi islami. Didirikan tahun 2005, saat kepengurusan Syaiful Qohar, mahasiswa Sastra Inggris 2003. KSSI merupakan badan semiotonom KMMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintis awal KSSI adalah Ellita Permata (mahasiswa Sastra Inggris 2002, alumni, red) dan Fairus Failasuf. Pada masa awal KSSI, saya sering menemukan potongan kertas yang berisi cerita hikmah sampai nukilan hadits yang ditempel di mading Mushola PKM Sastra Undip dan juga mading di depan sekretariat KMMS. Apakah seperti itu yang dimaksud sastra islami menurut anggota KSSI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syafaatul Aisyiah yang saat ini menjabat sebagai Ketua KSSI periode 2007-2008 mengatakan, pada masa awal terbentuknya KSSI berkonsentrasi pada pelatihan kepenulisan. Tapi dalam perjalanannya kemudian KSSI lebih fokus pada penulisan sastra islami. Dua tahun terakhir ini KSSI kerap menyelanggarakan kegiatan workshop penulisan bekerjasama dengan FLP Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ali Marghosim, ketua FLP Semarang 2007-2009, saya mendapat keterangan jika FLP Semarang kini telah memiliki beberapa rayon atau zona. Diantaranya Zona Pleburan yang dikoordinir oleh KSSI, Ngaliyan di kampus IAIN, Sekaran di kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Tembalang, kampus Undip. Diakuinya pula, seperti organisasi mahasiswa di kampus, seleksi alam berlaku dalam perekrutan anggota dan pengurus FLP Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini FLP Semarang melakukan rekruitmen anggota baru. Terkumpul 160 pendaftar. Jumlah itu termasuk FLP Pelajar. Sejak kepengurusan Ryas Nurdiana, FLP Semarang telah memiliki divisi FLP Pelajar yang anggotanya merupakan siswa SMU. Waktu itu FLP Pelajar dipusatkan di SMP-SMU Islam Hidayatullah, tapi kini kegiatan FLP dipusatkan di SMU 5 Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rekrutmen itu gampang sekali, yang daftar banyak. Setelah dilantik, seperti ekor tikus. Memang waktu rekruitmen kita mencari sebanyak mungkin, nanti akan ada seleksi alam. Di sastra, kita ngadain acara dua kali, karena tak menunjukkan komitmen 40 saya keluarkan, dan hanya tinggal 15 orang,” kata Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis bagi sejumlah penulis FLP, kata Ryas Nurdiana, hanya sarana untuk berdakwah. Tapi dia menolak jika yang disebut islami itu harus memuat ayat-ayat atau hadist. Yang lebih penting menurutnya, bagaimana nilai-nilai islam tercover dalam karya. Ia menyadari jika sejumlah penulis FLP masih terjebak pada tataran simbol. Pengagum budayawan Prie GS ini menyebut tulisan Prie GS sebenarnya lebih islami daripada tulisan anggota FLP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada awalnya kita memang dakwah. Kita pengen selain menulis juga berdakwah. Makna dakwah dan menggurui itu tipis sekali,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ryas dakwah dalam tulisan tetap penting. Agar tidak terkesan terlalu menggurui, penulis perlu meningkatkan kemampuan menulis. “Jika kita benar-benar melepaskan dakwah dan itu disampaikan ke komunitas dakwah, kita akan dikritik. Itu menulis untuk apa, kok nggak ada misinya sama sekali,” kata Ryas memberi alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu bisa diartikan bahwa karya-karya FLP dibaca di kalangan mereka sendiri, komunitas dakwah kampus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryas mengaku belum pernah melakukan survei. Tapi sejauh pengamatannya, karya-karya penulis FLP diminati oleh teman-temannya di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izzatul Jannah mengatakan, FLP sebenarnya tidak membidik kalangan pembaca tertentu. Kalaupun karya FLP dibaca oleh komunitas dakwah baik di kampus maupun di sekolah, itu terjadi secara alamiah. Ia yakin jika pembaca akan memilih buku yang sesuai dengan cara pandangnya, bacaan-bacaan yang dekat dengan kesehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin mereka menemukan cara pikir yang sama kemudian cara berkontemplasi yang sama dengan buku-buku FLP sehingga akhirnya sebagian besar yang membaca adalah anak-anak remaja yang memiliki kecenderungan religius,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tidak menutup kemungkinan yang baca itu adalah nanti juga ketemu ama Mbak Titak. Pembacanya sangat unik. Pembacanya Mbak Titak itu ada yang pernah terlibat narkoba segala macam. Kemudian saya sarankan Mbak Titak, tulislah itu pengalamanmu tentang pembacanya itu supaya mereka mengerti bahwa yang baca FLP itu, buku-buku FLP itu bukan cuma anak-anak masjid. Bukan cuma anak-anak aktivis dakwah,” tambah Izzatul Jannah, Ketua FLP Wilayah Semarang. Izza, panggilan Izzatul Jannah, adalah generasi pertama FLP. Ia telah bergabung FLP dari sejak organisasi penulisan sastra islami ini didirikan tahun 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam FLP penulis diklasifikasikan menjadi empat tingkatan: mula, madya, andal dan inti. Penggolongan ini didasarkan pada tingkat kemampuan menulis. “Meskipun usianya sudah 45 tahun, kalau dia belum pernah mempublikasikan karyanya, itu masuk pemula. Kemudian madya, sudah mulai bermunculan di media lokal. Yang andal, dia sudah mulai masuk ke media nasional dan sudah punya buku, minimal antologi. Yang inti, dia sudah punya buku dan terkenal. Di semarang sendiri, yang nasional, yang punya buku saja baru sekitar 5. Kalau antologi sudah banyak,” kata Ryas Nurdiana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryas mengakui tema-tema yang diusung FLP hampir seragam. Ia mencontohkan tema cinta. Ia sendiri mengaku sengaja menulis tidak menggunakan kata “cinta”. “Saya bosan, karena setiap ke toko buku selalu menemui buku dengan kata cinta. Apakah harus dengan cinta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ryas, banyaknya tema cinta terkait dengan kebutuhan segmen pembaca FLP. Tema cinta memang lagi booming. Tapi ia dan teman-teman di FLP Semarang tak ingin hanya berhenti sampai di situ. “Kalau periode pertama campur baur. Ada yang sastra berat, ada yang pop kayak punya saya dan Mbak Laela. Untuk selanjutnya kita punya kualifikasi. Ini untuk remaja, untuk umum. Dan masing-masing dari kita, menyadari kemampuan masing-masing.” Laela yang dimaksud Ryas adalah Laela Imtichanah, mantan Ketua FLP Semarang sebelum Ryas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Booming karya FLP di satu sisi merupakan kebanggaan bagi anggota komunitas itu, setidaknya sebagai tolok ukur banyaknya anggota yang menghasilkan karya. Tapi di sisi lain mendapatkan sorotan dari pihak luar akan kualitas karyanya. Pasalnya, dari ratusan buku yang terbit tiap tahunnya hampir seragam: bercerita tentang remaja yang sebelumnya tak berjilbab, menjadi berjilbab; manusia yang menyadari kekhilafannya dan kemudian bertaubat. Atau yang sekarang lagi ngetren, biar gaul tapi tetap syar’i. Makanya akan ada judul “Pacaran Islami”, “Gaul Islami” dan islami-islami lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi pasca-meledaknya novel Ayat-Ayat Cinta yang dibicarakan di berbagai tempat dan kalangan di luar komunitas FLP, kini banyak bermunculan karya-karya sejenis. Mulai dari desain covernya perempuan khas timur tengah bercadar yang tampak mata, alis dan separuh hidungnya, hingga ke setting ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini sebenarnya sudah disadari oleh internal FLP. Dalam Mukernas FLP di Bandung 2005, dibahas masalah kualitas karya anggota FLP. Oleh karena itulah, dalam kepengurusan FLP periode 2005-2009 di bawah kepemimpinan Irfan Hidayatullah yang menggantikan Helvy Tiana Rosa sebagai ketua pertamanya sejak awal tahun berdirinya 1997, dibentuk divisi kritik sastra dengan koordinatornya Ekky Imanjaya, alumnus Filsafat UI. Anggota divisi ini antara lain Firman Venayaksa, Herry Nurdi, Lusiana Monohevita, Nanik Susanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, juga dibentuk Majelis Penulis FLP. Anggotanya, menurut Irfan, antara lain Helvy Tiana Rosa, Golagong, Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy. Majlis penulis dibentuk untuk menjalankan fungsi kontrol agar kualitas karya anggota FLP terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Mukernas itu disepakati bahwa untuk mencantumkan logo FLP setiap buku akan melalui seleksi tim majlis penulis. Majelis penulis hanya ada di pusat, sehingga semua karya yang akan diterbitkan oleh anggota FLP dengan mencantumkan logo FLP harus terlebih dulu dikirim ke pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan baru ini akan menguntungkan FLP secara organisasi juga penulis. Keuntungan bagi FLP, pertama, akan menaikkan citra FLP karena dengan diberlakukan fungsi kontrol itu kualitas karya-karya anggotanya ke depan akan terjaga. Juga akan ada pemasukan dana karena setiap kali pencatuman logo dikenakan iuran yang akan disetor ke FLP pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Image tulisan-tulisan FLP di masyarakat yang sangat mudah diterbitkan itu perlu digiring kearah perbaikan,” kata Irfan, yang juga dosen Sastra Indonesia Universitas Pandjajaran (Unpad) Bandung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Irfan saat ini sudah ada beberapa penerbit besar yang melirik karya-karya anggota FLP. Seperti karya Asma Nadia Cinta Tak Pernah Menari telah diterbitkan Gramedia (Gramedia Pustaka Utama, 2003). Memang, setelah booming fiksi islami karya anggota-anggota FLP di pasaran, sejumlah penerbit besar melirik pasar fiksi Islami yang ternyata tak kalah menjanjikan dari fiksi populer umum. Bahkan diantaranya ada yang membentuk divisi khusus, seperti Penerbit Mizan yang membuka Divisi Buku Anak dan Remaja Mizan (DAR! Mizan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan makin menguatnya jaringan penerbitan fiksi islami dan juga adanya wacana peningkatan kualitas karya para anggota FLP, di saat itulah FLP merasa perlu untuk mengukuhkan representasi identitasnya. Karakter FLP, kata Irfan, memiliki perbedaan dengan karya-karya yang keluar dari komunitas lain. Misalnya dari komunitas sastrawan santri. Masing-masing punya keunikan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu akan terus dikontrol karena biasanya ada anggota FLP yang coba mengeksplorasi kebebasan berkarya. Itu mungkin diawasi dalam artian kita menjaga satu mainstream baru kesastraan yang itu prosesnya nanti didiskusikan. Tidak sensor, tapi didiskusikan majelis penulis dengan kapasitasnya misalnya didalam unit sastra ada 10 unit itu mencoba untuk mendiskusikan karya-karya yang mempunyai tendensi kearah sana. Itu secara ide ya. Kalau secara pengemasan dan lain sebagainya itu juga kita ingin meningkatkan ke arah karya yang lebih estetis. Selama ini kan lebih ke arah alur, hanya cerita saja. Pokoknya asal ada alur, ada tokoh, ada konflik dan sebagainya itu dah lolos. Mungkin nanti bisa lebih diseleksi lagi seperti di diskusi-diskusi,” terang Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irfan mengakui masih adanya penggambaran secara hitam-putih oleh para angota FLP yang sebagain besar berlatarbelakang aktivis dakwah kampus. FLP, katanya, tak ingin membunuh ideologi mereka. Tapi ingin meramu yang fundamentalis dan lain sebagiannya itu dengan sebuah karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irfan mencontohkan pengarang Mesir Yusuf al Qardhawi. Menurutnya, di Indonesia al Qardhawi dikenal seorang yang fundamentalis. Ia mengungkapkan tentang penjara-penjara di Mesir, Ikhwanul Muslimin. Kalau teknik mengungkapkan itu dalam karya sastra, menurutnya citra dan dampaknya akan lain. “Nah yang belum ada di FLP itu menjembatani antara background ideologis pengarang dengan cara estetika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para sastrawan santri macam KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) atau Ahmad Tohari tak membatasi lagi antara islam dan nonislam, mengapa FLP masih berkutat pada persoalan identitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Danarto dan Gus Mus mendekatkan kesastraan dengan kebudayaan islam di indonesia itu lewat kaca mata mereka. Ya kita dari sudut kita. Kita berhak memposisikan sesuatu. Unversalitas islam itu yang menjadi satu titik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saya yakin, Gus Mus kemudian Danarto itu akan mengungkapkan sesuatu tidak seperti yang diungkapkan oleh Ayu Utami dan teman-temannya. Dalam artian tulisan itu tetap menjadi kepentingan walaupun mereka mengimbaskan pada kekaryaan. Mungkin karena posisi mereka dengan keilmuan yang lebih luas itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekky Imanjaya punya pandangan lain. Alumni Filsafat Univesitas Indonesia (UI) yang kini menjabat sebagai koordinator Divisi Kritik Sastra FLP Pusat ini mengatakan, perbedaan corak keislaman penulis FLP dengan penulis islam lainnya terkait dengan pemahaman islam penulisnya. Semakin karya itu jauh dari simbol, karya itu akan semakin universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya saya tidak setuju disebut sebagai sastra islam, secara pribadi. Walaupun mas Gong sangat bersikeras. Karena mas Gong bilang identitas, kenapa emang. Ada apa memang dengan sastra islam. Outputnya sama itu mencerahkan, ada sesuatu pesan,” kata Ekky. Mas Gong adalah Golagong. Pendiri komunitas Rumah Dunia ini juga bergabung dalam FLP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ekky, orang menulis karena dia gelisah. Caranya menulis terserah. Lalu, perlu dipertimbangkan juga, dia menulis untuk siapa. “Apakah untuk sesama anak Rohis, sesama orang yang sudah mengerti islam, atau untuk dunia luar. Nah itu yang harus disebarkan bahwa kita menulis buat banyak orang. Untuk itu kita harus berbahasa dengan bahasa kaumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman menulis untuk semua orang itu yang kurang dipahami oleh para penulis FLP. Dalam penilaian Ekky, mereka masih menulis hanya sesuatu yang dekat dirinya. “Mungkin untuk awal nggak masalah, hitam putih lah, penjahat yang jahat banget, harusnya ada peningkatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekky justru lebih menyarankan jika penulis FLP mengacu pada karya-karya Kuntowijoyo. Karya Kuntowijoyo, kata Ekky, meski tidak menyebutkan embel-embel islam, tapi dia sangat islami. Ekky tak mempersoalkan adanya kata-kata “assalamualaikum” selama itu menjadi bagian inheren dalam karya. Sebaliknya, kata-kata itu juga tak menjamin sebuah karya akan menjadi lebih islami ketika hanya dijadikan sebagai tempelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau seorang itu muslim dia akan menginternalisasikan nilai-nilai keislamannya, ada proses, kemudian ada proses eksternalisasi. Jadi apapun yang dilakukan oleh seorang muslim itu dakwah tanpa harus ngomong, saya sedang berdakwah, itu otomatis. Itu pun terjadi ketika dia menulis. Ketika dia menulis nilai-nilai keislaman yang sudah diendapkan itu keluar,” kata Ekky yang mengaku pengagum Kuntowijoyo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuntowijoyo selain sebagai sejarawan ia juga menulis novel dan cerpen. Salah satu karyanya yang dikenal luas adalah Khotbah di atas Bukit dan cerpennya Dilarang Mencintai Bunga-Bunga. Khotbah di atas Bukit bercerita tentang perjalanan spiritual tokohnya, Barman, yang menemukan “pencerahan” justru setelah dia menikmati kehidupan yang berkecukupan. Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga memenangkan Sayembara Cerpen Majalah Sastra tahun 1968. Sebelum meninggal dunia pada 22 Februari 2005, Kunto menuliskan “Maklumat Sastra Profetik” sebagai kredo kepenulisan karya sastranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan cerpen Ekky yang berjudul Protes, menurutnya tidak ada kata-kata islam. Tapi oleh Asma Nadia diminta untuk diterbitkan di Lingkar Pena Publishing House. “Wah ini menurut saya dah nggak ada yang islami-islaminya, tapi masih kental nilai-nilai keislamannya, masukin saja,” kata Ekky menirukan Asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekky mengaku kerap mendorong teman-temannya di FLP untuk tidak hanya membaca buku-buku yang satu selera. Walaupun secara ideologi tidak sama, buku itu perlu dibaca sebagai referensi untuk memperluas wawasan penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang memandang FLP ekslusif, bagi Irfan sebagai hal yang wajar karena setiap kehidupan itu plural. Ada sudut ini di kampus, ada juga sudut seperti pesantren di sana, ada juga keislaman. “Apa salah seorang yang punya background ideologis ingin mengungkapkan jati dirinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Moechtar Lubis, misalnya. Meski keduanya mengeksplorasi nilai-nilai budaya, tapi secara langsung maupun tidak, pengarang telah mengarahkan pembacanya. Keterjebakan sejumlah anggota FLP, khususnya yang masih pemula, dalam sesuatu yang bersifat simbol akan dibenahi dalam kepungurusan Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pihak di luar FLP menduga, kemunculan FLP untuk mengcounter merebaknya bacaan teenlit-chicklit. Belakangan FLP sering dikaitkan sebagai perlawanan terhadap sastra seks yang dalam istilah sastrawan Taufik Ismail “Sastra Madzhab Selangkang” (SMS) atau “Gerakan Syahwat Merdeka” (GSM). Visi FLP ingin menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan masyarakat/ummat. Namun kata “pencerahan” kerap disamaartikan dengan “berdakwah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak menjadi soal jika penulis akan berdakwah. Tapi masalahnya bagaimana mengemasnya. Jika dakwah itu terlalu vulgar, lantas apa bedanya dengan khotbah, apa bedanya dengan pamflet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau buat yang berpandangan negatif, ya nggak apa-apa. Orang boleh saja punya pandangan yang berbeda. Tapi yang jelas, kami di FLP tetap akan berkarya, tetap akan memperbaiki kualitas karya FLP dan menjadi orang yang berbicara dengan karya, menjadi orang yang ada dengan karya. Jadi buat temen-temen yang berpandangan negatif, ya buktikan saja bahwa mereka bisa menulis yang lebih baik dari yang ditulis FLP,” tutur Helvy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joni Ariadinata yang sejak beberapa tahun terakhir ini ditunjuk sebagai pembina FLP mengatakan, sastra yang baik pasti ada pesan yang ingin disampaikan. Termasuk mereka yang mengklaim seni untuk seni, dalam karyanya juga ada sesuatu yang ingin disampaikan. Hanya saja akan menjadi soal ketika pesan hanya disempitkan menjadi moral, menjadi dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada orang mengatakan karya itu baik kalau ada pesan moralnya, padahal pesan moral itu mengganggu. Apalagi jika pesan itu disampaikan secara vulgar seperti yang disampaikan anak-anak FLP, meski ini tidak semuanya. Kalau ingin menyampaikan ayat-ayat, kenapa disampaikan oleh sastrawan, yang pengetahuannya belum tentu memadai. Lebih baik oleh mereka yang pengetahuan agamanya lebih baik,” terang Joni Ariadinata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Joni, sejumlah anggota FLP keliru menafsirkan bahwa sastra yang baik itu yang ada nasehatnya. “Khotbah Juma’t saja bosan, sebelum mendengarkan saja sudah apriori dulu kan. Sastra yang bergaya khotbah itu akan membosankan, seperti mendengarkan khotbah yang sebelumnya kita tahu isinya. Tiba-tiba dalam sastra akan disampaikan, akan membosankan.” “Tidak semua khotbah membosankan, ada kiai yang mumpuni, sehingga tidak membosankan. Tapi kebanyakan memang begitu,” tambah Joni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joni mengasuh rubrik ulasan cerpen di Majalah Annida yang sebagian besar penulisnya adalah anggota FLP. Setiap kali menemukan karya yang bernada khotbah, Joni tak segan-segan memberikan kritik pedas. Berkali-kali ia mencontohkan Kuntowijoyo yang dengan cantik mengajak orang mempunyai etos kerja seperti dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-teman FLP masih menuju ke sana. Saya ngobrol dengan Abdul Hadi. Dia khawatir karya-karya anak FLP ini akan merusak citra islam. Sekian ribu banyak penulis islam dan jelek. Di satu sisi ada benarnya. Tapi di lain sisi, Abdul Hadi sebagai orang luar yang tidak terlibat, gampang saja ngomong seperti itu. Kalau dia kuatir, mbok ya dia menemani. Makanya karena saya melihat kekhawitran itu, saya menemani. dan diantara mereka ada yang netes, satu, dua, tiga, sepuluh, bagus kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joni tidak hanya terlibat di FLP. Di Yogyakarta bersama sejumlah seniman dia membuat Jurnal Cerpen Indonesia. Idenya, selama ini cerpen yang dimuat di media mainstream punya banyak kelemahan. Diantaranya, ia akan bertimbang dengan banyak hal, seperti jumlah halaman. Belum lagi dengan beragamnya pembaca, dia juga akan melakukan penyaringan. Dua hal itu sudah membatasi kreativitas pengarang. Cerpen Joni Lampor menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Tohari mengatakan, dalam syariah islam ada tingkatan. Begitu juga dalam sastra. Pada tahap awal masih bersifat formal, seperti bagaimana orang berjilbab, nama islami, pakaian islami. Kemudian ada yang substansial, yang sudah lebih mendalam. “Sastranya Mas Danarto tidak berbicara secara langsung. Tapi karya-karyanya sangat islami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa dakwah yang amat mencolok, dalam pengamatan penulis penulis Ronggeng Dukuh Paruk itu, dilakukan oleh anggota FLP pemula. Tapi Tohari percaya jika mereka dalam prosesnya akan berkembang menjadi penulis yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesantrian orang elkis, santri salaf sudah bergaul dengan lokal berbeda dengan kesantrian FLP. Dan itu bukan hal yang aneh. Santri yang ketemu islam di kampus akan beda lagi. Saya tak mempersoalkan itu. Kita jalannya sama, namanya saja yang beda. Titik temunya pada konsistensi membela kemanusiaan. Tuhan sendiri tidak menghendaki semuanya islam. Menurut saya, sastra itu dibaca semua orang. Kalau bergelut dengan segmen, itu hanya terminal keberangkatan, bukan tujuan,” terangnya. Elkis yang dimaksud Ahmad Tohari adalah LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) yang banyak menerbitkan kajian islam kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Ismail menyebut FLP sebagai “Anugrah dari Allah untuk Indonesia”. Ia menilai kehadiran FLP perlu untuk menyemarakkan dunia sastra di tanah air. Selepas reformasi bergulir, banyak bermunculan karya teenlit-chicklit dan pengarang perempuan yang disebutnya telah “mencabul-cabulkan diri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik bisa memahami masih adanya semangat yang kuat untuk berdakwah oleh sebagian anggota FLP belum diimbangi dengan kemampuan menulis yang baik. Tapi ia melihat itu sebagai sebuah proses. Dan dari sana FLP ke depan masih punya harapan. Soal kualitas karyanya, penerbit dan pembacalah yang akan menentukan. Kemudian juga ada kritikus sastra yang akan menimbang baik tidaknya karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka harus diberitahu bahwa ketika kau akan berkhotbah itu berbeda ketika kau menulis karya sastra. Bedanya adalah di sini-disini, diberitahu dia,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar berdakwah dan bersastra menemukan paralelnya, ada kriteria yang harus dipenuhi. Dakwah itu disampaikan dengan bahasa yang indah supaya orang yang membaca tidak bosan. Yang tak kalah penting menurut Taufik, karya itu tetap menggetarkan perasaan dan menyebabkan orang yang membaca ingat kepada sang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puisi-puisi saya penuh dengan pesan-pesan keagaamaan, tapi puitis. Saya kira orang akan mendengarnya enak. Orang akan merasa indah. Saya bisa saja melangkah ke samping, menjadi seorang da’i. Tapi saya tidak melakukan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal berdirinya FLP, Helvy Tiana Rosa selaku pendiri dan ketua FLP waktu itu mengakui sering meminta masukan kepada penyair yang dikenal lewat puisinya Tirani dan Benteng yang merupakan rekaman pergerakan mahasiswa ‘66 itu. Sampai kini Taufik diangkat menjadi penasehat FLP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadun Yosi Herfanda menilai karya-karya yang dihasilkan oleh sejumlah penulis Forum Lingkar Pena secara kualitas bagus. Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, contohnya. “Mereka sering dapat penghargaan sastra. Sayangnya, nyaris tak ada kritikus yang secara serius mengamati dan membicarakan karya-karya mereka. Kritikus kita malah lebih suka membicarakan karya-karya yang cenderung esek-esek, seperti karya Ayu Utami dkk. Memang ada semacam ketidakadilan dalam tradisi kritik sastra kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait pemberian label “islami” pada karya-karya penulis FLP dan jaringannya, Ahmadun menilai itu dilakukan untuk kepentingan politik identitas dan segmen pembaca atau konsumen. “Dengan label Islami, ada identitas yang ditegaskan di sana, dan dan segmennya juga jelas, yakni para peminat bacaan yang Islami. Dengan label itu pula, konsumen merasa aman untuk membacanya, ibu-ibu juga aman kalau membelinya untuk anak-anaknya (remaja) karena tidak bakal salah pilih bacaan yang ngaco atau destruktif. Dari sisi ini, labelisasi itu jelas penting.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadun Yosi Herfanda adalah redaktur budaya di Harian Republika. Namanya oleh para kritikus sastra kerap disandingkan dengan nama-nama besar macam Emha Ainun Najib, Abdul Hadi WM sebagai pengusung puisi-puisi sufistik yang pernah semarak pada tahun 70 dan 80-an. Pada kepengurusan Helvy Tiana Rosa, dia diangkat menjadi penasehat FLP. Kini ia masuk dalam jajaran Majlis Penulis FLP pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi serupa juga datang dari akademisi dan kritikus sastra Universitas Indonesia, Maman S Mahayana. Baginya langkah yang telah dilakukan oleh Forum Lingkar Pena dalam menumbuhkan kegairahan berkarya patut mendapatkan apresiasi. Terlepas dari kualitas karya yang dihasilkan, langkah untuk menghasilkan para penulis yang dilakukan FLP merupakan embrio yang dalam lima atau sepuluh tahun ke depan akan menjadi sastrawan penting di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya gagal menyembunyikan kekaguman saya melihat gerakan yang dilakukan FLP, sebab dari sana, tiba-tiba saja berloncatan para penulis novel. Bukankah gerakan semacam ini, dalam sejarah sastra Indonesia, baru dilakukan oleh FLP?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Ismail melihat kemunculan fiksi islami yang diusung oleh FLP sebagai sesuatu yang alamiah. Sama seperti fenomena lain yang terjadi pasca reformasi dimana setiap warga bisa melakukan apa saja, pengarang memperoleh kebebasan. Yang ia sayangkan justru kenapa kebebasan yang telah diperoleh itu disiasakan oleh pengarang untuk “mencabul-cabulkan diri” dalam karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik juga tidak keberatan jika FLP masih berkutat pada lingkaran sastra islami. Tapi apakah itu tidak akan menjadikan mereka terkesan ekslusif dan mengkotak-kotakkan karya sastra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ekslusif juga nggak apa-apa. Itu adalah demi kebaikan dan untuk berlomba-lomba. Karena di luar islami itu, yang mencabul-cabulkan itu juga bersatu. Jadi kita berlomba-lomba. Kalau misalnya dari kalanagn agama lain mau buat gerakan sastra, nggak apa-apa. Kenapa kita harus merasa tidak tentram dengan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi apa salahnya captive market, kalau yang captive market itu juga tidak keberatan. Dan mereka mau membeli, mereka tidak dipaksa, mereka mau membeli. Dan itu laku,” tambah Taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik justu menyoroti minimnya kritikus sastra. Lini ini, katanya, masih bolong. Padahal kondisi sekarang dan dulu sudah jauh berbeda. Dulu pengarang belum begitu banyak jumlahnya, sehingga setiap sastrawan akan mendapatkan kritik yang memadai. Oleh karena itu, para penulis muda sekarang kurang mendapatkan kesempatan apresiasi dari para kritikus sastra. “Sesudah pak HB Jassin meninggal, siapa yang mengisi lowongan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini perkembangan fiksi islami menurut Taufik masih sebatas gejala. Yang ia harapkan adalah, munculnya para sastrawan yang menghasilkan karya bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah semuanya itu bergerak dulu. Seperti yang saya katakan kan, ada alur. Berproses. Pada waktunya yang mbeling-mbeling yang mencabul-cabulkan diri, sudah biarkan saja, nanti insya allah berkembang. Bumi kita ini bumi islam. Nanti akan mendapatkan jalannya sendiri. Saya mengharapkan jalan itu jalan yang baik. Saya nggak mau mengatakan ‘e ojo ngono, koe salah’, saya nggak mau mengatakan seperti itu. Dan saya tidak mau memberikan energi saya ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Digunting dari Majalah Mahasiswa Universitas Diponegoro, &lt;i&gt;Hayamwuruk&lt;/i&gt; edisi No.1/Th. XVIII/2008, "Fenomena Sastra Islami: Antara Pro dan Kontra".&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-858128842735393230?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/858128842735393230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=858128842735393230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/858128842735393230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/858128842735393230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/karena-sastra-bukan-khotbah-jumat.html' title='Karena Sastra Bukan Khotbah Jumat'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-9074136273359498293</id><published>2009-04-18T18:40:00.001-07:00</published><updated>2009-04-18T18:44:25.947-07:00</updated><title type='text'>Dihujat Karena Melanggar Tabu</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhamad Sulhanudin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Masyarakat kerap mengecap seorang pengarang sesat lantaran karyanya dianggap menyimpang.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Resfreshing itu sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menggeleng-gelengkan kepala membaca petisi yang ditulis para nabi di surgaloka. Dipanggillah Muhammad dari Madinah, Arabia karena tercantum sebagai penandatangan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menghadap Tuhan dan menyampaikan alasannya untuk turba ke bumi, Muhammad akhirnya diizinkan Tuhan untuk melakukan riset dengan ditemani Jibril. Di tengah jalan, buroq –kuda sembrani– yang ditunggangi Muhammad dan Jibril tertabrak sputnik Rusia. Muhammad dan Jibril terpental. Beruntung ia tersangkut di gumpalan awan yang empuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berdiskusi cukup lama dengan Jibril, akhirnya mereka turun ke Jakarta dengan menyamar sebagai elang. Dari atas pasar Senin Jibril dan Muhammad mendapati para pelacur sundal sedang bersolek. Di bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang kena raja singa. Di mana-mana penyakit Nasakom telah menjangkiti setiap orang di mana umat muslim terbesar bermukim di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit Makin Mendung adalah cerpen karangan Ki Pandjikusmin. Diterbitkan di Majalah Sastra Th. VI No.8, Agustus 1968. Muhammad dalam cerpen Langit Makin Mendung tentu saja tokoh rekaan seperti halnya tokoh-tokoh dalam karya fiksi pada umumnya. Begitu pula dengan Tuhan, Jibril dan nama-nama lainnya tak lebih dari tokoh fiktif belaka. Menurut HB Jasssin yang menjadi penanggungjawab Majalah Sastra, Pengarang hanya menggambarkan ‘ide tentang Tuhan dan Nabi’, bukannya menggambarkan Tuhan atau Nabi yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun cerpen itu dianggap telah menghina Islam. Penggambaran Muhammad apalagi Tuhan, haram hukumnya. Jassin dituntut ke pengadilan karena tak mau membuka identitas Ki Pandjikusmin. Sebagai konsekwensinya, Majalah Sastra dilarang terbit. Jassin menganggap tuduhan menghina Islam terlalu berlebihan. Baginya kenyataan kreatif tak identik dengan kenyataan obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wiratmo Sukito cerpen Langit Makin Mendung secara capaian artistik jelek dan merupakan kitsch. Tapi ia tak membenarkan tindakan Kejaksaan Tinggri Sumatera Utara yang memberangus Majalah Sastra karena di dalamnya terdapat karangan yang dianggap menghina islam. Dalam dunia sastra, menurut Wiratmo, yang berhak melakukan pengadilan sastra tak lain adalah kritikus sastra yang memiliki integritas sastra yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel “Seniman Islam di Tengah Masyakat Modern” (Minggu Indonesia Raya, 22 Desember 1968) HB Jassin mengkritik sikap tidak toleran masyarakat kita yang suka melakukan pelarangan. Dalam kaitanya dengan sastra dan kesenian, Jassin mengharapkan adanya peningkatan penghayatan para seniman atas ajaran agama, sehingga mereka dapat menyampaikan sesuatu yang tidak bertentangan dengan akidah agama tanpa menghilangkan kemerdekaan mencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Jassin juga mengharapkan akan lahirnya kritikus yang dengan pengetahuan agamanya dapat menilai karya-karya seniman Islam dari sudut keislaman tanpa menghadapkan paksaaan kepada kebebasan mencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup artikelnya itu, Jassin menulis “Apabila (sebagian) golongan Islam tidak merubah sikapnya terhadap seniman, maka saya kuatir para seniman pada suatu ketika akan terjadi perpisahan antara seniman dan masyarakat islam, perpisahan yang mungkin meruncing menjadi permusuhan yan tak ada gunanya malahan akan merugikan kedua belah pihak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahrum Rangkuti yang tampil sebagai pembela Jassin, berdebat sengit dengan Hamka di kubu yang menentang pemuatan cerpen Langit Makin Mendung. Bahkan ketika hakim bertanya kepada Hamka yang waktu itu menjadi penanggungjawab majalah Pandji Masjarakat, apakah ia akan memuat cerpen Ki Pandjikusmin jika dikirim ke majalahnya, “Murtad dari Islam kalau karangan seperti itu saya muat,” jawab Hamka. Meski Hamka secara tegas menentang pemuatan cerpen itu, tapi Hamka minta hakim membebaskan Jassin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Wiratmo Sukito, Bahrum Rangkuti dan Hamka masih banyak nama-nama besar lain yang terlibat dalam debat pro-kontra pemuatan cerpen Langit Makin Mendung di Majalah Sastra pimpinan HB Jassin itu. Pro kontra ini setidaknya berlangsung selama tiga tahun (1968-1970) dengan pembahasan secara intens dari topik seni, agama hingga masalah sosial, filsafat dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh majlis hakim, seperti dikutip dari “Pledoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung” (Melibas, 2004) HB Jassin divonis hukuman satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Jassin naik banding. Namun hingga Jassin meninggal, ia sendiri belum pernah menerima surat vonis dan tak mengetahui keputusan pengadilan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelarangan karya sastra karena dianggap melanggar ajaran agama juga menimpa Muhidin M Dahlan. Tahun 2005 ia mendapatkan surat somasi dari Majlis Mujahiddin Indonesia (MMI) karena dianggap telah menodai ajaran agama Islam lewat novelnya Adam dan Hawa (Scriptamanent, 2005). Bahkan oleh MMI surat somasi itu juga ditembuskan kepada Polda Metro Jaya. Jika dalam waktu 7×24 jam penulis tak menarik bukunya dari peredaran dan memusnahkan, maka akan dituntut secara hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Adam dan Hawa dikisahkan jika Adam tidak diciptakan dari tanah liat sebagaimana yang dimaktubkan dalam Al Qur’an, tapi dari ketiak Tuhan. Karena keluar dari ketiak tuhan, maka Adam menyebut dirinya sebagai putra tuhan. Selain itu juga dikisahkan bahwa Hawa bukanlah perempuan pertama yang diciptakan Tuhan untuk Adam. Perempuan pertama yang dipertemukan dengan Adam adalah Maia. Adam digambarkan sebagai pribadi yang haus seks. Tiap hari ia minta Maia meladeni hasratnya. Tapi lama-lama Maia mengeluhkan sikap Adam yang dominan dan suka memerintah. Karena ogah terus-terusan diposisikan di bawah ketika bersetubuh dengan Adam, Maia diusir dari Taman Eden. Lalu datanglah Hawa sebagai pengganti Maia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terusirnya Maia dari Taman Eden menyimpan dendam yang kelak akan dibalaskan oleh anak perempuannya, Marfuah. Marfuah adalah anak hasil hubungan Maia dengan Idrus, adik Adam. Marfuah bersiasat untuk membangkitkan birahi Adam hingga pamannya yang sudah uzur itu kehabisan tenaga. Di saat itulah Marfuah segera menghujamkan senjata yang telah dipersiapkan ke tubuh Adam hingga tewas bersimbah darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua peristiwa dalam novel ini diceritakan dengan bahasa yang kocak, garang dan dengan imajinasi liar penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari sebelum Muhidin menulis Adam dan Hawa, tahun 1957 AA Navis dengan imajinasi liarnya menggambarkan kehidupan alam kubur melalui cerpen Man Robbuka. Kalimat “Man Robbuka” dalam ajaran Islam diajarkan sebagai pertanyaan pertama yang akan ditanyakan oleh malaikat penjaga kubur ketika seseorang meninggal. Artinya, siapa tuhanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tokoh Jamain dan Jamalin memiliki karakter yang bertolak belakang. Jamain suka madat dan main perempuan dan Jamalin rajin beribadah. Tapi di akherat Jamalin yang saleh dimasukkan ke neraka, sedang Jamain yang durhaka malah masuk syurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malaikat penjaga kubur menanyai Jamain “Siapa Tuhanmu?” Jamain mengira pertanyaan itu “Apa yang kau bawa?” Waktu itu Jamain sedang dalam keadaan teler. Sebelum meninggal Jamain telah berpesan kepada teman-temannya untuk ikut menguburkan semua barang madat yang ia punya selama hidup di dunia, termasuk majalah-majalah pornonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati jawaban yang aneh, malaikat menjadi bingung. Selanjutnya Jamain malah menawari malaikat ganja dan mengajari cara menikmatinya. Setiap kali datang ke kubur Jamain, malaikat lupa akan tugas yang telah dititahkan tuhan kepadanya. Tiap kali datang, oleh Jamain malaikat diajak sakau. Giliran mendatangi Jamalin yang kuburnya bersebelahan dengan Jamain, malaikat masih terpengaruh oleh ganja yang diberikan Jamain. Karena itu, malaikat salah memasukkan Jamain ke syurga dan Jamalin ke neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita mengenai kehidupan akherat dalam karya fiksi juga dilakukan oleh Jamil Suherman melalui novel tipisnya Perjalanan ke Akherat yang diterbitkan tahun 1963. Memang tak sevulgar Man Robbuka karya Navis. Namun di sana ada penggambaran kehidupan setelah mati. Respon atas Man Robbuka dan Perjalanan Menuju Akherat juga tak seheboh respon masyarakat terhadap cerpen Langit Makin Mendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Akhirat semula merupakan cerita bersambung di Majalah Sastra, yang kemudian dinyatakan meraih hadiah kedua di majalah sastra bergensi itu tahun 1962. Setahun kemudian, karya ini diterbitkan sebagai buku oleh penerbit Nusantara, Bukittinggi, Jakarta. Cetakah kedua (1985) diterbitkan oleh Penerbit Pustaka, Perpustakaan Salman ITB, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Akherat adalah sebuah novel keagamaan yang sebenarnya sarat dakwah, namun tetap menarik karena latar suasananya memang sangat mendukung keseluruhan cerita. Dikisahkan, Salim memberikan pembelaan ketika istrinya hendak dimasukkan ke neraka. Tapi oleh Tuhan dosa Salamah, istri Salim, tak bisa diampuni karena ia bunuh diri. Tuhan tak mengabulkan permintaan Salim. Baru setelah ibu Salamah datang memberikan pembelaan, atas dasar kasih sayangnya, akhirnya Tuhan membebaskan Salamah dari siksa api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertemuan itu akhirnya Salim tahu mengapa istrinya bunuh diri. Ternyata Kasim menjadi penyebab semua itu. Rupanya, Kasim yang seniman murtad itu berusaha menggoda Salamah hingga janda itu mata gelap dan terpaksa memilih perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan; bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Zikri yang juga harus mendapat siksa neraka karena perbuatan dosanya di dunia, mengisyaratan bahwa seorang haji atau seorang guru ngaji sekalipun tetap harus membayar mahal atas segala perbuatan dosanya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Perjalanan ke Akherat, Jamil Suherman juga menulis Muara (1958), Manifestasi (1963), Nafiri (1983), Ummu Kalsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985) dan Sakerah (1985).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djamil merupakan penulis pertama dalam sastra Indonesia/Malaysia yang berani membicarakan secara langsung alam akhirat dalam bentuk novel. Dalam medium lainnya ada Asrul Sani dan Usmar Ismail dan tokoh-tokoh seniman Lesbumi, seperti dikutip dari esai HB Jassin (Minggu Indonesia Raya, 1968), beberapa tahun sebelumnya telah mengikutsertakan film dan teater sebagai alat dakwah untuk islam. Film Sehelai Rambut Dibelah Tujuh kala itu ditonton oleh umat islam dengan penuh minat. Tapi drama Iblis karya Muhamad Diponegoro di Yogya mendapatkan gangguan dari pihak-pihak yang tersinggung karena di sana ditampilkan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Iblis (Harian Kami, 1968).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era 60-an Djamil Suherman juga dikenal sebagai pengarang yang mengusung tema pesantren dalam karya fiksi. Namun rintisan Jamil tidak cukup berhasil, karena dengan layunya Jamil Suherman, maka mati pula gairah cerpenis pesantren. Cerpen atau novel khas pesantren baru muncul beberapa dekade kemudian. Menyebut salah satu diantaranya adalah Abidah El Khalieqy yang telah melahirkan sejumlah novel Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002) dan yang terbaru Geni Jora (2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan karya fiksi yang jangkuannya lebih luas karena dianggap menyimpang terjadi pada Satanic Verses karya Salman Rushdie yang diterbitkan tahun 1988. Keberatan atas karya itu datang dari umat muslim di berbagai negara. Bahkan Ayatullah Khomenei menyerukan agar penulis dihukum mati. Di sisi lain, keberatan juga datang dari pihak Vatikan melalui juru bicara Paus Yohanes Paulus II yang mengatakan bahwa Satanic Verses tak hanya melukai umat muslim tapi juga umat beragama lainnya. Meski mengecam karya itu, Paus menolak jika pengarangnya harus dihukum mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Sunyoto menulis novel perjalanan bathin Syekh Siti Jenar. Dalam diskusi bukunya Suluk Malang Sunsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar yang merupakan jilid ke tujuh (LKIS, 2005), penulis mengatakan jika ada alasan politis di balik stigmatisasi yang dialamatkan oleh penguasa waktu itu kepada Syekh Siti Jenar. Menurutnya, ajaran wahdatul wujud atau dikenal manunggaling kawulo gusti, juga ditemukan dalam ajaran-ajaran Sunan Giri. Seperti dalam Serat Centhini yang juga menceritakan keturunan Sunan Giri, di dalamnya ada ajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu jika Sunan Giri juga mengajarkan, kenapa yang dieksekusi cuma Siti Jenar. Jadi ada faktor politis sebenarnya,” terang Agus Sunyoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Siti Jenar adalah orang yang pertama kali melakukan perubahan sosial. Desa-desa “Lemah Abang” dari Cirebon, Kerawang sampai ke Jawa Timur dibuka oleh Siti Jenar. Oleh karena itulah Siti Jenar juga dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang. Siti Jenar kecil bernama San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh Isa Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan Alawi tersohor di Ahmadabad, India, yang berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dengan kota Tarim di Hadramaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu masyarakat Jawa mengenal dua kelompok dalam masyarakat, yaitu “Gusti” dan “Kawulo”. Gusti adalah orang dalam keraton, kawulo orang di luar keraton. Orang Melayu mengatakan dirinya sahaya atau saya, itu sama artinya dengan kawulo yang berarti budak. Sebagai orang yang lebih berkuasa, gusti berhak atas apa yang dimiliki oleh kawulonya. Sehingga jika gusti berkehendak, maka kawulo tidak boleh menolak. Seperti ketika Gusti menghendaki ingin mempersunting gadis cantik anak si A, maka si A harus merelakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Jenar menyampaikan kepada orang desa-desa yang telah menjadi pengikutnya, bahwa mereka tidak boleh lagi menyebut dirinya dengan kawulo. Siti Jenar menyuruh murid-muridnya agar menyebut dirinya seperti raja, menyebut dirinya dengan “ingsun”. Siti Jenar juga memperkenalkan istiah-istilah Arab kepada para pengikutnya. Seperti kata rakyat dari ru’yah. Kemudian masyarakat dari musyarokah, yang artinya bekerjasama. Dalam pandangan Siti Jenar semua manusia itu sederajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kan sederajat dengan raja,” kata Agus seolah menirukan Siti jenar. “Inilah yang membikin marah orang keraton. Karena itulah semua pengikut Siti Jenar ini disebut golongan “abangan”. Orang yang tidak punya toto kromo, nggak karu-karuan, sebutan itu dialamatkan kepadanya. Alasannya sebenarnya politis, bukan karena ajarannya sesat,” tambah Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kemudian Siti Jenar dicitrakan buruk sekali di masyarakat sebagai penyebar aliran sesat. Itu, kata Agus, karena semua babad yang ditulis di keraton antipati dengan Siti Jenar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. I. Kuntara Wiryamartana mengatakan, novel Agus Sunyoto tersebut akan bermasalah jika dibaca oleh mereka yang fanatik. Bagi mereka yang fanatik, islam itu harus dibersihkan dari pengaruh Jawa. “Mengerikan Jowo kurunge tauhid. Mau beli jawa kurunge tauhid? Jowo ki nggone berhala, nggone menyan, kuwi kudu di resi’i. Kan gitu. Tapi ini sangat berani. Mereka yang disindir di situ, terimo opo ora.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuntara melihat ada teka-teki dalam novel karya Agus Sunyoto itu. Yakni seperti dalam bunyi “uninang-uninong”. Kuntara membacakan bagian yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taukah Tuan Syaikh akan rahasia di balik kata ‘uninang-uninong’?” Abdul jalil tersenyum dan berkata, “Sungguh tinggi nilai pertanyaan tuan. Sebab jawaban dari itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi hanya bisa dibuktikan dengan kenyataan.” “Aku tidak paham dengan jawaban Tuan Syaikh. Jika kata ‘uninang’ dibaca, hasilnya bisa bermacam-macam tergantung siapa yang menafsirkan. Uninang bisa dimaknai nanang? yaitu kepala botak yang diketuk. Tergantung siapa yang menafsirkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah baca suluk wujil?,” tanya mantan pengajar Sastra Jawa UGM yang sejak beberapa tahun lalu memilih mengundurkan diri dari almamternya dan tinggal di Giri Sonta, Ungaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sak kedep dumugi Mekah. Kalau ikut para wali itu cukup sujud dari Demak nggak perlu ke Mekah untuk naik haji. Ada padanan begitu dalam novel ini. Kalau bukan novel, ini sangat berbahaya, pengarang iso di…. hmmm…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus apalagi, ‘Tu Tu… Han Hantu’. Tuhan itu sisi baik, Hantu itu sisi buruk. Kalau orang tidak mau menikmati, pasti sudah mutah. Wes ngoyoworo opo iki,” tambah Romo Kun, panggilan I Kuntara. Meskipun demikian, Romo Kun mengaku menikmati pengalaman demi pengalaman yang dikisahkan oleh pengarang karena darinya ia bisa belajar banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Sunyoto mengakui ada reaksi ketidaksepakatan dengan isi novelnya. “Lho bukunya mas Agus kok modelnya seperti itu. Dianggap Tuhan itu milik semua orang. Milik semua bangsa, milik semua makluk. Itu kan nggak bener. Karena tuhan yang bener tuhan itu Alloh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar-komentar itu memang tidak disampaikan secara langsung kepada Agus, tapi lewat saudara atau teman-temannya. Bagi Agus, dirinya hanya merefleksikan keyakinan orang-orang yang dipandang Syekh Siti Jenar seperti itu. Menurut Siti Jenar, semua makhluk, termasuk iblis tuhannya satu, Alloh. “Iblis itu nggak mau nyembah Adam karena Tuhan dia cuma Alloh saja. Jadi semuanya sama. Bahkan dalam Al Qur’an ditegaskan, burung yang terbang itu sedang bertasbih memuji Tuhan. Tuhan yang satu itu. Apakah orang itu memahami dengan persepsi yang berbeda-beda, itu sebenarnya tuhan satu,” terang Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Syekh Siti Jenar banyak disalahartikan oleh masyarakat. Itulah sebabnya, dia dicitrakan negatif. Menurut Lukman Hakim, Pemimpin Redaksi Tabloid Sufi, sejak zaman Ibnu Arabi, Jabir bin Hayat hingga Attirmidzi pada abad 2 Hijriyah, tidak ada satupun ulama tasawuf yang menyebut wahdatul wujud. Yang pertama kali memperkenalkan istilah itu adalah Ibnu Taimiyah karena menuduh aliran Ibnu Arabi wahdatul wujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahdatul wujud dalam bahasa Inggirs diterjemahkan menjadi Panteism. Isitilah itu mengacu pada kesatuan antara makhluk dengan Tuhannya. Orang yang telah mencapai tahapan ini akan menyebut dirinya adalah Tuhan karena Tuhan telah menyatu dalam dirinya. Tuduhan Ibnu Taimayah kepada Ibnu Arabi itu terus berlanjut. Dalam istilah kita dikenal “Manunggaling Kawulo Gusti”. Padahal yang manunggal itu wujud, bukan maujudnya. “Kalau wujud itu kan mustakhil. Kita itu nggak ada tuhan yang satu-satunya wujud. Kata ‘wahdah’ itu mengidhoahkan atau menyandarkan pada kata ‘maujud’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al Qur’an disebutkan, pertama kali manusia akan ditanya oleh Tuhan, “Aku ini tuhanmu atau bukan?” Semua manusia mengatakan “Iya, bala syahidnaa.” Kata syahidnaa, kemudian muncul ashadu. Karena ini kesaksian jiwa. Kesatuan jiwa saja yang manunggal. “Tetapi kemudian difahami filsafat, kalau sudah memahami tuhan, kenapa menyembah Alloh. Ini manipulatif,” kata Lukman Hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas antara surga dan neraka, kata Lukman, sangat tipis. Ajaran sufi yang benar itu ada syariat, ada tarekat, kemudian hakekat. “Tiga hal ini mestinya berjalan bareng. Bukan syariat itu menuju hakekat, bukan. Syariat itu, ya perintah tuhan. Perintah hubungan dengan ibadah lahiriah. Karena itu ibadah ada geraknya. Ada ruang dan waktunya. Karena itu dalam syatriat orang tak wajib menjalankan syarat kalau tidak ada ruang dan waktu. Orang gila, orang lupa, orang tidur, anak, dan orang mati. Selama kita masih melihat bentuk, kita wajib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukman mengutip perkataan Abu Yazid Al Bistami “Apapun persepsimu tentang tuhan yang itu terbayang, berwarna, berbentuk, berarah, itu pasti bukan tuhan”. “Karena itu semua karakteristik makhluk,” jawab Lukman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu jika ajaran Siti Jenar mirip Hindu, Budha, atau ajaran teosifis di kristiani apakah sebenarnya sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya tidak sama. Seperti, ini kok kelihatannya sama. Karena itu ada kalimat ‘ngono yo ngono nangeng ojo ngono’. Karena untuk meredam para demosntran, muncul kalimat ‘ngono yo ngono nageng ojo ngono’. Padahal itu ajaran sufisme yang sangat tinggi. Begitu juga manunggaling kawulo gusti digunakan oleh penguasa untuk menidnas rakyat, itu juga manipulasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukman mencontohkan ayat dalam Al Qur’an “Wahai Orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul dan para pemimpinmu”. Ayat itu sebenarnya tak boleh dibaca oleh para pemimpin, tapi hanya dibaca oleh para rakyat. Lalu ayat apa yang harus dibaca pemimpin? “Wa’mur bil adli wal ihsan”. Perintahlah dengan adil dan baik untuk menyejahterakan rakyat. Seperti juga ayat “Arrijallu qowamunaa ala nisaa”. Laki-laki adalah pemimpinnya wanita. Ayat ini tidak boleh dibaca oleh suami. Yang boleh dibaca oleh suami “Waa syiru hunna bil makruf”. Artinya, hidupilah keluargamu dengan baik. “Reposisi ini yang menimbulkan kalau dibaca tidak pas, jadinya manipulatif,” terang Lukman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tanah rantau “Melayu” perdebatan ajaran wahdatul wujud telah berlangsung beberapa abad lalu yang melibatkan perseteruan sengit antara pengikut Hamzah Fansuri dan Nuruddin Al Raniri. Nuruddin menulai Hamzah Fansuri telah menyabarkan ajaran sesat kepada para pengikutnya. Oleh karena itulah, setelah Sultan Iskandar Muda mangkat (1636) dan digantikan oleh Iskandar Tsani yang telah akrab dengannya selama ia dalam “pengasingan”, Nuruddin segara mengambil kesempatan untuk melakukan pelarangan atas ajaran-ajaran Fansuri. Bahkan karya-karyanya dibakari. Tak hanya itu, pengikutnya juga diburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kali pertama Nuruddin menginjakkan kaki di kerajaan Acheh, ia telah lebih dulu ditolak karena ajarannya bersebarangan dengan paham wujudiyah yang dianut oleh kalangan kerajaan waktu itu. Dengan perasaan kecewa, ia pun hengkang dan meneruskan perjalanannya. Besar kemungkinan untuk sementara ia menetap di Semenanjung Tanah Melayu, tepatnya di Pahang (tempat kelahiran Iskandar Tsani). Ia tidak patah semangat dan menunggu saat yang tepat untuk kembali lagi ke Aceh. Di tempat ini pulalah ia banyak menulis kitab. Dari peristiwa “penolakan” itu barangkali rasa “dendam” tumbuh. Sehingga ketika Iskandar Tsani berkuasa, Nuruddin tak menyia-nyiakan kesempatan untuk “balas dendam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembaraan Hamzah dalam mencari Tuhan dapat kita lihat pada penggalan syairnya berikut; Hamzah Fansuri di dalam Mekkah/ mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah/ dari Barus ke Kudus terlalu payah/ Akhirnya dijumpa di dalam rumah. Jadi, jelaslah betapa beratnya pengorbanan Hamzah mencari Tuhan, baik secara lahir maupun batin. Ia mengembara dari Barus (kampung halamannya) hingga ke Mekkah. Pengembaraan ini dilakukan untuk menemukan hakikat dirinya, karena begitu manusia lahir ke dunia ia merasa asing dan jauh dari hakikat dirinya. Dan ternyata memang ia menemukan Tuhan ada dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitabnya Hill al-Zill, Nuruddin membantah dengan keras pendapat kaum wujudiyyah yang mengatakan bahwa dunia ini ialah bayangan Allah. Namun, hujatannya kepada Hamzah Fansuri paling lengkap terdapat dalam kitabnya Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, karena hampir seperenam isi kitab ini adalah tuduhannya atas kesesatan Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebalik tragedi ini nampaknya Nuruddin tidak hanya ingin mempertahankan ajarannya semata-mata, namun ada maksud terselubung, yaitu ingin merebut dan mempertahankan kedudukan di sisi Sultan Iskandar Tsani, seperti sedekat Syamsuddin di sisi Sultan Iskandar Muda. Kebencian Nuruddin berlanjut sehingga dalam karya besar seperti Hikayat Aceh tidak disebutkan nama seorang ahli tawasuf dan tokoh sastra Hamzah Fansuri. Hal ini tentulah menjadi kerugian yang besar bagi Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak aneh, mengutip tulisan Medri Osno, peneliti Balai Bahasa Banda Aceh, ternyata Nuruddin juga penganut paham wujudiyah. Hal ini dapat dilihat dalam kitabnya: Jawahir al-Ulum dan Hujjat al-Siddiq li Daf al-Zindik. Kitab ini merujuk pada pada ajaran Ibn ‘Arabi—sedangkan Ibn ‘Arabi adalah pendiri faham wujudiyah. Dalam kitab ini ia menggolongkan ada dua jenis wujudiyah, yaitu: mulhid dan muwahhid. Ia menganggap dirinya termasuk golongon muwahhid (lurus) sedangkan Hamzah dan pengikutnya dimasukkan ke dalam golongan mulhid (sesat) yaitu golongan yang berpendapat bahwa Allah imanen belaka, tidak transenden, dunia ini kekal, tidak mengakui bahwa Alquran tidak bersifat makhluk yaitu tidak tercipta, telah mendewakan diri sendiri, dengan penegasannya bahwa tidak ada perbedaan antara mereka dan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan Nuruddin di Acheh tidak bertahan lama. Setelah Sultan Iskandar Tsani wafat (1644) dan digantikan oleh permaisuri Sultanah Safiatuddin, anak Iskandar Muda (1641-1675), maka bersamaan itu datanglah dari Mekkah seorang ulama asal Minangkabau bernama Saiful Rijjal ke Aceh. Ia merupakan seorang penganut faham wujudiyah Hamzah Funsuri. Perseteruan Nuruddin dengan wujudiyah bangkit kembali. Kali ini yang menang ulama wujudiyah Saiful-Rijal. Akibatnya, Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh secara tergesa-gesa sehingga tidak sempat menyelesaikan karangannnya yang berjudul Jawahir al-Ulum fi Kasyf al-Ma’lum (Hakikat Diri Dalam Menyingkap Objek Pengetahuan). Nuruddin meninggal di kota kelahirannya, Ranir, dalam tahun 1658.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, benarkah seperti yang dituduhkan oleh Nuruddin Al Raniri bahwa ajaran Hamzah Fansuri sesat? Tidakkah ada faktor lain yang menjadi pemicu “tragedi sufi” Acheh itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Syekh Siti Jenar dalam tujuh jilid itu disusun Agus Sunyoto dari hasil penelitian sosial. Dia meneliti tentang tarekat-tarekat lokal. Data yang ia kumpulkan tak hanya teks histeriografi, tapi juga dari sumber orang yang masih hidup. Di Jawa Timur masih banyak pengikut tarekt Satariah, Akmaliyah yang semuanya dinisbatkan kepada Siti Jenar. Selain itu, ia menulis karya itu karena merasa prihatin dengan kondisi perkembangan Indonesia. Orang-orang di negeri ini masih menggunakan kerangka berpikir teknis, secara hitam dan putih. Mereka akan dengan mudah memberikan cap kafir kepada kelompok tertentu yang tak sepaham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Ayu Utami Utami dalam bedah novel terbarunya Bilangan Fu (KPG, 2008) akhir September 2008 di Fakultas Sastra Undip. Berbeda dari dua novel sebelumnya, Saman dan Larung, Bilangan Fu menukik pada pencarian spiritual. Digambarkan dua putra desa bernama Parangjati dan Kupu-Kupu. Parangjati menempuh jalan spiritual dengan berbekal khasanah kearifan Jawa, sementara Kupu-Kupu menempuh jalur islam “ekstrem kanan”. Dua kubu ini akan berbenturan, karena satu mendekati dengan ilmu alam, satunya dengan syariat yang tekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu mengatakan, dalam novelnya kali ini ia mengkritik kelompok yang suka dengan mudah menghakimi orang lain dengan sebutan “kafir” dan merasa dirinya paling benar. Dengan mengambil tema yang berbeda dari kedua novel sebelumnya, bukan berarti Ayu akan lepas dari sorotan. Entah itu dari lawan “politik” sastranya, atau dari pembaca yang tak sepakat dengan apa yang disampaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencarian jalan spiritual juga dilakukan oleh tokoh Arleta dalam novel Memburu Kalacakra karya Ani Sekarningsih (Bentang, 2004). “Pengalaman batin adalah urusan pribadi masing-masing,” kata Arletta. Ketika pengalaman spiritual dipahami sebagai pengalaman batin, menilai “kealiman” seseorang yang tampak dari luar tak menjamin kadar religiusitas seseorang dalam arti yang sesunguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arletta yang menjalin hubungan seks sebelum menikah jika dilihat dari kacamata awam jelas sudah menyalahi norma agama. Apalagi Arletta yang beragama islam menikah dengan laki-laki yang beragama Hindu Bali dengan upacara keagamaan Hindu. “Perbuatan yang tidak menyakiti siapa-siapa itu sama sekali tidak dirasakannya sebagai sesuatu yang ’salah’, melainkan sebagai pengalaman yang penting sebagai bagian dari perjalanan hidupnya dan pencarian spiritualnya,” kata Arleta memberi jawaban bahwa apa yang dilakukannya itu dilakukan sebagai pilihan sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menurut Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) novel Adam dan Hawa karya Muhidin M Dahlan sesat, bagi Damhuri Muhammad ikhtiar menggunakan perspektif agama dalam mengukur derajat ketersesatan teks sastra bukan perkara gampang. Bila kurang hati-hati, alih-alih ditemukan titik terang, justru yang diperoleh hanya cibiran bahwa menghubung-kaitkan antara sastra dan agama adalah mustahil dan sia-sia (Suara Karya, 05/03 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Damhuri, Adam dan Hawa telah membongkar, merusak, merubuhkan pagar, merapuhkan kekokohan tafsir tekstual terhadap teks suci. Lalu bagaimana membangun pagar itu kembali? Bagaimana memperkokoh kerapuhan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawabannya tentu saja dengan membaca novel itu, menyelami ceruk-ceruk terdalamnya, menemukan asbab al-wurud-nya, menafsirkannya secara kontekstual dan tak tergesa-gesa menyimpulkannya sebagai buku sesat lagi menyesatkan, apalagi memurtadkan novelis yang (konon) masih berdarah santri itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, hingga saat ini masyarakat kita tampaknya lebih menyukai jenis bacaan yang menentramkan, ketimbang bacaan yang membuat mereka cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…. saya tidak bisa mengatakan: saya memilih kehidupan kreatif, tapi sementara itu saya tidak bersedia untuk, seperti kata Adam, dilemparkan dari Sorga yang tenteram ke dunia penciptaan yang resah. Sebab saya tidak bisa mengatakan: saya memilih kemerdekaan, tapi sementara itu tidak memilih bahaya,” tulis Goenawan Mohamad dalam esainya “Tentang Kemungkinan-Kemungkinan Kesusasteraan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tulisan Goenawan Mohamad itu sesekali perlu kita renungkan. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Digunting dari Majalah Mahasiswa Universitas Diponegoro &lt;i&gt;Hayamwuruk&lt;/i&gt; No.1/Th. XVIII/2008, "Fenomena Sastra Islami: Antara Pro dan Kontra". &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-9074136273359498293?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/9074136273359498293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=9074136273359498293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/9074136273359498293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/9074136273359498293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/dihujat-karena-melanggar-tabu.html' title='Dihujat Karena Melanggar Tabu'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-7528418739914108988</id><published>2009-04-18T18:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T18:15:25.293-07:00</updated><title type='text'>Habis Gelap Terbitlah Gelap</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Fahrudin Nasrulloh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai Kartini tidak lahir pada 21 April 1879, pastilah tidak akan muncul ledakan keperempuanannya hingga ia menulis Door Duisfernis Tot Licht yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang (P.N. Balai Pustaka, 1957). Ia tak lain adalah cermin tragedi perempuan di abad itu, saat harkat perempuan terperosok dan cuma berkubang ''riwa-riwi'' di sumur, dapur, dan kasur. Batinnya dilecut gelisah, dipukul topan badai keterbelakangan. Dirundung cita-cita, dihambat kasih sayang. Dikerangkeng adat dan dibutakan oleh peradaban bangsanya sendiri yang lama nian terjajah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa menyangka Kartini yang terlahir di Jepara itu lalu mencetuskan perubahan besar bagi kebangkitan perempuan Indonesia. Sebenarnya ia bukan apa dan siapa untuk digores dalam sejarah jika dibandingkan dengan sederet pejuang perempuan lain di negeri ini. Namun yang berharga darinya lebih karena 150 suratnya kepada Nyonya dan Tuan Abendanon. Terhadap dua londo baik budi ini, adik-adik Kartini pun menulis surat kepada mereka: Roekmini 29 surat, Kardinah (7), Kartinah (3), dan Seomatri (1). Sedangkan ayahnya (RMP Sosro Kartono) dan suami Kartini (Djojo Adiningrat) masing-masing menulis sepucuk surat untuk Tuan Abendanon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Kartini, Nyonya Abendanon adalah ''ibu jiwa''-nya. Tempat bercurah bahagia dan derita. Tatkala malam-malam senyap pikirannya tidak tenang, saat tak ada obat tidur apa pun yang mujarab. Kegundahan yang terus mengisapnya hingga ia meratap tersedu dalam hati ketika Kardinah, adiknya, harus meninggalkannya untuk menjadi istri pilihan orang tuanya dan tersebab itu tak bisa membantunya mengajar anak-anak kampung. Air matanya tertumpah. Baju pengantin dan selambu kamar di malam pertama adiknya itu, di mata Kartini, tak lain hanyalah kain kafan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat surat-surat itu, apa yang retak dari sisi gelap perempuan pelahan mulai tersingkap. Kartini sadar, dirinya tak akan lama di dunia, dan kata-kata yang dituangkan dalam tulisannya itulah kelak yang bakal abadi. Ia berpikir jauh ke depan bahwa harkat perempuan barangkali mustahil bangkit bila ia sendiri tak tergerak untuk menyorong perubahan. Serampung menyimak Kitab Hilda van Suylenburg dalam bahasa Melayu, ia bertanya-tanya mungkinkah perempuan bumiputera mendapatkan bacaan seperti ini? Membaca menjadi sesuatu yang asing dan mewah. Sementara banyak kaum alit di Jepara saat itu dilanda penyakit akibat kelaparan dan carut-marutnya buruh bergaji rendah yang ditelantarkan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kecil mungkin muncul di benak kita, apa sebenarnya yang menginspirasi Kartini hingga ia menulis 150 surat? Baginya barangkali tak ada cara lain di balik keterpasungan dirinya selain keakraban yang lekat pada mereka-mereka yang telah maju di Eropa dan terbuka untuknya berkeluh-kesah. Hanya pena dan kertas disulapnya menjadi ''lidah tajam'' demi menyuarakan jeritan nuraninya. Nyonya Ovink-Soer yang simpatik dan penuh cinta kasih, hingga Kartini bersurat padanya, bertarikh November 1899, dengan judul Pada Kakiku Ternganga Djurang, Diatas Diriku Melengkung Langit Terang Tjuatja. Nona Estella H. Zeehandelaar si pendengar keluh yang setia. Kartono, si kakak yang penyanyang dan penyemangat. Nellie van Kol, si penenang hati yang bergolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film RA Kartini besutan Sjumandjaja (dengan aktor Yenny Rahman, Adi Kurdi, Nani Wijaya, Andi Auri, dan Chintami Atmanegara) digambarkan saat Kartono berkunjung pulang dari sekolahnya di Belanda dan menyimak gemuruh hati Kartini yang menolak menjadi Raden Ayu. ''Nik, kau terlampau radikal dan tidak menghormati tata krama Jawa yang adiluhung. O, adikku, kini kedewasaanmu sungguhlah mulia tapi betapa penuh bahaya,'' kata Kartono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata sayu dan tubuh gemetar Kartini menukas, ''Yang paling ditakutkan saat ini justru menjadi dewasa, Kang Mas. Alangkah ngerinya, dan hal yang seperti itu pasti sebentar lagi akan datang. Kang Mas tahu kamar di belakang? Di sebelah kamar Mbak Yu Lastri, pintu kamar itu setiap kali terbuka sedikit, seolah kamar itu menerima Nik untuk dipingit, dikunci di dalamnya bertahun-tahun sampai harinya datang orang tua kita membawa seorang laki-laki yang belum pernah kita kenal untuk menjadi suami. Kejam sekali budaya yang menciptakan nasib semacam ini.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apalah daya dirinya. Bakti dan kepatuhan pada orang tua mengatasi segala-galanya. Meski kepiluannya harus disekapnya sendiri di kamar pengapnya. Kehidupan Kartini saat itu hanya dapat meraba-raba bayangan adakah yang terkutuk dengan harkat keperempuannya? Atau berdamai saja dengan nasibnya yang nelangsa? Kerap pertanyaan demikian menggulung membanting pikirannya. Tapi tampaknya ia tak lelah untuk terus mencari titik terang. Merangkak-rangkak dan mencoba menggosok-gosok di ke-''gelap''-an tubuhnya. Sebentuk ikhtiar yang tulus dari lubuk hati terdalam bahwa perempuan juga layak mendapatkan pendidikan dan kesempatan mengembangkan potensinya sebagaimana laki-laki. Dan, ternyata, Kartini seda (meninggal dunia) muda pada 17 September 1904, setelah melahirkan anaknya, RM Soesalit. Tapi sampai kini dan sejauh manakah ia terus menjadi inspirasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya terlalu musykil menjawabnya. Surat-surat sederhana Kartini justru mengintrusi lelorong kesadaran kaum hawa. Kita juga akan teringat Anne Frank yang mati di usia 14 tahun yang merekam kebiadaban Nazi dalam The Diary of Anne Frank. Paling tidak, di negeri kita, Kartini sudah menggerakkan spirit yang luar biasa bagi semisal Pramoedya Ananta Toer yang menganggit novel Panggil Aku Kartini Saja atau catatan-catatan progresif revolusiover Ir Soekarno dalam Sarinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyatanya perempuan zaman sekarang bahkan diperhadapkan pada problematika modernitas yang rawan nan pelik. Segelung air bah peradaban global di mana kini banyak perempuan menjadi korban baik di ruang domestik, penganiayaan buruh, pelecehan seksual, hingga mengimbas pada kekejaman dan penelantaran anak. Memang musti ada yang memekikkan kepahitan demikian. Bukan nubuat getir: Habis Gelap Terbitlah Gelap. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Fahrudin Nasrulloh, penggiat Komunitas Lembah Pring Jombang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu, 19 April 2009]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-7528418739914108988?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/7528418739914108988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=7528418739914108988' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7528418739914108988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7528418739914108988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/habis-gelap-terbitlah-gelap.html' title='Habis Gelap Terbitlah Gelap'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-55288348040766342</id><published>2009-04-18T10:56:00.001-07:00</published><updated>2009-04-18T10:59:53.683-07:00</updated><title type='text'>Kebanjiran (Buku) Motivasi</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Fauzi A. Muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu akan mengalami perubahan, tapi hanya perubahan itu sendiri yang kekal. Barangkali itulah kata (motivasi) yang tepat untuk menggambarkan gairah industri perbukuan tanah air saat ini. Sebuah fakta yang terjadi pada lima tahun belakangan. Buku-buku motivasi memenuhi rak-rak toko buku, bahkan tidak sedikit yang dilabeli international bestseller.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama motivator Arab Saudi, Dr Aidh al-Qarni, telah menyedot perhatian umat muslim di dunia. Bukunya yang fenomenal, Laa Tahzan (2004), laris manis di pasaran. Konon untuk edisi Indonesia sudah cetak ulang hingga 30 kali. Laa Tahzan mampu memberi uraian yang mencerahkan serta membangkitkan rasa optimisme bernuansa Islami. Misalnya, mengajak masyarakat untuk tetap tegar dalam hidup karena ia hanya hidup sekali. Masyarakat juga diminta untuk tidak bersedih atas kesusahan yang menimpa mereka, karena sesungguhnya di balik kesusahan ada kemudahan dan di balik kesedihan ada kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena al-Qarni seolah membangkitkan gairah penulisan, penerbitan, dan bisnis buku bertema motivasi. Nyatanya, hampir semua penerbit kemudian berbondong-bondong menerbitkan buku-buku bertema sama. Tidak hanya dari penulis asing, penulis lokal Indonesia pun juga bertebaran. Tidak sedikit bukunya yang akhirnya laris manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga masih ingat fenomena buku The Secret (2006) karya Rhonda Byrne yang diklaim sebagai rahasia terbesar yang pernah ada, terkubur, dan sengaja disembunyikan. Byrne juga mengklaim bahwa orang-orang hebat mengetahui dan mempraktikkan rahasia ini, dan dengan suka rela dia membagikannya kepada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar menyebut nama beken; Stephen R. Covey, Robert T. Kiyosaki, Joe Vitale, Jack Canfield adalah pakarnya pakar motivasi. Selain mereka, juga hadir para motivator dalam negeri yang bermunculan, entah benar-benar ahli atau hanya ''ahli dadakan''. Sebab, hanya dengan menerbitkan satu buku motivasi saja, seorang penulis di Indonesia sudah berani mengklaim diri sebagai motivator andal level nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku motivasi berkembang secara luar biasa yang, diakui atau tidak, mampu menggairahkan roda bisnis perbukuan. Buku motivasi muncul dengan banyak wajah dan mengkapling banyak bidang. Tanpa menyebut judul --karena saking banyaknya-- buku-buku motivasi terhampar mulai dari motivasi bisnis, motivasi hidup, motivasi jiwa, hingga motivasi urusan ibadah. Judul-judul yang ditawarkan memang mengandung kata-kata menggoda. Misalnya, miliarder, millionare, keajaiban, misteri, rahasia, happiness, way, road to, cara gampang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga buku-buku cetakan ulang, yang awalnya tidak menggunakan judul berbau motivasi, kini muncul dengan aroma motivasi yang kental. Misalnya buku berjudul Membangun Fondasi Ekonomi Umat: Meneropong Prospek Berkembangnya Ekonomi Islam, di edisi revisinya berganti judul menjadi Cara Kaya dan Menuai Surga (2007). Yang hebat lagi, terbit pula buku-buku motivasi tentang ragam-cara menjadi penulis bestseller beriming-iming finansial melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembaca, cukup miris melihat realitas ini. Buku-buku motivasi yang beredar di pasaran terasa hanya memberikan solusi instan yang ujung-ujungnya, pengembangan diri yang ditawarkan itu, diarahkan kepada keuntungan finansial an sich. Besarnya profit seakan-akan menjadi parameter bagaimana sebuah motivasi dan pengembangan diri itu dianggap sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas Psikologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi, hal-hal yang berbau motivasi dan pengembangan diri memang begitu digemari oleh sebagian masyarakat Indonesia. Maka, tidak heran, kemudian lahirlah puluhan hingga ratusan buku-buku yang menawarkan ''kedamaian absurd'' atas berbagai tekanan hidup, laris manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini menunjukkan kondisi masyarakat yang terpuruk, kemudian membutuhkan media untuk berkontemplasi serta introspeksi bagi upaya koreksi diri? Benarkah tingginya antusiasme khalayak terhadap hal-hal berbau pengembangan diri serta munculnya profesi motivator, merefleksikan keadaan masyarakat Indonesia saat ini? Benarkah dalih keuntungan finansial memberi kedamaian sejati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, buku-buku yang berbau motivasi ini seringkali mendikte seseorang untuk berubah menjadi sesuatu yang terkesan artifisial. Pengembangan diri dan menjadi pribadi yang sukses bukanlah melalui seperangkat doktrin Anda harus begini atau Anda harus begitu. Karena dalam pengembangan diri, tidak ada yang praktis dan instan berdasar sebuah buku atau khotbah para motivator, tetapi sering melalui pertanyaan-pertanyaan mendalam yang bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pesan salah satu pelaku penerbitan. Dia mengatakan, ''Prospek penjualan buku-buku problem solving, how to, ke depan masih bagus. Cobalah Anda tulis. Semua bidang bisa Anda tulis, yang penting masukkan kata-kata yang memotivasi, lebih-lebih ada embel-embel keuntungan finansial.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mencerahkan, kalau semua ramai-ramai menulis buku motivasi, bisa-bisa malah jadi kebanjiran. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Fauzi A. Muda, penulis, tinggal di Mojokerto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[digunting dari Jawa Pos edisi Minggu, 12 April 2009]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-55288348040766342?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/55288348040766342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=55288348040766342' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/55288348040766342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/55288348040766342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/04/kebanjiran-buku-motivasi.html' title='Kebanjiran (Buku) Motivasi'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-5612329359828085915</id><published>2009-03-28T17:25:00.000-07:00</published><updated>2009-03-28T17:28:11.853-07:00</updated><title type='text'>Repetisi Tabu (Kasus Terjemahan 'The Kite Runner')</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Agung Prihantoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin membaca terjemahan The Kite Runner karya pertama Khaled Hosseini. Namun, baru menyimak paragraf pertama bab ''Satu, Desember 2001'' (hlm. 13) buku edisi 2008, saya tak kuasa melanjutkan pembacaan itu. Mengapa?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, saya tak ingin menuliskan jawabannya. Sebab, sebagai penerjemah, saya agak letih melihat masih banyak karya terjemahan Indonesia dari yang sangat buruk, agak buruk, lumayan, sampai yang masih bisa disempurnakan. Kritik, kecaman, dan kajian menyangkut terjemahan Indonesia sudah sangat sering dilakukan, tetapi tetap menyisakan bertumpuk-tumpuk karya terjemahan yang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keengganan saya meneruskan pembacaan itu karena pada alinea pertama saja pembaca sudah dihadapkan pada repetisi kata-kata ''beku'' dan ''masa lalu'' yang berlebihan dan membosankan. Coba perhatikan penggalan-penggalan kalimat berikut: Pada suatu hari yang beku...(kalimat pertama, baris ke-2) dan di dekat sungai yang membeku (kalimat kedua, baris ke-5 dan 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan pula: Kita tak akan pernah bisa mengubur masa lalu (kalimat ketiga, baris ke-6 dan 7) dan masa lalu akan selalu menyeruak mencari jalan keluar. Sekarang, saat aku melihat kembali ke masa lalu (kalimat keempat dan kelima, baris ke-7, 8, dan 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melangkah lebih jauh, kita patut bertanya apakah dalam edisi Inggrisnya Khaled mengerjakan repetisi yang sama? Jika ya, adakah maksud sastrawinya? Si penerjemah seharusnya dapat menangkap makna tersebut. Jika tidak, repetisi ''beku'' dan ''masa lalu'' itu memang perkara penerjemahan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada alinea yang terdiri dari lima kalimat dan 12 baris itu, kata ''beku'' diulang sekali, dan ungkapan ''masa lalu'' diulang dua kali! Repetisi kata ''masa lalu" yang pertama bagus untuk menjaga koherensi dan rima. Tetapi repetisi keduanya menimbulkan efek jemu. Repetisi seperti itu juga mengurangi keindahan sastrawi buku New York Times Best Seller tersebut dan menunjukkan bahwa penerjemah dan penyuntingnya lalai atau bahkan mungkin miskin kosakata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, kata ''beku'' bermakna ''dingin sekali'' dan ''amat adem''. Adem memang termasuk ragam cakap, tetapi bisa menggantikan ''beku'' dengan efek konotatif serupa dan akan membuat paragraf jadi variatif dan indah. Kata ''masa lalu'' bisa disulih dengan ''masa silam'', ''tempo lampau'', atau ''waktu dulu''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repetisi semacam itu sejatinya tabu bagi kaum penyair, penulis, penyunting, dan penerjemah. Dalam karya ilmiah yang bahasanya dikenal kaku, repetisi sering sekali terjadi, dan ini dicibir habis oleh para penulis kreatif. Dalam karya sastra, terlebih-lebih puisi, repetisi yang sembarangan adalah tabu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Claude L�vi-Strauss, seorang antropolog-strukturalis Prancis kelahiran Belgia, konon menulis otobiografi intelektualnya, Tristes tropiques (1955), tanpa pernah mengulang kata yang sama, kecuali kata-kata ganti, depan, dan sambung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, penyair Linus Suryadi A.G. selalu mengulang larik-larik prosa lirisnya dalam ''Pengakuan Pariyem'': Ya, ya, Pariyem saya/Maria Magdalena Pariyem lengkapnya/Iyem panggilan sehari-harinya/dari Wonosari Gunung Kidul/Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono/di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repetisi ala Linus itu tentu tidak tabu dan bahkan malah menguatkan nilai sastrawinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal gaya bahasa repetisi (terutama dalam karya fiksi), penerjemah biasanya dihadapkan pada setidaknya dua pilihan, yang sesungguhnya bisa saja dipadukan. Yakni mempertahankan gaya bahasa aslinya atau menulis ulang dengan gaya bahasa yang lebih indah. Pilihan pertama menuntut penerjemah untuk memahami benar gaya bahasa yang menjadi ciri khas penulisnya. Pilihan kedua dapat menjadikan gaya bahasa terjemahannya berbeda --lebih cantik-- dari aslinya. Lebih jauh lagi, terjemahan pilihan kedua boleh disebut sebagai ''karya asli yang diilhami oleh karya sumbernya'', dan hal ini diamini penerjemah senior Prof Dr Sapardi Djoko Damono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta, terlepas dari apakah Khaled melakukan repetisi tabu dalam edisi aslinya atau tidak, si penerjemah dapat menulis ulang tanpa repetisi tabu dengan tetap memperhatikan gaya bahasa aslinya. Terjemahan jenis ini dihasilkan dengan pendekatan reader-centered, yakni penerjemahan yang terfokus pada pembaca dan bahasa targetnya (bukan bahasa sumbernya). Dalam dunia pustaka kita, terjemahan semacam inilah yang dianggap sebagai terjemahan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang penting untuk senantiasa diingat ketika membincang karya terjemahan adalah pepatah ''karena nila setitik, rusak susu sebelanga''. Hanya gara-gara setitik tabu, sebuah karya terjemahan bisa dicap buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus buku terjemahan The Kite Runner, tampaknya si penerjemah sudah belajar dari repetisi tabu sebelumnya, sehingga ketika menerjemahkan novel kedua Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns, ia dan penyuntingnya tak mengulangi kesalahan yang sama, sekurang-kurangnya pada paragraf pertama. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;b&gt;Agung Prihantoro&lt;/b&gt;, penerjemah buku, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dikronik IBOEKOE dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu, 29 Maret 2009 dengan judul "Repetisi Tabu".&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-5612329359828085915?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/5612329359828085915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=5612329359828085915' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5612329359828085915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5612329359828085915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2009/03/repetisi-tabu-kasus-terjemahan-kite.html' title='Repetisi Tabu (Kasus Terjemahan &apos;The Kite Runner&apos;)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-7878004141418505921</id><published>2008-05-17T17:55:00.000-07:00</published><updated>2008-05-17T17:56:47.913-07:00</updated><title type='text'>Jangan Paksa Masyarakat Baca Buku!</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pemangku buku dan kutubuku yang angkuh dan sombong, saya tuliskan pamflet ini. Di negara yang tak punya seperangkat Undang-Undang Buku dan Perpustakaan ini, kelompok ini terus-menerus menebarkan teror ke dalam lubuk masyarakatnya yang bukan saja tak mampu membaca buku, tapi merasa aneh saja kenapa harus mencintai pekerjaan itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, memiliki buku bukan perkara mudah. Selain karena tradisi lisan (dan menonton) lebih dominan, penetrasi buku hanya berlangsung di perkotaan. Perpustakaan berhenti di ibu kota provinsi dan kabupaten dan itu pun nasibnya merana. Alhasil, untuk mengisi waktu luang yang sangat banyak, masyarakat beralih ke televisi. Dari sisi ekonomi, televisi juga praktis. Sekali beli nyaris semua informasi bisa diserap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mereka menyayangkan kenapa begini jadinya masyarakat itu. Pamflet-pamflet membaca buku pun disebar rutin, baik oleh pemerintah maupun kelompok-kelompok partikelir. Lalu muncul Hari Buku Nasional yang secara sembrono diambil begitu saja dari hari berdirinya IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) pada 17 Mei 1950. Bisakah hari jadi sebuah organisasi dijadikan sebagai sandaran nilai, semangat, ketika oleh masyarakat penerbit sendiri memakzulkan keberadaannya. Tanyalah kepada penerbit-penerbit di Jogjakarta, mengapa mereka tak mengakui IKAPI sebagai payung buku nasional dan mendirikan pusparagam organ baru untuk melawan dan mengolok-oloknya seperti, APA (Asosiasi Penerbit Alternatif), API (Aliansi Penerbit Alternatif), SePI (Sarekat Penerbit Independen), dan IKAPO (Ikatan Penerbit Optimis). Kasus ini mirip organ PWI yang sekaligus hari lahirnya dipaksakan jadi Hari Pers Nasional. Padahal organ ini dengan sewenang-wenang turut membabat warganya sendiri, yang kemudian eksodus mendirikan organ lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada Hari Kunjung Perpustakaan pada 14 September dan sekaligus bulan itu dijadikan Bulan Gemar Membaca. Gubernur Sutiyoso tak ketinggalan untuk mencanangkan Hari Anak Jakarta Membaca pada 24 Agustus 2006. Saya tak tahu 5.000 anak tingkat SD-SMA di Jakarta yang tumplek di Monas waktu itu datang untuk membaca buku, atau ngecengin cewek-cowok dan bermasyuk dengan pelbagai hiburan seperti nyanyian dan tarian tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya herankan juga membiak semacam anggapan dari kelompok yang sombong diri ini bahwa tidak membaca buku adalah "dosa". Maka, ada yang sambil merintih bawang bombay membeberkan bagaimana membaca buku di Indonesia berada di titik nol. Oh, sombong sekali. Mungkin ia benar, tapi ia tak memperhatikan tradisi panjang apa yang ada dalam kalbu masyarakat. Orang-orang sombong dan kalap diri ini juga lupa bahwa mereka tak juga memberi contoh yang baik. Banyak program buku dikibarkan pemerintah yang sok jago baca, tapi di sana juga kerakusan membumbung. Di Jogjakarta, Solo, Semarang, dan di mana-mana koran Jawa Pos memberitakan korupsi buku oleh aparat pemerintah sendiri. Para penerbit, tak peduli penerbit spesial buku agama atau buku sekuler dan umumnya anggota IKAPI, sikut-menyikut suap-menyuap untuk dapat jatah uang banyak dari penerbitan buku-buku pelajaran kaum belia itu. Uh, sungguh memalukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku, mengapa harus jadi keharusan? Heran. Lalu mereka mengecam dengan semena-mena bahwa segala malapetaka ini disebabkan oleh televisi. Mereka tuding televisi sebagai sumber gegar budaya, kotak idiot, kotak dungu, tuhan kedua, bahkan setan jahat citra. Padahal, televisi bagi keluarga Indonesia saat ini sudah menjadi kebutuhan utama keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi sejatinya hanya pengulangan paling modern dari tradisi visual yang sudah berlangsung turun-temurun di Indonesia. Panggung yang biasanya terbuka di lapangan kini dipersempit hanya dalam sebuah kotak kecil di tengah ruang keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi aktivis perbukuan yang sombong dan angkuh ini televisi tak lain hanyalah sebuah kedangkalan berpikir. Televisi hanya memproduksi keseronokan ketimbang kebijaksanaan. Karena itu, membaca buku lebih mulia dari menonton televisi. Tradisi menonton hanya melakukan pengulangan dari kelisanan primer yang terus-menerus coba "dilenyapkan" para juru kampanye kemelekan aksara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kecam program-program sinetron atau kuis murahan yang tak mendidik, tapi mereka lupa bagaimana memproduksi buku berkualitas dan mempertontonkan tauladan yang baik bagaimana memperlakukan buku sebagai laku pencerahan. Memangnya cuma televisi yang memproduksi keseronokan dan kedangkalan. Buku juga ada kok. Maka, ada "buku bajakan", "buku dodol" (buku yang sampulnya keren, promonya kuat, endorsement seabrek, tapi isinya kosong ngawur nggak jelas asal ngoceh); "buku msg" (buku yang renyah dan sangat enak dibaca, tapi isinya dangkal, bagaikan jajanan ber-msg, tidak meninggalkan kesan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga "buku latah" (buku yang judul atau temanya ikut-ikutan dan atau dimuat mirip dengan buku yang terbit sebelumnya dan sukses). Contoh jenis buku ini adalah Di Atas Sajadah Cinta yang mirip dengan Ayat-Ayat Cinta; buku Rumah Pelangi yang dimirip-miripkan dengan Laskar Pelangi). Lalu "buku spanyol" (buku yang ditulis dengan cara sungguh ganjil: separo isinya nyolong dari buku orang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pamflet ini menyeru-nyeru: jangan percaya sepenuhnya bahwa dunia buku dan aktivis-aktivisnya adalah brahmana dan kuil-kuil suci penyebar pencerahan. Omong-kosong itu semua. Mereka juga manusia yang berhasrat, punya nafsu merusak, dan tak ada bedanya dengan dunia yang mereka kutuk habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keasyikan mengkritik televisi, mereka lupa bahwa masyarakat punya pandangan hidup sendiri bagaimana memperlakukan hidup. Sejarawan-sejarawan seperti Taufik Abdullah meyakini betul bahwa tradisi budaya lokal kita adalah lisan dan bukannya tulisan. Ingatan kolektif, pengetahuan, informasi atau perbendaharaan kultural apa pun ditransmisikan secara lisan dan visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lahir dari kultura seperti itu kemudian bukanlah cendekiawan-pemikir, tapi kreator dan maestro upacara. Dan yang muncul dalam tradisi upacara adalah mantra dan rambu ibadat. Dalam perkembangannya mantra itu kemudian menubuh dalam syair, seloka, dongeng, sastra, dan sebagainya. Maka, jangan heran bila Indonesia melahirkan hanya seupilan maestro dalam bidang buku. Hal ini jauh berbeda dengan maestro tradisi seni visual (lukisan, patung, maupun kerajinan tangan rakyat) serta seni pertunjukan (teater, ketoprak, tari, kesenian rakyat, dan sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, memang bahasa Indonesia yang kita kenal ini pun bukan bahasa yang diperuntukkan untuk bahasa tulis, bahasa refleksi, bahasa filsafat. Bahasa ini tak punya struktur lampau, kini, dan akan datang. Semua bahasa sehari-hari dan hari ini (present tense). Karena itu disebut dengan lingua franca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, berhentilah berkhotbah muluk-muluk dan meneror masyarakat berlatar visual dan tontonan ini, hai para pemangku buku dan kutubuku! (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Muhidin M. Dahlan, kerani di Indonesia Buku, anggota Dewan Kutu Buku Gila (KuBuGil), dan pimpinan program penulisan Kronik Kebangkitan Indonesia (1908-2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 18 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-7878004141418505921?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/7878004141418505921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=7878004141418505921' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7878004141418505921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7878004141418505921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/05/jangan-paksa-masyarakat-baca-buku.html' title='Jangan Paksa Masyarakat Baca Buku!'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-5804126161366272725</id><published>2008-05-17T17:52:00.000-07:00</published><updated>2008-05-17T17:53:29.192-07:00</updated><title type='text'>Mistifikasi Novel Sejarah</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Zen Rachmat Sugito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel sejarah bisa menjadi "sumber sejarah". Tetapi tidak semua novel sejarah bisa dijadikan "dokumen sejarah" seperti yang diharapkan Misbahus Surur dalam esai "Mengais Realitas dalam Novel Sejarah" (Jawa Pos, 30/3/2008). Keberatan utama yang ingin saya ajukan terhadap esai Misbahus Surur (MS) terletak pada pengabaiannya terhadap pertanyaan mendasar: Dalam situasi apa dan dengan cara apa sebuah novel sejarah bisa diacu sebagai dokumen sejarah atau sumber sejarah apalagi buku teks sejarah? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah teks/dokuman bisa dianggap sebagai "dokumen sejarah" jika (dan hanya jika) dokumen itu berkaitan langsung dengan sebuah peristiwa sejarah. Naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik yang dibubuhi paraf Soekarno-Hatta bisa disebut sebagai "dokumen sejarah". Ilmu sejarah menyebut dokumen macam itu sebagai "sumber primer".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran yang memuat berita pembacaan proklamasi juga masuk kategori ini, sepanjang berita itu ditulis oleh wartawan yang menyaksikan peristiwa itu secara langsung. Sumber primer juga bisa merujuk pada semua bahan yang ditulis atau dikatakan oleh seseorang yang menyaksikan langsung peristiwa pembacaan proklamasi. Buku yang mencantumkan copy/repro naskah proklamasi yang asli tak bisa disebut dokumen sejarah atau sumber primer. Ia paling banter hanya menjadi "sumber sekunder".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, serial novel Gajah Mada-nya Langit Kresna Hadi (yang disebut dalam esai Misbahus Surur) tidak bisa diperlakukan sebagai dokumen sejarah. Hal yang sama juga bisa dilekatkan pada roman Arus Balik atau Arok Dedes atau Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pun ingin mencari karya sastra yang bisa dijadikan sebagai dokumen sejarah mengenai Gajah Mada, pastilah itu merujuk pada Negarakrtagama yang memang menjadi rekaman langsung Sutasoma ihwal masa pemerintahan Hayam Wuruk. Untuk menyusunnya, Sutasoma bahkan ikut turnoi Hayam Wuruk ke beberapa wilayah mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengandaian yang sama bisa diajukan pada novel Di Tepi Kali Bekasi-nya Pramoedya, novel dengan setting waktu yang dialami langsung oleh Pram; satu privilese yang memungkinkan Pram -setidaknya-- bisa mengerti suasana dan psikologi zaman di mana setting Di Tepi Kali Bekasi digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tepi Kali Bekasi bisa memberi gambaran mengenai kehidupan para pemuda yang menjadi tentara republik, terutama lewat tokoh utama bernama Farid. Kita bisa mendapatkan gambaran semangat para pemuda nasionalis itu serta seperti apa kehidupan sehari-hari mereka, termasuk meraba gaya mereka berpakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu saja tidak cukup. Untuk mengetahui secara akurat, diperlukan malacak kesaksian orang-orang yang mengalaminya langsung. Untuk memertajam akurasi, kita mesti membongkar-bongkar koran-koran pada masa itu, yang besar kemungkinan -misalnya-- ada yang pernah memajang potret belasan anak muda yang tergabung dalam kesatuan tentara republik sedang berbaris rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pun sebuah novel dijadikan sebagai sumber sejarah dalam sebuah karya historiografi, data yang digunakan pun biasanya tidak menyangkut soal detail mengenai keterangan tempat, waktu, atau kronologi peristiwa (5W+1H) melainkan digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai kesadaran zaman atau semangat zaman yang sedang tumbuh pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ben Anderson sering menggunakan novel-novel sebagai latar untuk menjelaskan perubahan dan/atau semangat zaman yang sedang berlangsung pada periode sejarah tertentu. Misalnya novel No Moli Tangere-nya Jose Rizal untuk menangkap situasi dan semangat zaman pada periode kemunculan nasionalisme Filipina seperti yang ditunjukkan dalam karya klasiknya, Immagined Communities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus studi sejarah Indonesia, Rudolf Mrazek banyak menampilkan fragmen-fragmen novel Student Hidjo-nya Mas Marco Kartodikromo untuk membangun argumentasi ihwal perubahan yang dipicu oleh merebaknya penggunaan teknologi modern. Mrazek akhirnya berhasil melahirkan Engginers of Happyland, satu-satunya karya yang meneropong perubahan yang sedang berlangsung di Hindia Belanda dengan membedah penggunaan teknologi modern dan peran para insinyur dan teknisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel yang mampu menggambarkan semangat dan situasi sebuah zaman (dan bukan akurasi 5W+1H-nya) itulah yang membuat kita memungkinkan mendapat gambaran (bukan akurasinya) mengenai dunia priyayi di lingkungan kraton bukan hanya dari disertasinya Prof Darsiti Soeratman, tapi bisa pula dari prosa liris Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi A.G. Hal sama berlaku, misalnya, untuk mengetahui situasi dan semangat zaman (bukan akurasi 5W+1H-nya) pada periode peralihan era kolonialisme dan era kemerdekaan, kita tak hanya bisa mengandalkan disertasi George Mc. Turner Kahin, tetapi bisa pula dari roman indah Burung-burung Manyar gubahan Romo Mangun (Y.B. Mangunwijaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal tertentu dari Pengakuan Pariyem atau Burung-burung Manyar atau Di Tepi Kali Bekasi bisa dijadikan sumber sejarah, tetapi sama sekali tak bisa dijadikan dokumen sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehati-hatian macam itu penting, bukan untuk meneguhkan supremasi ilmu sejarah sebagai sumber paling otoritatif mengenai masa silam, tetapi justru untuk (1) tidak sembrono memukul rata semua novel sejarah bisa dijadikan sebagai sumber sejarah atau dokumen sejarah; (2) menempatkan novel sejarah pada proporsinya; dan (3) tidak memberi beban yang tidak semestinya pada novel sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharapkan novel sejarah dan semua halaman dari sebuah novel sejarah bisa digunakan sebagai sumber sejarah sama dengan berharap setiap novelis menulis dengan tingkat akurasi data sejarah yang presisi; satu beban yang tidak mungkin dan tidak wajib dijawab para novelis dan lebih tepat disorongkan ke meja kerja para sejarawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset sejarah para novelis dilakukan untuk membangun karakter, percakapan, adegan, dan konflik-konflik sehidup mungkin dan semeyakinkan mungkin. Di tangan novelis, data-data sejarah diperlakukan sebagai bahan mentah yang diolah sedemikian rupa dengan mengerahkan imajinasinya yang (boleh saja) tanpa (pem)batas(an). Novelis tak terikat fakta fakta sejarah. Semua dapat berupa fiksi. Namun, dalam menyusun cerita, novelis dituntut membangun logika cerita (yang bisa tak ada hubungannya dengan logika aristotelian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan atau novelis sama-sama membuat konstruksi cerita yang koheren. Bedanya, sejarawan menunjuk kepada hal hal yang memang pernah ada, sementara novelis bisa dan sah-sah saja menggambarkan sesuatu yang tidak pernah ada. Sejarawan wajib tidak menambah-nambahi, sedangkan novelis bebas menciptakan apa, kapan, siapa, dan di mananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer bisa menjadi kanon sastra dan bahkan menggoncang diskursus sejarah pergerakan Indonesia bukan karena akurasinya memaparkan biografi Minke sebagai protonima karakter Tirtoadisoerjo, melainkan karena keberhasilan Pram menghidupkan karakter Minke dalam sebuah panggung fiksi yang tidak kalah hidup dan memikatnya. Pendek kata, daya goncang tetralogi Buru pada diskursus sejarah pergerakan Indonesia lebih karena karya itu berhasil secara literer dan sukses menggugah pembaca untuk mempertanyakan kembali narasi sejarah yang selama ini dianggap baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sanalah gelombang rasa ingin tahu mengenai kehidupan dan peran Tirto yang sebenarnya bermunculan. Dari situlah diskursus sejarah pergerakan Indonesia yang hampir tak pernah menyebut-nyebut peran Tirto seperti digoncang dan pelan tapi pasti nama Tirtoadisoerjo mencuat ke dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia sebagai seorang protagonis yang tak bisa disepelekan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengandaian yang sama bisa kita ajukan -misalnya-- kepada novel Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe yang membangkitkan gerakan anti-perbudakan di Amerika yang berimbas pada Civil War. Uncle Tom’s Cabin bisa sedemikian berpengaruh bukan karena akurasi pemerian Stowe terhadap kehidupan para budak, melainkan karena Stowe melahirkan novel yang begitu berhasil membuat para pembacanya terharu dan terenyuh membayangkan kehidupan penuh derita seorang budak bernama Paman Tom yang dimiliki petani kaya bernama Arthur Shelby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa menjawab pertanyaan kenapa -misalnya-- dwilogi roman Pacar Merah Indonesia-nya Matu Mona alias Hasbullah Parinduri yang memaparkan sepak terjang Tan Malaka tak pernah memancing ribuan orang untuk membacanya. Dwilogi Pacar Merah Indonesia tidak terlalu berhasil secara literer dan tidak terlalu menggugah pembacanya, setidaknya bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matu Mona lebih sibuk menyusun kronik perjalanan Tan Malaka ketimbang menciptakan karakter-karakter penunjang lain yang hidup (macam Robert Suurhof atau Trunodongso dalam tetralogi). Kisah melankolik antara Tan Malaka dengan seorang perempuan Thailand tidak semenggugah kisah cinta Minke dengan Annelies atau Ang San Mey. Diskusi politik antara Tan Malaka dengan tokoh PKI macam Musotte (Musso) atau Alminsky (Alimin) tidak sehidup percakapan Minke dengan Jean Marais sewaktu memperdebatkan pilihan menulis dalam bahasa Melayu atau Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran jika tetralogi Pulau Buru bisa "mendongkrak" sosok Tirtoadisoerjo dalam narasi sejarah pergerakan Indonesia, lebih dari yang bisa dilakukan tulisannya Soebagjo I.N., disertasinya Ahmat Adam atau disertasi Takashi Shiraishi. Sementara publik dan media lebih berbondong-bondong menoleh kembali pada Tan Malaka berkat disertasinya Harry Poeze, bukan oleh dwiloginya Matu Mona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misbahus Surur tidak berlebihan sewaktu (dalam paragraf terakhirnya) menyebut novel sejarah berpeluang menjadi wacana tandingan dari narasi sejarah resmi. Tetapi, seperti yang sudah saya tunjukkan, hanya novel sejarah yang memukau secara literer dan mampu menggugah pembaca sajalah yang bakal mampu menggoncang diskursus sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ, perdebatan ihwal seberapa akurat penggambaran historis sebuah novel sejarah menjadi hal sekunder. Jika pun akurat, anggap saja itu sebagai bonus bagi pembaca dari sebuah negeri yang narasi sejarahnya boyak di sana-sini. Harapan bahwa novel sejarah bisa mawujud sebagai sumber sejarah menjadi perkara nomor dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas seorang novelis bukan untuk mengejar akurasi data sejarah agar karyanya bisa diacu sebagai sumber sejarah, melainkan untuk melahirkan novel yang segenap-genapnya berhasil secara literer dan mampu mendongkrak daya gugah pembacanya untuk mempertanyakan narasi sejarah dominan yang (mungkin) penuh dusta dan tipu daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada novel sejarah yang memenuhi kualitas literer di atas rata-rata sajalah kita bisa berharap. Bukan kepada novel yang punya akurasi data sejarah namun jongkok secara literer. Jika itu yang terjadi, novelis tersebut mungkin lebih berbakat menjadi sejarawan ketimbang novelis. ***&lt;br /&gt;* Zen Rachmat Sugito, Chief Editor Jurnal NAGARA WEEKLY, Jakarta&lt;br /&gt;** Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 18 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-5804126161366272725?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/5804126161366272725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=5804126161366272725' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5804126161366272725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5804126161366272725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/05/mistifikasi-novel-sejarah.html' title='Mistifikasi Novel Sejarah'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-7676112066777129273</id><published>2008-04-27T17:10:00.000-07:00</published><updated>2008-04-27T17:13:41.999-07:00</updated><title type='text'>Kebijakan Buku yang Memberdayakan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Anita Lie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pemerintah untuk membeli hak cipta buku pelajaran, seperti tercantum dalam Peraturan Mendiknas Nomor 2 Tahun 2008, menyulut kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Junaidi Gafar khawatir program ini akan gagal karena masalah buku pelajaran di Indonesia ”tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan kekuasaan” semata. Juga dicemaskan dampak mematikan pada industri penerbitan jika pemerintah ”memaksakan membeli hak cipta buku pelajaran” (Kompas, 24/3/2008).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Rab A Broto menyambut gembira kebijakan ini karena ”selama ini penerbit terlalu banyak menangguk untung dan kurang memedulikan kemaslahatan orang banyak” (Kompas, 7/4/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan, sistem ini mirip mafia, terkait oknum penerbitan dan percetakan, birokrat di Depdiknas, makelar, kepala sekolah, dan guru yang terjalin rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Mendiknas (Permendiknas) ini patut disambut positif dan diharapkan bisa menjadi alternatif atas mahalnya dan pergantian buku pelajaran tiap tahun karena seringnya modifikasi kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah memang berhak dan wajib membuat regulasi yang melindungi masyarakat dan memastikan akses terhadap pendidikan bermutu tidak terhambat variasi harga buku. Tanpa regulasi, eksploitasi pasar buku pelajaran tidak hanya menyudutkan masyarakat, tetapi juga memengaruhi etika birokrat dan pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umum dipahami, alokasi hingga 35 persen harga buku (biasanya untuk toko buku) dijadikan iming-iming bagi birokrat dan pendidik yang berwenang memutuskan buku yang akan dipakai siswa. Meski sudah ada regulasi, kolusi pasar buku pelajaran dengan pendidik tidak bisa penuh diberantas dan menantang ancaman sanksi yang ditetapkan Permendiknas No 26/ 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Permendiknas No 2/ 2008 bisa mengatasi keterjangkauan buku pelajaran, pelaksanaan kebijakan ini perlu mengantisipasi beberapa hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ketika pemerintah melaksanakan hak dan kewajiban regulasi, eksekusi dari hulu ke hilir oleh pemerintah atau badan kepanjangan tangan pemerintah (Badan Standar Nasional Pendidikan) mengandung risiko terbentuknya tirani kekuasaan dalam lahan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah mempunyai kekuasaan dan dana untuk memberi hibah kepada calon penulis buku, menilai kelayakan, dan membeli hak cipta (Pasal 3 dan 4) serta mengatur perizinan, distribusi, dan penjualan melalui jalur birokrasi dan koperasi sekolah (Pasal 8 dan 11). Tawaran pemerintah untuk membeli hak cipta akan menggiurkan sebagian calon penulis yang tergoda memuluskan jalan bersama oknum yang berwenang menilai kelayakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme yang menjamin transparansi memang dibutuhkan. Tanpa mekanisme dan transparansi, dikhawatirkan mutu buku pelajaran yang diloloskan menjadi taruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, di balik kekurangan industri buku pelajaran, kompetisi bebas antarpenerbit membangun mekanisme seleksi penulis. Hal ini ikut mengembangkan kualitas buku yang lolos proses seleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari tirani birokrasi pendidikan, pelaksanaan kebijakan buku pelajaran perlu menciptakan kemitraan dan kesetaraan dengan penerbit buku pelajaran dan terus berupaya memberdayakan masyarakat pendidik. Harus diakui, penerbit sudah punya pengalaman dalam memproduksi dan distribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawasan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kebijakan buku juga perlu memberi ruang pilihan bagi masyarakat. Pengalaman penerbit dalam industri buku memungkinkan mereka membuat buku bermutu dari segi isi, grafis, dan cetakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11 Permendiknas No 2/ 2008 melarang peredaran buku penerbit oleh aparat birokrasi dan pendidik. Pasal ini dimaksudkan untuk menghilangkan kemungkinan kolusi antara penerbit dan pendidik. Sebaliknya, pasal ini tidak membatasi hak pilih atas buku yang dianggap lebih bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengharapkan pengawasan masyarakat dalam pelaksanaan Permendiknas No 2/2008. Keberdayaan masyarakat pendidikan terhadap kebijakan publik dan praktiknya—bahkan yang terkait kemaslahatan masyarakat—belum memadai untuk menjadi pilar kekuatan yang setara dengan pilar negara dan pasar. Bahkan, saat berhadapan dengan kekuatan pasar buku pelajaran, masyarakat pendidik cenderung ikut terbawa arus pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini semua seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi penerbit untuk memperbaiki situasi. Kebijakan rabat yang mengatasnamakan proses distribusi dan secara terselubung digunakan birokrasi dan pendidik untuk mengeruk untung seharusnya bisa digunakan untuk membangun kapasitas masyarakat pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan yang dihadapi pemerintah dalam menemukan penulis buku bermutu seharusnya bisa menjadi tanggung jawab sosial bagi penerbit untuk ikut memberikan pelatihan berkelanjutan bagi para calon penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anita Lie Dosen&lt;/span&gt; FKIP Unika Widya Mandala, Surabaya; Anggota Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Digunting dari Harian Kompas Edisi 23 April 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-7676112066777129273?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/7676112066777129273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=7676112066777129273' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7676112066777129273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7676112066777129273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/04/kebijakan-buku-yang-memberdayakan.html' title='Kebijakan Buku yang Memberdayakan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-5102214590790438122</id><published>2008-04-20T17:53:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T17:57:55.767-07:00</updated><title type='text'>Buku, Komunitas dan Modal Sosial</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Vinc. Kristianto Batuadji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memulai membuat tulisan ini, saya iseng-iseng mencari informasi yang berhubungan dengan buku dan komunitas di Internet. Melalui mesin pencari Google dan Yahoo!, saya masukkan kata kunci seperti "books community", "community and books", dan "books, community". Di luar dugaan saya, hasilnya sungguh luar biasa. Saya temukan ribuan, bahkan jutaan, situs web yang dikelola komunitas pencinta buku dunia dari berbagai latar belakang minat dan topik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, situs-situs tersebut mengundang pengunjungnya untuk bergabung dan memberi komentar dalam diskusi buku yang mereka selenggarakan di dunia maya. Beberapa di antaranya menyarankan pengunjung untuk membaca buku-buku tertentu, dan setelah selesai dilanjutkan dengan undangan untuk berdiskusi mengenai isi buku yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar menyebut sedikit saja komunitas-komunitas yang sempat saya kunjungi, ada BookCrossing, Internationalist Books &amp; Community Center-Chapel Hill, Community College Fact Book Library, Indiana Forest Alliance, Creative New Zealand, Campaign For Reader Privacy, dan The Kepler's Books and Magazines. Di Indonesia sendiri, saya temukan beberapa komunitas yang cukup intensif mengadakan diskusi-diskusi buku dan sastra yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Di ujung barat Indonesia, di Banda Aceh, misalnya, ada komunitas Tikar Pandan yang giat mengadakan diskusi dan menerbitkan jurnal bulanan yang berisi seputar dunia sastra Tanah Air. Komunitas ini dikelola oleh para sastrawan muda yang giat mempublikasikan karya mereka di surat kabar-surat kabar Tanah Air. Dalam kondisi sosial-politik Aceh yang tak kunjung kondusif, kehadiran mereka adalah secercah harapan. Setidaknya, menjadi inspirasi bagi anak muda Aceh untuk tidak berhenti bermimpi tentang Aceh masa depan yang sejahtera dan berbudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa komunitas bahkan menjadi semacam barometer dan sering dijadikan rujukan oleh komunitas-komunitas lainnya. Di Bandung, misalnya, ada komunitas yang berangkat dari toko buku seperti Tobucil dan Toko Buku Ultimus yang sering mewadahi berbagai macam kecenderungan minat dan topik dari komunitas-komunitas pencinta buku lainnya di Paris van Java tersebut. Kedua toko buku itu menjadi tempat berlangsungnya rangkaian aktivitas yang berhubungan dengan buku. Lewat aktivitas-aktivitas yang mereka selenggarakan, mereka sekaligus membuka peluang pasar buku di luar distribusi mainstream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang komunitas pencinta buku, tentunya kita tidak bisa melewatkan sebuah kota di ujung selatan pulau Jawa, yaitu Yogyakarta. Di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Seribu Penerbit ini, mungkin kita tak lagi bisa menghitung berapa banyak maniak buku yang ada di kota ini. Ratusan penerbit dan toko buku tersebar di Yogyakarta. Faktor ini membuat para pencinta buku di Yogyakarta lebih beruntung dibanding teman-temannya di kota lain. Selain mudahnya akses memperoleh buku, pencinta buku di Yogyakarta juga mewarisi iklim sosial-budaya yang kondusif. Jauh dari kebisingan kegiatan industri, Yogyakarta menjadi tempat yang sangat nyaman bagi siapa saja yang hendak bergelut dengan dunia aksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota ini pula, terdapat banyak komunitas pencinta buku. Salah satunya Indonesia Buku atau i:boekoe. Komunitas yang dikelola para anak muda maniak buku itu sejak dua tahun lalu berjibaku merampungkan proyek besarnya dalam bentuk penerbitan buku-buku sejarah Indonesia yang luput dari snapshot sejarah resmi negara. Sebagian besar para pegiat komunitas i:boekoe ini saya kenal dengan baik. Selain karena memiliki kecintaan yang sama, juga karena saban minggu tulisan-tulisan mereka sering muncul di koran-koran Tanah Air. Apa yang telah disebutkan di atas hanyalah contoh saja karena saking banyaknya komunitas pencinta buku di Indonesia (apalagi dunia), sehingga tulisan ini tak kuasa menyebutkannya satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, dengan menjamurnya komunitas-komunitas pencinta buku di Tanah Air, bagi saya pribadi telah memberikan optimisme tentang tata pergaulan kemanusiaan yang lebih beradab. Setidaknya, dari pengalaman saya sendiri, saya menjumpai betapa buku telah mengubah cara pandang orang terhadap kehidupan secara radikal. Pernah suatu ketika saya dan teman-teman saya di lingkungan Program Pascasarjana Psikologi UGM Yogyakarta mendiskusikan perihal ilmu psikologi yang dianggap lebih mampu mensejahterakan manusia. Waktu itu, kami sepakat bahwa tidak mungkin mewujudkan sosok manusia yang sepenuhnya sehat jika kami tak lekas beranjak dari pengaruh teori-teori psikologi mainstream seperti psikoanalisis dan behaviorisme, yang mengusung filsafat manusia yang berbau pesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu ketika, seorang teman memperkenalkan sebuah buku yang ditulis oleh pendiri gerakan Psikologi Positif, Martin E.P. Selligman, yang berjudul Authentic Happiness. Buku ini diterbitkan Penerbit Mizan pada 2005 dalam versi bahasa Indonesia. Buku ini dianggap sebagai revolusi mendasar dalam tradisi psikologi karena menawarkan perspektif baru. Dalam bukunya ini, Selligman memberi penekanan pada upaya mengeksplorasi potensi-potensi positif manusia dan membuang jauh-jauh potensi-potensi pesakitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tersebut benar-benar telah meyakinkan kami bahwa ada yang salah dalam tubuh ilmu psikologi selama ini. Sejak saat itu minat kami terhadap kajian Psikologi Positif semakin menjadi-jadi. Setidaknya, dalam menentukan judul tesis, sebagian besar di antara kami memilih tema-tema sebagaimana yang dipopulerkan oleh Selligman, seperti Compassion, Altruism, Forgiveness, Happiness, Love, dan Creativity. Sungguh luar biasa pengaruh buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya meyakini bahwa manfaat buku lebih dari sekadar yang sudah diketahui banyak orang, misalnya membuat orang menjadi lebih pintar dan lebih bijaksana. Saya berkeyakinan bahwa buku adalah modal sosial terbaik yang dapat mengikat sekelompok orang dalam satu perspektif dan tujuan. Jika kita mendefinisikan modal sosial sebagai segala sesuatu yang berperan bagi keberhasilan seseorang dalam kerja sama di ruang sosial, sebagaimana diungkapkan oleh John Field dalam Social Capital (1996:16), maka buku sangat memenuhi persyaratan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tidak hanya mengikat orang dalam simpul kognitif, tetapi juga simpul emosional dan sikap. Buku telah membuat manusia lebih cerdas dan berpikiran maju. Buku telah berhasil mengubah cara berpikir orang dalam melihat kehidupan. Buku juga telah menjadi alat revolusi kemerdekaan yang paling ampuh di negeri ini (karena para founding fathers kita, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lain-lain adalah para kutu buku). Dan, tak kalah pentingnya, buku juga telah mengajari kita bagaimana cara bersitegang yang beradab. Bukan melalui adu jotos unjuk kekuatan, tetapi melalui adu argumen dan ketajaman perspektif, juga analisis. Pendek kata, buku adalah produk kebudayaan paling berharga yang pernah diciptakan oleh manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Psikologi UGM Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 13 April 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-5102214590790438122?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/5102214590790438122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=5102214590790438122' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5102214590790438122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5102214590790438122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/04/buku-komunitas-dan-modal-sosial.html' title='Buku, Komunitas dan Modal Sosial'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-4578476203368937697</id><published>2008-04-07T04:49:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T04:51:15.546-07:00</updated><title type='text'>Tantangan Baru Penerbit</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Rab A Broto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pemerintah untuk membeli hak cipta buku pelajaran, seperti disebutkan dalam Peraturan Mendiknas Nomor 2 Tahun 2008, tak bisa dipungkiri mengancam eksistensi penerbit buku pelajaran. Namun, peraturan yang merupakan terobosan terkait berbagai keluhan atas polah penerbit buku pelajaran itu, sudah sangat tepat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit selama ini terbukti tidak bisa dijadikan mitra terbaik karena hanya mementingkan untungnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan utama mendukung Permendiknas tersebut mengingat pendidikan bermutu dan murah adalah hak setiap warga negara. Soal ini penting karena murahnya harga buku pelajaran pasti akan menentukan kemajuan dan masa depan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, pemerintah kali ini adaptif dan perlu diacungi jempol kebijakannya. Keputusan yang semoga memang tulus untuk memajukan anak bangsa dan tidak dikotori kepentingan jangka pendek. Hal ini mengingat selalu ada peluang untuk menyeleweng dari maksud mulia. Salah satunya adalah obyektivitas Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dalam memilih naskah mana yang akan dibeli hak ciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protes terkait naskah yang akhirnya terpilih pasti akan tetap ada. Tapi di sinilah pengawasan masyarakat bisa berperan. Terutama untuk mendesakkan adanya mekanisme yang bisa menjamin transparansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mubazir ratusan miliar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit selama ini sudah terlalu banyak menangguk untung dan kurang memedulikan kemaslahatan orang banyak. Contoh nyata bisa disaksikan dari membanjirnya keluhan para orangtua murid setiap tahun ajaran baru karena harus membeli buku baru. Buku lama tak bisa dipakai lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem korup mirip mafia yang melibatkan oknum penerbit, percetakan, birokrat di Depdiknas, makelar, sampai para kepala sekolah dan guru ini terjalin sangat rapi dan sistematis. Pendeknya, dari hulu ke hilir digarap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan sistem pengadaan buku yang sedemikian bobrok ini mengakibatkan pemborosan senilai ratusan miliar per tahun sesuai dengan omzet penerbit buku pelajaran. Mengutip angka yang dipaparkan dalam tulisan Junaidi Gafar (Kompas, 24/3), di Indonesia ada sekitar 150 penerbit buku pelajaran. Omzet rata-rata penerbit tersebut mencapai Rp 10 miliar per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana mubazir ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk memintarkan murid dan—terutama— meningkatkan kesejahteraan guru dengan cara lain yang lebih beradab. Karena itu, kebijakan pembelian hak cipta buku pelajaran perlu didukung dan dikawal semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelian hak cipta merupakan langkah desentralisasi. Bagaimana hal itu akan memberdayakan banyak pihak yang selama ini sekadar jadi penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ini pun akan menunjang peningkatan mutu pendidikan. Kebijakan pembelian hak cipta naskah buku, membuat guru tertantang untuk terus mengembangkan kompetensinya. Termasuk bila perlu berkolaborasi dengan pihak lain dan memanfaatkan teknologi untuk mewujudkan buku pelajaran yang berkualitas, baik secara isi maupun penunjang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, kekhawatiran soal desain dan editing buku mestinya tak jadi masalah karena banyak cara bisa ditempuh. Misalnya, menjalin kerja sama dengan para desainer freelance yang jumlahnya begitu banyak. Sumber dayanya sangat memadai, baik dari lulusan akademi grafika maupun para praktisi percetakan. Cara lain yang mungkin lebih efisien, naskah itu dihimpun untuk diperbaiki desainnya dan diedit bersama secara cermat sebelum di-upload ke internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas menekan harga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu semua, pembelian hak cipta naskah buku pelajaran dari SD-SMA/SMK jelas akan memudahkan mereka yang membutuhkan buku. Mereka cukup mengakses di internet dan dalam waktu singkat bisa mendapatkan buku pelajaran dengan harga murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang struktur biaya penerbitan buku—yang tercermin pada harga jualnya—secara umum biaya distribusi adalah yang paling besar porsinya, yaitu hingga 53 persen. Adapun ongkos cetak sekitar 15 persen, royalti penulis 10 persen, dan sisanya adalah laba untuk penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dengan asumsi buku dicetak hanya sebanyak 3.000 eksemplar. Jadi labanya jelas bisa lebih besar lagi kalau dicetak lebih dari jumlah itu. Inilah tampaknya keberatan utama kalangan penerbit yang selama ini terus membela praktik tidak sehat dalam perdagangan buku, bahkan terkesan bernuansa korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang perlu dipikirkan adalah kemungkinan buku bermuatan iklan, seperti halnya koran atau majalah. Jika ini diterapkan, boleh jadi buku akan dibagikan kepada masyarakat secara gratis dan dana dari pemerintah bisa untuk kegiatan lainnya di bidang pendidikan. Tinggal diatur saja secara rinci—dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan—halaman mana saja dari buku pelajaran yang boleh dipasangi ”iklan” dan iklan apa saja yang boleh dipasang. Perusahaan mana yang tak tertarik kalau buku yang disponsorinya itu dicetak dalam jumlah ratusan ribu eksemplar dan didistribusikan ke seluruh pelosok Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau ditelisik lebih dalam soal kesulitan penerbit, kebijakan pembelian hak cipta buku pelajaran ini juga tidak sepenuhnya menutup peluang penerbit. Mereka hanya diminta untuk menekan keuntungan sekaligus ”dipaksa” efisien termasuk mengikis uang suap pada birokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumen tentu tak akan lari kalau memang hasil cetakan penerbit jauh lebih bagus dibanding mencetak sendiri dari hasil mengunduh di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tak sepantasnya pula ada yang keberatan terhadap kebijakan ini, jika niat dasarnya untuk memajukan pendidikan masyarakat. Sudah selayaknya pula kita memanfaatkan kemajuan teknologi yang memang bisa menekan biaya? Bukannya tetap berusaha mempertahankan sesuatu yang sudah usang, tidak efektif, serta merugikan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rab A Broto, Pengamat Perbukuan dan Direktur Sekolah Penulis Pembelajar (SPP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas Edisi 7 April 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-4578476203368937697?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/4578476203368937697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=4578476203368937697' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4578476203368937697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4578476203368937697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/04/tantangan-baru-penerbit.html' title='Tantangan Baru Penerbit'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-8683967537096900439</id><published>2008-04-06T02:37:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T02:38:45.094-07:00</updated><title type='text'>50 Tahun Things Fall Apart</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ditulis oleh seorang Nigeria dan ceritanya pun berlatar negeri itu, novel ini ditabalkan sebagai pintu gerbang yang "wajib" dilalui untuk memasuki jagat batin orang Afrika pada umumnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chinua Achebe menulis Things Fall Apart ketika usianya masih sekitar 20-an. Ia berniat menjadikan novel itu sebagai bogem untuk menghantam kesusastraan Barat, yang turut berperan dalam hegemoni Barat atas Afrika sebagaimana ditelanjangi Edward W. Said dalam Orientalisme. Lewat novel ini ia ingin agar Afrika menceritakan dirinya sendiri. Seteru utamanya adalah novel Heart of Darkness (Jantung Kegelapan) karya Joseph Conrad, pelaut yang kemudian menjadi penulis novel-novel laris tentang benua-benua eksotis (tentu saja dari sudut pandang Barat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Things Fall Apart menceritakan Afrika dari sudut pandang yang berlawanan dengan Heart of Darkness, tepatnya melalui seorang pemimpin suku Igbo bernama Okonkwo. Ia adalah seorang pemimpin yang penting, punya kekuasaan yang besar dan keukeuh pada tradisi. Begitu teguhnya ia memegang tradisi hingga ketika orang-orang kulit putih datang, ia remuk redam oleh perubahan yang mereka bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejak jauh-jauh hari Achebe menekankan bahwa Things Fall Apart tidak mengidealisasikan Nigeria. Okonkwo memang dilukiskan sebagai pemberani dan orang yang terhormat serta mewakili Afrika, tetapi ia juga memiliki sisi gelap. Okonkwo memukul istrinya dan membunuh seorang bocah. Tradisi Igbo lain yang kejam juga dilukiskan, misalnya tradisi meninggalkan bayi kembar di semak-semak agar mati karena bayi kembar dianggap perlambang buruk, atau tradisi mutilasi atas tubuh anak-anak yang mati agar rohnya tidak menganggu ibunya. Achebe cenderung ingin menunjukkan betapa destruktifnya kolonialisme bagi Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini novel klasik itu berulang tahun yang ke-50. Sepanjang umurnya yang sudah tak lagi muda itu, novel ini telah terjual lebih dari 11 juta kopi di 50 negara. Yang lebih penting lagi, novel ini telah menjadi fondasi bagi pemahaman para pembaca sastra dunia non-Afrika atas dunia "hitam" tersebut, dan menciptakan pencitraan yang populer di benak pembaca hingga hari ini. Dalam konteks interaksi antarbudaya, beberapa kritikus meletakkan novel itu sebagai praksis dari wacana perlawanan poskolonial melalui kesusastraan, yang juga dikawal oleh novelis VS Naipaul dengan A House for Mr Biswas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Things Fall Apart memang telah menjadi salah satu karya abadi, namun ia sekaligus juga menjadi milik masa lalu. Afrika telah banyak berubah sejak dekade 60-an. Katastrofi yang melanda Afrika sebagaimana dituliskan Achebe dan pemahaman pembaca kontemporer tentang benua itu akan sukar "ketemu". Nigeria dan negara-negara Afrika lain kini adalah dunia yang dipenuhi mobil, klub-klub malam, rumah sakit, institusi modern, persenjataan modern, dan tata politik modern yang diimpor dari Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achebe pun telah menyadari hal itu, atau lebih tepatnya "meramalkan" --tentu saja dengan intuisi dan subjektivitas seorang sastrawan. Dua tahun setelah novel legendaris itu, ia menerbitkan sebuah novel berjudul No Longer at Ease, yang tidak lagi memandang dan meratapi masa lampau, tetapi berusaha melihat pada keadaan yang ada "di sini" dan "kini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Longer at Ease bisa dianggap sebagai sekuel bagi Things Fall Apart, walaupun secara resmi Achebe tidak menyatakannya demikian. Novel ini berkisah tentang Obi Okonkwo, cucu dari hero tragis Okonkwo dalam Things Fall Apart. Sebagaimana kakeknya, Obi juga menjadi kebanggaan bagi desanya. Sepulang dari tugas belajar di Inggris, Obi digadang-gadang menjadi salah satu pemimpin Nigeria ketika negeri itu hendak menyatakan kemerdekaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Obi menghadapi dunia yang berbeda dari dunia yang dihadapi kakeknya. Dunia Obi adalah dunia semu-Barat (quasi-western) yang dibangun setelah dunia lama remuk redam oleh pertemuan (perbenturan) antara orang kulit hitam dan orang kulit putih. Obi tertarik-tarik antara nilai-nilai lama dan baru. Ia mendapat beasiswa, jatuh cinta dengan wanita yang ditolak oleh orang tuanya, mendapat pekerjaan di instansi negeri. Tetapi tragedi Okonkwo seperti kutukan turun-temurun, menimpa cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali tiba di Nigeria, Obi menjalani hidup yang tenang dan menyenangkan sebagai orang yang berpendidikan Barat. Namun kemudian utang-utangnya menumpuk. Lama-kelamaan ia tak bisa bertahan dari godaan. Ia menghancurkan nilai-nilai tradisional sekaligus hukum-hukum baru dengan melakukan korupsi. Obi terjerumus semakin dalam hingga ia menjadi jenis orang yang dulu sangat ia benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi beberapa kritikus, No Longer at Ease adalah novel Achebe yang lebih relevan dengan situasi Afrika saat ini. Things Fall Apart menyoal tentang kehancuran yang disebabkan oleh pertemuan dua dunia (Barat dan Afrika/non-Barat) dan bernada pesimistik, bahkan elegik (ratapan). Sedangkan novel yang kedua memberikan petunjuk tentang apa yang terjadi bila kedua dunia yang berseteru itu hidup berdampingan, dan dengan demikian memberikan harapan bahwa orang Afrika saat ini tetap bisa bertahan dalam dunia yang telah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Things Fall Apart tetap menjadi landmark dalam kesusastraan Afrika modern dan dunia. Kemunculannya menjadi pendobrak bagi kejumudan sastra Afrika pada masanya, ketika konsepsi literer masih dikuasai roman yang Barat-sentris, primitivisme, dan sentimen-sentimen kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun, Things Fall Apart! (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) An. Ismanto, pegiat buku di Iboekoe, Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 06 Apr 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-8683967537096900439?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/8683967537096900439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=8683967537096900439' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8683967537096900439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8683967537096900439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/04/50-tahun-things-fall-apart.html' title='50 Tahun Things Fall Apart'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2159447425130464374</id><published>2008-03-29T19:52:00.000-07:00</published><updated>2008-03-29T19:56:24.432-07:00</updated><title type='text'>Mengais Realitas dalam Novel Sejarah</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Misbahus Surur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, begitu banyak novel bertemakan sejarah. Novel tersebut tidak sulit kita dapatkan di deretan rak toko buku. Antara lain, novel serial &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gajah Mada&lt;/span&gt; oleh Langit Kresna Hariadi (LKH), lima jilid yang tebalnya lumayan menguras pikiran. Lalu sebuah novel tentang sejarah kehidupan kongsi dagang zaman Hindia Belanda, VOC, berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rahasia Meede&lt;/span&gt;; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Misteri Harta Karun VOC&lt;/span&gt;, yang ditulis E.S. Ito. Tak ketinggalan novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Diponegoro&lt;/span&gt;-nya Remy Sylado, salah satu pengarang yang dikenal setia menekuni genre sejarah, yang sebelumnya sukses dengan duo novel berlatar belakang sejarah,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Ca Bau Kan&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Parisj van Java&lt;/span&gt;.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramainya pasar novel sejarah tersebut, kita harapkan juga meramaikan wacana perbukuan di dalam negeri, khususnya dunia kesusastraan yang masih mengalami kelesuan kritik. Meskipun kenyataannya, novel bergenre sejarah bukan lagi barang baru dalam sejarah novel Indonesia. Kembalinya novel berlatar belakang sejarah ini, tak ayal akan memancing persoalan lama, tentang keafdolan sejarah yang menempel pada sastra: mungkinkah sastra sejarah menjadi rujukan sejarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya sastra memang terkait erat dengan masalah kreativitas dan intens dengan wilayah imajiner. Akan tetapi, pada era belakangan, dengan hadirnya metode-metode baru dalam menelaah karya sastra, ternyata dokumen (karya) sastra dapat dijadikan sumber sejarah (buku teks sejarah). Sebagaimana kata Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI, kurang tepat bila mengatakan sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah. Dengan alasan, zaman sekarang sebagian orang tidak lagi memandang sastra sebagai kajian estetika secara otonom. Novel genre ini telah menakdirkan sejarah sebagai objeknya, bahkan telah memasrahkan diri untuk berenang pada serakan-serakan sejarah yang sering disembunyikan oleh rentang waktu. Peran baru karya sastra ini masih dipertentangkan, karena walaupun bisa dijadikan sumber sejarah, pada sisi lain karya sastra tetap tidak lepas dari substansinya yang imajinatif sekaligus fiktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kuntowijoyo, begawan ilmu sejarah yang juga seorang maestro kesusastraan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengantar Ilmu Sejarah&lt;/span&gt;, 1995), sejarah itu berbeda dengan sastra dalam hal: cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Sastra adalah pekerjaan imajinasi, kebenaran di tangan pengarang, dengan perkataan lain bersifat subjektif. Sastra bisa berakhir dengan pertanyaan, sedang sejarah harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya. Masih menyoal perbedaannya, menurut Kuntowijoyo, bahasa sejarah adalah bahasa yang sederhana dan langsung, persis seperti dalam bahasa sastra modern. Tidak ada bahasa yang berbunga-bunga. Tidak ada "rambutnya bak mayang mengurai", juga tidak "hutan itu selebat jenggot orang Arab" dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa sejarah adalah bahasa sehari-hari. Kalau sejarah melukiskan para gerilyawan minum air, sejarah tidak akan bilang bahwa mereka minum H2O. Dalam pengantar buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Telaah Sastra&lt;/span&gt; (2002), Zainuddin Fananie berpendapat dengan keluarnya sastra dari kreativitas imajiner ke wilayah sejarah, maka sastra secara tidak langsung bisa diletakkan sebagai dokumen sejarah atau dokumen sosial yang kaya dengan visi dan tata nilai suatu masyarakat. Dengan begitu, kajian sastra tidak hanya mengulas persoalan sastra saja, melainkan dapat dikembangkan pada telaah-telaah lain yang bersifat multi dan interdisipliner. Penelitian yang memasuki kawasan ini harus punya cukup bekal. Di samping menguasai teori dan metode, peneliti juga harus mumpuni pada bidang yang lain, semisal psikologi, politik, sosiologi, dan sejarah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara sastra di satu sisi dan sejarah pada sisi lain, mengingatkan kita pada kasus sastra realis, terutama realisme-sosial yang diusung Pramoedya Ananta Toer. Para kritikus sastra pada taraf mula Indonesia, seperti H.B. Jassin, Arief Budiman, Goenawan Mohamad dkk, menyuarakan genre realisme-sosial yang mewarnai karya-karya Pram sebagai karya yang tidak memenuhi ketentuan seni dan sastra. Ini, karena realisme sosial yang tanpa tedeng aling-aling memotret objek, seperti adanya. Kejujuran penulis realisme untuk menggambarkan setiap detail objek tanpa melibatkan perasaan, pikiran, atau keinginannya ke dalam objek yang digambarkan, membuat sastra realisme kena tuduh kehilangan watak khas sastra yang selalu dikelilingi oleh selubung keindahan. Pram bersikeras bahwa keindahan sastra itu bukan dalam mengutak-atik bahasa, tetapi terletak pada kemanusiaan. Artinya perjuangan untuk pengabdian pada kemanusiaan. Bahkan semakin dekatnya sastra realisme sosial dengan realitas, berbuntut polemik panjang di eranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kasus realisme, harus diakui, sastra memang tak pernah jauh berkutat dengan fiksi. Tetapi kita juga tidak bisa menampik, apa yang diolah dan dihasilkan sastra merupakan bentuk peniruan terhadap realita (berangkat dari kenyataan sehari-hari). Dalam hal inilah sastra dikatakan sebagai memesis alam nyata. Seorang pengarang mengolah karya sastra dari apa yang dialami dan dilihatnya. Plato dalam bukunya Republik, yang membicarakan dunia ide, berpendapat, bahwa karya sastra tidak akan sama dengan dunia ide, karena sifatnya meniru. Tiruan sendiri sejatinya tidak akan pernah sama dengan apa yang ditiru (dunia realita). Dalam hal ini Plato membagi realita menjadi tiga tingkatan. Yakni dunia ide, lalu apa yang kita jalani ini (kehidupan sehari-hari), dan tingkatan tiruan (memesis), yang diolah apik oleh ranah kesusastraan. Tingkatan kedua dan ketiga tidak pernah ideal. Karena kebenaran tertinggi menurut Plato hanya ada pada yang ideal (dunia ide).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra di satu sisi dibangun atas dasar fakta-fakta yang berkelebat dalam diri pengarang, dan menampilkannya ke permukaan sebagai sebuah fiksi. Pada sisi lain sejarah terkadang menyembunyikan kebenarannya. Dan anehnya banyak yang hanya berani menampilkannya lewat dunia fiksi. Hakikat sejarah pada umumnya adalah kenyataan, tetapi justru kenyataan itulah kadang yang sering dimanipulasi hingga menimbulkan berbagai versi dan terlihat kontroversi. Akhirnya, sejarah akan tergiring dalam ranah subjektif sebagai sebuah kenyataan objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sastra, teks dan maknanya menjadi otoritas pengarang sepenuhnya. Berbeda dengan sejarah, data-data yang ditampilkan tidak dalam wilayah otoritas pengarang. Data-data sejarah bermula dari pertanyan-pertanyaan yang diajukan sejarawan. Walaupun sejarah berkutat dengan fakta, sejarah tak dapat mengelak dari tuntutan dan kebutuhannya akan corak/pencitraan sastra. Dalam hal ini Kuntowijoyo menyebut sejarah sebagai seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pernah dianggap sebagai cabang sastra pada zaman romantik. Yakni pada akhir abad 18 dan permulaan abad 19. Penulisannya pun disesuaikan dengan menulis sastra, harus melibatkan emosi. Penulis sejarah dituntut pandai membuat pembaca sejarah seolah hadir dan merasakan sendiri berbagai peristiwa yang ia baca. Sejarah juga memerlukan imajinasi. Sejarawan yang meneliti sejarah harus dapat membayangkan apa sebenarnya, apa yang sedang terjadi, dan apa yang terjadi setelah itu. Ketika sejarawan ingin mempelajari sebuah perlawanan gerilya di hutan, misalnya, ia harus mampu mengimajinasikan tentang hutan, sungai, malam hari, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah, tugas utama sejarawan bukanlah menghafal fakta-fakta di luar kepala saja, akan tetapi yang lebih utama adalah merekonstruksi fakta-fakta sejarah. Untuk itulah akurasi (ketepatan) dan objektivitas adalah dua hal yang harus dipenuhi dalam penulisan sejarah. Cara pengungkapan sejarah yang terbilang apresiatif melalui data-data empiris dan tulisan (narasi) tak berbeda jauh dari pengungkapan karya sastra. Cuma yang dikhawatirkan jika sejarah terlalu dekat dengan seni maka sejarah akan kehilangan keakuratan dan keobjektivitasannya. Menampilkan fakta sejarah dalam kemasan fiksi bukanlah untuk menunjukkan bahwa sejarah yang selama ini kita pahami adalah palsu. Hal tersebut dimunculkan dengan tujuan menawarkan berbagai kemungkinan. Yang dengan itu pula dapat mengganggu kemapanan fakta sejarah yang selama ini ada dan mapan dalam pikiran kita. Dunia yang tertutup oleh akurasi data diobrak-abrik oleh warta kemungkinan-kemungkinan. Layaknya kerja dekonstruksi yang mencurigai adanya berbagai kemungkinan di balik bercokolnya teks otoritatif, dengan menawarkan pembacan ganda terhadap kemapanan logosentrisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari polemik di atas, yang bisa menjadi catatan, kita tetap percaya ada kejernihan di balik terjadinya polemik. Ketika karya sastra dapat dijadikan sebagai rujukan sejarah, dengan begitu maka sastra telah membuktikan dirinya sebagai ilmu yang bukan hanya bicara persoalan kreativitas dan rentetan imajinasi, tetapi dapat pula berfungsi sebagai dokumen sejarah. Dari sini, ilmu sastra akhirnya dapat menembus kungkungan kodratnya sebagai ilmu yang mengikat. Di samping sastra sendiri memang tidak pernah lepas dari masalah kemanusiaan yang diolahnya (sastra menjadi satu-satunya kajian yang elegan dalam mengungkap sisi lain diri manusia). Begitu pula kita harus mengusahakan membaca buku sejarah layaknya membaca novel, mengalir dan mudah untuk mencerna. Hal tersebut bisa terwujud dengan menciptakan alur dalam sejarah layaknya yang ada dalam novel, yaitu dengan membaginya dalam tiga tahap: pengenalan, krisis dan solusi. Maka, tak pelak novel sejarah sangat mungkin menjadi salah satu jalan untuk mendalami sejarah. Karena penceritaan dengan latar belakang sejarah, sejauh ini dapat membuat pembaca seakan-akan hidup di zaman sejarah tersebut. Bahkan novel yang dibawakan akan lebih nyaring bila penulisnya adalah pelaku ataupun saksi sejarah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, novel-novel Pram sangat kental dengan nuansa perjuangan (sejarah), bahkan dengan sangat baik dan berhasil menghipnotis pembacanya, terutama dari kalangan kaum muda (baca: mahasiswa), dikarenakan ia sendiri adalah pelaku sekaligus saksi sejarah yang ia tulis. Mungkin seribu penulis novel sejarah sekarang tak ada yang bisa menandingi cara bertutur Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, saat ini ternyata banyak sekali sejarah yang belum ditulis. Salah satu penyebabnya mungkin kentalnya budaya lisan masyarakat. Jika sejarah adalah kenyataan itu sendiri, maka perjalanan hidup kita hari ini dan juga negeri ini harus bisa sampai pada anak cucu kita kelak, meskipun melalui novel. Sejarah seringkali diingkari bahkan dilupakan oleh bangsa ini. Sebab minimnya greget membaca atau dengan alasan yang lain. Sejarah juga amat sering direkayasa, dibelokkan dari relnya demi kepentingan politik semata. Dengan hadirnya novel-novel bermuatan sejarah, kita baru tersadar, betapa sejarah sangat penting untuk menakar arus balik atau maju mundur kehidupan ini. (*)&lt;br /&gt;*) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Misbahus Surur&lt;/span&gt;, penggiat dunia sastra, tinggal di Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digunting dari Harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos &lt;/span&gt;Edisi 30 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2159447425130464374?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2159447425130464374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2159447425130464374' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2159447425130464374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2159447425130464374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/03/mengais-realitas-dalam-novel-sejarah.html' title='Mengais Realitas dalam Novel Sejarah'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-4363008155853643365</id><published>2008-03-23T16:30:00.000-07:00</published><updated>2008-03-23T16:32:37.925-07:00</updated><title type='text'>Tidak Gampang Beli Hak Cipta Penerbit</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Junaidi Gafar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah berencana membeli hak cipta naskah buku pelajaran untuk murid setingkat SD, SMP, dan SMA/SMK. Naskah buku tersebut sebelumnya harus lolos Badan Standar Nasional Pendidikan. Pembelian naskah buku tersebut dimaksudkan untuk menekan harga jual buku yang sekarang ini dirasakan cukup mahal.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung langkah ini sebenarnya Menteri Pendidikan Nasional melalui Badan Standar Nasional Pendidikan telah mengumumkan judul-judul buku yang akan dinilai dan dibeli pemerintah pada 29 Januari 2008. Mendiknas juga sudah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 2 Tahun 2008 sebagai pengganti Peraturan Menteri Nomor 11 Tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pasal 11 Peraturan Mendiknas (Permendiknas) Nomor 2 Tahun 2008 secara jelas dinyatakan bahwa hanya buku yang telah dibeli hak ciptanya yang boleh dijual di sekolah. Ini artinya apabila penerbit ingin bukunya dipakai di sekolah, maka harus dinilai terlebih dahulu dan kemudian hak ciptanya dibeli oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, menurut permendiknas tersebut, buku yang telah dibeli hak ciptanya dapat digandakan dan diperjualbelikan oleh siapa saja (tidak harus penerbit/penulis yang menerbitkan pertama kali) dengan izin resmi pemerintah. Maka, penerbit/penulis buku yang telah menjual hak ciptanya harus siap berkompetisi menjual produk mereka sendiri (bila punya percetakan) dengan perusahaan lain, termasuk dinas pendidikan, departemen agama, dan instansi pemerintah lainnya yang telah memperoleh izin cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang paling mendasar untuk berjalannya program ini adalah dari mana pemerintah mendapatkan buku-buku tersebut? Dari penulis atau dari penerbit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelian hak cipta dari penulis (penulis ikut mendesain fisik bukunya sendiri) mungkin dapat dilakukan, tetapi hasil yang diperoleh jelas tidak akan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buku tidak sama dengan menerbitkan buku. Seorang guru atau dosen bisa jadi seorang penulis buku pelajaran yang baik. Akan tetapi, tanpa penerbit yang mampu mendesain buku dan mengedit tulisan tersebut, tulisan itu bisa tidak berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cuma 37 naskah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2007 pemerintah telah menempuh langkah membeli hak cipta langsung dari penulis. Hasilnya, dari 300 lebih naskah yang ikut, hanya ada 37 naskah (lebih kurang 10 persen) yang bisa masuk kategori layak untuk digunakan sebagai sumber belajar yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan membeli dari penerbit? Pemerintah, dalam hal ini Mendiknas, sepertinya tidak dapat membedakan antara penulis dan penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit adalah institusi bisnis yang mempekerjakan banyak orang. Apa jadinya bila hak cipta produk mereka dijual. Aktivitas bisnis mereka akan terhenti dan selanjutnya mereka harus jadi kuli yang menjual produk mereka sendiri, bersaing dengan pebisnis lain yang mengantongi izin Depdiknas. Itu sama artinya seorang petani yang menjual sawah ladangnya kepada orang lain untuk kemudian bersedia menjadi buruh tani dengan upah terbatas di sawah dan ladang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaran pemerintah dengan kisaran harga hak cipta Rp 100 juta mungkin angka yang cukup besar untuk penulis perorangan, tetapi tentu saja akan sangat kecil bagi penerbit. Untuk memperjelas masalah ini mari kita lihat perbandingan antara harga pembelian pemerintah dan rata-rata omzet penerbit setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah akan membeli hak cipta (copy right) dari penerbit sebesar Rp 100 juta per judul buku (ada 250 judul yang akan dibeli) atau Rp 25 miliar sebelum dipotong pajak (Untuk penulis potongan sampai 20 persen dari harga pembelian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibagi dengan jumlah penerbit buku pelajaran di Indonesia (150 penerbit), masing-masing penerbit secara rata-rata hanya akan mendapat sekitar Rp 160 juta untuk waktu 15 tahun. Bandingkan dengan omzet rata-rata penerbit yang mencapai Rp 10 miliar per tahun. Atau Rp 150 miliar untuk waktu 15 tahun. Ibarat bumi dengan langit bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pemaksaan pembelian hak cipta (secara halus dengan adanya Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008) juga akan menimbulkan persaingan usaha tidak sehat. Saat ini, dari 150 penerbit buku pelajaran di Indonesia, hanya sekitar 15 penerbit yang memiliki percetakan sendiri. Sebagian besar penerbit membayar ongkos cetak kepada percetakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu langkah pemerintah memaksakan membeli hak cipta perlu ditinjau ulang. Ini bukanlah cara yang bijak menyelesaikan masalah mahalnya harga buku pelajaran di Indonesia. Sejarah dunia pendidikan di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Industri buku pelajaran sudah menjadi bagian penting dari dunia pendidikan di Indonesia sejak awal. Industri ini juga telah memberi ribuan kesempatan kerja dan berkarya bagi anak bangsa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit adalah industri yang apabila dimatikan akan menimbulkan efek sosial yang berantai seperti pemutusan hubungan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak menafikan bahwa langkah pemerintah ini ditujukan untuk mendapatkan buku pelajaran yang murah dan terjangkau daya beli masyarakat. Akan tetapi, langkah yang ditempuh tidak bisa dengan serta-merta mematikan industri buku pelajaran dengan membuat kebijakan pembelian hak cipta ini. Saya khawatir pemerintah akan gagal dengan program ini, dan ini akan menyebabkan makin merosotnya wibawa pemerintah di mata masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hemat saya, langkah menetapkan harga maksimal buku pelajaran untuk SD dan SMP tahun 2005 sudah sangat bagus. Pemerintah seharusnya secara konsisten bergerak dengan langkah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kedua, pemerintah perlu menindak tegas penerbit yang melakukan manipulasi harga atau menciptakan persaingan usaha tidak sehat. Pemerintah harus bertindak terhadap pihak-pihak yang bermain mata dengan sekolah dan dinas pendidikan sehingga terjadi praktik monopoli dalam satu sekolah atau daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga jangan suka berganti kebijakan dalam waktu singkat. Tahun 2005 Mendiknas menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 26 yang mengatur judul buku Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia SMP dan SMA yang layak dipakai di sekolah untuk waktu lima tahun. Sekarang, baru dua tahun telah muncul lagi keputusan baru yang membatalkan keputusan tersebut. Bayangkan pemborosan yang terjadi karena saat ini ada ratusan ribu buku yang direncanakan dijual penerbit untuk lima tahun menumpuk jadi sampah tak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya permasalahan buku pelajaran di Indonesia tidak akan dapat diselesaikan dengan pendekatan kekuasaan melalui pembelian hak cipta semata. Pemerintah perlu duduk bersama dengan asosiasi penerbit dan menemukan solusi yang terbaik dan memuaskan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Junaidi Gafar&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengamat Perbukuan, Pengajar pada Program Manajemen Penerbitan dan Grafika Politeknik Negeri Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas 24 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-4363008155853643365?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/4363008155853643365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=4363008155853643365' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4363008155853643365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4363008155853643365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/03/tidak-gampang-beli-hak-cipta-penerbit.html' title='Tidak Gampang Beli Hak Cipta Penerbit'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-4489970239604000651</id><published>2008-03-22T20:05:00.000-07:00</published><updated>2008-03-22T20:08:56.805-07:00</updated><title type='text'>Mengaji Srintil</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh D. Zawawi Imron&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu yang lalu, pagi-pagi buta, saya dan Ahmad Tohari berangkat dari Jogja menuju kota Wonosobo, yang berada di punggung Jawa Tengah. Pada Minggu yang ramah itu kami sengaja memilih jalan yang tidak ramai agar segera sampai tujuan. Lewat Mendut dan sisi timur Borobudur, lalu masuk ke pedesaan melalui jalan berliku-liku sampailah kami di Wonosobo. Kami menuju SMA Takhassus, 3 kilometer di luar kota.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ, kami dan anak-anak SMA Takhassus mengaji tentang "Srintil", tokoh utama novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ronggeng Dukuh Paruk&lt;/span&gt; karya Ahmad Tohari. Menurut Maria Boniok yang menjadi pembahas, novel Tohari itu sangat menarik karena tokoh yang ditampilkan punya karakter yang kuat, di samping kemampuan Tohari begitu terampil bercerita tentang alam secara detail dan cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju dengan pendapat Maria. Pengembangan karakter tokoh-tokoh dalam Ronggeng Dukuh Paruk benar-benar membuktikan bahwa Tohari adalah pengamat watak yang cermat dan bisa memberi ciri yang jelas watak dan kepribadian tokoh-tokoh rekaannya. Meskipun sebuah novel adalah sebuah dunia rekaan (fiksi), Tohari membangun tokoh rekaannya selalu bertumpu pada realitas kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tokoh utama yang ditampilkan bukan orang yang baik seratus persen, bukan orang yang berhati putih tanpa noda dan dosa. Dalam novel itu ada tradisi yang menyakitkan, yaitu tradisi bukak klambu, lelang keperawanan ronggeng kepada lelaki yang mampu membelinya dengan harga mahal. Tetapi sebelum pelelangan itu, tokoh Rasus, pacar Srintil, diceritakan sempat melakukan coitus dengan Srintil. Sepasang muda-mudi teman sekampung di Dukuh Paruk itu melakukan "zina". Sebuah perlawanan terhadap tradisi atau perwujudan dari cinta, atau gabungan dari keduanya? Masing-masing pembaca punya hak memberi interpretasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika novel itu baru terbit (1980-an), Tohari banyak mendapat kritik dari kalangan agama karena ia menceritakan dunia rongeng, sedangkan Tohari adalah putra tokoh agama yang memimpin pesantren. Seandainya kisah ronggeng itu ditulis oleh bukan Tohari, alur ceritanya tentu bisa menjadi lain, karena setiap pengarang punya imajinasi dan gaya bercerita yang berbeda. Paling tidak, Tohari telah menyelami sebuah dunia yang penuh geliat perjuangan dan penderitaan dengan latar belakang sebuah dusun sunyi yang tidak ada di dalam peta. Dukuh Paruk jelas bukan Jakarta, bukan Singapura, dan bukan New York yang mudah dicari di atlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Dukuh Paruk tidak ada di dalam peta, kampung itu jadi terkenal dalam pencaturan sastra sampai ke mancanegara. Novel itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jepang, dan lain-lain, karena cara bercerita Tohari yang sangat menarik dan menyuguhkan kepedihan manusia secara realistit. Tohari tidak menghidangkan cerita yang membuat pembaca bermimpi tentang hidup senang dan tenteram tanpa perjuangan yang keras. Kisah Srintil tidak membuat pembaca ingin seperti Srintil. Tetapi pembaca mendapatkan pengalaman duka kemanusiaan yang mendalam sehingga punya sedikit bekal bagaimana mengunyah kepahitan hidup. Dari sini manusia diberi sinyal untuk tegar bergelut dan merenungi hidup menuju kearifan, atau paling tidak kepekaan terhadap duka dan derita hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Tohari memang tidak ingin sekadar menghibur pembaca. Lebih dari itu dia ingin berbagi rasa dalam puncak-puncak kepedihan dan kegetiran yang singgah bersama musibah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosialisasi "Srintil" di SMA Takhassus pada 9 Maret 2008 di pesantren itu atas restu kiai. Karena itu, seusai acara kami diundang kiai untuk makan siang. Agaknya, kiai ingin punya murid yang punya apresiasi sastra, kepekaan estetik, dan penghayatan terhadap duka kemanusiaan lewat liku-liku kehidupan ronggeng yang jauh berbeda dengan nilai kehidupan pesantren. Sebuah upaya agar dunia ini tidak terasa sempit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari Wonosobo, saya cari buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ronggeng Dukuh Paruk&lt;/span&gt;. Saya ingin membacanya kembali, mengasah rasa kemanusiaan saya, karena saya tetap ingin terharu mendengar perjuangan orang miskin, busung lapar, dan air mata akibat kezaliman. Tapi dengan terharu saja tidak cukup. Kita perlu sikap dan tindakan untuk memaknai keterharuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt; Edisi 23 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-4489970239604000651?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/4489970239604000651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=4489970239604000651' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4489970239604000651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4489970239604000651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/03/mengaji-srintil.html' title='Mengaji Srintil'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-8802800560077454396</id><published>2008-03-22T20:01:00.000-07:00</published><updated>2008-03-22T20:03:31.051-07:00</updated><title type='text'>Penulis dengan Sayap Tragedi</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Munawir Azis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penulis merupakan pilihan hidup yang membutuhkan kerja keras dan "tangis darah" yang senantiasa meletup. Walaupun kelihatannya sebagai kerja kreatif yang tak membutuhkan keringat mengucur, seperti halnya kerja fisik, akan tetapi dalam proses menulis, tak hanya energi tubuh yang menguar, pikiran pun senantiasa "membara" dan membutuhkan konsentrasi berlipat. Maka,walaupun Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa "mengarang itu gampang", tak serta merta pilihan hidup menjadi penulis semudah membalikkan telapak tangan. Kun fayakun!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja kreatif dalam menulis membutuhkan energi yang berlipat dan pasokan "bahan bakar" yang tak boleh kering. Komitmen, visi, dan integritas diri menjadi taruhan penting bagi masa depan penulis. Apakah kita hanya menjadi penulis yang berkibar sejenak, menghasilkan karya, setelah itu tenggelam dalam catatan sejarah usang? Atau, menjadi penulis terkenal, tapi disertai dengan kerja keras, air mata yang meleleh dan darah yang mengucur setiap saat sebagai lambang kesungguhan? Pada titik inilah, pilihan hidup menjadi penulis tangguh dipertaruhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pengarang (cerpenis, penyair, novelis, dan kolumnis) yang menyejarah, tidak sekadar hadir dan menyemburkan ide-ide kreatif di berbagai media. Akan tetapi, kehidupan pribadi menjadi "sisi lain" yang menunjang kecemerlangan karya yang dihasilkan. Karya kreatif yang lahir dari rahim pemikiran serta imajinasi penulis, telah melampaui serangkaian pengalaman atas kejadian, perenungan, dan implementasi menjadi sebuah narasi. Maka, pernyataan sastrawan Budi Darma sangat relevan, bahwa pada akhirnya menulis tidak sesederhana yang terlihat pada kacamata khalayak. Proses menulis dan menjadi penulis tangguh harus melalui liku jalan dan lorong yang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penulis tangguh dan menyejarah, membutuhkan kerja keras, keberanian, dan komitmen diri yang tak pernah surut. Selain itu, kisah tragis yang mewarnai kehidupan pribadi menjadi elemen penting yang mengukuhkan karya dan menyuguhkan simpati pembaca. Dan, Misha Defonseca telah membuktikannya. Novelis ini hidup dalam suasana tragis yang menggurat dalam hidupnya sejak kecil. Dalam novelnya, Surviving with Loves (Bertahan Hidup dengan Serigala), dikisahkan pengalaman pedih yang dijalani untuk bertahan hidup ketika kecil. Misha hidup dengan ditemani serigala, setelah orang tuanya ditangkap nazi Jerman (Gestapo Nazi) pada 1941 di Brussels, Belgia. Misha -bersama serigala, teman hidupnya- menjelajahi Belgia, Jerman, Polandia, dan negeri lain sejauh lebih dari 3.000 km untuk mencari orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, setelah novel ini diangkat ke layar lebar, dengan judul Survivre Avec les Loups yang di-launching di Belgia, Misha mengungkap kisah hidup sebenarnya. Dia mengaku secara jujur bahwa cerita yang ada dalam novelnya merupakan kebohongan. Dan, secara terbuka, Misha memohon kepada publik yang telah membaca karyanya agar memaafkan kesalahannya. Pada titik inilah, tragedi sebenarnya terungkap. Misha dengan jujur mengatakan, kebohongan itulah trik pribadinya agar dapat bertahan hidup, ketika tinggal sebatangkara dan tidak ada pertolongan pada dirinya (JP, 2/3/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah hidup Misha yang tragis -walaupun disertai dengan aroma kebohongan- mengundang empati yang luar biasa dari pembaca. Inilah sebentuk lorong panjang untuk menjadi penulis terkenal yang dipuja publik luas. Tragedi yang menggurat dalam kehidupan pribadi penulis, menjadi lompatan sejarah untuk mengangkat nama dan karya penulis pada tingkat publisitas yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederetan penulis dunia yang melahirkan karya monumental, juga disertai sejarah pribadi yang tragis dan kelam. Novelis dunia yang pernah meraih nobel pada 1982, Gabriel Garcia Marquez dengan One Hundred Years of Solitude yang konon ditulis selama tiga tahun dengan ancaman finansial bagi keluarga penulisnya. Pengalaman hidup Garcia Marquez yang menggetarkan juga mengantarkan karyanya pada puncak penghargaan. Penulis masyhur lainnya, semisal Franz Kafka, Jorge Luis Borges, Leo Tolstoy, merupakan penulis dengan segumpal tragedi yang mewarnai hidupnya. Dengan demikian, kisah hidup dramatis dan penuh tantangan yang dijalani secara faktual oleh penulis, menjadi "amunisi" untuk meletupkan karya kreatif yang memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penulis terkemuka Edward W. Said yang melahirkan karya terkenal, Orientalism, Culture and Imperialism, The Edward Said Reader dan Covering Islam, serta beberapa karya lainnya juga didesak oleh keinginan untuk menemukan jati dirinya. Dalam Out of Place (2000), diceritakan bahwa gairah menulis Edward W. Said yang senantiasa membara sebagai lorong untuk menemukan identitas dirinya, yang sejak kecil selalu terhimpit ejekan, perasaan terbuang, terasing, dan perasaan tak nyaman dari lingkungan. Pencarian panjang penuh liku membuat ide Edward W. Said dalam beberapa karyanya fantastis dan fenomenal. Bahkan, karya Said menjadi rujukan studi poskolonial (post-colonial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini, sastrawan agung Pramoedya Ananta Toer juga hidup dengan nafas dan kisah tragis yang menyesaki rongga hidupnya. Pada masa mudanya, Pramoedya berkali-kali mendapat ancaman dari penguasa negeri ini. Karya-karya Pram dibakar dan dimusnahkan karena disinyalir merepresentasikan ideologi komunis dari PKI. Padahal, karya yang dimusnahkan itu merupakan karya agung yang memiliki nilai sejarah gemilang dan menggambarkan peristiwa penting yang bernilai edukatif. Bahkan, Pram pernah menjalani hukuman dan pembuangan di Pulau Buru. Di tempat inilah, lahir karya monumental dari tangannya, seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, dan beberapa karya lain. Kisah Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer itu didongengkan terlebih dahulu, setelah itu baru ditulis di mesin ketik. Hegemoni penguasa yang memperangkap penulis ke dalam ruang hukuman justru menimbulkan ledakan semangat baru untuk memberontak dan menulis gumpalan kekecewaaan. Letupan semangat inilah yang mendorong lahirnya karyakarya yang menyejarah dan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks inilah, kerja keras dan perjuangan penulis diuji secara nyata. Apakah seorang penulis dapat mencerap manisnya kegetiran hidup sebagai pemantik imajinasi melahirkan karya agung. Atau justru terjerembab pada lubang putus asa yang tak berujung. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Munawir Aziz&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pemerhati sastra dan peneliti pada Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 23 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-8802800560077454396?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/8802800560077454396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=8802800560077454396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8802800560077454396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8802800560077454396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/03/penulis-dengan-sayap-tragedi.html' title='Penulis dengan Sayap Tragedi'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-5985636162708647491</id><published>2008-03-16T03:15:00.000-07:00</published><updated>2008-03-16T03:18:17.423-07:00</updated><title type='text'>Pengembaraan Dua Sejarawan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Heri Priyatmoko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, tidak banyak penulis yang melakukan suatu pengembaraan dari buku ke buku, yang kemudian hasil pengembaraan itu dituangkan menjadi sebuah buku. Mungkin baru P. Swantoro dan almarhum Kuntowijoyo. Contoh, hasil coretan tangan sejarawan sekaligus wartawan, P. Swantoro &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu&lt;/span&gt; (2002). Selanjutnya, Kuntowijoyo dengan buku terakhirnya setelah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengantar Ilmu Sejarah&lt;/span&gt; (1995), dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Metodologi Sejarah&lt;/span&gt; (1994, 2003, ed. kedua), yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penjelasan Sejarah&lt;/span&gt; (Historical Explanation) (2008). Lengkap sudah trilogi kitab Kuntowijoyo tentang ilmu sejarah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;P. Swantoro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Posisi sebagai sejarawan dan wartawan, membuatnya tak pernah berhenti menimba hal-hal baru di lapangan saja Buku tak ubahnya ladang pengembaraan intelektualitas. Swantoro mengakui, pengalamannya dengan buku sudah dimulai sejak masih bocah, sehingga tidak kurang dari 200 buku yang diuraikannya dengan menarik dan sekarang ini mampu tampil seolah-olah sebuah pribadi hidup. Ini semua berasal dari lebih tiga ribu buku miliknya pribadi yang selama puluhan tahun secara tekun dikumpulkan satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, Swantoro tidak melakukan sebuah analisis, melainkan bertutur tentang beragam jenis buku yang pernah dibacanya. Lebih mirip tinjauan buku yang dimuat di surat kabar atau majalah. Yang memukau, jumlahnya ratusan buku. Dengan kemahiran bahasa Belanda, dia tak kesulitan mengupas tuntas buku karangan orang Belanda. Penulis mendongeng sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah menyimak karya J. Th. Petrus Blumberger: De Communistische Beweging in Netherlandsch Indie, dan disusul bukunya Daniel Marcellus G. Koch Om de Vrijheid: De Nationalische Beweging in Indonesie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penceritaan ulang Perang Diponegoro begitu elok hanya bermodal buku S. van Praag, Onrust op Java, De Jeugd van Pangeran Dipanagara; Een Historisch-Litteraire Studie (1947). Diceritakan Swantoro bahwa separo isi buku karya Praag itu hasil kutipan penting dari Babad Dipanagara. Praag mengenal namanya setelah Dipanagara mendekam di kamp tawanan Jerman di Westerbok, Negeri Belanda, saat tentara Jerman menduduki negeri itu pada Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swantoro mengagumi tokoh W.J. S. Poerwadarminta, PJ. Zoetmulder, dan Sartono Kartodirdjo. Poerwadarminta, meskipun hanya seorang lulusan Normalschool, terbukti mampu membuktikan dirinya sehingga bisa tumbuh dan menjadi leksikograf terbaik di Indonesia. Keberhasilan Poerwadarminta menjadi ahli kamus akibat ketidakadilan yang ia alami. Guru lulusan Normaalschool itu hanya digaji 40 gulden, sementara lulusan Kweekschool, sekolah guru yang juga empat tahun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, digaji 75 gulden. Karena itu, para siswi sekolah guru menjulukinya sebagai sega abang (nasi merah), sedangkan lulusan Kweekschool sebagai sega putih (nasi putih). Rasa rendah dirinya memacu Poerwa mempelajari banyak bahasa khususnya bahasa Belanda dan bahasa lain dan kelak ia menjadi ahli kamus terkemuka (hlm. 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata Parakitri dalam prakata, membaca buku ini ibarat seorang kakek mengajak cucunya berjalan-jalan ke taman bunga, dan menjelaskan sekemampuannya kepada si cucu berbagai macam bunga di taman itu satu demi satu. "Perkelanaan memori" itulah yang menyebabkan buku macam ini tidak ada duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuntowijoyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dijuluki sejarawan ternama, Kuntowijoyo adalah satrawan dan budayawan yang mumpuni. Beliau telah pergi pada 22 Februari 2005. Ia hidup untuk 3S, yaitu sejarah, sastra dan Susilaningsih (nama istrinya). Di buku terakhirnya, penulis juga berkelana mengajak pembacanya menelusuri sekitar 60 buku babon yang sangat berpengaruh untuk pengembangan Ilmu Sejarah di Indonesia. Hanya saja, kalau Swantoro sebatas pada cerita sejarah, Kuntowijoyo lebih menekankan pada seperangkat teori yang dipakai untuk kerja pada penulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, Kuntowijoyo memaparkan satu per satu karya penulis asing maupun Indonesia. Buku yang ia kaji antara lain, M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia (1982), mahakarya Denys Lombart tiga jilid (1996), karya antropolog Cliford Geertz (1971, 1973, 1974, 1987, dan 2000), buku bengawan sejarah Sartono Kartodirjo (1966, 1972, 1987, dan 1999), Sejarah Nasional Indonesia I-IV dan masih banyak lagi. Penulis membagi menjadi sembilan pokok permasalahan. Di antaranya, hakikat sejarah, periodisasi, kausalitas, analisis struktural, paralelisme, generalisasi sejarah, sejarah dan teori sosial, kuantitatif dan sejarah naratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sia-sia, hasil penjelajahan dari buku ke buku yang dilakukannya, Kuntowijoyo meramu hakikat penjelasan sejarah yang selama tiga dekade pada abad XX menjadi bahan perdebatan dan ketidaksepakatan di antara kaum positivisme dan kaum idealis dalam pendekatan sejarah. Hal itu jelas akan berdampak luas dalam perdebatan hangat mengenai historiografi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesamaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini buku yang muncul berkat pergulatan mendalam sejarawan dengan buku yang tidak terbatas jumlahnya. Andaikan disejajarkan, ibarat bocah kembar. Kedua buku ini kiranya jarang dalam jenisnya, sebuah buku yang berupaya menuturkan tentang puluhan hingga ratusan buku yang telah dibaca oleh penulisnya. Apalagi, terungkap betapa luasnya pengetahuan kedua penulis sehingga mampu mengajak pembaca untuk menyelami isi buku-buku yang bermutu, meski hanya sekilas informasi yang diberikan oleh penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cerdik, kedua sejarawan berupaya menelaah isi buku dengan ilmu yang mereka peroleh di bangku jurusan sejarah UGM. Mereka searah, sama-sama berkutat dengan peristiwa dan karena itu juga dengan sumber, waktu, tempat, lingkungan, keadaan, serta efek dan interpretasi. Kesamaan lain yang tak terlihat adalah mereka mewarisii sikap keilmuwan sang guru, yaitu Sartono dengan asketis intelektualnya. Meski tubuh rapuh akibat sakit tahunan atau karena umur yang tidak lagi muda, semangat untuk berkarya masih terpelihara. Itulah teladan yang sangat sulit dicari bandingannya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Heri Priyatmoko&lt;/span&gt;, peneliti sejarah di Kabut Institut, Solo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 16 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-5985636162708647491?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/5985636162708647491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=5985636162708647491' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5985636162708647491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5985636162708647491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/03/pengembaraan-dua-sejarawan.html' title='Pengembaraan Dua Sejarawan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-1688058141887823468</id><published>2008-03-08T14:57:00.000-08:00</published><updated>2008-03-08T15:00:16.737-08:00</updated><title type='text'>Politik sebagai Panglima Buku</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M. Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebelumnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;book fair&lt;/span&gt; atau pesta buku hanya milik kota-kota besar seperti Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan Surabaya, maka saat ini nyaris setiap kota di Jawa memiliki agenda mengadakan acara pesta buku. Itu berita baik, walau kerap disorot banyak pihak dengan lensa negatif: hanya memindahkan toko buku ke arena pameran.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kapan pameran buku pertama kali dilaksanakan? Mengikuti siklus kronik, pameran buku tahunan pertama kali digelar pada Juli 1958 di Jakarta. Saat itu namanya Gelanggang Buku dan diselenggarakan para pengusaha toko buku yang tergabung dalam Persatuan Toko Buku Indonesia (PTBI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelanggang Buku I diikuti sekira 23 peserta, Gelanggang Buku II pada 1959 diikuti 16 peserta, Gelanggang Buku III pada 1960 diikuti 16 peserta, Gelanggang Buku IV pada 1961 diikuti 13 peserta, dan Gelanggang Buku V pada 1963 diikuti 23 peserta. Sementara pengunjung umumnya warga Jakarta atau kota-kota sekitarnya dari beragam golongan, seperti tokoh-tokoh partai politik, organisasi massa revolusioner, pejabat pemerintah sipil dan militer, sastrawan, sarjana, mahasiswa, pelajar, dan pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jangan bayangkan pada masa itu pameran buku adalah ajang tatap muka pembaca dan pengarang atau sekadar memindahkan toko buku ke arena pameran. Pameran buku bukanlah pesta (ajang jualan dan hiburan melepas penat). Pameran buku adalah politik. Stan-stan buku yang berdiri tak ubahnya arena adu poster ideologi. Barangkali karena itulah dinamakan Gelanggang Buku. Gelanggang biasanya merujuk pada arena pertandingan atau konfrontasi yang merujuk pada pameran kekuatan (ideologi). Dalam hal ini antara kebudayaan degenerasi borjuis dan kebudayaan rakyat, atau antara kebudayaan kapitalis dan kebudayaan sosialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keyakinan bahwa tak ada buku dan penerbit yang netral. Segala jenis buku, sampai juga kepada buku bacaan anak dan buku pelajaran berhitung, ilmu bumi, dan sejarah untuk sekolah rakyat ataupun buku pengetahuan umum "biasa" memiliki sifat politik. Buku-buku itu bisa mendidik semangat revolusioner dan bisa menanamkan jiwa kontra-revolusioner dan/atau bisa membikin orang menjadi linglung di jalan "tengah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terkadang penilaian tak selalu dari segi produk yang diterbitkan, melainkan juga dari besar kecilnya stan yang dibuka. Pada Gelanggang Buku II yang berakhir pada 11 Juli 1959, misalnya, Penerbit Jajasan Pembaruan milik PKI mengklaim bahwa merekalah satu dari tiga toko buku dengan stan terbesar dengan dekorasinya yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stan terbesar yang lain adalah Soeroengan dan Djambatan. Toko-toko buku seperti Gunung Agung, Pembangunan, Pembimbing, dan Indira menempati kedudukan kedua. Sedang Bulan Bintang (yang dekat dengan Masjumi) dan Pustaka Rakjat (yang dekat dengan PSI) memiliki stan terkecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing penerbit memiliki produk andalannya masing-masing. Di Gelanggang Buku II tahun 1959, misalnya, penerbit Soeroengan mengandalkan tulisan Prof Soekanto, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hubungan Diponegoro-Sentot&lt;/span&gt;. Adapun penerbit Djambatan mengandalkan terbitan karya Ajib Rosidi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tjerpen Indonesia&lt;/span&gt;, dan Slamet Muljana, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Politik Bahasa Nasional&lt;/span&gt;. Jajasan Pembaruan tampil dengan produk andalannya --atau mereka menyebutnya "bom atom"-- &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pilihan Tulisan D.N. Aidit Jilid I&lt;/span&gt; yang tebalnya 540 halaman. Buku ini diterbitkan tepat pada saat Gelanggang Buku II dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di arena Gelanggang Buku itu, Jajasan Pembaruan menjadi "pemasok tunggal" terjemahan-terjemahan karya klasik Karl Marx, Friederich Engels, dan Lenin. Selain itu, di stan Pembaruan juga muncul karya-karya sastra dari eksponen Lekra seperti Hr. Bandaharo: Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih , Zubir AA: Lagu Subuh, puisi terjemahan Iramani dan Agam Wispi: Ho Chi Minh Sadjak2; Bachtiar Siagian: Batu Merah Lembah Merapi. Tak ketinggalan, stan Jajasan Pembaruan juga dipenuhi delapan jenis majalah yang mereka terbitkan secara periodik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, beronggok-onggok buku impor tergeletak yang ditampilkan toko-toko buku. Ada tiga penerbit besar yang getol mengeluarkan buku-buku impor ini: Pembimbing, Indira, dan Pembaruan. Dua yang pertama menjadi pemasok buku-buku Eropa Barat (khususnya Belanda) dan Amerika, sementara Pembaruan menjadi agen Eropa Timur dan negara-negara yang masuk dalam blok komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertukar-palingnya Pembimbing dan Indira ke buku-buku Amerika disebabkan melemahnya pasar buku impor dari Belanda. Jenis buku impor itu macam-macam, seperti tentang politik, militer, ekonomi, di samping soal-soal merangkai bunga, mengatur kebun, membikin mebel, dan sebangsanya. Ada juga buku-buku kesusastraan dari pengarang yang sering disebut sayap pembaharu komunis Rusia, seperti Dostojevsky, Tolstoi, Anton Cekov, dan Gogol. Dan, di luar itu, adalah buku-buku "gang", "killer", "spy", dan buku-buku lainnya yang kerap dikategorikan pekerja-pekerja kebudayaan PKI dan aktivis Lekra sebagai buku-buku picisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah justru pada masa-masa Gelanggang Buku awal, Jajasan Pembaruan tak gentar dengan "stan-stan besar" dan juga pengimpor buku-buku asing seperti Pembimbing dan Indira. Bahkan mereka secara ksatria mengakui bahwa Balai Pustaka adalah penguasa di lini buku-buku terbaru yang umumnya buku-buku sekolah, baik untuk SR, SMP, SMA, hingga Sekolah Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dibombardir Jajasan Pembaruan justru penerbit-penerbit yang mereka sebut penerbit yang punya "stan-stan terkecil", yakni Bulan Bintang (Masjumi) dan Pustaka Rakjat (PSI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap Bulan Bintang, misalnya, Pembaruan mempersoalkan mengapa di Bandung buku-buku M. Natsir seperti Capita Selecta I pada 1961 dan buku-buku Sjafruddin Prawiranegara masih saja diterbitkan. Atau mengapa masih saja dicetak ulang Ekonomi Umum I Soemitro di Jakarta pada 1962. Bagi Jajasan Pembaruan, terbitnya karya-karya pentolan Masjumi dan PSI yang bahkan setelah Manipol diberlakukan adalah semangat bangkitnya kekuatan kontra-revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era pameran buku 1958-1965 adalah era di mana pameran buku menjadi laboratoria besar yang seakan menjadi mesin screening yang efektif bagi perang ideologi dalam perbukuan. Di sanalah "ditentukan" mana penerbit yang Manipolis dan mana yang anti-Manipolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semangat buku sebagai panglima politik berakhir setelah Pameran Buku Nasional 17 Agustus 1965 yang dikelola panitia tunggal, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang merupakan OPS penerbitan di bawah Departemen Penerangan Republik Indonesia. Penyelenggaraan itu sendiri mendapatkan tentangan dari Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), dan Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi), Lembaga Kebudayaan &amp; Seni Muslim Indonesia (Laksmi/PSII), Lembaga Kebudayaan Seni Islam (Leksi/Perti) karena dianggap tak mencerminkan komposisi unsur golongan dan politik dalam masyarakat pemerhati buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, sejak ketuban republik pecah sebulan setelah pameran itu, boleh dibilang semangat politik dan revolusi dalam perbukuan berhenti tanpa kemenangan revolusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt; edisi 9 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-1688058141887823468?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/1688058141887823468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=1688058141887823468' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/1688058141887823468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/1688058141887823468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/03/politik-sebagai-panglima-buku.html' title='Politik sebagai Panglima Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-5956382484840962350</id><published>2008-02-24T16:42:00.000-08:00</published><updated>2008-02-24T16:45:12.272-08:00</updated><title type='text'>Selamat Datang Blog(er) Buku!</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah generasi peresensi baru buku dengan menggunakan medium baru yang lebih egaliter dan lebih leluasa. Jika generasi peresensi lama masih memperebutkan halaman-halaman koran nasional dan daerah dengan mempertimbangkan selera redaktur buku masing-masing koran tersebut, maka generasi baru ini membaca buku dan menuliskannya kembali dengan semangat sangat personal tanpa takut tulisannya ditampik. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendatang baru ini adalah bloger. Mereka sebetulnya sudah membiak di tahun-tahun awal alaf ini seperti yang dilakukan Omi Intan Naomi, Andreas Harsono, Agus Sopian, dan beberapa penulis melek teknologi informasi. Tapi saat itu membuat blog masih dianggap kerja elite dan belum menjadi “makanan sehari-hari”. Yang lebih heroik adalah berdiskusi, demonstrasi, dan sesekali menulis di koran-koran nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran mereka benar-benar diperhitungkan tatkala majalah prestisius TIME memilih sosok tahun 2006 jatuh pada: YOU. Majalah TIME membaptis secara khidmat hadirnya generasi baru yang menggunakan fasilitas-fasilitas “maya” seperti You Tube, Blog, Friendster, dan sebagainya, untuk meneguhkan dirinya di hadapan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi ini datang untuk merayakan sebuah buana yang bisa dilihat secara bebas, personal, dan kapan pun bisa disiarkan kepada komunitas publik yang disukainya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, belum banyak yang benar-benar menggunakan blog secara khusus sebagai arena dan panggung untuk membicarakan dan mengadukan pergulatannya dengan buku. Umumnya blog yang tersedia berisi banyak soal, keluhan, dan tangis-tangis kecil tentang hidup, dan umumnya tak fokus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa blog yang serius menggarap resensi buku yang patut disebut antara lain milik Endah Sulwesi (perca.blogdrive.com/Jakarta), H Tanzil (bukuygkubaca.blogspot.com/Bandung), Masqyu (qyu.blogspot.com/Bandung), Dumaria Pohan (mon-secret-jardin.blogspot.com/Medan), Ferina (lemari-buku-ku.blogspot.com/Jakarta), Jody Pojoh (jodypojoh.blogdrive.com/Jogja), Agung DH (bukukuno.blogspot.com/Jogja), dan Zen Rachmat Sugito (pejalanjauh.com/Jogja) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog-blog yang disebutkan di atas adalah blog-blog yang diisi nyaris setiap pekan dengan resensi buku-buku yang berbeda. Tema dan pilihannya beragam: mulai dari melulu resensi buku-buku jadul sampai berkejaran dengan buku-buku baru yang saban diterbitkan penerbit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sebagian besar blog yang saya sebut itu belum terdapat kedalaman sebagaimana review buku yang ditemui di koran Jawa Pos, Kompas, Tempo, dan media sebangsanya. Tapi di antara para bloger yang saya “paksa” buka mulut, mereka membuat blog itu semata mengungkapkan apa yang dibacanya dan bagaimana membaginya dengan teman-teman yang memiliki kesenangan yang sama dengannya. Mereka seperti tak peduli dengan kedalaman, walau itu perlu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, mereka adalah pembaca yang ingin bersenang-senang dengan buku. Mereka mencoba melihat buku sebagai barang mainan dan hiburan yang tak perlu dipandang berat, apalagi harus dilihat dengan kaca pembesar segala. Mereka bukanlah pembaca yang dengan mata liar memandang buku sebagai buruan yang harus dicekik hingga putus urat lehernya lalu tertawa puas setelah mangsanya terbantai dan pemilik buku itu tertunduk lesu setelah dipermalukan habis-habisan di hadapan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sintesis berdasar kesamaan rasa senang ini, para bloger buku ini diam-diam membangun komunitas sendiri. Tiap hari mereka bergosip buku, memberitahu buku yang menurut mereka bagus, dan menyapa siapa saja yang datang dan siapa tiba-tiba melenyap. Tak hanya itu. Mereka juga sudah seperti adiktif mengubah nama mereka menjadi tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ mereka melakukan pembelahan diri menuju ke satu tubuh tanpa mesti harus dirancang dengan njlimet-njlimet, sebagaimana jenis masyarakat tanpa struktur yang dibayangkan Turner. Bukan saja mereka rutin menampilkan buku bacaannya tapi menjurus pada pembuatan milis buku keroyokan (groups.yahoo.com/kutubukugila) dengan anggota terbatas serta membikin blog film sendiri kalau lelah mengayuh hidup dengan buku (kutubuku-ngomongin-film.blogspot.com). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal paling serius yang mereka lakukan adalah menyusun kamus unik tentang buku. Menurut Dumaria Pohan dari Medan--pelontar pertama kali sekaligus editor yang mencatatnya di kobochan16.multiply.com/journal/item/46--kamus yang diberi nama Kamus Gaul Kutu Buku ini hadir dari “main-main” yang justru menurut saya sangat serius dan kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata atau lema dikumpulkan dengan cara sukarela yang saya menduga pola itu diinspirasi oleh pola penyusunan kamus Oxford di buku The Proffesor and The Madman karya Simon Winchester. Masing-masing bloger, baik dari Jogja, Bandung, dan Jakarta menyumbang kata beserta artinya yang unik. Misalnya Jody dari Jogja menyebut kata “Buku Kubik” yang berarti buku yang panjang-lebar alias tebal, isinya berat, dan kelas penulisnya tinggi alias berbobot dunia. Pengertian itu merupakan plesetan dari rumus untuk volume (kubik), yakni: panjang x lebar x tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi beberapa lema yang menarik, seperti: Buku Mogok: buku yang tak selesai dibaca karena sifatnya terlalu kubisme (rujuk ke Buku Kubik); Buku Harapan: buku yang menjadi ancang-ancang untuk dibaca; Penggoda Buku: orang-orang yang bikin orang lain jadi ingin beli buku; Maraton Buku: baca buku seperti lari maraton, sambung-menyambung selesai satu buku sambung lagi yang baru dan buku-buku itu dibaca sampai selesai (lawan kata Buku Mogok); Mata Buku-an: orang yang kalau lihat buku (di mana aja) sulit menahan diri untuk tidak beli/pinjam walau di rumah masih menunggu daftar antri yang cukup panjang; dan masih ada beberapa lema yang menggelitik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kemunculan generasi perbukuan ini sudah sepatutnya dicatat sebagaimana kita mencatat booming terbitnya buku-buku kiri di tahun 1998 dan luruh pada 2003 atau booming buku-buku seks pada medio 2002 dan luruh pada 2004. Kehadiran mereka adalah patok pada sebuah masa; bukan hanya penanda bahwa kita sedang berada di jalur cepat internet, tapi juga ketika buana ini sedang memasuki tafsirnya yang sangat personal. Dan beberapa penerbit besar seperti Gramedia, Mizan, Serambi dengan cepat bisa menangkap gejala ini dan ringan tangan mengirimkan buku-buku terbarunya untuk “digosipkan” di halaman-halaman blog mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah wajah baru (medium) perbukuan kita. Selamat datang blog(er) buku! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Bulan Juli 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-5956382484840962350?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/5956382484840962350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=5956382484840962350' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5956382484840962350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5956382484840962350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/02/selamat-datang-bloger-buku.html' title='Selamat Datang Blog(er) Buku!'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2613789145298186054</id><published>2008-02-23T17:49:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T17:51:45.372-08:00</updated><title type='text'>Ketika Para Guru Dirangsang Menulis</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Husni Anshori&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian Jawa Pos bersama Dinas P dan K Jawa Timur dan sejumlah pihak sponsor menyelenggarakan program bertajuk Untukmu Guruku mulai bulan kemarin. Sebuah apresiasi untuk memberikan penghargaan kepada para tenaga pengajar yang memenuhi kategori tertentu pada tiap jenjang sekolah. Melalui program itu akan dipilih guru ideal, favorit, serta profesional se-Jatim tahun ini. Rencananya, puncak acara penobatan guru yang terpilih dilangsungkan Maret depan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even tahunan itu turut mengembuskan "angin surga" bagi umumnya guru yang nasibnya memang rentan terabaikan. Meski sudah bertahun-tahun mendedikasikan diri guna ikut mencerdaskan bangsa, kesejahteraan mayoritas guru belum memadahi. Seringkali hanya untuk memperoleh tunjangan yang sebenarnya kisaran nominalnya terpaut jauh dibandingkan rapelan gaji anggota dewan, guru harus melewati tahap seleksi berikut tetek-bengek-nya. Itu pun pembayaran insentif yang seharusnya telah bisa dinikmati kerap molor dari waktu yang ditentukan, bahkan masih disunat hingga batas jumlah sewajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, akselerasi Untukmu Gurumu kali ini tentu sedikit mengobati penantian segenap guru yang sekian lama mengidamkan ceperan atau menanti pencairan duit insentif. Sebab, bagi guru yang lolos eliminasi nanti bakal membawa pulang rezeki yang cukup menggiurkan. Siapa tahu nasib sedang mujur, predikat yang diperoleh lewat kesempatan itu juga berbuah promosi pengangkatan atau kenaikan jabatan yang lebih mencerahkan. Atau sekurangnya nomine penyandang sebutan guru pilihan bakal kebanjiran job semisal menjadi narasumber seminar bertema pendidikan dan semacamnya. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, sepanjang gelaran ajang tersebut guru-guru juga disediakan ruang khusus untuk leluasa berpacu mencurahkan unek-unek lewat tulisan seputar masalah pendidikan, profesi keguruan, maupun praktik kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Tiap hari artikel guru dari berbagai kota/kabupaten di Jatim nongol di salah satu halaman koran ini. Entah, mungkin ribuan e-mail berisi naskah torehan pena guru yang sudah diterima panitia. Dan setiap karya pengajar yang dimuat akan berimbuh honor yang kiranya lumayan menambah isi kocek sehingga dapur tetap mengepul dan anak-anak bisa kebagian uang jajan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicerna, senarai artikel komunitas "Oemar Bakri" yang mengemuka rerata terasa maknyus. Racikan ide di dalamnya juga begitu gres dan inspiratif dengan cita rasa ulasan yang memikat sekaligus menggedor pikiran. Tema yang diusung pun bukan semata mengenai problem realisasi pengajaran kontemporer. Namun, menawarkan pula sekeranjang progres demi kemajuan pendidikan. Sungguh beruntung pengambil kebijakan edukatif seperti Dinas P dan K Jatim, karena dengan demikian bisa menyerap serangkaian gagasan cerdas yang disuguhkan guru sebagai referensi perumusan master plan ikhtiar memajukan pendidikan yang makin kondusif mendatang. Lebih-lebih curahan pemikiran guru tersebut mencerminkan fakta dan kebutuhan solusi empiris langgam pendidikan di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menyembul temuan baru yang menggembirakan. Betapa kalangan pendidik yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktunya bergumul dalam rutinitas pembelajaran di sekolah, ternyata memendam potensi menulis yang relatif dahsyat. Kebanyakan guru yang cenderung dipandang sebelah mata alias mustahil sanggup melakoni tugas selain mengajar, telah membuktikan bahwa mereka juga mampu menoreh tulisan yang sarat makna dan faedah. Barangkali manis getir olah rasa yang dialami mereka selama berprofesi guru, rupanya mengendapkan timbunan inspirasi cemerlang, sehingga ketika diberi medium aktualisasi lantas meruahkan hikmah berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbetik dalam benak ini, andaikan kelak setumpuk artikel guru itu bisa dibukukan semisal dengan judul Bunga Rampai Pemikiran Guru, Habis Mengajar Guruku Menulis, Kado Untukmu Guruku, atau apalah; pasti akan menambah semarak khazanah jagat perbukuan. Bukankah buku-buku karya guru sudah beredar di pasaran? Sebut saja buku Memoar One Child karya Torey Hayden, seorang guru anak-anak penderita cacat mental dan gangguan emosional parah membuatnya sukses besar. Kemudian buku Kreteg Emas Jurang Gupit karya Djayus Pete, seorang sastrawaan yang masih setia menjadi guru SD di Bojonegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menarik lagi, di antara tulisan guru tak sedikit yang membahas tentang estimasi materi menulis bagi siswa. Senada dengan itu, salah seorang begawan penulis asal Surabaya, Pakdhe Suparto Brata, juga pernah mengusulkan agar pelajaran menulis tercantum dalam kurikulum sekolah beberapa saat lalu. Tentu usulan demikian merupakan titik balik kesadaran atas pentingnya mengasah bakat dan minat menulis di kalangan siswa. Kemampuan menulis peserta didik bisa jadi ruh tersendiri yang menggerakkan kemajuan pendidikan, memberikan alternatif prospek setelah tamat sekolah, dan spirit lahirnya generasi penulis di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, wahai para guru, janganlah pernah berhenti menulis kendati harus menanggung kegetiran. Sebab, yakinlah Sampean akan mereguk prestise dan kepuasan hidup yang lebih berkualitas daripada sekadar menunggu antrean teramat panjang bagi-bagi insentif yang habis sekali makan! (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Husni Anshori, pecinta buku tinggal di Surabaya.&lt;br /&gt;** Digunting dari Harian Jawa Pos Minggu, 24 Feb 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2613789145298186054?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2613789145298186054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2613789145298186054' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2613789145298186054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2613789145298186054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/02/ketika-para-guru-dirangsang-menulis.html' title='Ketika Para Guru Dirangsang Menulis'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2626136867007761997</id><published>2008-02-17T16:17:00.000-08:00</published><updated>2008-02-17T16:19:01.294-08:00</updated><title type='text'>Tentang Buku Pelajaran Bermutu</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Thomas Rosid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Buku pelajaran yang berkualitas menjadi modal utama peningkatan mutu pendidikan,” kata Alan Cunningworth (1995), pakar pendidikan Inggris. Guru kurang profesional atau kurang pengalaman, asal menggunakan buku yang bermutu, akan dapat mengembangkan kegiatan belajar-mengajar yang unggul dan menarik di kelas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit membayangkan bagaimana proses belajar-mengajar bisa berjalan lancar tanpa ada buku. Celakanya, sejauh pengamatan penulis, buku teks untuk SMK nyaris tidak tersedia. Kenyataan, sekolah kejuruan terbagi dalam berbagai kelompok dan jenis—kelompok teknik jurusan kimia industri, kelompok nonteknik jurusan boga, kelompok manajemen bisnis jurusan sekretaris, kelompok pertanian jurusan teknik pangan, dan sebagainya. Masing-masing menuntut kompetensi tersendiri. Sekolah kejuruan tertentu secara nasional jumlahnya pun teramat kecil. Sebut saja sekolah kesenian jurusan seni karawitan, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena oplah kecil, penerbit pun kurang bergairah karena risiko merugi cukup besar sebab harga buku menjadi mahal, sementara siswa SMK daya belinya rendah karena kebanyakan dari kalangan kurang mampu secara ekonomis. Untuk menulis buku sendiri, tidak semua guru mampu melakukan. Akibat risiko bisnis, buku pelajaran untuk siswa SMK sulit didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sekolah umum, situasinya berbeda. Dilaporkan, jumlah SMA negeri dan swasta di Indonesia sekitar 9.500 unit, dengan jumlah siswa sekitar 4,75 juta orang. Ini jelas merupakan pasar potensial bagi penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah selama ini terkesan begitu mudah menyediakan berbagai fasilitas pendidikan bagi SMA. Setiap awal tahun ajaran baru, buku paket setiap mata pelajaran sepertinya tersedia lengkap. Di toko buku pun judul melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sekolah kejuruan, jangankan pelajaran seperti Teknik Menggergaji yang begitu spesifik, untuk pelajaran umum seperti Bahasa Inggris, terakhir kali pemerintah menerbitkan buku paket adalah tahun 1970-an. Khusus Kota Semarang, buku paket Bahasa Inggris SMK kelompok teknologi maupun nonteknologi tersedia secara gratis. Tetapi itu terbatas saat jabatan wali kota dipegang oleh Sukawi Sutarip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buku Bahasa Inggris tidaklah mudah, butuh referensi memadai. Padahal, buku referensi Bahasa Inggris, khususnya terbitan luar negeri, harganya relatif mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas pertanyaan besarnya, bisakah mengajar tanpa buku? Jawabnya, ”Bisa.” Jelas bahwa situasi dan hasilnya akan jauh berbeda. Untuk Bahasa Inggris, sekali waktu siswa bisa diajak keluar, misalnya ke lokasi wisata untuk bertemu dengan orang asing penutur asli, untuk praktik. Itu selingan yang amat bagus, efektif, dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kelas, kehadiran buku pelajaran sangat diperlukan. Dalam buku teks banyak pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu terekam di sana. Ingat, salah satu ciri khas bangsa yang maju, mereka umumnya aktif membaca buku. Orang bijak berkata, ”Buku adalah gudang ilmu, sedangkan kuncinya ada pada guru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerbitkan buku, apalagi skala nasional, perlu dana tak sedikit. Hanya mereka yang bermodal besar bisa melakukannya. Di tingkat sekolah, buku biasanya didapat melalui jalinan hubungan dengan berbagai pihak di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Semarang ada sekolah menengah industri perkayuan swasta yang buku teks dan literaturnya cukup lengkap. Itu dimungkinkan karena ada kerja sama dengan pihak Jerman. Sekolah negeri sejenis di Jepara kabarnya memanfaatkan dengan menggunakan buku-buku sekolah ini sebagai referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecilnya minat pebisnis menerbitkan buku SMK juga terkait urusan finansial—daya beli para murid yang sangat rendah. Maklum, mayoritas siswa SMK berasal dari keluarga berkemampuan keuangan terbatas. Mereka memilih sekolah kejuruan agar bisa langsung bekerja. Dengan bekerja, mereka justru membantu ekonomi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, di sisi lain, kelangkaan buku SMK justru bisa memberi berkah tersendiri bagi sebagian guru untuk berkreasi. Banyak guru SMK di Semarang yang proaktif dan berprofesi sebagai penulis—mulai dari penyusun buku diktat, pengarang buku paket, penulis soal ujian tingkat nasional, bahkan sebagian juga menulis untuk media massa, alias sebagai wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas menulis, baik dalam bentuk buku pelajaran ataupun untuk konsumsi media massa, merupakan karya pengembangan profesi yang sangat bernilai, khususnya terkait dengan kegiatan sertifikasi guru dalam jabatan. Informasi terakhir menyebutkan tingkat kelulusan sertifikasi guru secara umum baru sekitar 50 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di Kota Semarang ada SMK negeri di mana seluruh guru peserta sertifikasi dari sekolah tersebut baru-baru ini dinyatakan lulus 100 persen. Satu sumber yang layak dipercaya melaporkan, di sekolah itu banyak guru tergolong aktif menulis, dua di antaranya bahkan tercatat sebagai jurnalis. Tidak saja terbatas pada media cetak, namun juga audiovisual (lewat media TV dan radio).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Becermin dari uraian di atas, sulitnya menemukan buku teks untuk siswa SMK bisa bermakna ganda. Di satu sisi, masalah ini dirasa cukup mengganggu aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran. Di lain pihak, kesulitan ini justru membuat banyak guru SMK dapat mengambil hikmah dengan proaktif menulis, baik menyangkut materi pelajaran maupun untuk konsumsi media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu wujud karya pengembangan profesi, aktivitas menulis memberi cukup banyak manfaat. Salah satunya terkait perolehan poin yang sangat dibutuhkan bagi peserta Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Selebihnya perlu dicatat, untuk kenaikan pangkat dari golongan IV/a ke IV/b, banyak guru merasa pesimistis (bahkan nyaris tak berani mengurus) akibat ada kewajiban membuat karya tulis. Sejujurnya, dengan latihan intensif, kesulitan semacam ini tidak terlalu sulit dijembatani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* THOMAS ROSID SMK Negeri 9 Semarang; Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK Kota Semarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Digunting dari Harian Kompas Edisi 18 Februari 2008 dengan judul asli: "Kelanggan Membawa Berkah".&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2626136867007761997?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2626136867007761997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2626136867007761997' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2626136867007761997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2626136867007761997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2008/02/tentang-buku-pelajaran-bermutu.html' title='Tentang Buku Pelajaran Bermutu'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-8629421683871766823</id><published>2007-12-21T19:24:00.000-08:00</published><updated>2007-12-21T19:29:44.330-08:00</updated><title type='text'>Refleksi Buku 2007: Tahun Pembakaran Total</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI sebuah negeri yang diperintah penguasa ototiter, membakar buku adalah sebuah upacara. Tapi bagi negeri yang disebut-sebut sebagai salah satu negeri yang dikelola penguasanya dengan mekanisme demokrasi paling baik saat ini, membakar buku adalah sebuah ironi dan anomali. Sebab ditilik dari sisi mana pun, semangat membakar buku adalah semangat antiperadaban.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah salah satu momen upacara tribal yang dipertontonkan dengan kesombongan yang berlebihan di tengah kampanye demokrasi yang dijunjung-junjung pemerintah. Merujuk pada kronik, nyaris sepanjang Juni-Agustus 2007, ribuan buku ajar sejarah dipanggang dalam bara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah upacara yang gagah pada 19 Juni di halaman belakang Kejaksaan Tinggi Semarang dan dihadiri puluhan pegawai kejaksaan dan diknas, polisi, TNI, dan penerbit, 14.960 eksemplar buku sejarah dari 13 penerbit dilalap api. Buku sebanyak itu merupakan hasil operasi di 15 daerah di Jateng, yaitu Kejati Jateng (13.808 buah), Purworejo (655), Semarang (120), Banjarnegara (69),Tegal (15), Batang (10), dan 9 daerah lain yang jumlahnya di bawah 10 buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara yang tak kalah hikmatnya--dengan disaksikan Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar, Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail, dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda--terjadi di depan kantor Kejaksaan Negeri Depok, Jawa Barat pada 20 Juni. Sekira 1.400 buku sejarah Indonesia untuk SMP dibakar dalam acara "pemusnahan buku-buku terlarang". Buku sejarah yang dimusnahkan itu disita dari lima sekolah menengah pertama negeri dan tiga sekolah menengah atas di Kota Depok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Purwakarta, Jawa Barat, sejumlah karyawan dinas pendidikan juga melakukan pemeriksaan terhadap sekolah-sekolah yang menyimpan buku-buku tersebut. Hasilnya, sekira 300 buku diguyur minyak dan ludes terlalap api.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa Timur, ratusan massa yang tergabung dalam Front Anti Komunis (FAK) mendatangi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur untuk meminta menyita buku-buku berisi ajaran komunis. Dalam kesempatan itu, FAK menunjukkan sejumlah buku, di antaranya Melawan Lewat Restoran, Das Kapital Untuk Pemula, dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 7 Agustus Dinas Pendidikan Kota Solo beserta aparat penegak hukum setempat merazia buku pelajaran bergambar palu-arit. Buku-buku ini beredar di sekolah-sekolah menengah atas. Gambar palu-arit yang merupakan lambang Partai Komunis Indonesia itu terdapat dalam buku pelajaran bahasa Inggris berjudul &lt;i&gt;Look Ahead on English Course &lt;/i&gt;untuk kelas XI jilid 2 terbitan PT Erlangga Bandung, Jawa Barat. Selain gambar palu-arit, pada buku karangan Th. M. Sudarwati dan Eudia Grace itu juga terdapat siluet manusia yang diduga menyerupai tokoh komunis Mussolini. Ada 170 buku terjaring razia yang mirip razia narkoba itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejaksaan rupanya tak cukup mengawasi barang cetakan, tapi juga menyisir opini di media massa. Bersihar Lubis yang menulis artikel "Interogator Dungu" di Koran Tempo pada 17 Maret 2007 diadili di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Dengan masygul Bersihar mendengar keputusan 14 November 2007 itu: pidana delapan bulan penjara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Januari 1965. Presiden Soekarno dengan suaranya yang menggelegar menyerukan agar Indonesia keluar dari keanggotaan PBB pada Rapat Umum Anti Pangkalan Militer Asing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, seruan Soekarno untuk keluar dari PBB dan bersiap memundaki konsekuensi-konsekuensi tersulit ditanggapi oleh banyak kalangan dengan pelbagai sikap. Oleh sekelompok pemuda, pelajar, dan mahasiswa yang tergabung dalam Front Pemuda pada tengah malam di luar Gedung Istora Senayan melakukan aksi turun ke jalan. Ribuan buku milik USIS (United States of Information Service) itu pun dibakar. Di tengah unggunan api yang melalap buku-buku itu mengalun suara bersemangat tinggi "Awaslah Inggris dan Amerika" disertai sahut-sahutan suara yang riuh: "Hidup Bung Karno!", "Ganjang Malaysia!", "Bongkar pangkalan militer asing!", "Tutup USIS!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut A Qadar dan Dr Warno dari Front Pemuda, tujuan mereka membakar buku-buku USIS itu sebagai dukungan pemuda terhadap aksi-aksi anti pangkalan militer asing. Mereka berpendapat bahwa mesti ada keberanian yang penuh untuk membangkitkan aksi-aksi massa mengganyang imperialis dan aksi-aksi mengganyang kapitalis birokrat/dinasti ekonomi. "Ayo, bersama Bung Karno kita madju terus melantjarkan aksi2 revolusioner," seru mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembakaran buku-buku USIS hanyalah salah satu usaha revolusioner yang mereka tunjukkan. Adapun buku USIS yang mereka rajam dengan api itu bukanlah hasil penggeledahan langsung di kantor USIS, melainkan mereka peroleh dari aksi boikot buku-buku USIS yang dilancarkan oleh buruh/pegawai Postel.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 26 Oktober 1964 wakil-wakil Pengurus Daerah Serikat Buruh Postel dan Ikatan warga Marhaenis Postel Jakarta, Wakil Kepala Kantor Pos Besar Pasar Baru menyerahkan 28 karung majalah dan buku-buku USIS kepada Pengurus Besar Front Nasional dengan harapan untuk tak diedarkan, tak dikirim ke garis depan, tapi untuk dimusnahkan dengan jalan dibakar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan sebelum pembakaran buku yang kedua kalinya itu, gedung USIS sudah menjadi bulan-bulanan kemarahan pemuda yang tergabung dalam rapat kesetiakawanan dengan Rakyat Konggo. Klimaks dari aksi di hari Jumat pada Desember 1964 itu adalah pengganyangan gedung USIS Jakarta. Pers-pers ibukota menurunkan berita-berita dan sekaligus sikap mereka atas pengganyangan gedung USIS tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap setuju ditujukan &lt;i&gt;Harian Rakjat, Suluh Indonesia, Duta Masjarakat, Sinar Harapan, Warta Bhakti, Warta Berita, Bintang Timur, Harian Ekonomi Nasional&lt;/i&gt;. Sementara &lt;i&gt;Berita Indonesia&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Merdeka&lt;/i&gt; menyayangkan aksi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembakaran buku itu sendiri hanyalah bom waktu yang pasti terjadi. Sebab sudah jauh hari sebelum tahun 1965, yakni pada 1963, pemerintah sudah menanam ranjau mematikan dengan mengeluarkan peraturan hukum yang mempertegas kontrol, yakni Penetapan Presiden No 4 Tahun 1963 yang berbunyi: (1) bahwa barang-barang cetakan yang isinya dapat mengganggu ketertiban umum akan membawa pengaruh buruk terhadap usaha-usaha mencapai tujuan revolusi, karena itu perlu diakan pengamanan terhadapnya; (2) bahwa dianggap perlu pemerintah dapat mengendalikan pengaruh asing yang disalurkan lewat barang-barang cetakan yang dimasukkan ke Indonesia dari luar negeri, dalam rangka menyelamatkan jalannya Revolusi Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Pen. Pres 4/1963, Menteri/Djaksa Agung telah mengeluarkan instruksi untuk menyita sejumlah buku-buku yang dianggap merugikan revolusi dan perjuangan, antara lain buku &lt;i&gt;The Story Indonesia&lt;/i&gt; karangan Louis Fischer dan &lt;i&gt;Indonesia di Mata Dunia&lt;/i&gt; karangan Mochtar Lubis, buku-buku karangan Kahar Muzakkar seperti &lt;i&gt;Konsepsi Negara Demokrasi Indonesia, Revolusi Ketatanegaraan Indonesia Menuju Persaudaraan Manusia&lt;/i&gt;, serta buku karangan Hasan Tiro &lt;i&gt;Kolonialisme Baru di Indonesia&lt;/i&gt;.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun eksekusi akhir atas apa yang dianggap "barang-barang cetakan yang isinya dapat mengganggu ketertiban umum" adalah wewenang pemerintah, dalam hal ini Kejaksaan Agung, tapi ada kecenderungan politik semasa, bahwa partai atau organisasi masssa yang sepaham dengan jalan politik Manipol juga beroleh kesempatan yang sama melakukan aksi-aksi sweeping dan pengganyangan. Ini bisa dilihat sewaktu Front Pemuda Rakjat melakukan pengrusakan kantor dan pembakaran buku-buku USIS, aparat keamanan tak bertindak mengamankan kantor itu dari amukan massa pemuda. Tindakan itu barangkali dianggap sebagai shock therapy atas tindak-tanduk produk asing yang ditilik dari kacamata moral-politik membahayakan jalannya Revolusi Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu peristiwa dalam dua era dengan kondisi politik yang sangat jauh berbeda. Namun dalam soal membakar buku, sikap, intensitas, dan kejorokan tindakan, tak berubah sama sekali. Dalih dibuat sedemikian rupa dan tindakan perajaman api itu diniscayakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aparatus pemerintah di sekeliling Soekarno beralasan, pembakaran dan pelarangan buku sebagai &lt;i&gt;shock terapy&lt;/i&gt; atas aksi-aksi kontra-revolusioner dan melindungi rakyat dari pengaruh buruk nilai-nilai nekolim dan imperialisme. Aparatus pemerintah di sekeliling Yudhoyono beralasan serupa, tindakan itu diambil untuk memberi sabuk pengaman bagi pelajar dan rakyat Indonesia dari pengaruh buruk komunisme.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aparatus Soekarno mengeluarkan PP No 4 Tahun 1963, sementara aparatus kejaksaan di masa Yudhoyono mengeluarkan instruksi Nomor 003/A-JA/03/2007 tentang tindakan penarikan buku sejarah kurikulum 2004 dan Surat Perintah Kejaksaan Agung Nomor Ins.003/A-JA/03/2007 tentang penarikan buku sejarah kurikulum 2004. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Algojo-algojo antibuku menjadikan kertas-kertas litmus itu sebagai surat jalan untuk aksi negentropi yang sebelumnya dikondisikan oleh pidato dan lelaku pembuka yang agitatif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nurwahid menghimbau maraknya ajaran-ajaran yang berbau komunis perlu diwaspadai oleh rakyat Indonesia. Penyair Taufiq Ismail--yang pada 6 Desember mendapatkan anugerah Habibie Award atas dedikasinya meningkatkan minat baca di Indonesia--mesti datang ke Parlemen untuk tugas suci memakzulkan buku-buku sejarah nir-PKI yang barangkali tak disangkanya menyumbang sekian minyak bagi aksi pembakaran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua CC PKI Njoto pada masa Soekarno perlu juga mendatangi Parlemen untuk mewaspadai dan menghantam buku-buku kontra-revolusi. Pada 1965, bukan saja nama-nama penandatangan Manifes Kebudayaan diumumkan secara intensif, tapi juga mengumumkan buku-buku yang dilarang dipakai di sekolah-sekolah negeri maupun swasta oleh pemerintah. Kebijakan larangan itu berdasarkan perintah Pembantu Menteri PDK bidang Teknik Pendidikan tanggal 22 dan 25 Maret dan surat Kepala Biro Pembinaan Buku-buku PDK tanggal 10 April 1965. Di antara pengarang-pengarang yang bukunya dilarang adalah Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, Idrus, Mochtar Lubis, HB Jassin, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah, kita caci luar-dalam PKI, tapi cara-cara mereka menyikapi perbedaan terus-menerus kita tangkar dalam lelaku tanpa malu-malu dan terang-terangan. Luar biasa! Sejarah dan mental kita ketika berhadapan dengan buku yang berbeda dengan asupan keyakinan kita rupanya tak pernah naik kelas. Dan buku tetaplah menjadi tumbal dari sebuah kesumat permanen dan sikap negentropi yang buruk.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-8629421683871766823?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/8629421683871766823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=8629421683871766823' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8629421683871766823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8629421683871766823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/12/refleksi-buku-2007-tahun-pembakaran.html' title='Refleksi Buku 2007: Tahun Pembakaran Total'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2592426101418879416</id><published>2007-12-18T16:02:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T16:04:28.193-08:00</updated><title type='text'>Pembakaran Buku Pelajaran Sejarah</title><content type='html'>&lt;a href="http://wildanulhakim.blogs.friendster.com/welldone/2007/08/pembakaran_buku.html"&gt;&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Wildanul Hakim&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silang pendapat tentang pembakaran buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan Partai Komunis Indonesia atau PKI terus berlanjut. Kalangan sejahrawan menilai, tindakan merazia dan membakar buku-buku tersebut tidak tepat. Tapi, Kejaksaan Agung tetap berkeras, buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI harus dibakar karena tidak sesuai kurikulum.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Kejaksaan Agung ini keluar saat lembaga itu dipimpin Abdurrahman Saleh. Dua kali, Mendiknas Bambang Sudibyo mendesak Kejaksaan Agung agar segera melarang peredaran buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan Partai Komunis Indonesia atau PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena kesibukan saya itu sampai tujuh bulan tidak tertangani didesak-desak lagi. Akhirnya saya bentuklah tim itu, bukan karena saya enggan. Tapi kalau urusan kurikulum itu sebenarnya masalah formalitas saja.  Karena buku-buku lain yang menyatakan, ini masalah internal AD, PKI tidak terlibat dan begini-begini boleh beredar di pasaran tidak ada soal. Soalnya adalah soal kurikulum,” ujar Bekas Jaksa Agung Abdurrahman Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI mengacu pada kurikulum 2004. Pada 2006, kurikulum berubah. Buku pelajaran sejarah diharuskan mencantumkan PKI dalam penjelasan seputar Gerakan 30 September. Atas dasar itulah pada Maret lalu, Jaksa Agung mengeluarkan larangan edar bagi buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena selalu dalam ilmu-ilmu sosial begini ada banyak pendapat.  Meskipun Mahmilub mengatakan dalangnya PKI, ahli sejarah meninjau dari segi lain. Bukan, dalangnya bukan PKI. Dalangnya mungkin TNI sendiri, mungkin CIA. Tidak akan selesai. Tapi versi resmi selalu ada,” jelas Arman, panggilan akrab Abdurrahman Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang membuat Abdurrahman Saleh berani memutuskan larangan edar buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Pendidikan Nasional mengakui, pelarangan itu untuk menghindari polemik atau silang pendapat. Juru bicara Departemen Pendidikan Nasional Bambang Wasito Adi mengatakan, polemik tentang sejarah keterlibatan PKI dalam Gerakan 30 September ini dianggap meresahkan. Bila tidak segera diakhiri, maka anak didik bisa menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya, di antara para ahli sendiri peristiwa G30S itu dilihat dari berbagai sisi. Karena itu buku pelajaran kita kan nggak ini anak didik kita bingung. Sedangkan masalah sejarah itu kan bukti-bukti sejarahnya para ahli punya bukti yang berlainan. Padahal itu sejarah. Nah kita ingin anak kita ini sejarah tidak bohong. Dari sisi akademis tidak bohong. Namanya sejarah ya. Daripada menimbulkan polemik Pak Menteri mengambil kebijakan diserahkan saja kejaksaan untuk menilai. Penilaian untuk menentukan apakah sebuah buku menimbulkan kerawanan, itu ada di kejaksaan,” jelas Bambang Wasito Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata seorang guru sejarah, seperti Suparman, kebijakan tersebut terkesan membingungkan. Dia berharap, pemerintah mengkaji secara mendalam masalah ini agar kontroversi seputar sejarah politik PKI bisa segera diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”kontroversi pelajaran sejarah ini jangan terus berlarut-larut artinya kalau pemerintah ingin membuat kurikulum yang sudah dikaji secara mendalam. Hilangnya kata PKI ini terkait dengan munculnya kurikulum 2004. Meskipun itu kurikulum masih eksperimen katanya, tapi kan sudah disosialisasikan dan di dalam kurikulum itu sudah hilang kata PKI. Jadi kalau guru mengajarkan tidak ada kesalahan bagi guru,” ujar Suparman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keputusan melarang peredaran buku sejarah itu, dinilai Sejarahwan Asvi Warman Adam tidak tepat. Buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan PKI dinilainya lebih demokratis dan sesuai dengan fakta sejarah. Dari sisi lain, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LIPI itu menilai pelarangan buku pelajaran sejarah yang diikuti pembakaran sesuai keputusan Kejaksaan Agung, telah merugikan banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dampak yang sangat besar bukan hanya penerbit, orang tua yang pada bingung, tapi terlebih lagi kepada siswa yang saat ini dididik untuk munafik. Karena mereka tahu ada versi-versi yang lain tapi untuk lulus  di dalam ujian mereka harus menjawab sesuai  apa yang dimaui oleh  pemerintah. Ini merupakan suatu hal yang sangat mendasar dan punya dampak yang sangat buruk bagi bangsa kita, bagi generasi penerus. Saya sangat prihatin,” papar Asvi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, buntut dari Keputusan Kejaksaan Agung itu adalah razia dana pembakaran buku pelajaran sejarah itu. Beberapa waktu lalu, Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah membakar 14 ribu lebih buku pelajaran sejarah yang dilarang beredar. Hal serupa juga diikuti kejaksaan di beberapa daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Wildanul Hakim, jurnalis detik.com dan Radio 68H Jakarta&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2592426101418879416?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2592426101418879416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2592426101418879416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2592426101418879416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2592426101418879416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/12/pembakaran-buku-pelajaran-sejarah.html' title='Pembakaran Buku Pelajaran Sejarah'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-4025406444079263616</id><published>2007-11-21T15:05:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T15:08:23.608-08:00</updated><title type='text'>Kisah Interogator yang Dungu</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Bersihar Lubis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, Joesoef Ishak diinterogasi selama sebulan oleh Kejaksaan Agung menyusul terbitnya roman Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Joesoef adalah pemilik Hasta Mitra (1980), yang menerbitkan karya Pram yang kemudian dilarang itu. Ia disekap di penjara pada 1965 dan 1966 dan meringkuk lagi di penjara Salemba sejak 1967 selama 10 tahun. Atas keberaniannya menerbitkan karya Pram, ia menerima hadiah "Jeri Laber Pour la Liberte de l'edition" dari Perhimpunan Para Penerbit Amerika, Partner Pen American Center, pada April 2004 di New York.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tampil berbicara pada "Hari Sastra Indonesia" di Paris pada Oktober 2004 lalu, Joesoef pun bertutur tentang jalannya interogasi tersebut. Mulanya, ia mengusulkan supaya Kejaksaan Agung menggelar sebuah simposium ahli untuk membicarakan secara obyektif karya Pram. Tapi ternyata ditolak. Alasannya, interogator lebih paham dari siapa pun bahwa Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa adalah karya sastra Marxis. Anehnya, ketika Joesoef diinterogasi, aparat kejaksaan meminta Joesoef menunjukkan baris-baris mana yang menunjukkan adanya teori Marxis dalam buku Pram. Sikap sok tahu yang menyedihkan itu pun terungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Joesoef diminta meneken berita acara pemeriksaan, para interogator tersenyum. "Buku-buku Pram luar biasa. Apakah Bapak mempunyai eksemplar tersisa? Istri saya belum membacanya. Bisakah Bapak mengirimkan satu eksemplar ke rumah saya?" kata si interogator. "Pak Joesoef hendaknya maklum bahwa apa yang saya lakukan hanyalah melaksanakan perintah atasan," kata si interogator. "Saya telah disiksa oleh kedunguan interogator, dan interogator telah disiksa oleh atasan mereka yang lebih tinggi tingkat kedunguannya," kata Joesoef.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lama ini diceritakan di sini berkaitan dengan langkah Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan pada 5 Maret 2007. Isinya, melarang peredaran buku teks pelajaran SMP dan SMU serta setingkat karena tidak mencantumkan kebenaran sejarah tentang pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun pada 1948 dan peristiwa pemberontakan PKI pada 1965. Gerakan 30 September (G-30-S) 1965 memang tercantum, tapi tanpa menyebut keterlibatan PKI. "Itu pemutarbalikan fakta sejarah," kata Jaksa Agung Muda Intelijen Muchtar Arifin, 9 Maret lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelarangan itu pun menimbulkan pertanyaan. Apakah didasarkan pada telaah ilmiah dari para sejarawan? Seandainya ada bahasan ilmiah yang melibatkan sejarawan seperti Anhar Gonggong, Asvi Warman Adam, dan lainnya, mungkin pelarangan itu sedikitnya telah bertolak dari pandangan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika buku sejarah yang dilarang oleh Jaksa Agung tersebut tidak mencantumkan PKI sebagai pemberontak pada 1965, tidak mengherankan. Banyak sekali buku publikasi domestik dan luar negeri yang meragukan keterlibatan PKI, meskipun versi pemerintah menyebut PKI tetap terlibat. Akibatnya, di tengah masyarakat muncul beragam versi yang berbeda, sehingga menurut Jaksa Agung Muda Muchtar dapat menimbulkan keresahan dan pada akhirnya akan mengganggu ketertiban umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, Muchtar khawatir terhadap munculnya sensor horizontal dari pihak di luar kekuasaan, seperti istilah John H. McGlynn dalam makalahnya "Shapes of Censoring during The New Order" (2004) pada "Hari Sastra Indonesia" di Paris. Misalnya, "sweeping buku-buku kiri" pada awal 2000. Namun, bagaimana bisa disebut berbahaya jika karya buku dan seni hanyalah karya pribadi yang tidak mempunyai pasukan tentara atau polisi, juga tidak punya pasukan penumpas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pemerintah lupa bahwa pada zaman teknologi informasi global ini, arus buku, karya seni, film, dan budaya massa dunia bisa diakses dan merasuk ke Indonesia tanpa bisa disetop. Aneh bahwa pemerintah sekarang berambisi bertindak sebagai ilmuwan, pendeta, ulama, sejarawan, kritikus sastra, dan penjaga peradaban, padahal masalah korupsi, kemiskinan, dan pengangguran masih membukit di pelupuk mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Benedetto Croce, filsuf sejarah kelahiran Italia (1866-1952), "Every true story is contemporary history (setiap sejarah yang benar adalah sejarah masa kini)." Artinya, kebenaran buku sejarah itu relatif. Dianggap benar pada masa Orde Baru bisa sebaliknya pada masa reformasi. Buku sejarah adalah gambaran mengenai masa lampau, walau tidak sama persis dengan masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran yang obyektif sukar dicapai, maksimal hanya bisa mendekatinya. Lagi pula, setiap tulisan sejarah selalu mencerminkan ide si penulis bertolak dari visi dan tafsirnya sendiri. Akibatnya, topik yang sama bisa berbeda di antara beberapa penulis. Pendapat penulis pun bisa dipengaruhi oleh suasana zamannya. Misalnya, soal keterlibatan PKI dalam G-30-S, mungkin versi itu ditulis atas keinginan penguasa. Sementara itu, sejarawan lain menganggapnya tidak relevan karena keterlibatan PKI dalam G-30-S tak didukung bukti dan fakta sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi sosio-budaya selalu mengalir, sehingga ide, penilaian, dan tafsir sejarah bisa berubah dan muncul berbagai versi berbeda. Ada versi pemerintah, ada versi sejarawan yang independen. Buku sejarah yang ditulis tak berhak memonopoli kebenaran, apalagi hendak memperbaiki buku sejarah yang ada, termasuk versi pemerintah. Yang beruntung adalah generasi kemudian yang mewarisi kekayaan sejarah, dan terpulang pada mereka untuk memahaminya secara arif dan rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memonopoli kebenaran sejarah itu absurd. Apalagi sejarah selalu ditulis tidak pada saat terjadi, tapi jauh setelah peristiwa itu terjadi. Merekayasa sejarah yang telah terjadi akan cenderung mereduksi sejarah.&lt;br /&gt;koran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bersihar Lubis, penulis, tinggal di Depok&lt;br /&gt;** Digunting dari Harian Koran Tempo edisi 17 Maret 2007.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-4025406444079263616?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/4025406444079263616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=4025406444079263616' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4025406444079263616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4025406444079263616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/11/kisah-interogator-yang-dungu.html' title='Kisah Interogator yang Dungu'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2347274136100932361</id><published>2007-11-11T03:57:00.001-08:00</published><updated>2007-11-11T04:02:06.297-08:00</updated><title type='text'>Fakta dan Fiksi dalam Babad Khadiri</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Fahrudin Nasrulloh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebendel buku yang ditulis melalui tuturan sesosok jin yang berjudul &lt;i&gt;Serat Babad Kadhiri: Kisah Berdirinya Sebuah Kejayaan&lt;/i&gt;. Buku ini -- semula beraksara Jawa kuno -- ditulis Mas Ngabehi Purbawidjaja (Jaksa Ageng di Kediri saat itu) dan disempurnakan Mas Ngabehi Mangunwidjaja. Naskah tersebut merupakan cetakan kedua (2006) di mana sebelumnya pernah diterbitkan oleh penerbit Boekhandel Tan Khoen Swie, pada 1932.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan di sana, bertitimangsa 1832, tatkala Mas Ngabehi Purbawidjaja didesak kolonial Belanda untuk melacak riwayat lahirnya Kota Kediri. Dengan bantuan Ki Dermakandha dari Dusun Kandairen, Mas Ngabehi Purbawidjaja berhasil merekam wawancara antara Ki Dermakandha dengan jin yang berparab Ki Buta Locaya atau Kyai Daha dengan cara meminjam raga Ki Sondong (dalang wayang klitik dan penabuh gamelan). Dari situlah tanya-jawab berlangsung lantas dicatat oleh Mas Ngabehi Purbawidjaja bersama Mas Ngabehi Mangunwidjaja. Akhirnya tersusunlah &lt;i&gt;Serat Babad Khadiri&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah &lt;i&gt;Babad Khadiri&lt;/i&gt; dapat dipandang sebagai laporan ilmiah ataukah sebuah karya sastra? Menurut H.B. Jassin, karya sastra mesti memiliki gagasan, perasaan, kenangan-pengalaman, kegiatan jiwa, dan proses tertentu. Kendati karya ini secara umum dipandang sebagai laporan sejarah yang, sekali lagi, ganjil, berdasarkan laporan dari jin Buta Locaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bagaimana cara kita, dengan berusaha sebaik mungkin, mencerna apa itu sebenarnya fakta dan fiksi yang menubuh dalam suatu karya. Yang pasti, fakta adalah hasil dari tindakan manusia. Karl Popper memandang bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang berasal dari otoritas yang berada di luar manusia. Pengetahuan adalah produk rekayasa manusia. Kendati pengetahuan tidak semata laporan ihwal kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan, namun juga sekerumun kekeliruan dan kesimpangsiuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara fiksi adalah sesuatu yang dikonstruksikan dan dibikin menjadi ada, meski di dalamnya terserak anasir khayalan. Maka, khayalan di situ tidak menekankan segi ketakhadirannya, tapi segi rancang-bangun, inventif, dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, antara fakta dan fiksi tetaplah menjadi suatu misteri tersendiri, setidaknya bagi Ignas Kleden, bahwa ilmu sosial (yang berdasar data dari fakta) maupun karya sastra dengan caranya masing-masing kemudian menyampaikan kepada kita jauh lebih banyak kenyataan daripada sekadar kenyataan yang dilukiskan. Sewaktu Clifford Geertz meriwayatkan perdagangan kopra di Tabanan, Bali, dia sebetulnya bercerita tentang seluruh masyarakat Bali, atau pada waktu melukiskan cara orang Jawa mengadakan selamatan, dia sebetulnya menggambarkan seluruh alam pikiran dan struktur sosial orang Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang oleh Geertz kemudian disebut dengan logika analitik &lt;i&gt;a There presence in a here text&lt;/i&gt;: teks yang dihadapi "di sini" sesungguhnya menayangkan kehadiran yang "di sana". Bahwa Babad Khadiri yang terhadir saat ini merupakan bayangan atau kemungkinan -- jika itu benar -- dari kenyataan sejarah silam Kota Kediri. Lepas dari kebenaran ilmiah yang masih diragukan (apakah itu fakta atau fiksi). Atau sebaliknya &lt;i&gt;a There shadow of a here reality&lt;/i&gt;: menghadirkan suatu bayangan "di sana" dari kenyataan "di sini". Di sini peran si pengabar atau penulis (tapi dalam cerita ini yang tersisa hanyalah naskah babad itu sebab pengarangnya sudah mati) menghadir sebagai semacam artefak skriptural atau fosil teks dari bentuk kesaksian atas kenyataan sebagaimana yang dikisahkan dalam naskah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof Dr Edi Sedyawati dalam kata pengantarnya, teks pada Babad Khadiri dapat dipandang sebagai karya sejarah (karena berlabel babad), meski pada dasarnya harus digolongkan sebagai karya fiksi. Sebab cerita ini bersumber dari kisah seorang dalang (Ki Sondong), dapatlah dipastikan yang tertulis di sana hanyalah rekaan belaka. Hal ini dikuatkan dengan bukti dalam teks yang menyertakan foto Raden Mas Ngabehi Mangunwidjaja, di mana ia disebut sebagai pengarangnja kitab ini dan seorang yang alim dan loeas pengetahoeannja dalam hal ilmoe rasa. Bukan sebagai penyusun sejarah, tapi lebih tepat sebagai ahli kebatinan Jawa. Jelaslah pernyataan ini mengarah pada kualifikasi sastrawan dan bukan sejarawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatalah bahwa &lt;i&gt;Babad Khadiri&lt;/i&gt; dapat dipahami sebagai teks yang bersumber dari tradisi tutur, namun dalam periwayatannya, ungkap Edi Sedyawati, terdapat indikasi kisah ini juga berkorelasi secara interteks dengan naskah lain Misalnya &lt;i&gt;Serat Aji Pamasa, Serat Jangka Jayabaya, Babad Tanah Jawi&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Serat Jaya Kusuma&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula teks &lt;i&gt;Sastramiruda&lt;/i&gt; yang dalam &lt;i&gt;Babad Khadiri&lt;/i&gt; juga menyebutkan tokoh bernama Panji. Karya ini berkait lekat dengan apa yang termaktub dalam teks-teks baku seperti &lt;i&gt;Pustaka Raja, Babad Tanah Jawi&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Babad Demak&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka itu, ketika kita membaca &lt;i&gt;Babad Khadiri&lt;/i&gt; sebenarnya tidaklah untuk mencari kebenaran sejarah dalam konteks ilmu sejarah. Semisal, nilai politis apa yang melatarbelakangi kolonial Belanda untuk mengorek data tentang cikal-bakal Kota Kediri (karena motif ini tidak tersurat dalam babad tersebut). Tentu saja, prasangka lain dapat berupa indikasi adanya upaya kaum imperialis itu untuk mengetahui watak dan spirit perjuangan manusia Kediri sebagaimana sepak-terjang C.S. Hurgonje membongkar seluk-beluk perlawanan dan tradisi orang-orang Aceh. Teks ini pun dapat dikaji dalam kaitan dengan persoalan konstruksi budaya, atau dalam rangka analisis dari berbagai tinjauan dan disiplin ilmu. Karena itu, jika yang fakta di masa lampau tak seluruhnya dapat dibabarkan, maka yang fiksi hadir sebagai bualan cerdas dari segala lupa dan kejahatan lain yang tersamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika unsur karya sastra yang utama adalah imajinasi, maka kita sering terjebak tatkala memisahkan antara imajinasi (angan) dari fantasi (khayalan). Bagi Subagio Sastrowardoyo, "Sastra dibangkitkan dari daya imajinasi. Yaitu daya tangkap batin yang secara intuitif memperoleh visi yang benar tentang pengalaman dan kenyataan. Sementara fantasi adalah hasil lamunan tentang alam yang berada di luar kehidupan nyata."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek ungkap, menurut Coleridge, fantasi hanyalah baju kepatutan, semata pernak-pernik belaka. Sementara imajinasi adalah nyawa yang bergentayangan di mana-mana, yang meresapi karya dan segala yang bertaut dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;b&gt;Fahrudin Nasrulloh&lt;/b&gt;, bergiat di Komunitas Ruang Ujung Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**) Digunting dari Harian Jawa Pos edisi Minggu, 11 November 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2347274136100932361?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2347274136100932361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2347274136100932361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2347274136100932361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2347274136100932361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/11/fakta-dan-fiksi-dalam-babad-khadiri.html' title='Fakta dan Fiksi dalam Babad Khadiri'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-3092894736201595775</id><published>2007-11-03T20:11:00.000-07:00</published><updated>2007-11-03T20:15:36.980-07:00</updated><title type='text'>Penulis, Editor, dan Pengendali Mutu</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Saiful Amin Ghofur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah industri perbukuan kita kembali koyak-moyak. Pasalnya, ditemukan kesalahan fatal pada dua buku debutan penerbit indi di Jogjakarta berinisial IM. Buku itu adalah &lt;i&gt;Juz Amma dan Terjemahannya&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Amalan-amalan yang Dicintai Allah&lt;/i&gt; yang terbit pada minggu terakhir Oktober lalu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku pertama, kekeliruan serius terjadi pada penempatan ayat ke-39 Surat an-Naziat yang diisi oleh ayat ke-43 surat yang sama. Jadi, pada surat tersebut ayat ke-43 tertulis dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan buku kedua lebih tragis lagi. Doa yang dilafalkan sewaktu masuk dan keluar masjid dua-duanya ngawur. Doa masuk masjid tertulis doa yang dibaca ketika di tengah-tengah aktivitas makan seseorang lupa belum berdoa. Adapun doa keluar masjid tertulis doa yang dirapal saat keluar WC. Alamak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan ini mengingatkan kita pada kejadian serupa sekitar dua tahun silam. Tempo itu, penerbit indi Jogjakarta berinisial SDSV me-launching terjemahan karya Paul Coelho, &lt;i&gt;Veronika Decides to Die&lt;/i&gt;. Selain terjemahannya yang semrawut, terdapat banyak ketaklaziman dalam memaknai kata-kata kunci. Misalnya, kata &lt;i&gt;holy-soul&lt;/i&gt; yang semestinya bermakna "roh kudus" diterjemahkan dengan "hantu suci". Hal ini pula yang membuat Muhammad Al-Fayyadl geram kemudian menulis "Hak Pembaca dan Martabat Penerbit" (JP, 3/07/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentengan kekeliruan tersebut bisa jadi tidaklah disengaja oleh penerbit bersangkutan. Tapi apa lacur, ibarat nasi sudah menjadi bubur buku itu kadung menyebar ke ranah publik. Jika sudah begini, siapa yang sanggup menghadang lahirnya pemaknaan yang beragam terhadap eksistensi penerbitnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja publik menyoal martabat penerbit. Dikhawatirkan publik segera membersit akan adanya upaya penodaan dan pelecehan terhadap agama tertentu sebagai dampak kekeliruan itu. Buku yang semestinya mengusung misi pencerahan tanpa disadari justru menebar benih-benih kebencian dan sentimen keagamaan. Hal ini tidak mustahil terjadi, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindakan kuratif, buku-buku yang bermasalah tersebut seharusnya segera ditarik dari pusaran arus pasar. Kekeliruan fatal itu mesti diralat. Dalam konteks ini eksistensi penerbit sedang dipertaruhkan. Karena itu, memulihkan citra dan martabat penerbit adalah sebuah keniscayaan ketimbang meratapi kerugian manakala melakukan koreksi. Kerugian material penerbit tidaklah sedikit memang, sebab dari seorang teman terkuak bahwa buku-buku tersebut telah dicetak dengan tiras tak kurang dari 6.000 eksemplar. Wow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini sudah sepatutnya menjadi bahan pelajaran bagi semua penerbit. Bila tidak diantisipasi kemungkinan terjadi lagi kesalahan serupa tetap terbuka. Sebab, bukankah peristiwa ini telah berbilang kedua kali? Walhasil, mau tak mau setiap penerbit perlu mengevaluasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus ini tidaklah etis bila mencari "kambing hitam" dengan memampatkan kesalahan kepada awak penerbitan. Misalnya editor. Memang, selama ini, dalam proses produksi, editor memegang peran kunci. Baik-buruk kualitas naskah bergantung pada sentuhan tangan ajaibnya. Tugas berat editor berikut risikonya terkadang tidak sebanding dengan remah-remah rupiah yang diterima. Maka, beban editor mesti dipecah-pecah. Ibarat pepatah berat sama dipikul ringan sama dijinjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diurai dengan jeli, kesalahan itu bisa terjadi karena renggangnya mekanisme kerja dan kualitas kontrol sebelum sebuah naskah masuk ke mesin cetak. Dalam hal ini ada tiga awak penerbitan yang harus "diberdayakan", yaitu penulis, editor, dan pengendali mutu. Ketiganya perlu bersinergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis merupakan figur yang terancam eksistensinya ketika buku yang ditulis mengandung kekeliruan. Nama yang terpampang di cover sudah tentu menjadi sasaran empuk atas kekeliruan dalam buku. Padahal belum tentu penulis bermaksud demikian. Kekeliruan mungkin terjadi manakala penulis tidak diberi kesempatan untuk melakukan cek terakhir sebelum naskahnya naik cetak. Inilah yang selama ini lazim terjadi. Karena itu, penulis wajib menuntut haknya, yakni membaca secara detail naskahnya setelah tahap akhir pengeditan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara editor selain memoles naskah juga dituntut untuk kroscek data-data musykil yang ditemuinya. Editor tak boleh jemu untuk mengonfirmasikan kepada penulis. Di satu sisi, cara ini cukup efektif untuk meredam interpretasi bebas editor atas data-data musykil yang ada. Penulis pun di sisi lain merasa terus terlibat dalam proses editing naskahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada tahap terakhir, peranan pengendali mutu sangat menentukan. Tugasnya tak lain adalah menelaah kualitas naskah secara keseluruhan (baca: quality control). Mulai dari aspek kebahasaan-bahkan sampai titik-koma-hingga substansi naskah. Keberadaan pengendali mutu dapat mendeteksi dini potensi kekeliruan naskah, entah dari kerancuan logika berpikir atau probabilitas data yang diprediksi akan "menyulut" kemarahan publik karena menyentuh hal-hal sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita menelaah buku-buku yang beredar, faktor pengendali mutu jarang diperhatikan. Setidaknya, posisi pengendali mutu tidak terlihat di lembar prelimnya. Paling-paling yang tertera adalah nama penulis, editor, penata letak, dan pendesain cover. Mungkin atas dasar inilah masih tersedia celah bagi munculnya kekeliruan dalam buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jelas sudah betapa pentingnya sinergi antara penulis, editor, dan pengendali mutu. Dengan mengoptimalkan kinerja ketiga elemen ini, kita berharap kekeliruan fatal tak lagi ditemui. Sebagai pembaca kita berhak untuk mendapatkan pencerahan intelektual dari sebuah buku, bukan malah penyesatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;b&gt;Saiful Amin Ghofur&lt;/b&gt;, Pengelola Perpusdes Wahas, Balongpanggang, Gresik&lt;br /&gt;**) Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu 04 November 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-3092894736201595775?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/3092894736201595775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=3092894736201595775' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/3092894736201595775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/3092894736201595775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/11/penulis-editor-dan-pengendali-mutu.html' title='Penulis, Editor, dan Pengendali Mutu'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-5160937687635980264</id><published>2007-10-29T17:08:00.000-07:00</published><updated>2007-10-29T17:14:58.977-07:00</updated><title type='text'>Semangat Menulis dari Tiongkok</title><content type='html'>&lt;a href="http://jelangfajar.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Mohammad Eri Irawan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis itu bikin sehat! Tak percaya? Tulisan Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan yang diturunkan berseri di koran ini menjadi penebal keyakinan itu. Membaca tulisan Pak Dahlan soal pengalaman pribadinya menjalani transplantasi liver di Tiongkok, timbul semangat yang terus merayap di hati ini. "Jadilah penulis, jadilah penulis!" demikian hati ini terus memancangkan tekad.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berseri Pak Dahlan adalah pancangan semangat menulis yang menggugah. Secara khusus, ada satu seri tulisan Pak Dahlan yang membuat saya "terbakar" semangat. Yaitu, saat ia bertanya kepada pembaca: Berubahkah model penulisan saya? Apa tulisan saya masih sedeskriptif dulu? Apa aliran kalimatnya masih hadir dan mengalir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lantas bernubuat soal bagaimana tulisan yang deskriptif itu dirajut dari kata per kata. Dia mendedah bagaimana seorang penulis harus takzim pada kerja-kerja yang detail. Dia menebalkan fondasi keyakinan bahwa penulis adalah homo aviator, pengembara yang mesti menjumput makna dalam setiap depa langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Pak Dahlan tidak hanya ingin mengabarkan "sesuatu", tapi tulisannya adalah "sesuatu itu sendiri". Tulisannya bukan hanya berisi pancangan semangat untuk terus menulis, tapi tulisannya adalah semangat itu sendiri. Dan, itu semua dilakukan saat Pak Dahlan dalam kondisi yang belum pulih benar. Itulah mengapa saya yakin bahwa menulis itu bikin sehat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis senior sekaliber Pak Dahlan saja masih terus merekonstruksi ulang setiap hasil tulisannya. Ia seolah merasa tulisannya belum mapan, meski sudah puluhan tahun mengabdikan hela napas dan derap langkahnya untuk dunia aksara. Dalam kondisi yang masih relatif lemah, dia bercerita panjang-lebar soal bagaimana penulis harus bekerja dengan detail. Semangat dan nubuat macam ini mengingatkan saya kepada antropolog Clifford Geertz yang sebulan ini dibincangkan di rubrik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geertz pernah bernubuat soal saling berimpitannya dunia jurnalisme dan penelitian. Di sinilah kerja-kerja yang detail diwajibkan. Jurnalisme dan dunia tulis-menulis secara umum, menurut Geertz, adalah proses "mengikat" realitas ke dalam sebuah teks multiguna. Begitu juga dengan penelitian yang merupakan kegiatan "membekukan" realitas menjadi "replika" bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, melalui tulisan, para penulis akan memberi arah terang bagi kehidupan. Alhasil, tulisan akan tetap mengabadi sepanjang zaman karena manfaat yang dihasilkannya. Di sinilah, Pak Dahlan mengajarkannya dengan semangat yang berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, pancangan semangat dari Tiongkok, negeri di mana Pak Dahlan menjalani transplantasi dan pemulihan, itu menggambarkan betapa tulisan mempunyai daya abadi. Tak salah jika Pramoedya berujar, "Dan jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tulisan akan menjadi suluh bagi gelapnya peradaban manusia. Hingga di sini, Pak Dahlan berhasil meneguhkan hati saya, bahwa menjadi penulis bukan pilihan yang keliru! Tulisan Pak Dahlan menyalakan api semangat, menyikat habis energi negatif dalam hati yang coba menggoyahkan cita-cita menjadi penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi yang sakit dan dalam pemulihan, Pak Dahlan justru tidak berleha-leha. Dia "merayakan" pemulihannya dengan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, model semacam ini --menjadikan menulis sebagai sarana perayaan dari sakit-- adalah model yang ditakzimi para penulis besar dunia. Christine Clifford, misalnya. Dia penulis besar yang mengidap kanker. Di tengah perawatan medis yang harus dijalaninya berbulan-bulan, dengan pancangan semangat yang membaja, dia terus menulis dan menetaslah buku pertamanya, &lt;i&gt;Not Now…I’m Having a No Hair Day!&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, setelah sukses operasi, buku selanjutnya lahir: &lt;i&gt;Our Family Has Cancer, Too!&lt;/i&gt; Kedua buku itu menyabet sejumlah penghargaan dan beroleh sambutan luas publik internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula penulis Barbara Jeanne Fisher. Dia didiagnosis menderita penyakit multiple sclerosis. Selama enam minggu matanya mengalami kebutaan sementara. Tak hanya itu. Dokter mengabarkan ada komplikasi hebat di tubuhnya, dan umurnya ditaksir tak lama lagi. Dia pun bergulat dengan sedih. Apalagi, penyakitnya kemudian semakin parah. Ahli saraf menemukan keanehan saat tes darah: ada penyakit Lupus. Foto sinar-X memperlihatkan tulang punggungnya sangat rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Barbara tak patah arang. Dia terus mengembarakan dirinya pada lautan aksara. Dia mengirimkan artikel-artikel pengalaman pribadinya ke media massa. Bahkan, karena keteguhannya menulis, ia dipercaya menjadi fasilitator dan penyemangat di sebuah laboratorium menulis di Terra Community College, Ohio, yang muridnya adalah anak-anak muda pencinta dunia aksara. "Aku bisa berada di tempat yang kusukai, dengan orang-orang yang kucintai, dan melakukan hal yang paling kusenangi: menulis," tulis Barbara di buku &lt;i&gt;Chicken Soup for the Writers Soul&lt;/i&gt; yang disunting Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Bud Gardner (buku itu sudah di-Indonesia-kan awal tahun ini). Berangkat dari pengalaman sakitnya, dia pun melahirkan novel Stolen Moments pada Maret 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kisah penulis di atas, plus kisah Pak Dahlan, adalah bukti bahwa menulis itu bikin sehat! Ketiganya mengafirmasi bahwa menulis adalah cara untuk menyehatkan jiwa-raga, sebab tulisanlah yang membuat kita bisa memaknai dan menemukan kebaruan setiap detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya, Christine Clifford, Barbara, dan Pak Dahlan, kuat dan terus bergairah meski sakit karena satu obsesi: ingin terus menulis! Fisik mereka masih lemah karena sakit dan dalam masa pemulihan, tapi semangat menulisnya tetap menyala-nyala. Sesuatu yang patut diteladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mohammad Eri Irawan, pengelola sebuah rumah baca di pinggiran Jember. Dimuat di Harian &lt;a href="http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&amp;id=309661"&gt;Jawa Pos&lt;/a&gt; Edisi 28 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-5160937687635980264?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/5160937687635980264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=5160937687635980264' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5160937687635980264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5160937687635980264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/10/semangat-menulis-dari-tiongkok.html' title='Semangat Menulis dari Tiongkok'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-8967011296221412219</id><published>2007-10-29T16:22:00.000-07:00</published><updated>2007-10-29T16:26:45.591-07:00</updated><title type='text'>Malu Aku Jadi Kutubuku</title><content type='html'>&lt;a href="http://perca.multiply.com/journal/item/16"&gt;&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Endah Sulwesi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu petang, iseng-iseng saya menonton siaran televisi dari salah satu stasiun tv swasta nasional. Layar di depan saya mempertontonkan sebuah tayangan singkat tentang seorang perempuan sederhana bernama, sebut saja, Kiswanti. Ibu berusia kira-kira 50-an tahun ini, tampak mengayuh sepeda di jalan kampung yang lengang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keranjang berwarna merah yang terletak di depan setang sepedanya, penuh berisi buku. Demikian pula di bagian boncengannya. Sampai di desa yang di tuju, Kiswanti langsung diserbu oleh beberapa orang anak yang rupanya telah menunggunya sejak tadi. Ya, mereka adalah para pelanggan yang menyewa buku-buku Kiswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya oleh narator dikisahkan siapa Kiswanti sesungguhnya. Perempuan berkerudung yang hanya tamatan sekolah dasar ini, pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kemiskinan orang tuanya membuatnya terpaksa tak mampu meneruskan  pendidikan ke jenjang selanjutnya. Namun demikian, kendala tersebut tak lalu menyurutkan minatnya terhadap buku-buku dan bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari pengalaman hidup yang kurang beruntung itu, menumbuhkan sebentuk tekad di hati Kiswanti untuk menularkan kegemarannya membaca kepada masyarakat di sekitarnya. Maka, mulailah ia mengumpulkan buku-buku untuk disewakan kepada warga di kampungnya melalui perpustakaan pribadinya. Sampai saat ini, koleksinya sudah mencapai 1.900 buku dan majalah. Berikutnya, ia melebarkan jangkauan usahanya hingga merambah ke kampung-kampung tetangga dengan menggunakan sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan singkat itu menyentak saya. Sungguh mulia apa yang sudah diperbuat oleh Kiswanti dalam kaitannya dengan upaya memasyarakatkan gemar membaca. Dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya, Kiswanti tanpa gembar-gembor telah turut mencerdaskan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, apa yang sudah saya lakukan sebagai orang yang mengaku kutu buku dan pencinta sastra selama ini? Tindakan nyata apa yang sudah saya perbuat bagi orang-orang di sekitar saya untuk menumbuhkan kecintaan membaca? Cukupkah hanya sampai pada mengikuti acara-acara diskusi dan bedah buku saja sambil sesekali menulis resensi dan laporannya? Memadaikah hanya dengan rajin menyambangi pameran-pameran buku dan menghabiskan uang di sana padahal belum tentu buku-buku tersebut sanggup say a baca semuanya? Puaskah saya hanya dengan ikut berteriak-teriak mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mulai gemar membaca tanpa melakukan suatu tindakan nyata yang menyentuh langsung ke masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, yang terjadi adalah justru perilaku yang kontra-produktif. Boro-boro, misalnya, menyumbangkan buku-buku bagi yang memerlukan, meminjamkannya pun saya nyaris tidak pernah. Khawatir buku-buku kesayangan saya rusak atau bahkan tidak dikembalikan sama sekali. Padahal kian hari, jumlah buku di lemari saya kian bertambah banyak dan membutuhkan banyak tempat juga.  Saya jadi sangat pelit jika menyangkut urusan dengan buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terlalu mencintai buku-buku saya sehingga sering tidak rela kehilangannya. Jangankan sampai hilang, cacat sedikit saja saya sudah panik. Saya menjaga buku-buku saya seperti menjaga peti harta karun. Sampai-sampai keempat keponakan saya yang masih kecil-kecil itu sering menjadi korban teriakan saya kalau mereka coba-coba menyentuh “harta” tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah. Kalau begini, bagaimana saya bisa mengajari mereka mencintai buku dan gemar membaca? Saya sibuk menyerakahi buku-buku saya untuk diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh malu saya “berhadapan” dengan sosok mulia Ibu Kiswanti, karena dibandingkan dirinya, apa yang sudah saya kerjakan selama ini nyaris nol besar. Cuma manis di bibir saja. Komitmen saya untuk menularkan kegemaran membaca jangan-jangan hanya sekadar &lt;i&gt;lip service&lt;/i&gt;. Tinggal menjadi jargon dan slogan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seandainya saya mau membagi sebagian kecil saja dari “harta” saya itu dengan yang lain, tentu akan lebih bermanfaat dari pada sekadar menjadi pajangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya saya sudi menyumbangkan sedikit saja dari buku-buku saya yang tiga lemari itu untuk taman bacaan di sebuah rumah singgah (rumah bagi anak-anak jalanan) yang dikelola seorang teman, pasti akan banyak anak-anak yang dapat turut menikmatinya. Ikut serta membukakan “jendela” dunia bagi mereka yang tidak mampu membeli buku, seperti ketika saya kecil dulu yang hanya bisa membaca buku-buku bekas yang dibeli ayah saya dari pasar loak Jatinegara. Bukankah memberikan sebuah buku sama artinya dengan memberikan sekeping dunia?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-8967011296221412219?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/8967011296221412219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=8967011296221412219' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8967011296221412219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/8967011296221412219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/10/malu-aku-jadi-kutubuku.html' title='Malu Aku Jadi Kutubuku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-5716007449824033204</id><published>2007-10-06T03:59:00.000-07:00</published><updated>2007-10-06T04:06:37.692-07:00</updated><title type='text'>Dengan Buku Bertualang Jadi Manusia</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Tia Setiadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebelum melakukan petualangan fisik—dalam hidupku, setidaknya—ada petualangan bersama buku-buku. Buku-buku itu menuturkan kepadamu dunia yang maha luas, namun sungguh tercakup. Penuh dengan kemungkinan-kemungkinan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pengakuan Susan Sontag, seorang esais dan novelis perempuan terkenal Amerika Serikat dalam sebuah esai memukau: Homage to Halliburton, yang terhimpun dalam buku &lt;i&gt;Where The Stress Fall&lt;/i&gt;. Dalam esai ringkas tersebut, Sontag mengisahkan ihwal pertautannya dengan buku. Pada umur tujuh tahun, ia membaca Book of Marvels, buku yang merekam pengembaraan Halliburton ke tempat-tempat yang menakjubkan dan menantang: Tembok Besar China, Grand Canyon, Masjid Biru di Isfahan, Lhasa, Delphi, Taj Mahal, dan banyak lainnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hallington menyebut tempat-tempat itu sebagai "mukjizat". Dan, gadis kecil itu pun terpesona. Di benak gadis kecil itu, menjadi petualang dan penulis seperti Halliburton merupakan suatu proses menjalani hidup dengan rasa serba ingin tahu yang tak pernah berkesudahan, dengan energi dan kegairahan yang melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran itu begitu kuat tertanam dalam diri Sontag kecil, bahkan hingga jauh pada kemudian hari. Puluhan tahun kemudian, Sontag mengunjungi sendiri tempat-tempat ajaib yang dipaparkan dalam &lt;i&gt;Book of Marvels&lt;/i&gt; dan dia pun menjadi penulis terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal seberapa jauh buku- buku karya Halliburton telah memengaruhinya untuk bermimpi menjadi seorang penulis, dengan takzim Sontag menyatakan: "Ketika aku mengenang kembali kini, betapa besarnya pengaruh buku-buku Halliburton kepadaku pada masa-masa awal riwayat bacaku, aku melihat betapa kata "petualang" telah menyusup, mengharumi, dan menghasut lahirnya impianku untuk menjadi seorang penulis; sebab apakah penulis itu selain seorang petualang mental?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bocah dari Jawa Tengah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang tidak terpaut jauh dengan saat Sontag pertama kali membaca &lt;i&gt;Book of Marvels&lt;/i&gt;, nun di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, juga ada seorang anak lelaki yang mengalami hal yang hampir serupa. Anak lelaki itu memang terbiasa ikut bermain bersama teman-teman sebayanya, namun ia merasa ada sesuatu yang berbeda antara dirinya dengan anak-anak lainnya. Dan, beda itulah yang membuatnya sudah mulai berpetualang dengan buku-buku, dan tak bisa kembali lagi selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, "Waktu itu, dia tak tahu bahwa khayalan- khayalannya menggelikan kawan sepermainannya. Ketika untuk beberapa lama, sambil bermain bola, dibayangkannya padang- padang prairie, meskipun yang mengitarinya tidak lebih dari lapangan rumput bekas pabrik di mana sebatang randu tua tegak dan pohon-pohon mangga melebat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak laki-laki itu, yang di kemudian hari menuliskan petualangan kreatifnya dalam &lt;i&gt;Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang&lt;/i&gt;, "Bukan suatu perbuatan bodoh jika seseorang meminjamkan buku terjemahan Treasure Island kepada rombongan ketoprak amatir desa, yang sedang sibuk mencari sebuah kisah seru setelah mementaskan Damarwulan…."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu kini telah menjadi salah seorang penyair dan esais terkuat Indonesia, dan juga telah menjadi seorang "petualang". Dialah Goenawan Mohamad. Sejauh mana petualangan yang telah dilakukan Goenawan, bisa kita simak, di antaranya, dalam puisi-puisinya. Kalau kita membaca &lt;i&gt;Sajak-sajak Lengkap Goenawan Mohamad (1961-2001)&lt;/i&gt;, kita akan digamit oleh Goenawan untuk berpetualang ke tempat-tempat jauh; ke Sarajevo, Berlin, Hiroshima, Nanking, Praha, dan tempat- tempat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, begitulah anak lelaki dari kota kecil Batang yang "punya khayalan-khayalan yang menggelikan bagi kawan-kawan sepermainannya" dulu itu, yang sekarang telah menjadi "petulang mental" sekaligus "petualang fisik" yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keterbatasan Kant&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat mencengangkan, menurut saya—barangkali juga terasa agak ganjil—adalah kisah petualangan Immanuel Kant. Syahdan, pada suatu masa dalam kehidupan Kant yang tak terlalu berbahagia, dia pernah menjadi guru besar geografi. Padahal—astaga!—Kant sama sekali tak pernah melihat gunung seumur hidupnya. Bahkan, dia sama sekali tak pernah melihat lautan, yang sebetulnya hanya berjarak sekitar dua puluh mil dari tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan fisik yang dilakukan Kant tak pernah melewati batas-batas kota kecilnya, di Konigsberg. Dan, untuk perjalanan ini, Kant sudah memiliki jadwal waktunya sendiri. Dengan jaket abu-abu dan tongkat di tangannya, Kant akan muncul dari balik pintu rumahnya dan berjalan ke arah sebuah jalan setapak yang dihiasi pohon-pohon linden. Inilah yang disebut dengan "Philosopher’s Walks", dan semua orang tahu persis bahwa saat itu jam menunjukkan angka setengah empat tepat. Kant memang selalu menggunakan waktu tersebut untuk berjalan-jalan, pada musim apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaibnya, kendati petualangan fisik Kant sangat terbatas, Kant mampu memberikan kuliah-kuliah geografi dengan penggambaran yang sedemikian cerdas, memukau dan hidup, hingga mampu membuat seluruh pendengarnya membayangkan tempat-tempat yang dipaparkannya. Dari mana Kant beroleh pengetahuan geografi yang menakjubkan itu, tanpa berkelana secara fisik? Dari buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kant seorang petualang mental yang sangat ulung. Dari caranya berbicara dan risalah-risalah yang ditulisnya, orang akan segera tahu betapa Kant telah melakukan perjalanan yang begitu jauh melalui wilayah-wilayah etika dan epistemologi yang penuh onak. Bahkan, melampaui Ultima Thule (jarak terjauh) logika yang berbahaya hingga menembus lorong ilmu yang paling gelap dan paling jauh dari peradaban, yakni metafisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang Sontag, Goenawan, dan Kant di atas meneguhkan kenyataan yang tak terbantahkan ini: pentingnya buku-buku dalam pembentukan kepribadian seseorang. Sedihnya, di Indonesia, kini, buku-buku boleh dibilang telah menjadi spesies yang langka. Yang saya maksud ialah buku-buku yang mampu memberikan kedalaman dan efek kesegaran bagi jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang menginterogasi keyakinan-keyakinan kita yang sudah usang. Yang mempertanyakan, yang menggugat, yang mengajak kita berkelahi dengan kedunguan sendiri, yang menantang kita untuk bertualang ke tempat-tempat, yang bahkan belum terpetakan, mungkin tanpa "jalan pulang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membeludak dan laku hanya buku-buku yang sekadar pantulan dari realitas televisi kita. Buku-buku yang disebut Sontag dengan tepat sebagai bookscreen, yaitu buku-buku tentang seks, tentang menjadi jutawan dengan cara instan, tentang manajemen, tentang gosip, dan seterusnya. Ya, buku-buku "sejati" sangat langka di Indonesia. Padahal, ah, izinkan saya mengutip Sontag lagi di penghujung tulisan ini, masih dari buku &lt;i&gt;Where The Stress Fall&lt;/i&gt;, tapi dari esai &lt;i&gt;A Letter to Borgers&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;"Jika buku-buku musnah, sejarah akan musnah dan umat manusia juga akan musnah … buku-buku bukan cuma penjumlahan dari mimpi-mimpi dan ingatan kita, tapi juga memberikan kepada kita model transendensi diri. Banyak orang yang mungkin berpikir bahwa membaca hanyalah sejenis pelarian: pelarian dari dunia riil sehari-sehari ke dunia imajiner, yaitu ’dunia buku-buku’. Tapi, buku-buku lebih dari itu: buku-buku adalah jalan untuk menjadi manusia yang ’penuh seluruh’."&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tia Setiadi&lt;/b&gt;, Penikmat Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting di Rybrik Teroka Harian Kompas Sabtu, 06 Oktober 2007 dengan judul awal: "Petualangan Menjadi Manusia"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-5716007449824033204?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/5716007449824033204/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=5716007449824033204' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5716007449824033204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/5716007449824033204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/10/dengan-buku-bertualang-jadi-manusia.html' title='Dengan Buku Bertualang Jadi Manusia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-6118947042870285535</id><published>2007-09-14T21:31:00.000-07:00</published><updated>2007-09-14T21:32:32.230-07:00</updated><title type='text'>Benang Kusut Buku Pelajaran</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Darmaningtyas &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pelajaran merupakan senjata utama bagi seorang pelajar karena dalam buku itulah ada ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh murid. Tapi ironisnya, di Indonesia masalah pengadaan buku pelajaran itu selalu menjadi masalah yang tak pernah terselesaikan. Justru sebaliknya, selalu melahirkan persoalan baru setiap tahun ajaran baru atau bahkan setiap semester, karena mekanisme pengadaannya yang penuh dengan nuansa bisnis. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat kebanyakan awam, masalah yang ditimbulkan oleh pengadaan buku pelajaran adalah selalu ganti setiap semester dan buku yng dipakai oleh murid sebelumnya tidak bisa digantikan kepada murid berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang strategi penerbit untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari bisnis buku pelajaran. Bisnis buku pelajaran semacam itulah yang saya sebut sebagai bisnis buku yang memiskinkan dan membodohkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masyarakat lebih dari sepuluh tahun mengeluh tentang bisnis buku yan membodohkan dan memiskinkan itu, pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian membuat kebijakan untuk memberlakukan buku ajar minimal lima ahun. Kebijkan itu kemudian dituangkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 11/2005. Keputusan tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri bisnis buku pelajaran yang cenderung menyengsarakan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu pihak, keputusan itu melegakan masyarakat karena ada payung hukum yang pasti untuk menolak bisnis buku pelalajaran yang menyengsarakan. Tapi di lain pihak, keluarnya keputusan yang terlambat (setelah dimulainya ajaran baru) membuat keputusan itu sia-sia belaka kerena orangtua sudah terlanjur membeli buku pelajaran untuk anak-anaknya yang masuk sekolah baru. Dengan kata lain, Keputusan Menteri tersebut baru akan efektif untuk tahun ajaran 2006/2007 nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Menteri Pendidikan mengenai masa berlaku buku pelajaran untuk masa minimal lima tahun itu belum terlaksana, tiba-tiba ada keputusan baru menyangkut penarikan buku pelajaran sejarah yang disusun berdasarkan kurikulum 2004 atau yang dikenal dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada alasan yang jelas mengapa buku pelajaran sejarah tersebut ditarik. Yang pasti, banyak orangtua yang sudah terlanjur membelikan buku pelajaran sejarah tersebut untuk anak-anak mereka. Dan ketika buku tersebut ditarik, tidak otomatis uang mereka dikembalikan oeleh pemerintah melalui penerbit. Artinya, masyarakat harus membayar mahal untuk sesuatu yang tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Isi Menyesatkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mekanisme pengadaannya yang menyengsarakan masyarakat, isi buku paket atau buku pelajaran itu sendiri bisa membingungkan atau menyesatkan murid-murid. Hal itu disebabkan tidak jelas betul pesan yang ingin disampaikan oleh penulis buku pelajaran, terutama dalam membuat soal-soal yang dimaksudkan untuk membantu pemahaman murid. Di bawah ini diberikan contoh materi materi pelajaran bahasa Indonesia kelas III semester I yang disusun berdasarkan kurikulum 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada buku &lt;i&gt;Bina Bahasa Indonesia 3A untuk Sekolah Dasar Kelas 3 Semester I&lt;/i&gt;, terbitan Erlangga yang disusun oleh Tim BKG, Kurikulum 1994 Suplemen 1999 halaman 8 dicontohkan mengenai penggunaan huruf kapital utuk nama suku bangsa dan bahasa. Contoh yang diberikan adalah 1) “Kami adalah bangsa …” (jawabannya Indonesia) dan 2) Di Kabupaten Banten berdiam suku…(jawabannya Baduy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua contoh di atas tidak ada persoalan karena pesan yang disampaikan jelas dan kedua pilihan yang diberikan juga tidak membingungkan, karena dari kedua contoh soal yang tersedia terdapat terdapat dua jawaban yang harus dipilih dan membedakannya juga amat jelas. Tapi sampai pada soal yang harus dikerjakan oleh murid amat membingungkan. Dari 10 pertanyaaan yang tersedia terdapat 10 alternatif jawaban. Tapi semua alternatif jawaban itu bisa benar semua bila diisikan ke dalam masing-msing pertanyaan, seperti yang terlihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjakan seperti contoh!&lt;br /&gt;1. Pamanku orang Bandung, ia adalah suku?&lt;br /&gt;2. Bibiku pandai berbahasa?&lt;br /&gt;3. Adikku ingin belajar bahasa?&lt;br /&gt;4. Ayahnya termasuk suku?&lt;br /&gt;5. Benarkah kamu termasuk bangsa?&lt;br /&gt;6. Saya paham betul bahasa?&lt;br /&gt;7. Di mana suku … berada?&lt;br /&gt;8. Ayahku pernah bertemu dengan suku?&lt;br /&gt;9. Kami senang bisa belajar bahasa?&lt;br /&gt;10. Kami pernah mengunjungi suku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan alternatif jawabannya: Sunda, Jepang, Inggris, Bali, Arab, Betawi, Manado, Indian, Madura, Tengger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak daftar pertanyaan dan alternatif jawaban seperti di atas, maka sebetulnya tidak ada jawaban tunggal. Pertanyaan nomor satu, misalnya, belum tentu jawabannya suku Sunda. Sebab bisa saja pamanku sebetulnya suku Madura, tapi karena sejak kecil tinggal  di Bandung, maka ia lebih suka menyebutnya sebagai orang Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula pertanyaan nomor dua, seandainya dijawab lebih dari satu alternatif jawaban yang tersedia sa-sah saja dan benar. Sebab sangat mungkin bibiku pandai berbahasa Jepang, Inggris, Bali, dan Arab. Atau pandai berbahasa Sunda, Jepang, Inggris, dan Arab. Hal yang sama berlaku untuk pertanyaan lainnya. Sebagai contoh pertanyaan No. 10, sah dan benar bila dijawab: Kami pernah mengunjungi suku Tengger, Sunda, Bali, Madura, atau bahkan suku Indian di Amerika sana. Seorang antropolog atau seorang traveler sangat mungkin mengunjungi banyak suku di negeri/dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi buku yang membingungkan itu bila dipegang oleh guru yang tidak cerdas dan berpikir tertutup, akan menimbulkan kekerasan pada murid. Sebab, murid akan dipaksa untuk menjawab sesuai dengan selera guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertanyaan nomor satu mungkin guru akan memaksa murid untuk menjawab “suku Sunda”. Murid yang mempunyai jawaban lain bisa disalahkan, padahal jawaban murid yang sembarang pasti benar bila mereka masih tetap mengambil salah satu atau beberapa dari 10 alternatif jawaban yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di atas diambil hanya dari satu halaman salah satu buku pelajaran saja. Bila kita coba telisik semua buku pelajaran dari TK hingga SMA, sangat mungkin akan ditemukan banyak kesalahan informasi maupun contoh soal sehingga akibatnya buku itu tidak mencerdaskan murid, tapi membingungkan dan menyesatkan murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana letak kesalahan contoh soal di atas? Jawaban yang tersedia tidak fokus! Padahal, soal yang akurat harus memberikan alternatif jawaban pasti, karena kepastian itu menunjukkan bahwan pesan yang ingin disampaikan sangat jelas. Bila pesannya tidak jelas, murid bisa menjawab sembarangan dan tidak disalahkan. Kekeliruan yang ada dalam buku di atas sangat menyedihkan karena buku itu disusun oleh Tim Bina Karya Guru. Bila para guru yang menyusun saja tidak tidak menyadari adanya kesalahan yang sangat fatal, bagaimana mungkin guru pemakainya “yang dengan keterbatasan kemampuannya” akan bersikap kritis dan mengetahui kesalahan buku itu? Guru kemudian memproduksi kesalahan secara terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Darmaningtyas, Anggota Dewan Penasihat Center for the Betterment of Education, di Jakarta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;i&gt;Media Indonesia&lt;/i&gt; Edisi Selasa 20 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-6118947042870285535?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/6118947042870285535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=6118947042870285535' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/6118947042870285535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/6118947042870285535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/09/benang-kusut-buku-pelajaran.html' title='Benang Kusut Buku Pelajaran'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-3483232640499943515</id><published>2007-09-14T06:27:00.001-07:00</published><updated>2007-09-14T06:33:07.038-07:00</updated><title type='text'>Tak Ada Clifford Geertz di (Perpus) Pare</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa akademisi yang bergelut di bidang sosial dan antropologi yang tak kenal dengan sepotong nama: Clifford Geertz (Lahir: San Francisco, 23 Agustus 1926). Siapa pula yang tak kenal dengan generalisasi antropologisnya yang nyaris klasik tentang (pemeluk) agama di Jawa: Santri, Abangan, dan Priyayi dalam karyanya &lt;i&gt;The Religion of Java&lt;/i&gt;?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala antropolog asal Amerika Serikat ini mangkat setahun silam, 30 Oktober 2006, nyaris semua koran memuat ulasan in memoriam-nya. Bahkan Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; dan Lingkar Muda Indonesia sepurnama setelah kepergiannya harus mengadakan sebuah “tahlilan diskusi” untuk mengenang jasa “sang penemu” kategorisasi beragama di Jawa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi (orang) Pare—atau Geertz menyamarkannya dengan nama lain: Mojokuto—apa arti sepotong nama ini? Saya berani bertaruh mencari orang yang tahu nama ini saja di jantung kota Pare ibarat mencari seekor kutu di dalam lumbung. Padahal jasa Geertz memperkenalkan nama kota ini ke jantung universitas-universitas Eropa dan Amerika—khususnya yang mengkaji hal-ihwal spiritualitas masyarakat Jawa—bukanlah sepele. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama datanglah ke perpustakaan kota ini yang berada di Jl Kerinci di sisi kanan kawedanan (Pare adalah kawedanan termasyhur di seantero Jawa Timur). Jika Anda datang pagi hari, Anda akan melewati pasar kliti'an tibanan. Perpustakaan itu bernama Wisma Perpustakaan Mas Trip yang mengingatkan kita dengan perpustakaan Kediri. Dari namanya saja terungkap bahwa perpustakaan ini sumbangan dari yayasan yang diambil dari nama seorang pelajar-prajurit yang sadar betapa pentingnya literasi bagi pertumbuhan masyarakat Pare.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan yang diresmikan Mendikbud Fuad Hassan pada 30 November 1989 ini terdiri dari dua lantai. Di lantai satu terdapat buku-buku literatur seperti ensiklopedia, kliping majalah, koran, dan meja petugas jaga yang jumlahnya sekira tujuh orang. Abaikan dan tak usah berkeringat-keringat menyusur semua lema judul buku di laci katalog. Langsung saja memeriksa satu per satu rak buku yang memang tak terlalu banyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rak buku literatur asing hanya ada satu rak. Sementara di bagian agama, hanya berbaris segelintir buku yang sampulnya sudah kusam. Nyaris tak ada buku baru di sini. Sepenuturan salah seorang petugasnya, Mas Hendro, perpustakaan ini memang sedang koma. Selalu buka tapi pengunjungnya kian sepi lantaran buku yang tersedia cuma itu-itu saja. Jangankan buku baru atau yang paling prestisius adalah digital library di temukan di kota yang namanya sudah menginternasional ini, di perpustakaan ini komputer keluaran paling kuno sekali pun tak terlihat nongkrong di atas meja petugas. Cuma ada satu mesin ketik yang berukuran sedang dan radio transistor tua keluaran zaman “Bambu Runcing”. Kata Mas Hendro, radio yang sudah tunawicara itu kepunyaan teman mereka yang sudah almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya setengah jam mencari, saya pun berkesimpulan, Geertz tak ada di perpustakaan ini. Saya coba turun ke lantai satu dan menanyakan kepada petugas apakah ada nama Geertz bersemayam di sini. Jawabannya agak berbelit-belit dan dengan pasti mengarah pada kesimpulan: tak ada. “Sepertinya saya pernah baca nama itu di Jawa Pos. Nggak tahu kapan. Tapi hanya orang-orang tertentu yang punya buku itu. Tapi setahu saya masih penelitian dan buku itu belum dibukukan,” demikian keterangan itu sambil saya ditunjukkan seorang kiai di sebuah pesantren di Tulungrejo. Saya diam saja tak membantah. Sebab setahu saya buku itu sudah lama sekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan terbit berbentuk buku yang sebenar-benarnya. Bahkan buku-bukunya yang lain selain &lt;i&gt;Religion of Java&lt;/i&gt; juga sudah terbit, seperti &lt;i&gt;The Interpretation of Cultures, Negara: The Theatre State in 19th-Century Bali, The Politics of Culture&lt;/i&gt;, maupun &lt;i&gt;After the Fact&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan setengah panik, saya kemudian menanyai satu per satu pengunjung di lantai dua yang beberapa masih siswa dan lainnya beberapa pemuda. Satu orang, dua orang, enam orang. Jawabannya segendang sepenarian: tak ada yang tahu bahwa Clifford Geertz itu nama orang dan bahkan menganjurkan cari saja di bagian biografi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah ada orang terakhir yang menyebabkan saya tak jadi seperti orang gila yang hendak bertanya setiap pedagang barang rongsokan yang berbaris manis di sepanjang Jl Kerinci di mana perpustakaan ini berdiri. Namanya Sindu dari Desa Krenceng, Kecamatan Kepu. Dia sedang suntuk membaca di sudut ruangan. Rupanya dia tahu subjek yang sedang saya cari. Bahkan pengalamannya sebagai sales yang menguasai gang-gang tikus seisi kawedanan ini mampu meyakinkan saya bahwa Geertz pernah tinggal di jantung kota ini. Ia lalu bertutur banyak tentang sisa-sisa penjelajahan Geertz yang menurut hematnya berpusat pada pasar yang dihuni oleh masyarakat urban, tradisional, pendatang Arab, maupun loji serdadu Belanda. “Ada satu gang di depan Taman Thamrin. Masuk saja ke situ. Ada rumah yang di situ tertulis ‘Clifford Geertz – Mojokuto’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang menuju alamat yang ditunjukkan. Pertama-tama memasuki Gang Welirang yang tepat berada di depan Taman Thamrin. Setelah dua kali berputar-putar tak ketemu, saya berhenti di sebuah warung. Si mbok pemilik warung dengan suara menaik mengatakan ketaktahuan dan sekaligus keheranannya: “Siapa itu, Mas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya menyusuri Jalan Kawi yang tembus ke Pasar Pare. Dan beruntunglah saya setelah bertanya sekali, dioper kepada dua orang sepuh yang barangkali bisa tahu nama yang sedang saya cari. Orang pertama bernama Mbok Sutiyah. Dia adalah angkatan perintis kemerdekaan dan satu-satunya di Kawedanan Pare yang masih hidup sampai saat ini. Beliau juga mengaku tak pernah tahu bahwa ada seorang londo bernama Geertz keluar masuk Jalan Kawi ini untuk nongkrong-nongkrong di pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di depan rumah Mbok Sutiyah ada Mbah Gento Pawiro yang juga sudah uzur. Beliau juga sami mawon dan katanya tak ada kos-kosan yang ditinggali londo bernama Clifford Geertz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah. Dengan setengah putus asa saya belok kanan dan pulang mengambil jalur melewati Pasar Lawas. Sebab sepenuturan Sindu, untuk meneliti Geertz mesti melihat pasar ini di mana Geertz juga mengikuti secara dekat pola hubungan simbolisme budaya masyarakat Pare atau Mojokuto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu jadi trenyuh. Indonesianis satu ini sudah berlelah-lelah meneliti kehidupan kota ini pada sebuah masa dan menyebarkan informasi ini ke universitas-universitas terbaik dunia. Namanya bahkan nyaris jadi jimat untuk studi antropologi (dan juga sosiologi). Tapi pada saat bersamaan nyaris semua warga kota ini tak mengenal sepotong pun namanya. Bahkan generasi yang paling sepuh sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tak menyalahkan ketaktahuan warga Pare yang saya temui atas kehadiran sosok Geertz di kota mereka. Yang patut disayangkan adalah perpustakaan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pusat literasi masyarakat dan persemayaman ingatan akan laku hidup pengetahuan yang pernah diciptakan manusia. Bayangkan, perpustakaan ini saja tak sanggup mengabadikan nama Geertz, apalagi berharap banyak para pelajar belianya untuk kukuh melafadzkan namanya—syukur-syukur bisa membacai satu-dua karyanya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-3483232640499943515?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/3483232640499943515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=3483232640499943515' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/3483232640499943515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/3483232640499943515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/09/tak-ada-clifford-geertz-di-perpus-pare.html' title='Tak Ada Clifford Geertz di (Perpus) Pare'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-1393248371905082652</id><published>2007-09-01T16:51:00.000-07:00</published><updated>2007-09-01T16:59:15.278-07:00</updated><title type='text'>Buku dalam Tarikan Keppres</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Hendro Martono*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah makin mahalnya harga buku dan agresivitas sekolah dalam memungut biaya pengadaan buku pelajaran untuk para siswa, pengalokasian anggaran pemerintah (pusat maupun daerah) pada pos pengadaan buku pelajaran sebetulnya patut dihargai. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pengucuran dana bantuan operasional sekolah khusus buku (BOS-Buku) senilai Rp 800 miliar, tahun lalu, kebanyakan sekolah dapat memenuhi kebutuhan buku pelajaran, khususnya untuk mata pelajaran yang diujikan secara nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menunjang (atau menumpang tindih?) pemenuhan buku pelajaran pada mata pelajaran yang sama, pemerintah daerah umumnya juga mengalokasikan anggaran pengadaan serupa. Argumen yang dikemukakan tampaknya cukup sahih, antara lain guna mendorong peningkatan mutu pendidikan dan memenuhi rasio kebutuhan buku bagi siswa. Kendati demikian, beberapa aspek masih perlu kajian yang lebih bijak, menyangkut mekanisme maupun perspektif tentang buku itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, beserta peraturan perubahan yang mengikutinya, bila nilai pengadaan di atas Rp 50 juta, dan dibiayai seluruhnya atau sebagian dari APBN/ APBD, maka pengadaan barang/ jasa harus melalui lelang. Meskipun Pasal 6 dengan jelas menyebutkan dua cara pengadaan, yaitu dengan menggunakan penyedia barang/jasa (lelang); dan atau dengan cara swakelola, agaknya pemerintah daerah memandang sebelah mata model pengadaan secara swakelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula—meskipun keputusan presiden tersebut tidak mengacu pada undang-undang pendidikan dan peraturan di bawahnya—alih-alih merujuk Peraturan Presiden (PP) Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi sebagai konsiderans—pelaksana anggaran pengadaan buku pelajaran tetap memilih cara pertama. Yang menarik dipersoalkan adalah mengapa pemerintah daerah, khususnya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), tetap ingin melaksanakan pengadaan buku pelajaran melalui lelang, sementara pemerintah (pusat) justru "lebih suka" menggunakan model swakelola?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelelangan itu panitia memang dapat menentukan harga perkiraan sendiri (HPS) dengan nilai maksimal 70 persen. Panitia pun dapat berharap ada sisa lebih pagu anggaran yang dapat dijadikan tabungan pada kas daerah. Namun, yang tidak dinyatakan, masih banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan lelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, honorarium pengguna barang/jasa, panitia/pejabat pengadaan, bendaharawan, dan staf proyek; pengumuman pengadaan barang/jasa; penggandaan dokumen pengadaan barang/jasa dan/atau dokumen prakualifikasi; serta administrasi lainnya yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengadaan barang/jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi, hasil kajian yang dilakukan Direktorat Pembinaan SMK (2007) terhadap pelaksanaan pembangunan unit sekolah baru (USB), unit gedung baru (UGB), ruang kelas baru (RKB), maupun rehabilitasi gedung—semuanya termasuk dalam bidang pengadaan jasa konstruksi—menunjukkan perbedaan sangat signifikan antara pola kontraktual dan swakelola. Pola swakelola dapat menghemat pembiayaan mencapai 33 persen. Secara matematis, harapan adanya sisa lebih pagu anggaran justru mengalami &lt;br /&gt;defisit akibat biaya lelang maupun inefisiensi pelaksanaan lelang. Ini berarti model pengadaan secara swakelola lebih efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Model "block grant"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih menunjuk kasus pemimpin dan pejabat di daerah yang banyak tersandung masalah lelang buku, kebijakan Departemen Pendidikan Nasional dalam mengelola anggaran pengadaan buku pelajaran jauh lebih menarik. Selain BOS-Buku yang dikucurkan dalam bentuk block grant, dana alokasi khusus bidang pendidikan nyatanya juga dikelola dengan model serupa, yakni hibah dalam bentuk block grant dan atau subsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk Peraturan Mendiknas No 5 Tahun 2006 maupun Peraturan Mendiknas No 4 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan, pengelolaan anggaran pengadaan buku pelajaran juga mengacu pada Keppres No 80/2003 itu. Namun, pasal-pasal yang dirujuk adalah Pasal 6 Huruf b; Pasal 39 Ayat (1); bagian penjelasan Pasal 1 angka 1; sampai dengan lampiran I Bab III huruf A angka 2.c.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ditambah dengan PP No 7/2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004-2009, khususnya Bab IV huruf C dan D. Di atas semua itu, tentu saja UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjadi payung hukum tertinggi dalam pengelola anggaran dengan model swakelola. Contoh menarik, Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta dalam tahun anggaran 2004 juga pernah mem-block grant-kan biaya pengadaan buku pelajaran wajib dan biaya pengadaan buku perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pengadaan buku pelajaran menggunakan pola yang sama (swakelola), sebagaimana tersirat dalam Peraturan Mendiknas No 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran maupun tersurat dalam peraturan pelaksanaan BOS-Buku, kemungkinan besar juga akan didapat efisiensi biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Guru sumber belajar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari sekadar perbedaan tafsir atas pelaksanaan Keppres No 80/2003 itu, masalah pengadaan buku pelajaran sebetulnya juga dapat ditempatkan dalam spektrum yang lebih luas. Sekurang-kurangnya menurut Pasal 2 Peraturan Mendiknas No 11 Tahun 2005, di luar buku teks pelajaran untuk siswa masih banyak dibutuhkan buku panduan pendidikan, buku penunjang, dan buku referensi untuk guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logikanya, jika di sekolah hanya ada buku teks pelajaran yang digunakan sebagai acuan wajib bagi guru dan siswa, hampir tidak dapat dibedakan siapa yang belajar dan siapa yang mengajar. Mengharap peningkatan kualitas belajar dari kondisi seperti ini rasanya sulit. Kondisi ini akan berbeda bila di dalam kelas terdapat juga buku panduan, buku penunjang, dan buku referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, yang perlu ditekankan di sini adalah pentingnya membangun kapasitas guru sebagai sumber belajar. Kebijakan dalam bidang pengadaan buku selama ini masih meminggirkan peranan guru. Guru tidak pernah "kecipratan" proyek pengadaan buku pelajaran; hanya diposisikan sebagai konsumen, sama seperti siswa, tanpa ada upaya pemberdayaan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menstigmatisasi guru sebagai entitas yang tidak pernah mampu menulis buku, hanya untuk melegitimasi kebijakan pengadaan buku melalui lelang, merupakan tindakan yang kurang bijak. Pengalaman guru selama bertahun-tahun menulis Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menulis diktat harus disikapi sebagai sebuah modal kapasitas dalam menulis buku pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Keppres No 80/2003 juga sudah mengakomodasi gagasan ini. Pada Bab III Pasal 39, khususnya Ayat (3), antara lain disebutkan pekerjaan yang dapat dilakukan dengan swakelola adalah pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia instansi pemerintah yang bersangkutan dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok pengguna barang/jasa; dan/atau penyelenggaraan diklat, kursus, penataran, seminar, lokakarya, atau penyuluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pemerintah daerah cukup akomodatif terhadap gagasan ini, di daerah akan terbangun kapasitas dalam menulis naskah buku pelajaran. Di sisi lain, perlunya membangun kapasitas guru yang telah bertahun-tahun tidak mendapat perhatian niscaya akan dapat menjadi katalisator bagi upaya peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sejalan dengan rencana pemerintah yang akan membeli hak cipta para penulis buku pelajaran dengan nilai antara Rp 40 juta dan Rp 75 juta. Kebijakan ini akan membuat lelang pengadaan buku pelajaran menjadi kurang relevan. Selain itu, juga akan melahirkan kapasitas guru yang kompetitif dalam menulis naskah buku pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Hendro Martono Guru SMK Negeri di Temanggung (Digunting dari Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; Edisi 27 Agustus 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-1393248371905082652?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/1393248371905082652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=1393248371905082652' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/1393248371905082652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/1393248371905082652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/09/buku-dalam-tarikan-keppres.html' title='Buku dalam Tarikan Keppres'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-4195117174885793261</id><published>2007-08-12T18:30:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T18:33:30.105-07:00</updated><title type='text'>Se-Yogya-nya Perpusda Malioboro Dipindah</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Perpustakaan Daerah Malioboro Saroha Sinaga di Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; 7/8/2007) mengatakan Perpustakaan Malioboro sedang mengalami proses rehab setelah tembok-temboknya dirayapi gempa pada 27 Mei setahun silam. Tentu ini berita baik. Sebab sudah sangat lama—bahkan sebelum dikukut gempa—perpustakaan ini berdandan jorok, apak, dan ribut. Membayangkan kekhusyukan membaca buku di perpustakaan ini hanyalah angan-angan kosong. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat sulit memberi representasi Yogyakarta sebagai kota-buku jika mendapatkan perpustakaan dengan kondisi yang begini mengerikan di jantung (niaga) kota. Dari depan, perpustakaan ini sudah memperlihatkan rautnya yang rudin, keropos, dengan plang yang mengalami miopia akut. Sosoknya kalah bersaing dengan baliho-baliho nama toko yang berdiri rapat di kiri-kanan-depannya yang berwarna pastel mengkilat, segar memanjakan mata, dan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para akademisi atau mahasiswa yang pertama kali datang ke Yogyakarta akan begitu sulit mengenali perpustakaan ini. Jika tak bertanya pada tukang becak di sepanjang Malioboro, dibutuhkan tiga empat kali melintas dengan mata superawas untuk menandai muka perpustakaan ini. Sebab selain plangnya yang mulai gelap, di depan pintunya dibentengi barisan para penjaja kain dan onderdil kerajinan dengan manusia-manusia pembelanja yang bersiliweran tiada putus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya untuk masuk saja pengunjung sudah dihadang oleh benteng-benteng pasar. Di dalamnya pun, kondisi tenang selayaknya perpustakaan menjadi barang teramat langka. Kalau yang kita dengarkan adalah riuh perdebatan tentang buku dan pengetahuan dalam perpustakaan mungkin wajar. Tapi di sini tidak. Suara yang mendominasi adalah kaingan suara tawar-menawar barang dagangan di sela pintu. Sambil baca di ruang tengah, kita juga akan selalu dipaksa mendengar bagaimana para penjual kain dengan bahasa Inggris hapalan merayu bule-bule yang melintas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak usahlah ditanya bagaimana bau perpustakaan ini. Tak menjadi soal jika seseorang yang berkunjung adalah para kutu buku yang selalu bugar mencium bau kertas busuk. Tapi bagaimana dengan remaja-remaja SMA atau mahasiswa-mahasiswa modis berjenis homo cafeinensis yang malas ke perpustakaan dan jika pun ke perpustakaan hanya karena dipaksa membuat makalah atau studi tentang sastra, bahasa, dan media. Bahkan pernah ada yang baru pertama kali masuk setelah keluar kepala pening dan mata berkunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya sepakat dengan renovasi perpustakaan ini. Tapi itu saja belum cukup. Sebab yang se-&lt;i&gt;yogya&lt;/i&gt;-nya adalah perpustakaan ini sudah harus angkat kaki dari arena pasar yang sumpek ini. Saatnya ia dibedol. Mesti tahu diri bahwa perpustakaan ini sudah tak layak tinggal di antara distro-distro gemerlap yang tampil anakronik dengan seragam masih ala Jaka Sembung, Si Buta dari Goa Selarong, atau pendekar-pendekar dari Bukit Menoreh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitasnya pun tak memadai. Lahan parkir tak punya. Sirkulasi udara buruk karena diapit rapat oleh toko-toko. Dan yang paling penting, perpustakaan ini terlampau ribut oleh teriakan-teriakan para pedagang di serambi. Jadi, semua syarat sebagai perpustakaan yang lebih terhormat dan hening tak didapatkan di bangunan bernomor 175 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang terus bersatu dengan yang bukan habitatnya, pemerintah kota bisa berpikir untuk mendekatkannya dengan pusat-pusat kebudayaan, kebersenimanan, dan perbukuan di Yogyakarta—dan bukan melemparnya terlalu jauh seperti di gedung Cebongan, Mlati, Sleman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alternatif ruang baru untuk perpustakaan ini. Tempat yang paling utama tentu saja perpustakaan ini dipindah ke kawasan Taman Pintar dan Taman Budaya Yogyakarta. Sudah lama sebetulnya saya membayangkan bagaimana toko buku, perpustakaan sastra, bahasa, media, dan pusat aktivitas seniman dan sastrawan berada dalam satu kawasan yang memang sudah tertata dengan rapi, bersih, dan insya Allah bermartabat. Tiga elemen itu adalah perpaduan yang elegan untuk membangkitkan citra baru kawasan Bringharjo itu sebagai “kawasan-buku-budaya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berdekatan dengan Gedung Oval tempat anak-anak bermain, perpustakaan pun bisa menyesuaikan diri dengan menambah lini ruangan sebagai perpustakaan anak dengan tampilan yang “sangat-anak”; sesuatu yang tidak didapatkan jika perpustakaan ini masih dipertahankan di gedung nomor 175. Memang di tempat ini ada perpustakaan anak, tapi kondisinya mirip kamar mahasiswa kos yang sedang putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bertetangga dengan gerai-gerai buku, maka perpustakaan bisa mengambil inisiatif untuk menyiapkan ruang bagi perhelatan acara-acara peluncuran buku baru atau seminar soal isu pendidikan dan perbukuan. Selama ini bedah buku kerap dipusatkan di kampus-kampus atau beberapa kali diselenggarakan oleh toko besar. Dengan adanya perpustakaan ini, semangat itu bisa dikelola di mana pengunjungnya adalah juga para pembeli buku. Dengan demikian, kesan “shoping” yang sudah sangat melegenda itu, bukan sekadar tempat jual-beli buku dengan rabat tinggi, tapi juga kawasan menimba dan mengoplos pengetahuan yang berdiam di halaman-halaman buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa terlalu sulit memindahkannya? Tak terlalu sulit jika pemerintah kota mau. Apalagi pemerintah memang sedang mematangkan sebuah semangat untuk menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu kota wisata buku yang megah. Biarlah tanah dan gedung 175 itu dilego ke para saudagar yang memang gedung itu paling pas untuk perniagaan. Dengan dana dari hasil penjualan itu dan ditambah dengan kucuran dana segar dari pemerintah, dibuatlah bangunan baru di sisi kiri gedung Taman Budaya Yogyakarta yang masih luas dan lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang butuh waktu. Tapi jika menghabiskan dana percuma untuk renovasi tapi kondisi perpustakaan bermartabat minimum tak didapatkan, bukankah lebih baik memikirkan usaha pemindahan. Kalau pun misalnya sudah kadung direnovasi, cukup diniatkan sebagai perbaikan struktur agar nilai jualnya kepada para saudagar juga naik berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha pemindahan ini bukan saja ingin meraih semangat maksimum sebuah perpustakaan yang hening, asri, dengan ratusan ribu koleksi, tapi juga menyelamatkan wajah perpustakaan dari citra yang angker, seram, dan sekaligus menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-4195117174885793261?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/4195117174885793261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=4195117174885793261' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4195117174885793261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/4195117174885793261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/08/se-yogya-nya-perpusda-malioboro.html' title='Se-&lt;i&gt;Yogya&lt;/i&gt;-nya Perpusda Malioboro Dipindah'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2049454165149779873</id><published>2007-07-28T17:16:00.000-07:00</published><updated>2007-07-28T17:24:21.106-07:00</updated><title type='text'>Salah Kaprah Menyubsidi Taman Bacaan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana terbaru pemerintah untuk meningkatkan literasi masyarakat sangat menarik untuk disikapi. Pemerintah bermaksud memberdayakan taman bacaan dengan cara memberikan subsidi, menata distribusi penyediaan buku dan pembaruan koleksi di taman bacaan. Pemerintah tampak begitu "bersemangat" karena menempatkan peningkatan budaya baca sebagai prioritas utama, terutama untuk pendidikan nonformal. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terlihat dari peningkatan anggaran dalam beberapa tahun belakangan. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas Ace Suryadi, tahun 2005 anggaran peningkatan budaya baca untuk pendidikan nonformal Rp 8,5 miliar. Angka itu meningkat pada 2006 menjadi Rp 40 miliar dan 2007 meningkat hingga Rp 90 miliar. Anggaran itu 60 persen berupa block grant yang akan disalurkan ke pemerintah daerah lewat pemerintah provinsi dan berdasarkan proposal. Untuk tahun 2007 ini, setidaknya sudah ada 6.000 taman bacaan yang bergabung dengan jejaring Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selintas, peningkatan anggaran itu terlihat meyakinkan. Dalam logika pemerintah, taman bacaan selama ini sekadar menjadi tempat meminjam dan menumpuk buku. Rencana terbaru pemerintah itu akan mengubah kondisi taman bacaan sehingga menjadi tempat yang hidup dan digemari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, betapa ganjilnya logika itu. Apakah pemerintah tidak pernah melakukan studi lapangan sebelum menetapkan rencana sepenting itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya memang tidak. Pemerintah rupanya tidak melihat bahwa taman bacaan selama ini sudah menjadi "tempat yang hidup dan digemari masyarakat". Pemerintah tidak melihat bahwa taman bacaan hampir-hampir telah menjadi lanskap wajib di kompleks permukiman urban, terutama di area yang dihuni banyak penduduk usia muda. Pemerintah tidak melihat kenyataan betapa seringnya anak-anak dan remaja usia sekolah menengah dan mahasiswa masuk-keluar taman-taman bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana terbaru pemerintah itu hanya akan menjadi rencana yang salah sasaran karena dua alasan. Pertama, taman-taman bacaan yang akan disubsidi, terang-terang telah mencapai kondisi yang diinginkan pemerintah, yaitu menjadi "tempat yang hidup dan digemari masyarakat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pada jangka panjang, subsidi hanya akan membuat taman-taman bacaan sebagai entitas bisnis-ekonomi menjadi "manja", yang akan menurunkan efisiensi dan semangat berkompetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Prinsip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana terbaru pemerintah itu muncul karena pemerintah melupakan perbedaan yang prinsipil antara taman bacaan dan perpustakaan. Taman bacaan adalah sebuah entitas bisnis-ekonomi. Sebagai entitas bisnis-ekonomi, segala gerak-geriknya dikendalikan oleh profit (profit-driven). Motivasi utamanya pencarian keuntungan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sekecil-kecilnya. Ia hanya bertanggung jawab kepada kapital, bukan kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan rasionalitas ekonominya, masuk akal jika taman bacaan kemudian menerapkan strategi tertentu untuk memikat orang agar mau mengunjungi (dan "membeli" jasa penyewaan buku) taman bacaan yang profit-driven itu. Selintas, strategi itu tampak berhasil. Publik ternyata memilih melakukan hal yang konsumtif dan menguras saku ketimbang mengunjungi perpustakaan, yang sama-sama menyediakan bahan bacaan tetapi tidak berniat menguras uang pengunjung (gratis). Tetapi, lihatlah kualitas dari kegiatan konsumtif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa mengingkari bahwa banyak taman bacaan yang menyediakan buku-buku yang memang bermanfaat dalam pendidikan, tetapi kita juga tidak bisa mengingkari bahwa yang lebih banyak tersedia di taman-taman bacaan adalah bahan-bahan bacaan ringan dan mengibur yang diniatkan sebagai pengisi waktu senggang, seperti komik (yang paling banyak adalah manga) dan fiksi ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud peyoratif, kita tahu sifat bahan-bahan bacaan ringan itu adalah melenakan dan mengajak orang sejenak beristirahat dari ketegangan pada waktu sibuk. Pada tahap awal, kegemaran membaca memang bisa dimulai dari kegiatan membaca yang ringan-ringan, tetapi porsi bahan bacaan semacam ini jika terlalu banyak tentu tidak baik, karena akan menjadi candu yang membuat orang lupa pada tugas-tugasnya. Hal ini sudah menunjukkan gejala dengan ramainya taman-taman bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perpustakaan, yang di negeri ini sebagian besar dikendalikan oleh negara, adalah sarana pelayanan publik yang merupakan bagian dari kewajiban negara kepada warganya. Motivasi utamanya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyediaan bahan-bahan bacaan yang diperlukan. Dengan demikian, perpustakaan adalah sebuah gerakan moral dan amanat, yang menuntut pertanggungjawaban kepada publik baik secara legal-formal berdasarkan undang-undang maupun secara moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa pemerintah tidak mengalihkan energi dan sumber dayanya untuk melakukan kewajibannya dengan memberdayakan tempat yang sekarat dan kalah ramai dari taman bacaan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa tujuan sebenarnya dari rencana salah sasaran itu. Yang jelas, rencana itu hanya menunjukkan bahwa pemerintah telah melupakan perpustakaan dan prinsip-prinsip yang membedakan perpustakaan dari taman bacaan. Entah disengaja atau tidak, dengan rencana itu pemerintah tampak seperti sedang melarikan diri dari tanggung jawabannya kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah lebih baiknya jika dana yang dianggarkan pemerintah dialokasikan untuk memberdayakan perpustakaan yang selama ini dimatikan oleh rutinitas, formalitas, dan state of being yang tidak mampu memikat pengunjung. Selain untuk reformasi budaya perpustakaan seperti diimpikan oleh Zen Rachmat Sugito dalam "Andaikata Saya Kepala Perpustakaan" dalam rubrik ini (JP, 8/7/2007), dana yang direncanakan itu tentu akan sangat bermanfaat dalam reformasi organisasional dan pelayanan publik di perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dimuat di Harian Jawa Pos Edisi 29 Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2049454165149779873?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2049454165149779873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2049454165149779873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2049454165149779873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2049454165149779873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/07/salah-kaprah-menyubsidi-taman-bacaan.html' title='Salah Kaprah Menyubsidi Taman Bacaan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-7822204842238967870</id><published>2007-07-24T03:16:00.000-07:00</published><updated>2007-07-24T03:21:13.807-07:00</updated><title type='text'>Pembaca Cepat Itu Seperti Maling Diuber Massa</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca adalah sebuah proses tua yang pernah dilakukan manusia. Bahkan ayat kitab suci pertama menyerukan manusia untuk membaca. Iqra. Bacalah! Karena itu kemudian oleh sebagian orang membaca menjadi aktivitas yang suci. Buku bacaan menjadi benda keramat dan tak boleh dipergunakan main-main dan dirawat sebaik-baiknya. Bahkan meletakkannya di rak pun tidak sembarangan, tapi penuh aturan. Simaklah apa yang diketakan Musa al-Almawi (mangkat 1573): “Buku-buku harus diatur menurut subjeknya, dan buku yang paling penting harus ditempatkan paling atas. Ururtan ebrikut ini harus dipatuhi: pertama adalah Al-Quran; lalu kitab hadis sahih seperti Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim; selanjutnya tafsir Al-Quran; berikutnya komentar atas kitab hadis; disambung dengan kitab fikih, lalu kitab ushul al-din dan ushul al-fiqh, terus buku-buku tata bahasa, puisi, dan ilmu-ilmu dunia lainnya.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jama'ah lebih rinci lagi. Katanya: “Jika ada dua buku tentang subjek yang sama, maka buku yang lebih banyak mengandung kajian Quran atau hadis hendaklah ditempatkan di atas. Jika dalam hal ini keduanya sama, maka tingkat pentingnya pengarang buku tersebut mesti dipertimbangkan. Jika dalam hal itu kedua pengarang sama, maka pengarang yang lebih tua umurnya dan lebih dicari para ulama ditempatkan di atas. Kalaupun dalam hal ini keduanya sama, maka buku yang lebih benar penulisannya harus ditempatkan di atas.' (lihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Etika Kesarjanaan Muslim&lt;/span&gt;, Mizan: 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Anda punya takaran masing-masing tentang buku yang penting dan pengarang yang difavoritkan yang kemudian Anda susun berdasarkan selera dan favoritisme itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang pasti membaca telah menjadi aktivitas tua. Aktivitas ini telah melahirkan dan membentuk kepribadian banyak orang. Saya percaya itu. Sebagian besar kita dibentuk oleh bacaan kita. Pikiran kita diarahkan oleh apa yang kita baca (dan tambah satu lagi: yang kita lihat atau tonton). Bagi mereka yang tinggal di kawasan kota atau minimal tidak jauh-jauh dari kawasan ini, bacaan menjadi kebutuhan yang berjajar dekat dengan sandang, pangan, papan. Sebab orang sadar bahwa untuk tidak digilas maka harus lincah berkelit. Dan jurus kelincahan itu bisa didapatkan dari penguasaan informasi. Dan salah satu informasi penting adalah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, secara serabutan saya bisa mengatakan, bahwa dalam banyak hal hidup kita disibukkan oleh interaksi diri dengan teks bacaan. Walaupun dalam banyak kasus kita dengar banyak sekali keluhan bahwa membaca buku itu sungguh berat. Keluhan itu bisa dipahami, sebab membaca melibatkan pikiran, perasaan, dan tindakan (untuk melaksanakan isi buku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan, memang telah lahir banyak sekali jenis hubungan atau kepribadian yang terbentuk dari diakron antara pembaca dengan buku bacaannya. Sebut saja apa yang disebut pembaca malas, pembaca marah dan sinis, pembaca tawar, pembaca kritis, pembaca penjelajah, dan lain sebagainya. Bahkan banyak cerita-cerita muncul dari diakron antara pembaca dan bacaannya, baik cerita yang ironis, sedih, konyol, maupun yang nyentrik, dan bahkan gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Efek Membaca Cepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan teknologi cetakan, buku-buku bacaan pun meningkat dengan sangat spektakuler. Di Yogyakarta sendiri misalnya ada hampir 120 penerbit dan katakan saja 50 persen yang sehat dan katakan pula bahwa setiap minggu satu buku yang mereka terbitkan. Hitung sendiri sajalah berapa buku yang terpajang di rak toko-toko buku. Belum ditambah buku-buku dari kota lain, seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Menyiasati kondisi demikian itu lalu orang memutar otak sedemikian rupa bagaimana mengejar kecepatan teknologi itu dengan kecepatan pula. Kata Shibusawa Eiici (1840-1931), untuk bisa mengejar kuda, ya pake kuda. Kata kita dan sekaligus harapan kita, kalau ingin mengimbangi arus bacaan yang datang seperti bandang muntahan itu, ya pakai metode membaca cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong membaca cepat, Evalyne Wood, konsultan dan pemotivasi membaca yang hebat dari Amerika, seperti diceritakan Putut Widjanarko di sebuah rubrik selisiknya, bercerita bahwa mendapatkan ide membaca cepat justru didapatkannya dari pengalaman yang berlangsung secara kebetulan. Tidak ada guntur tak ada hujan, suatu hari dia melempar bukunya yang mungkin menjengkelkan hatinya. Dia berharap bahwa buku itu jatuh di atas kasur atau minimal di atas meja, dan paling sial di lantai kering, sebab bagaimana pun menjengkelkannya buku itu tetap dicintainya. Dan astaga, buku itu jatuh di kubangan sampah. Dan Evalyne menyadari hal itu. Uh, uh, uh. Dia sangat menyesal. Diangkatnya buku itu dan ketika kekesalannya mereda dibacanya lagi buku itu sembari membersihkan kotoran yang melekat di buku itu dengan jarinya. Dan aha, tanpa sadar, setelah selesai membaca buku itu, dia ternyata telah membaca 50 ribu kata dalam 10 menit atau lima ribu kata per menit. Dari kasus itu dia kemudian mendirikan pelatihan yang membantu banyak orang meningkatkan kecepatan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin mengamalkan ajaran Evalyne Wood, Woody Allen seperti diceritakan kembali Collin Rose, seorang pakar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;accelerated learning&lt;/span&gt;, menyelesaikan novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;War and Peace &lt;/span&gt;yang gemuknya sangat aduhai itu dalam waktu 20 menit setelah mengikuti workshop membaca cepat. Ketika ditanya oleh rekannya apa gerangan isi perut si gemuk itu, dia dengan cuek minta ampun mengatakan, “Rusia!” Jawaban yang padat, jelas, ngawur, tapi masuk di akal. Hehehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca cepat tentu saja bukanlah tujuan. Sebab keterpahamanlah yang menjadi tujuan dalam membaca. Membaca cepat hanyalah metode. Dan metode ini bisa mengangkat kita dalam labirin bacaan yang tak jelas juntrungan di tengah banjir bandang buku di toko buku. Membaca cepat bisa pula dikatakan mencari gizi dari sebuah bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu digarisbawahi bahwa membaca cepat sangat tergantung buku apa sedang kita baca. Jika saja Anda dengan semangat bambu runcing mempraktikkan sistem membaca cepat pada buku-buku fisika, kimia, atau matematika dasar, atau teori kedokteran, maka pastilah hasilnya nol besar. Sebab jenis buku yang demikian hanya dibaca dan dikunyah sedikit demi sedikit. Dan buku-buku seperti ini memang paling pas untuk buku pengantar tidur. Setelah membuka lalu baca sedikit, Anda pun terkulai di atas bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu buku-buku apa yang dibaca cepat? Bisa novel, buku-buku bisnis, sosial, how to, agama, seni, dan seterusnya. Dengan satu syarat tentu saja: Anda tidak buta huruf. Ha ha ha ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collin Rose dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;K.U.A.S.A.I Lebih Cepat &lt;/span&gt;(Kaifa, 1999) dan Soedarso, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Speed Reading&lt;/span&gt;, (Gramedia, cet. 11, 2004) mengatakan bahwa membaca cepat memiliki beberapa efek. Kesatu, mencegah godaan membaca ulang atau regresi. Kerap sekali kita melakukan itu. Entah disebabkan tidak percaya diri bahwa kalimat yang sudah kita lewati terlupa atau karena kebiasaan yang dibakukan pendidikan kita yang selalu mentradisikan anak didiknya menghapal. Atau tiba-tiba muncul di benak yang membisikkan bahwa ada sesuatu yang tertinggal di belakang. Apa kalau Anda kembali, pasti Anda temukan apa yang tertinggal itu. Jadi, membaca cepat membuat kita bisa berlari sekencang-kencangnya. Serupa pelari. Atau serupa pencopet yang diuber massa. Anda tahu bahwa terkadang kepepetisme bisa meningkatkan daya kreativitas Anda dengan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek kedua, membaca cepat adalah upaya melepas ketergantungan Anda pada “mendengar” kata-kata yang di benak. Terkadang kita tak sadari, walau dalam kondisi mulut terkatup, kita masih bersetia mendengar bunyi yang menggema dalam pikiran. Kata-kata itu memanggil. Membaca cepat bisa menutup itu suara itu. Seperti maling yang ketika dikejar, tak mau memedulikan apa pun di sekelilingnya selain satu hal: tidak tertangkap. Dalam membaca, tidak tertangkap sang maling bisa berarti ini orang ngomong apa sih dan apakah berharga bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek ketiga, membaca cepat bisa melepaskan kita dari gerakan fisik yang tak perlu seperti menggerakkan kepala atau memakai jari atau memakai alat seperti lidi atau pensil mengikuti ke mana baris-baris melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek keempat, setara dengan efek mengemudi di jalan-jalan raya dengan kecepatan tinggi terus-menerus. Saat menurunkan kecepatan menjadi kecepatan “normal”, Anda akan heran karena mengira kecepatan 30 km per jam, padahal sebetulnya 60 km per jam atau lebih. Di sini, Anda telah mengubah persepsi kecepatan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang cara-cara dan teknik beserta ilustrasi membaca cepat bisa kita baca dalam buku Soedarso, Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Buku ini sangat kaya informasi dan insya Allah mudah dipahami. Bahasanya ringkas-ringkas dan banyak contoh. Saya kira buku ini sangat baik menuntun Anda bisa mengubah presepsi Anda tentang membaca buku, koran, atau daftar nomor telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini saya cuma mengatakan, bahwa untuk bisa mengefektifkan membaca cepat Anda mau tak mau harus mencintai buku. Anda tak perlu membaca buku Soedarso atau siapa pun kalau Anda mencintai buku, Anda akan temukan sendiri bagaimana cara Anda yang terbaik membaca buku. Saya sendiri, alhamdulillah menjalani ritual membaca bukan dalam ketergesaan, tapi dikarenakan saya suka. Walaupun saya juga seribu persen yakin bahwa munculnya buku-buku kiat membaca cepat sangat membantu kita untuk keluar dari cara membaca kita yang konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membaca Super&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collin Rose sebetulnya kurang sreg dengan istilah membaca cepat, tapi membaca super. Membaca cepat terkesan seakan-akan kita terus-menerus dikejar-kejar untuk cepat, cepat, dan cepat. Padahal, ada kalanya kita harus melambat. Ibarat dalam perjalanan dengan mengendarai motor, kita tentu tidak bisa terus-menerus lari dengan kecepatan 100. Sebab jalanan tidak selalu sama. Ada yang datar, lurus, berlubang, menanjak, menurun. Kalau jalanan menurun dan penuh lubang dan di kiri kanan jurang, dan Anda memaksakan lari 100, insya Allah Anda qo'it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca super adalah membaca yang efektif. Dan membaca yang efektif adalah dengan menuliskannya. Bukankah ingatan manusia sangat terbatas? Mungkin setelah membaca sebuah buku, ingatan Anda atas isi buku mungkin 80 persen. Tapi dua hari saja lewat, ingatan itu akan menurun sampai 40 persen. Seminggu langsung hilang, kecuali buku-buku yang memang memukau dan akan teringat sampai kapan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setelah membaca, marilah berusaha menuliskannya kembali. Insya Allah ingatan Anda akan 'kekal'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” kata Imam Ali bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-7822204842238967870?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/7822204842238967870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=7822204842238967870' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7822204842238967870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7822204842238967870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/07/pembaca-cepat-itu-seperti-maling-diuber.html' title='Pembaca Cepat Itu Seperti Maling Diuber Massa'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-6628278137696857403</id><published>2007-07-19T01:36:00.001-07:00</published><updated>2007-07-19T01:43:35.411-07:00</updated><title type='text'>Andai Saya Pegawai Perpustakaan</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 102, 204);"&gt;Oleh Agung Dwi Hartanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Andai Zen Rahmat Sugito ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI)....&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dia akan tahu bahwa pengunjung perpustakaan  tak menganggap perpustakaan sebagai gudang buku dan koran-koran tua yang apak. Pengunjung dan pelanggan tahu bahwa PNRI adalah surga. Di PNRI inilah, pengunjung bebas berpakaian apa saja dari kaos oblong hingga jas resmi. Pengunjung juga bebas mengenakan sandal, sepatu sandal, hingga sepatu. Satu yang tak diperkenankan, pengunjung yang tak berpakaian apa pun. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah senyum ramah para pegawai ditemukan. Meski juga terkadang didapati muka sangar seoarang satpam. Mereka siap menegur, pada mereka yang melanggar peraturan: membawa tas ke dalam ruangan. Sebabnya book crime kerap terjadi. Atau bentakan petugas di ruangan koleksi koran dan majalah tua ketika melihat pengunjung sembarangan membuka lembaran berharga yang renta itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi jika saya petugas perpustakaan....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Saya akan mengikuti nasehat saudara Zen, saya akan mencari kebijaksanaan. Seperti pegawai PNRI, saya akan melayani pengunjung dan pelanggan sebaik mungkin. Dari sanalah kebijaksanaan akan saya dapat. Seperti pegawai PNRI juga, saya akan sibuk melayani pengunjung selama Senin sampai Jumat. Tapi jika Sabtu, please ijinkan saya sesekali malas. Saya piket sendirian. Empat teman saya libur. Saya tak sanggup melayani 5 sampai 10 pelanggan atau pengunjung dalam 6 jam. Please....maklumi saya...saya juga manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pegawai PNRI, saya akan juga belajar dan banyak membaca dari pengunjung dan pelanggan. Kecerdasan saya akan makin bertambah, jika pengunjung cari data yang “aneh-aneh”. Apalagi jika mereka mencari buku, majalah, koran yang asing di telinga saya. Dengan seperti itu, otomatis saya ikut membaca, minimal tahu judulnya. Seperti pegawai PNRI, pengetahuan saya akan bertambah akibat terbiasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk ketika pegawai PNRI di lantai 7 bisa membandingkan wajah Hasyim Ashari muda yang jauh lebih tampan dibandingkan, maaf, anaknya. Juga Semaun yang, maaf, bertubuh kerdil. Mereka jadi kenal Tirto Adhi Soerjo, karena ada pengunjung yang meminta dicopykan sebundel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan Prijaji&lt;/span&gt;. Pengetahuan ini didapatkan dari pesanan buku, koran, majalah dari pengunjung yang asing di telinga mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini saya berkesimpulan, di perpustakaan berlaku simbiosis mutualisme pengetahuan. (Saya bingung harus mengutip siapa untuk menggambarkan hal ini.) Saya yakin perpustakaan adalah muara pengetahuan, tempat bertemunya beragam pengetahuan. Bukan hanya pengetahuan yang tersedia dalam teks, tapi juga pengetahuan lain yang tak dituangkan dalam teks. Seperti contoh makna sabar bagi pengunjung yang menunggu pelayanan petugas yang lambat. Sebaliknya petugas yang muski bersabar melihat pengunjung yang datang ke perpustakaan hanya untuk ngobrol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi, andai saya pegawai perpustakaan....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Saya pasti tak lolos trainingnya saudara Zen. Ingatan saya tak mampu menghafal 10 ribu buku lebih beserta letaknya di perpustakaan. Ingatan saya begitu pendek. Sebagai gantinya saya justru akan memelajari bagaimana katalogisasi, pelabelan buku, meletakkan buku, merawat buku yang baik dan benar. Biar ketika ada pesanan pengunjung, saya akan dengan cepat bisa menyajikannya plus senyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Andai saya pegawai perpustakaan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya juga akan mengusulkan kepada Kepala Perpustakaan, pemerintah, pengusaha, dan semua orang yang peduli pada pengetahuan untuk membantu biaya perawatan buku, majalah, koran, dan semua koleksi di perpustakaan baik swasta atau negeri. Sebab saya kasihan jika biaya ini harus dibebankan pada pengunjung (pengakses perpustakaan). Saya iba pada para pengunjung sudra, seperti saya, yang ingin menggandakan data dari koleksi di perpustakaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah contoh tarif fotocopy yang konon untuk biaya perawatan koleksi buku, koran dan majalah di PNRI. Di PNRI berlaku logika: semakin tua semakin mahal. (Logika ini berbanding terbalik dengan logika tarif di Dolly, Sarkem, atau Saritem: semakin tua dan jelek, semakin murah.) Jika koleksi tarif fotocopy buku koleksi tahun &lt;1900-1920 seharga Rp 1000 per lembar, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya bisa hitung sendiri berapa ongkos yang dikeluarkan untuk buku setebal 100 lembar. Atau misalkan pengunjung bisa ikut mengoleksi sebundel cetakan pertama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Max Havelaar&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, atau mengoleksi hasil fotocopy-an sebundel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan Prijaji, Doenia Bergerak&lt;/span&gt;, atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sin Po&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ini kelihatannya sepele bagi yang berduit. Tapi ini bukan perkara duit semata. Perkara ini menunjukan bahwa akses pengetahuan di negeri bernama Indonesia begitu mahal. Mahalnya akses pengetahuan inilah, barangkali, yang menyebabkan koleksi buku, koran, majalah di perpustakaan dicuri, disobek, dan terjadinya kolusi di perpustakaan. Perkara ini tak hanya terjadi di PNRI tapi hampir di setiap perpustakaan dari Merauke hingga Sabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dengan memfotocopy itu ada semangat untuk mendokomentasikan, merawat, dan rasa memiliki terhadap catatan peradaban manusia. Saudara-saudara bisa bayangkan, andai suatu saat koleksi buku, koran, dan majalah kuno satu-satunya di perpustakaan lenyap. Dari sini bisa ditarik kesimpulan, menggandakan koleksi kuno berarti juga ikut menyelamatkan peradaban manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Andai saya pegawai perpustakaan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya akan meminta semua orang seperti Luis Borges. Menjadi seperti Borges yang terus membaca sampai buta dan ajal menjemput bukan hanya tanggung jawab pegawai perpustakaan atau pustakawan. Membaca itu perkara universal. Setiap manusia seyogyanya terus membaca tak hanya yang berupa teks tapi juga realitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh!!! Apa yang barusan saya tulis kok lama-lama menggurui bukannya berandai-andai? Maafkan saya pembaca, jika harus berbagi pengalaman selama kurang lebih setengah tahun menjadi pengunjung harian di  PNRI. Di sana saya tahu PNRI bukan hanya menjadi surga bagi pengunjung dan peneliti tapi juga bagi para pegawai yang diberi “kenikmatan” orang yang ingin menggandakan buku atau koleksi lainnya. Duh Gusti...duit kok jadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dyldo&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-6628278137696857403?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/6628278137696857403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=6628278137696857403' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/6628278137696857403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/6628278137696857403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/07/andai-saya-pegawai-perpustakaan.html' title='Andai Saya Pegawai Perpustakaan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-7856682147415841698</id><published>2007-07-07T16:11:00.000-07:00</published><updated>2007-07-07T16:13:43.887-07:00</updated><title type='text'>Andai Saya Kepala Perpustakaan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Zen Rahmat Sugito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seandainya saya Kepala Perpustakaan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin semua pengunjung tahu bahwa perpustakaan yang saya pimpin tak lebih dari gudang penyimpanan buku dan kertas-kertas tua yang apak. Saya ingin pengunjung sadar bahwa perpustakaan adalah surga. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perpustakaan adalah surga, tak akan saya biarkan ada pustakawan yang memarahi pengunjung hanya karena dia menggunakan sandal jepit, hanya memakai kaos oblong, atau karena bajunya tak dimasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sepertinya sepele. Tapi, dengan melayani pengunjung dengan ramah dan bersemangat, pustakawan bisa memainkan andil besar dalam upaya mencerdaskan bangsa ini lewat kerja-kerja kecil nan sepele namun bisa begitu berharga di sebuah negeri dengan minat baca masih kelas jongkok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seandainya saya Kepala Perpustakaan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya akan menegaskan pada semua calon pustakawan bahwa pustakawan tidak sama dengan "karyawan perpustakaan". Pustakawan sama derajatnya dengan para ilmuwan, cendekiawan, dan orang-orang hebat yang menghabiskan waktunya dengan mencari kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Socrates pernah bilang: orang yang memiliki banyak pengetahuan akan mengerti bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui. Orang yang rendah hati macam itu biasanya tahu di mana ia bisa mendapatkan pengetahuan dan informasi yang belum ia kuasai dan ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik itulah pustawakan hadir sebagai "orang yang paling berpengetahuan" atau dalam artikulasi yang rendah hati, pustakawan bisa dibilang sebagai orang yang paling berpotensi membantu mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan. Sebab, hanya pustakawan saja yang mengerti di rak buku mana, di lantai berapa, dan di katalog mana buku atau naskah yang sedang dicari para pemburu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestikah diherankan jika jenius macam John Nash memilih menjadi pustakawan kampus sewaktu dinyatakan sudah sembuh dari penyakit schizoprenia. Dari perpustakaan tempatnya bekerja itulah ia bisa berdialog dengan mahasiswa cerdas dan bisa menggelar musyawarah sunyi dengan buku-buku yang melimpah. Dari sanalah ia meneruskan penemuan-penemuannya hingga ditahbiskan sebagai peraih Nobel Ekonomi pada 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara yang otoriter atau baru sedang belajar berdemokrasi, pustakawan adalah salah satu punggawa kebebasan manusia dalam menemukan, memilah, dan memamah bacaan dan pengetahuan. Pustawakan bisa menjadi komprador ketika ikut-ikutan menyembunyikan bacaan dan pengetahuan yang dianggap subversif. Tetapi pustawakan juga bisa menjadi pahlawan. Saya ingat, perpustakaan dan para pustakawan Ignatius, Kota Baru, Jogjakarta, misalnya, adalah satu dari sedikit sekali perpustakaan yang tetap menyediakan bacaan-bacaan subversif yang melimpah pada masa Orde Baru. Haris Rusli Moty, mantan ketua PRD di awal-awal reformasi, pernah dengan penuh takzim berterima kasih kepada para pustakawan di sana yang tetap melayaninya dengan ramah dan tak menaruh curiga kendati ia berkali-kali meminta buku-buku Karl Marx yang pada masa Soeharto menjadi bacaan liar dan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran sederhana itulah yang membuat pustawakan bisa berjalan dengan kepala tegak sebagai "penjaga kebebasan mencari pengetahuan dan informasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seandainya saya menjadi Kepala Perpustakaan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya akan men-training para calon pustawakan dengan cara menugasi mereka menguasai dan jika mampu menghafal judul-judul buku di salah satu ruangan yang sudah ditentukan. Mereka harus sesering mungkin berjalan di antara rak-rak buku sembari membaca judul-judul buku yang tercetak di punggung setiap buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika selama training mereka melakukan itu dengan konsisten dan bersemangat, mereka akan tahu dengan detail sebagian besar koleksi buku di ruangan tempat ia bekerja. Jika itu berlanjut terus, kita akan melihat pemandangan menyenangkan ketika ada pustakawan langsung menunjuk di rak mana persisnya sebuah buku yang ditanyakan pengunjung tanpa ia membuka katalog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan itu, saya ingin para pustakawan yang saya pimpin sadar bahwa buku-buku yang mereka rawat dan jaga setiap hari bukanlah benda mati seperti TV atau kuali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku adalah makhluk hidup yang akan bertumbuh dan berkecambah dalam kepala orang-orang yang membacanya. Dari orang-orang yang kepalanya dikecambahi bacaan itulah, buku-buku berikutnya akan dilahirkan. Buku adalah makhluk hidup karena setiap buku adalah pendahulu dari buku-buku yang akan ditulis kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan itu, saya berharap bisa menanamkan kecintaan para pustakawan kepada buku. Jika ada pustakawan yang marah karena pengunjung melipat halaman buku seenaknya, kemarahan itu bukan digerakkan oleh logika "petugas penjaga", tetapi kemarahan itu digerakkan oleh rasa sedih seorang pecinta buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sikap itu sudah muncul, jangan heran jika kelak ada pustawakan kita yang bisa menulis sehebat ini: Seorang pustakawan berkaca mata gelap bertanya kepadanya: Apakah yang Anda sedang cari? Hladik menjawab: Saya sedang mencari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustakawan itu menjawab: Tuhan itu ada pada salah satu dari beberapa kata di salah satu halaman buku yang berjumlah empat ratus ribu jilid (perpustakaan) Clementine. Saya sendiri sudah hampir buta semata-mata karena terus mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun membuka kaca mata gelapnya, dan Hladik melihat mata pustakawan itu, yang telah lama mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf-paragraf itu ditulis Jorge Luis Borges, peraih Nobel Sastra 1986, dalam salah satu ceritanya berjudul "The Secret Miracle". Borges pada masa mudanya pernah menjadi pustawakan di Municipal Library dan pada usia dewasa ia menjadi Director of the National Library of Argentina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika matanya divonis terancam buta, ia disarankan menghentikan kegiatan membaca. Alih-alih menghentikan membaca, Borges malah memerbanyak bacaannya. Katanya, "Saya harus membaca sebanyak mungkin karena saya tak mau dikalahkan oleh kebutaan dalam perlombaan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges adalah penulis hebat yang memulai karirnya dengan menjadi pustakawan.&lt;br /&gt;Aih, semua yang saya tulis barusan sepertinya hanya mimpi dan igauan, persisnya mimpi seorang penjaga taman bacaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-7856682147415841698?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/7856682147415841698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=7856682147415841698' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7856682147415841698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7856682147415841698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/07/andai-saya-kepala-perpustakaan.html' title='Andai Saya Kepala Perpustakaan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2589911966084287994</id><published>2007-06-25T01:21:00.001-07:00</published><updated>2007-06-25T01:23:43.020-07:00</updated><title type='text'>Musayawarah Buku, Musyawarah (Gagasan) Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Zen Rahmat Soegito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hidupnya, hanya dua malam dia tidak membaca buku: malam ketika ayahnya wafat dan malam pernikahannya. Ibnu ‘Arabi mengucapkan kalimat tersebut sewaktu mengomentari kehidupan “seniornya”, Ibnu Rushd. Saya menemukan kutipan itu di buku Mencari Belerang Merah yang ditulis Claude de Addas. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga saya berhenti membaca Mencari Belerang Merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya tiba-tiba berbelok pada Muhammad Hatta. Orang besar yang bersahaja itu pernah menulis begini: “Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku tetap bebas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengalami fragmen itu pada waktu dan tempat yang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, sekira pukul 5 sore, saya sedang duduk di depan Istana Negara di ujung Malioboro. Di bangku kayu sepanjang 2 meter, yang hanya berjarak 2,5 meter dari pagar besi Istana Negara, saya duduk sendiri. Malioboro begitu ramai. Jalanan dipenuhi kendaraan dan trotoar diramaikan oleh para pejalan kaki yang kebanyakan anak-anak sekolah yang sedang berwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru saja keluar dari arena Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2006 dengan membawa dua plastik besar yang isinya aku tukar dengan hampir gaji sebulan. Semuanya buku. Persisnya: buku-buku tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ ada 3 jilid buku Tata Negara Majapahit karangan Mohammad Yamin, sejilid besar buku Kapita Selekta karangan Mohammad Natsir, sejilid tebal Sarinah karangan Soekarno, buku Seratus Tahun Agoes Salim, buku Krisis Ekonomi dan Kapitalisme karangan Mohammad Hatta, buku Rantau dan Perjuangan karangan Soetan Sjahrir dan buku Pintu Tertutup) karangan Jean Paul Sartre. Sementara buku Mencari Belerang Merah saya beli satu jam sebelumnya di Shopping Center yang terletak di sebelah timur benteng Vredeburg yang menjadi arena FKY 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali Jean Paul Sartre, semua penulis yang bukunya ada di dua plastik itu pernah datang, duduk, menginap dan bahkan tinggal di Istana Negara yang berdiri anggun di hadapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan, orang-orang itu sedang duduk melingkar di sebuah meja. Soekarno tampak menoleh ke kiri ke arah cermin besar yang menampakkan wajahnya. Natsir sedang membetulkan letak kopiahnya. Hatta sedang membersihkan kaca matanya yang tebal. Agoes Salim sedang memandangi cerutu yang barusan ia nyalakan. Soetan Sjahrir duduk bersandar dengan kaki kiri menyilang di kaki kanannya. Mohammad Yamin sedang mengibas-ngibaskan pantalonnya yang kusut dan terperciki debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lagaknya yang khas, Soekarno tiba-tiba memajukan badannya. Tangannya bersidekap di atas meja besar bundar yang terbuat dari kayu jati yang berukir. Dia berdehem sebentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya membayangkan Soekarno berkata: “Saudara-saudara, musyawarah buku kita mulai!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat menyukai frase “Musyawarah Buku” yang oleh Khalid Abou el-Fadl dijadikan judul bagi bukunya yang terbit pada 2005 silam, Conference of the Book: The Search for Beauty in Islam. Ini salah satu buku kesayangan saya. Tersimpan di salah satu sisi rak buku saya yang tersembunyi, agar siapa pun tak tergoda meminjam atau mengambilnya. Buku ini berkali-kali saya baca dan tak pernah saya merasa bosan. Tiap kali saya merasa jenuh dengan buku, saya selalu membuka kembali buku ini, dan saya selalu mendapatkan semangat baru. Ya, semangat untuk kembali mengakrabi buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frase “Musyawarah Buku”, saya kira, bisa sedikit membantu menjelaskan bagaimana sebuah peradaban dibangun oleh ribuan perjumpaan, percakapan juga perdebatan orang-orang yang begitu mencintai buku, banyak di antara mereka adalah juga para penulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada “buku”, ada “adab”. Buku-buku yang saling bertemu, beradu, bersaing, bertanding dan berpolemik melahirkan “peradaban”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, saya kira, dibangun oleh banyak sekali orang, yang beberapa di antara mereka adalah para pecinta buku, para pemamah buku dan para penulis buku. Banyak sekali fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hal itu. Tidak terkecuali di Istana Negara di ujung Malioboro ini. Biarlah kali ini saya mengisahkannya sebentar. Kali ini saya tidak sedang mengkhayal tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 13 Agustus 1948, Musso yang baru kembali ke Indonesia setelah 13 tahun lamanya hidup dalam pembuangan di Sovyet, berjumpa dengan Presiden Soekarno dalam suasana hangat dan akrab. Seorang wartawan yang menyaksikan perjumpaan keduanya memberi testimoni: “Bung Karno memeluk Musso dan Musso memeluk Soekarno. Mata berlinang. Kegembiraan ketika itu rupanya tidak dapat mereka keluarkan dengan kata-kata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, Soekarno memuji Musso sebagai “jago pencak yang suka berkelahi, …yang kalau berpidato akan nyincing lengan bajunya”. Soekarno berharap agar Musso sudi membantunya melancarkan revolusi nasional yang lajunya masih terpatah-patah. Mendengar permintaan itu, Musso membalas dengan jawaban singkat, lugas dan sungguh menggetarkan: “Itu memang kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen (Saya kemari untuk membereskannya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berpisah, Soekarno masih sempat menyerahkan buku Sarinah yang baru saja diterbitkan itu sebagai kenang-kenangan. Soekarno meminta agar Musso bersedia membacanya di tengah kesibukan revolusi. Musso menerima buku itu dengan senang hati dan berjanji akan menyerahkan buku karangannya beberapa waktu mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musso terbukti menerbitkan buku beberapa pekan berikutnya. Buku tipis itu ia juduli Djalan Baroe dan selanjutnya masyhur dengan sebutan Djalan Baroe Moesso. Tetapi buku inilah yang menjadi awal dari perpecahan Soekarno dan Musso. Djalan Baroe terbukti menjadi pamflet yang berisi langkah-langkah revolusioner yang akan diambil Musso setelah sebelumnya mengambilalih pengaruh PKI dari tangan Amir Sjarifuddin, Tan Ling Djie, dkk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku tipis Djalan Baroe inilah peristiwa berdarah Madiun 1948 muncul. Peristiwa pertemuan Soekarno dan Moesso yang diikuti acara bertukar buku itu berlangsung di gedung yang sore ini hanya sepelemparan batu jaraknya dari tempat saya duduk. Buku Sarinah yang diserahkan Soekarno kepada Moesso di Istana Negara Jogja juga ada di kantong plastik di pangkuan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihubungkan oleh banyak koinsidensi itulah catatan-catatan saya ihwal Indonesia dan buku ini dimungkinkan lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau sudah mengingat bagaimana hubungan antara Indonesia dan buku, tidak bisa tidak saya akan langsung ingat kutipan Hatta yang sangat terkenal yang sudah saya sebutkan di awal tulisan ini: "Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku tetap bebas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung ingat kutipan itu karena kutipan itu pula yang selalu saya pajang di halaman iklan layanan masyarakat di sebuah jurnal mingguan yang saya kelola setahun lalu di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta, lewat kutipannya itu, tampak benar sebagai orang yang sangat mencintai dan menghargai buku. Jika ingatan saya tidak berkhianat, kutipan itu muncul dalam buku Memoir yang ditulis Hatta sendiri. Kutipan itu muncul dalam konteks ketika Hatta sedang mengisahkan hari-harinya yang sepi di tanah buangan di Digul pada 1934, yang lantas berlanjut di pulau Ende pada 1936.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira orang tak cukup alasan untuk menyebut kutipan itu tak lebih sebagai sok pamer atau “waton nggaya” (kalau kata orang Jogja). Bukti konkrit dari kutipan Hatta itu bisa kita temukan dalam buku Alam Pikiran Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu ditulis selama pembuangan Hatta di Digul yang berlanjut di Ende. Hatta memang memutuskan untuk menghabiskan waktu pembuangannya dengan melakukan studi mendalam ihwal filsafat Yunani klasik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan itu, Hatta meminta bantuan kawan-kawannya di Batavia untuk mengirimkan buku-buku yang ia butuhkan yang sudah ia kumpulkan sedari ia sendiri masih berada di Belanda. Tiga peti besar datang sewaktu Hatta sedang berada di Digul. Satu peti buku menyusul sewaktu Hatta sudah berada di pulau Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah Alam Pikiran Yunani lahir. Daniel Dhakidae pernah menulis esai cemerlang ihwal bagaimana buku Alam Pikiran Yunani memengaruhi cara pandang Hatta atas realitas dunia politik. Hal yang sama pernah ditunjukkan oleh Ignas Kleden yang secara spesifik menunjuk bab tentang Socrates dalam buku Alam Pikiran Yunani sebagai bagian yang amat memengaruhi Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ignas menyebutnya sebagai “etik Socrates”: satu cara pandang memerlakukan politik sebagai seni memertahankan prinsip (the art of principle) dan bukan seni untuk mencapai tujuan seperti yang dibayangkan Otto van Bismarck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sangat menyukai buku ini. Dan seperti juga Hatta, saya sangat menyukai bab yang mengisahkan pemikiran dan kehidupan Socrates. Di buka oleh buku Hatta itulah saya mengumpulkan remah-remah tentang Socrates sebanyak mungkin. Dari situlah akhirnya saya menemukan dan membaca dengan penuh takzim “Naskah Apologia”, “Naskah Ion dan “Naskah Krito”; tiga naskah yang berisi kesaksian Plato atas ucapan-ucapan Socrates. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini Hatta tidak unik. Hatta, saya kira, hanyalah satu dari sekian eksemplar contoh bagaimana para pemimpin pergerakan tak pernah bisa dan tak pernah mau berjauhan dengan buku bahkan kendati sedang berada dalam pengasingan dan pemenjaraan sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para intelektual yang banyak melakukan aktivitas politik, pengasingan justru menjadi meomentum terbaik untuk lebih memerkaya batin dan memertajam perspektif. Bagi orang seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, atau Gramsci hingga Jamaluddin al-Afghani, pengasingan dan pemenjaraan dihayati tak ubahnya sebagai laku yogi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laiknya seorang empu keris, waktu yang lapang, tenaga yang penuh dan laku batin yang khidmat, digunakan untuk menempa-lipat bahan baku keris yang beratnya puluhan kilo menjadi keris yang siap pakai dengan bobot hanya ratusan gram saja. Penjara, dengan menggunakan analogi empu keris, adalah tempat terbaik bagi para intelektual untuk menempa-lipat bahan baku yang dimilikinya untuk dijadikan ratusan helai tulisan yang punya pamor cemerlang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, begitu kurun pengasingan itu usai terlewati, ketajaman perspektif, kedalaman batin serta kekukuhan keyakinan menjadi modal berharga untuk melanjutkan jalan hidup yang dengan sesadarnya diabdikan untuk hidup dan kehidupan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan Hatta menulis Alam Pikiran Yunani, Sjahrir dari hari ke hari menuliskan catatan ihwal banyak pokok yang ia minati, dari soal kebudayaan, politik, seni, kesusastraan, psikologi massa hingga ekonomi politik. Catatan-catatan itu ia kirimkan dalam bentuk surat kepada istrinya di Belanda, Maria Duchateau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat-surat inilah yang kelak terbit dalam bentuk buku dengan judul Indonesische Overpeinzingen (dalam edisi Indonesia berjudul Rantau dan Perjuangan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ragu untuk menyebut karya ini sebagai salah satu renungan kebudayaan paling cemerlang yang pernah ditulis oleh seorang anak bangsa. Buku ini dipenuhi oleh refleksi dan komentar Sjahrir atas pelbagai gagasan kebudayaan yang serius. Kita akan menjumpai bagaimana Sjahrir membelejeti pokok pikiran sekaligus kepribadian Johan Huizinga dengan Ortega y Gasset. Berkali-kali Sjahrir bercerita bagaimana impresinya atas karya-karya Nietzsche, Dante, Dostoyevski hingga Benedotte Croce. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menunjukkan keluasan erudisi seorang Sjahrir adalah kemampuannya meletakkan setiap pokok gagasan dalam konteks alur perkembangan sejarah intelektual dunia. Sjahrir mampu menjelaskan seperti apa “hubungan darah” antara satu filsuf dengan filsuf yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembacaan yang lebih detail ketimbang sebelumnya, Sjahrir lebih punya kecenderungan memihak pragmatisme yang menjadi khas pemikiran di Britania Raya ketimbang rasionalisme Prancis atau romantisme Jerman. Sjahrir memang lebih dekat dengan Julian Huxley, John Stuart Mill atau Gustav Meyer dari Britania ketimbang Kant, Hegel, dan Goethe dari Jerman atau Andre Malraux dan Rosseau dari Prancis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sama ini pula yang dalam pekik perang kemerdekaan, persis saat pertempuran 10 November di Surabaya baru saja dimulai, masih sempat-sempatnya menerbitkan buku yang berjudul Perjuangan Kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Kita memang buku yang relatif tipis, tapi ini bukan buku sembarangan. Beberapa karib dekat Sjahrir menyebut pamflet itu menunjukkan cara berpikir Sjahrir yang ternyata begitu dekat dengan Mao Tse Tung sehingga bahkan ada yang berpikir kalau dua orang itu sempat bertemu. Franklin Weinstein, sarjana Amerika yang menulis disertasi seputar kaum elit Indonesia, menyebut Perjoeangan Kita sering dibandingkan dengan On New Democracy-nya Mao dan bahkan rakyat di dunia komunis menerima Perjoeangan Kita sebagai sumbangan yang setaraf dengan sumbangan Mao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sejarawan yang mengkaji politik Indonesia pasca proklamasi nyaris mustahil melewatkan Perjuangan Kita. Pamflet politik Sjahrir ini amat membantu menjelaskan bagaimana garis perjuangan Republik menghadapi tekanan politik, ekonomi dan militer Belanda yang berniat kembali menduduki koloni terbesarnya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah ilmuwan yang mengkaji politik Indonesia pada periode 1945-1949, semisal Ben Anderson dan George Kahin, punya kesimpulan yang nyaris sama kendati dengan impresi yang berbeda: Perjuangan untuk keluar dari jepitan Belanda nyaris sepenuhnya bergerak di sepanjang garis yang dirumuskan Perjuangan Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Perjuangan Kita inilah yang memaksa seorang penulis tangguh lainnya untuk menulis dan menerbitkan buku tandingan berjudul Moeslihat. Penulisnya adalah Tan Malaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka, saya kira, harus masuk dalam deret teratas para penulis Indonesia yang paling tangguh dan prolifik. Produktivitas dan stamina orang ini betul-betul tanpa tanding. Saya bahkan berani bilang: hanya kematian yang bisa menghentikannya menulis. Penjara, pengasingan, pembuangan dan penyakit akut tak akan pernah mampu membuatnya berhenti menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda bayangkan, di tengah situasi yang begitu berbahaya pada masa kekuasaan Jepang, Tan Malaka masih mampu menerbitkan sebuah buku dahsyat berjudul Madilog; sebuah buku yang bagi saya ditulis dengan semangat seperti Karl Popper menulis The Open Society and Its Enemies untuk menjelaskan, mempertahankan dan menguji ideologi demokrasi liberal, atau Karl Kautsky ketika menulis Die Materialistische Geschichtsauffassung, yang dianggap sebagai interpretasi materialistis terlengkap tentang sejarah pada saat terbitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, Popper menulis buku itu di lingkungan universitas, dengan rekan sejawat yang selalu bersedia mendebat dan dengan demikian memperkaya gagasannya, lengkap dengan perpustakaan yang selalu siap diakses kapan pun. Sementara Tan Malaka justru menulis Madilog dalam situasi yang sangat terbatas, tanpa buku-buku acuan, yang seluruh kutipan diambil dari ingatannya belaka, dan dalam persembunyian penuh marabahaya yang memaksanya menulis Madilog dengan huruf-huruf yang sangat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madilog adalah suara modern dari seorang Asia, seorang Timur, yang juga diperuntukkan bagi bangsa Asia, bangsa Timur, persisnya bangsa dan rakyat Indonesia yang masih diselimuti pola pikir mitis dan irasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madilog berbicara nyaris tentang semua aspek kehidupan, dari mulai filsafat, ekonomi, kebudayaan, sosiologi, sejarah hingga sains modern, yang meliputi dari matematika, kimia, fisika hingga astronomi. Dengan menulis Madilog, tampak benar betapa Tan Malaka sedang berambisi menguraikan keyakinan filsafat, politik dan ideologisnya secara terus terang, terbuka, dan komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pekerjaan yang tak sepele dan terbilang langka dalam tradisi intelektual Indonesia. Para pemimpin Indonesia kala itu, yang rata-rata para pemikir yang banyak bergulat dengan ide-ide besar, tak banyak yang mampu menggarap proyek raksasa sekelas Madilog. Banyak di antara mereka penulis prolifik yang memikat, tapi nyaris tak ada yang punya energi untuk mampu menguraikan semua keyakinan filsafat, politik dan ideologisnya sekomprehensif Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemenjaraan yang tak jelas selama periode 1946-1948, Tan Malaka tetap meneruskan aktivitas intelektualnya. Di penjara republik yang dingin itulah Tan Malaka, di antaranya, menulis From Jail to Jail atau Dari Penjara ke Penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini buku mengasyikkan, menurut saya. Membaca buku ini seperti membaca petualangan Scarlet Pimpernal dalam cerita Barones Orczy: penuh petualangan, intrik, marabahaya sekaligus romantisme seorang lelaki yang terasing dari tanah air yang setiap detik selalu ia pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penjara ini pulalah, Tan Malaka menulis buku tipis berudul Thesis. Buku ini murni polemis. Thesis bisa dibaca sebagai pledoi Tan Malaka atas tuduhan sebagai pengkhianat atau Trotskyis yang disematkan orang-orang PKI yang jengkel karena Tan Malaka tidak menyetujui rencana kudeta pada 1925 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, buku yang ditulis dan terbit di tengah sengkarut situasi dan politik yang tidak karu-karuan itu, masih sempat-sempatnya dibalas juga dalam bentuk buku oleh Alimin, orang lama dalam jajaran PKI. Buku tandingan itu berjudul Analysis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian: Thesis dibantah oleh Analysis. Buku dibantah oleh buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibangun oleh orang-orang yang sangat mencintai buku itulah Indonesia lahir dengan segenap-ganjil sengkarut dan intrik-intriknya. Sengkarut itu kadang memaksa seorang penulis Indonesia harus berhadapan muka dengan muka dengan penulis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Moesso versus Soekarno yang berujung kematian Moesso bukan satu-satunya kasus. Sejarah Indonesia juga mengenal kisah buku yang tragis dari seorang Amir Sjarifuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir adalah Perdana Menteri kedua dalam sejarah Indonesia. Dia naik sebagai Perdana Menteri menggantikan Soetan Sjahrir. Amir bukan orang baru dalam pergerakan nasional. Namanya sudah meroket sejak ia aktf di Gerindo. Dia ikut aktif membangun gerakan anti-Jepang pada masa Jepang sendiri sedang berkuasa di Indonesia. Sayangnya Amir tertangkap dan divonis mati oleh pengadilan militer Jepang. Hanya atas intervensi Soekarno dan Hatta sajalah Amir diampuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Perdana Menteri Amir tak banyak berbuat. Perundingan Renville memaksa dirinya lengser dari kekuasaan. Sejak itulah Amir makin bergerak ke “kiri”, terutama setelah Moesso datang kembali ke Indonesia pada Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan itulah yang membuat namanya tersangkut dalam peristiwa Madiun 1948. Beberapa jam sebelum di ekseskusi mati di Solo, Amir sempat mampir di Jogjakarta. Dalam pengawalan yang sangat ketat, Amir duduk sendirian di Stasiun Tugu, menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya ke Solo untuk ditembak mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika perwira yang bertugas menjaganya bertanya apakah membutuhkan sesuatu, Amir tidak meminta makan, minum, pakaian, atau apa pun. Permintaan terakhirnya adalah meminta buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka disodorkanlah buku Romeo and Juliet karangan William Shakespeare, satu-satunya buku yang dibawa oleh perwira yang menjaganya (bahkan seorang perwira dalam situasi perang masih sempat-sempatnya membawa buku!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, Amir menghabiskan waktunya di Stasiun Tugu dengan buku di tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kereta yang akan membawanya ke Solo untuk dieksekusi mati datang, Amir langsng naik ke gerbong yang sengaja dikosongkan. Ketika kereta bergerak ke arah timur dengan perlahan, tampak jelas ratusan orang berjubel di sepanjang rel ingin menyaksikan wajah mantan Perdana Menteri mereka yang hendak dihukum mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir, dikisahkan oleh Soe Hok Gie, tetap tenang dan penuh khidmat membaca buku Romeo and Juliet yang sedang berada di tangannya (saya pernah melihat foto karya Mendur yang berhasil memotret adegan ketika Amir sedang membaca Romeo and Juliet di gerbong kereta itu. Saya ingat, foto itu saya lihat di halaman 15 Kompas pada Agustus 2005. Hanya saja, saya lupa itu tanggal berapa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kehabisan tenaga dan waktu kalau harus mengisahkan satu demi satu fragmen sejarah yang bisa menggambarkan hubungan yang intens antara Indonesia dengan buku. Betapa banyak. Betapa melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ringkas ini sekadar menjadi pengantar ihwal sebuah “musyawarah gagasan” yang pernah berlangsung secara intens dan menjadi salah satu sebab dari lahirnya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat senang menyebut musyawarah itu sebagai “Musyawarah Buku”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2589911966084287994?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2589911966084287994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2589911966084287994' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2589911966084287994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2589911966084287994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/06/musayawarah-buku-musyawarah-gagasan.html' title='Musayawarah Buku, Musyawarah (Gagasan) Indonesia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-6735058295553573466</id><published>2007-06-04T18:11:00.000-07:00</published><updated>2007-06-04T18:13:41.267-07:00</updated><title type='text'>Menulis Lapar</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Ismanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1890, publik sastra Norwegia dibikin gempar oleh penerbitan novel Lapar (SULT). Novel itu seperti lukisan yang penuh dengan ketajaman persepsi, deskripsi psikis yang detil, dan alur cerita yang "meneror" pembaca dengan kenikmatan literer yang membuai. Tak lama kemudian, mulut Norwegia melafalkan nama penulis novel itu dengan penuh kekaguman. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel itu semi-autobiografis, berkisah tentang seorang penulis muda yang mahamiskin dan selalu kelaparan. Setiap hari dia menggelandang di jalanan kota Christiania karena tak mampu bayar sewa kamar dan membeli makanan. Namun, kesengkarutan hidupnya itu tak membikin dia lupa bahwa dia seorang penulis, yang tentu saja hanya bisa bertahan hidup dengan menulis --apa saja: artikel, cerita, puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saja aku punya sesuatu buat dimakan, sedikit saja, pada hari secerah ini! Gairah pagi yang indah menaungi aku, aku menjadi luar biasa peka, dan mulai bersenandung lirih karena rasa bahagia yang murni dan tanpa alasan tertentu. Di depan toko daging, seorang wanita yang menjinjing keranjang menimbang-nimbang saus apa yang tepat buat makan malam nanti; ketika aku melintas di hadapannya, ia menatapku. Giginya tinggal satu, bertengger di gusi bawah. Dalam kegugupanku, kulihat wajahnya membekaskan kesan yang tiba-tiba dan mengejutkan --gigi kuning yang panjang itu tampak seperti sepucuk jari yang mencuat keluar dari rahang bawahnya, dan ketika ia menoleh kepadaku, sepasang matanya berleleran saus" (Lapar: 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa lapar yang sangat ternyata tak sanggup mengikis nalurinya sebagai penulis. Dia tak bisa mencegah dirinya sendiri untuk terus mengamati sekeliling. Imajinasinya jalan terus, hingga dalam keadaan yang sangat tidak nyaman pun dia mampu secara alamiah mengambil jarak dan "menafsirkan" realitas yang menghampiri indera dan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dialami tokoh "aku" dalam Lapar, Knut Hamsund menulis novel itu ketika ia memang betul-betul sedang kelaparan. Hamsund lahir dengan nama Knut Pedersen di Lom, Lembah Gudbrandsdalen, Norwegia Tengah, sebagai anak keempat seorang penjahit. Karena ayahnya terjerat utang, Hamsund diwajibkan kerja-paksa pada seorang pemilik pertanian. Selama itu, ia tak boleh bermain dengan anak-anak yang lain. Untuk melawan kesepian, ia berkarib dengan buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak punya sejarah pendidikan formal yang mencukupi untuk mencari kerja dan hanya sempat mengikuti sekolah keliling. Maka, ia memutuskan untuk mengembara dan bekerja serabutan di daerah Nordland dan kemudian pindah ke Christiania (sekarang Oslo, ibu kota Norwegia). Sebagaimana tokoh "aku", Hamsund kala itu hanyalah seorang penulis muda yang tak punya kerja tetap, selalu kelaparan dan menggelandang di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pakaiannya compang-camping, sakunya selalu kosong dan kesehatannya buruk, ia tetap besikeras menjaga martabat diri dan pilihannya untuk menjadi seorang penulis. Hampir semua barang yang ia miliki selalu hilang karena digadaikan. Barang yang tak pernah ia gadaikan hanyalah peralatan menulisnya yang galib pada masa itu berupa pensil dan kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali artikel atau ceritanya dibeli koran sehingga ia punya sedikit uang untuk makan. Namun, honorarium itu tetap saja tak mencukupi untuk hidup layak. Walhasil, ia berkali-kali ditendang keluar oleh induk semang karena tak mampu membayar sewa kamar. Upah dari pekerjaannya yang serabutan juga tak membuat perutnya tenteram. Setiap hari ia bekerja keras dan menulis dengan perut perih karena lapar yang sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa serba tidak pasti itu, Hamsund tak selalu hanya mengeluh dan meratap. Naluri dan habbit-nya sebagai pengarang membuat ia selalu mengamati dan merenungkan setiap kemalangan yang menimpa dirinya: rasa lapar, dihinakan orang, miskin papa. Pengamatan dan perenungan itulah yang kemudian mendorongnya untuk menulis Lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika tokoh "aku" akhirnya memutuskan untuk menjadi awak kapal agar kehidupannya lebih terjamin, Hamsund tetap tinggal karena Lapar diburu orang sampai-sampai para pekerja percetakan harus kerja lembur selama berminggu-minggu. Hamsund berubah total, dari seorang penulis mahamiskin menjadi penulis jutawan yang bisa makan apa saja dan kapan saja ia mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Hamsund tak lantas menjadi manja dan terlena oleh kekayaan. Ia terus menulis dan menghasilkan beberapa novel lagi. Salah satu novelnya, The Growth of The Soil (MARKENS GRØDE), yang terbit pada 1917, membuat Panitia Penghargaan Nobel Swedia terpukau dan kemudian menganugerahinya penghargaan Nobel pada 1920.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis, Hamsund telah berhasil secara material maupun spiritual. Buku-bukunya dibaca banyak orang dan, yang lebih penting, ia tak lagi kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pengalaman pahitnya dengan kemiskinan dan rasa lapar tampaknya meninggalkan sayatan yang terlalu dalam untuk seorang Hamsund sehingga ia menyatakan diri bersimpati kepada Nazi --yang mencederai citranya sebagai penulis. Ia percaya bahwa manusia akan selalu bernasib malang, miskin, dan kelaparan seperti dirinya yang dulu, kecuali bila mau tunduk kepada seorang pemimpin besar, yang pada masa itu menubuh dalam sosok Adolf Hitler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai perang, Hamsund ditangkap dan dibui di sebuah rumah sakit jiwa, lalu dibebaskan karena tak cukup bukti untuk menghukumnya. Ia meninggal dalam kesendirian di Norholm, 19 Februari 1952. Setelah ia meninggal, pemerintah dan publik Norwegia merehabilitasi nama baiknya agar generasi Norwegia yang lebih kemudian, dan juga publik internasional, tetap menghormati jejak langkah salah satu bapa rohani mereka.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* An. Ismanto, kontributor Indonesia Buku(I:BOEKOE) Cabang Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-6735058295553573466?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/6735058295553573466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=6735058295553573466' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/6735058295553573466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/6735058295553573466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/06/menulis-lapar.html' title='Menulis Lapar'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-7933688244404200986</id><published>2007-05-10T17:20:00.000-07:00</published><updated>2007-05-10T17:23:04.347-07:00</updated><title type='text'>Dari Mata Turun ke Buku</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Zen Rachmat Sugito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantu marxisme sedang bergentayangan di Hindia Belanda. Sungguh, ini bukan plesetan kalimat Marx yang termasyhur itu. Tapi, seperti itu yang memang terjadi di Hindia Belanda di paruh pertama abad 20. Marxisme bergentayangan di banyak (isi) kepala para pemimpin pergerakan nasional. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Inglesson pernah mencoba menjelaskan hal itu dalam disertasinya yang lantas diterbitkan dengan judul &lt;em&gt;Jalan ke Pengasingan&lt;/em&gt; (1993). Kata Inglesson, “Daya tarik (marxisme) terletak dalam penjelasannya tentang situasi penjajahan dan filsafat determinisme historisnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi suatu generasi yang masih mencari identitas dan landasan pijak bagi visi nasional yang hendak mereka tegakkan, marxisme menjadi tempat berlabuh bagi kebutuhan akan ideologi pengikat yang memungkinkan untuk berlindung, walaupun untuk sementara, dari goncangan spiritual dan intelektual yang sedang mereka alami. Berdasar visi dialektika sejarah itulah, mereka yakin benar: kolonialisme (dan kapitalisme) sedang menuju “tiang gantungan sejarah”, untuk kemudian mampus! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Hatta cum suis jelas tak pernah berjumpa dengan Marx. Tapi Marx mewariskan buku: &lt;em&gt;Das Capital &lt;/em&gt;juga &lt;em&gt;Manifesto Komunis&lt;/em&gt;. Karena itulah Bung Hatta, juga Tan Malaka atau Bung Karno, mengenal visi dialektika sejarah: visi yang menurut Inglesson “sedikit banyak mempengaruhi keyakinan mereka bahwa perjuangan melawan kolonialisme suatu saat akan menuai hasil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku atau bacaan, tentu saja bukan satu-satunya anasir determinan yang membentuk kesadaran nasional para pemimpin pergerakan itu. Kesadaran mereka menggumpal oleh banyak sebab. Buku-buku yang dibaca adalah salah satunya. Selebihnya dan pada mulanya, kesadaran itu dipicu oleh pengalaman historis yang mereka alami dan yang disaksikan dengan mata kepala sendiri: betapa menderitanya dijajah dan diperbudak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Saijah, protagonis novel &lt;em&gt;Max Havelaar&lt;/em&gt;, ditanyai kenapa ia mencoba memberontak, ia akan menjawab: karena kerbau kesayangan saya dirampas Tuan Demang. Kita tahu, Saijah lantas didor marsose (polisi Belanda), “Si Penjaga Ketertiban”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah. Kesadaran nasional, kesadaran yang berujung pada hasrat yang menjompak-jompak menginginkan kemerdekaan, dibentuk oleh pengalaman pahit nan pedih dijajah, diperbudak, dan dihisap. Orang ingin merdeka karena karena ia “tahu” artinya tidak merdeka. “Tahu” di sini artinya juga “mengalami” dengan sepenuh rasa sakit dan robek. Dan semua tahu, bukan cuma Saijah, bahkan seekor semut pun akan menggigit jika diinjak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara “gigit-menggigit” jika diinjak, para moyang kita sudah banyak kasih contoh: Diponegoro, Pattimura, Imam Bonjol, dll. Tapi semua kandas. Generasi abad 20 mencari jalan “menggigit” yang lain, yang berbeda; yang tak melulu dengan keris dan rencong. Dari pengetahuan yang mereka candra dan sesap, baik dari guru-guru di sekolahan dan terutama dari buku bacaan, jalan itu pun mereka dapatkan: dengan mengorganisasikan diri. Ya… dengan organisasi. Maka, bak bunga di musim semi, bermekaranlah rupa-rupa perhimpunan pemuda, study club, dan akhirnya partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku-buku bacaan pula, mereka mendengar kabar bahwa bangsa Asia (Jepang, Tiongkok dan Turki) sudah banyak yang “bangun dari kemegahan kosong nan rapuh” masa silam, dan perlahan tapi pasti mulai sanggup bersaing dengan bangsa-bangsa Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar tentang kebangkitan beberapa bangsa Asia itu penaka obat mustajab yang mampu menyembuhkan sindrom rendah diri: bahwa bangsa Asia bisa maju dan bersaing dengan bangsa Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindrom rendah diri ini muncul diakibatkan serangkaian kekalahan, kehinaan dan bencana yang diderita hampir tak kunjung henti: VOC memukul Sultan Agung di gerbang Batavia pada 1629, Amangkurat III dimakzulkan VOC dan dibuang ke Ceylon pada 1707, Pakubuwono II menyerahkan seluruh pesisir utara kepada VOC sebagai imbalan tahta baru di Surakarta, VOC berhasil memaksakan pembagian kerajaan menjadi Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Mangkunegara pada 1755-57, Hamengkubuwono II diturunkan oleh Daendels pada 1809, Hamengkubuwono II dibuang ke Penang oleh Raffles pada 1812, Kasultanan Yogyakarta dipecah lagi dengan didirikannya Kadipaten Pakualaman pada 1814 dan terakhir Diponegoro dilumpuhkan dan dibuang pada 1830.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dimengerti jika para pemuda (Jawa) terpelajar yang telah banyak membaca sejarah Eropa, dan juga sejarah bangsa mereka sendiri, mulai melupakan Babad Tanah Jawi dan kitab-kitab lainnya. Di mata para pemuda terpelajar yang mulai bersentuhan dengan ilmu pengetahuan modern, kitab-kitab tua itu tampak mengandung paradoks yang kronis: di satu sisi berisi kemegahan dan pujian terhadap raja-raja yang ditahbiskan dewa-dewi lewat (pinjam frase Prof. C.C. Berg) “teja berapi” yang berkilau-kilau, tapi di sisi lain mereka telanjur mafhum bahwa raja-raja yang namanya diwiridkan dengan penuh puja-puji di kitab-kitab tua itu ternyata selalu berhasil dikangkangi bangsa Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebanyak-banyaknya mereka belajar dan membaca. Dengan itulah, dan bukan dengan mantra-mantra dari kitab Betaljemur Adammakna, Eropa bisa dilawan dan ditandingi. Tapi tak cuma membaca, mereka juga menulis lantas menerbitkan atau menyiarkannya ke khalayak. Maka hari ini kita kenal Indonesia Menggugat-nya Bung Karno, Madilog-nya Tan Malaka, Islam dan Sosialisme-nya Cokroaminoto dan tentu saja koran Medan Prijaji-nya Tirtoadisoerjo atau Doenia Bergerak, koran yang dipimpin Marco Kartodikromo yang galaknya minta ampun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan itulah, perlawanan terhadap Belanda memasuki babak baru: tak cuma dengan rencong dan keris, tetapi juga dengan pena dan kertas (baca: ilmu pengetahuan). Itulah sebabnya Ben Anderson, lewat esai panjang &lt;em&gt;Immagined Communities&lt;/em&gt;, menulis: selain runtuhnya kekuasaan universal (gereja Katolik-Roma) dan kerajaan-kerajaan dinastik, berkembangnya penerbitan dan percetakan yang memungkinkan tulisan para pemimpin pergerakan makin banyak dibaca khalayak adalah elemen terpenting dari kelahiran nasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada pantun berbunyi: “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”, maka saya juga punya pantun: “Dari mana datangnya nasionalisme? Dari mata turun ke buku.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-7933688244404200986?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/7933688244404200986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=7933688244404200986' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7933688244404200986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/7933688244404200986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/05/dari-mata-turun-ke-buku.html' title='Dari Mata Turun ke Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-1855774348276570118</id><published>2007-04-25T08:42:00.000-07:00</published><updated>2007-04-26T04:35:05.547-07:00</updated><title type='text'>Ibu, Bumi, dan Buku adalah Ibuku</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjCJVImBpmI/AAAAAAAAABc/np8c_5Ad_xE/s1600-h/kartini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjCJVImBpmI/AAAAAAAAABc/np8c_5Ad_xE/s200/kartini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057693377714300514" /&gt;&lt;/a&gt;April adalah bulan ketika Hari Kartini (21), Hari Bumi (22), dan Hari Buku Internasional (23) terpahat dalam susunan atau siklis kalender yang unik, berkesinambungan, dan memiliki kedalaman makna; bukan saja siklis itu mempertemukan hari seorang perempuan penulis diperingati, hari kala bumi diupacarai, dan hari ketika buku dirayakan, tapi juga trisum itu mempertemukan bagaimana pengetahuan diolah, dituliskan (cum digerakkan), dan diabadikan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini yang lahir pada 21 April 1879 atau dalam takwim Jawa 28 Rabiulakhir 1808 di Jepara, sudah lazim kita kenal sebagai ibu yang memperjuangkan emansipasi perempuan. Tapi lebih dari itu ia sejatinya “ibu penulis”; yang tak hanya berpengaruh di tingkat lokal, tapi menusuk sampai ke jantung kolonial di belahan Eropa (Netherlands). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini bukanlah orang yang terdidik formal. Ia hanya enam tahun mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (Sekolah Rendah Belanda) pada 1885 sejak usianya genap 6 tahun.  Atas prestasi itu pula Kartini menjadi perempuan kedua Pribumi yang mengenyam pendidikan dasar. Ia sudah mengiba-iba untuk masuk Hoogere Burger School (Sekolah Menengah Atas). Tapi tak beroleh izin. Malah ia disekam tujuh tahun lamanya dalam sangkar kadipaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pikiran tak pernah bisa tersangkar; sebagaimana Hatta pernah bilang: “Kalian bisa memenjarakanku; tapi selama aku bersama buku, aku tetap bebas.” Justru dalam sangkar rumahan itu Kartini belajar autodidak. Majalah atau koran terkenal seperti Maatschappelijk werk in Indie, De Gids, De Hollandsche Lelie, maupun De Locomotief dilahapnya. Karya Multatuli bertitel Max Havelaar dimamahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bacaan-bacaan itulah ia mengenal Revolusi Perancis dengan ketiga semboyannya yang terkenal: liberte, egalite, fraternite, roman-roman Eropa, gerakan perempuan Eropa, ruap atmosfer sosial-politik di Eropa, hingga laporan sidang-sidang Staten General (Parlemen Belanda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling monumental dari itu semua adalah korespondensinya dengan 12 orang teman-teman ‘maya’nya di Belanda. Surat-surat tersebar itu lalu disunting dan dikumpulkan Mr. J. H. Abendanon dan terbit pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Usai Gelap Berpendarlah Terang). Tapi karya Kartini bukan hanya itu. Tercatat ada dua buku kebudayaan yang membuatnya menjadi penulis sohor, yakni Het buwelijk bij de Kodjas (Upacara Perkawinan pada Suku Koja) dan De Batikkunst in Indie en haar Geschiedenis (Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya).  Buku yang kedua ini yang membawa ukiran Jepara melanglang ke pelbagai penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjCMc4mBpnI/AAAAAAAAABk/6KVkhDmPdhc/s1600-h/dewi+saraswati.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjCMc4mBpnI/AAAAAAAAABk/6KVkhDmPdhc/s200/dewi+saraswati.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057696809393170034" /&gt;&lt;/a&gt;Melihat deretan karya itu, maka Kartini bukan hanya pejuang emansipasi berkebaya, tapi juga ibu epistolari (ibu dalam tradisi bersurat) dan ibu penulis (buku). Sosoknya yang baru ini mengingatkan kita kepada Dewi Saraswati dalam tradisi weda. Dalam Wedanta, Saraswati di gambarkan sebagai kekuatan feminin dan aspek pengetahuan—shakti—dari Brahman. Ia adalah metafor dari dewi yang menguasai Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pengetahuan adalah feminin, maka bumi, baik dari sisi spiritual maupun mitologi, kerap digambarkan sebagai perempuan sebagai dewi. Maulana Rumi dalam sekuplet syairnya mengibaratkan langit adalah lelaki dan bumi adalah perempuan. Sementara mitologi Yunani tegas menunjukkan bahwa bumi adalah jelmaan seorang dewi bernama Alia dan penyanggahnya adalah Dewa Atlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertimbangkan hal itu, hari bumi itu pun diupacarai. Secara historis ‘upacara’ itu ditarik pada 22 April 1970, tatkala sekira 20 juta orang turun ke jalan mendukung usaha penyelamatan bumi dari angkara perang dan penggunaan teknologi yang tak senonoh. Momentum yang kemudian dikenal sebagai Hari Bumi itu tak lepas dari khotbah setahun sebelumnya oleh seorang senator Amerika, Gaylord Nelson. Dalam pidatonya di Seattle ia mendesak adanya usaha penyelamatan lingkungan hidup, membangun tradisi green politics, serta pendidikan dan pencapaian teknologi yang berbasis ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Bumi bukan saja sebagai hari bagaimana lingkungan mesti diurus baik-baik untuk keberlanjutan budaya hidup, tapi juga penghargaan kepada ibu yang secara simbolik tergores pada eksistensi bumi, serta bagaimana menjaga feminitas pengetahuan. Feminitas di sini bukan merujuk pada gender, tapi sebuah jerih kebijaksanaan manusia mencari dan mendayakan pencapaian pengetahuan untuk penyelamatan atas hasil-hasil yang ditumbuhkan bumi atau alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hanya buku yang mengabadikan semua pencapaian itu. Buku merupakan artefak pengetahuan tertulis yang tak saja merekam semua keletihan manusia mencari ajar kepada bumi, tapi juga mencatat apa saja yang sudah dirusak manusia dan apa saja yang sudah diawetkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjCNJomBpoI/AAAAAAAAABs/r4Jw0d61NUc/s1600-h/don+ngisor.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjCNJomBpoI/AAAAAAAAABs/r4Jw0d61NUc/s200/don+ngisor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057697578192316034" /&gt;&lt;/a&gt;Karena kesetiaannya merekam sejarah manusia bertumbuh dalam semesta (bumi), maka hari buku pun diperingati. Kalender Hari Buku Internasional dicomot dari sisi hidup duo penulis legendaris Eropa, yakni hari di mana Miguel de Cervantes Saavedra dikuburkan (23 April 1616) dan hari baptis William Shakespeare (23 April 1564). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tangan penulis Spanyol, Cervantes, lahir sosok Don Kisot yang mempengaruhi begitu banyak pengarang dunia. Don Kisot dari La Mancha adalah absurditas yang coba mengkritik rasionalitas totok dari modernitas. Carventes tak mesti teriak-teriak di jalanan untuk lancarkan kritik. Cukup dihadirkannya sosok Don Kisot yang anti-hero dengan gaya olok-olok. Sementara pada Shakespeare kita temukan kesuburan melahirkan karya dan sekaligus bagaimana karya itu dipentaskan sedemikian rupa kepada publik yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua penulis itu berjumpa pada satu momentum bagaimana komedi dan tragedi satire coba ditunjukkan dengan memikat untuk sebuah visi besar menahan dan mengolok-olok arus keserakahan manusia memporak-porandakan bumi. Dengan buku, kampanye usaha penyelamatan itu memungkinkan bisa berlangsung secara terus-menerus dan menyebar hingga ke ceruk-ceruk bumi terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu momentum 21, 22, 23 April adalah momentum penghormatan pada ibu penulis kita, refleksi atas ibu bumi di mana kita berpijak, serta penghikmatan atas ibu pengetahuan (buku) dari mana pencerahan terus-menerus kita cecap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, bumi, dan buku adalah ibuku. Maka trisum ketiga hari besar bagi peradaban itu bisa kita rangkum dan sekaligus peringati sebagai Hari Ibuku.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-1855774348276570118?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/1855774348276570118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=1855774348276570118' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/1855774348276570118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/1855774348276570118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/04/ibu-bumi-dan-buku-adalah-ibuku.html' title='Ibu, Bumi, dan Buku adalah Ibuku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RjCJVImBpmI/AAAAAAAAABc/np8c_5Ad_xE/s72-c/kartini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-2447433086276795516</id><published>2007-04-25T08:36:00.000-07:00</published><updated>2007-04-26T01:10:13.719-07:00</updated><title type='text'>Pada Sebuah Kapal Buku</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Ri92zomBpeI/AAAAAAAAAAg/P0xWeLPIcaQ/s1600-h/kapal+pelni.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Ri92zomBpeI/AAAAAAAAAAg/P0xWeLPIcaQ/s200/kapal+pelni.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057391536002672098" /&gt;&lt;/a&gt;Laut adalah penanda puncak peradaban Nusantara dan sekaligus menabalkan negeri ini beroleh gelar unik dan satu-satunya di dunia, sebagaimana dirumuskan M Jamin dalam sefrase judul sajaknya: “TANAH AIR”. Dari laut lalu muncul tradisi, pengetahuan, dan juga wibawa.  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya di laut meritokrasi bekerja secara alamiah dan apa adanya. Sebab di laut, resultan antara navigasi (pengetahuan), keberanian (psike), dan keterampilan (pengalaman) berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu seseorang, misalnya, tak bisa seenaknya mengaku-ngaku kapitan kapal andal karena laut akan langsung segera mengujinya dengan perubahan-perubahan cuaca yang begitu cepat dan tak terduga usai sauh dinaikkan dari bandar. Hanya mereka yang punya sangu yang bisa mengatasi risiko itu. Laut membuat seorang manusia bisa berdiri tegak dengan pengetahuan otonom yang dimilikinya. Seperti Kertanegara yang bangga dan penuh percaya diri menyerahkan perlindungan kekuasaannya dengan serdadu Dipantara yang berjaga di dua ketiak samudera Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di laut jualah maut datang silih berganti tak putus-putus. Di sana, cerita horor tentang buih gelombang yang disekujur ujungnya terselip belati-belati kematian dituturkan dengan meringis di pelbagai halaman surat kabar. Lalu laut bukan hanya kurir pengirim alamat buruk bagi nasib, tapi juga penyuntik trauma dan ketakutan yang panjang. Ia adalah teror yang menggendam nyali hingga ringsek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takkan pernah terlupa di ujung Banda pada purnama akhir 2004, laut menerkam daratan hingga nyaris menghapus letak kota dari peta. Ratusan ribu korban diciduk paksa yang membuat kita dan dunia ngungun seperti tak berdaya mendapati serangan laut tiba-tiba di Ahad pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 25 Januari 1981, laut Masalembo membakar dan mengaramkan KMP Tampomas II. Peristiwa yang memangsa 600 manusia itu dikenal sebagai tragedi laut terbesar di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya peristiwa terbakarnya kapal roll on roll off atau roro KMP Lampung di Pelabuhan Merak pada 16 November 2006 silam hanya pemanasan belaka. Sebab sekira sepurnama kemudian (29 Desember 2006), atau 76 tahun setelah Tampomas II, Masalembo kembali menjungkat KM Senopati Nusantara yang sarat penumpang dan barang. Hanya dalam hitungan menit kapal kecil yang dilambungnya bertulis “We Love Indonesia” ini meluncur mencium dasar laut dan merenggut nyawa sekira 450 penumpangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lekang media mengulas kecelakaan ini, kabar pada Kamis 22 Februari 2007 datang menyeradak. Kapal Levina I terbakar di Perairan Seribu dan menciduk nyawa 50-an orang. Kecelakaan ini pun antiklimaks, sebab dua hari setelah terbakar kapal ini terjungkat bersama para penyelidik kecelakaan dan wartawan peliput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita-berita maut dari laut ini ditulis dan ditayangkan secara dramatis hari per hari dan seakan berlomba dengan berita sengak dari udara, seperti raibnya pesawat Adam Air di dasar laut Makassar dan terpanggangnya Garuda di kebon kacang Adi Sutjipto Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar buruk dari laut itu pun kian sempurna ketika akhir tahun silam mencuat kabar bagaimana si mantan penjaga mercusuar laut, Rokhmin Dahuri, diseret ke bui atas tuduhan menyalahgunakan rezeki bahari. &lt;br /&gt;Lantas bagaimana berharap munculnya kreativitas mengelola dan hidup seirama laut jika kita senantiasa dikurung rasa takut dan sekaligus rasa muak kepada pemangku mercusuar laut yang rakus? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelni dan Indonesia Satu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berbicara tentang laut yang menyatukan daratan Indonesia, maka BUMN bernama PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) tak bisa ditampik perannya. Kapal-kapal merekalah yang siang-malam tak kenal lelah terus melayari dan menyinggahi pelabuhan-pelabuhan kecil di pelosok-pelosok Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka agak mengherankan ketika muncul perdebatan di seminar atau di kolom-kolom koran tentang pengelolaan pulau-pulau terluar, Pelni sama sekali tak disinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil misalnya diskusi buku &lt;em&gt;Menata Pulau-pulau Kecil Perbatasan &lt;/em&gt;pada 18 November 2006 silam di Banda Aceh yang menghadirkan pembicara, antara lain Pemimpin Redaksi Harian &lt;em&gt;Kompas &lt;/em&gt;Suryopratomo, Spesialis Perbatasan Negara Kolonel Rusdi Ridwan Dipl Cart, ahli hukum kelautan Universitas Padjajaran Prof Dr Hasjim Djalal, dan Pakar Fisika Laut Universitas Syiah Kuala Prof Dr Syamsul Rizal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang menarik, informatif, dan kaya, yang mengemuka dalam diskusi itu. Namun Pelni tetap tak punya tempat. Tiadanya yang menyinggung peran Pelni mungkin disebabkan lantaran tengah bergulat dengan kutukan beberapa kalangan untuk menutup saja BUMN ini lantaran terus merugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Matschappij (KPM), yang notabene sodara tuanya, Pelni memang tak ada apa-apanya, baik dari segi armada maupun trayek. Pelni disebut-sebut sebagai BUMN jago kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Pelni bukan semata soal bisnis, tapi juga soal budaya dan politik. Kompas edisi 28 April 2004 sudah menurunkan panjang lebar soal bisnis Pelni yang nyaris sekarat ini dan hal itu tak usah diulang di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang patut digarisbawahi ialah apa jadinya kalau Indonesia yang dipagari 17 ribu pulau dan lebih 250 pelabuhan ini tak memiliki kapal-kapal penumpang?&lt;br /&gt;Belum lagi jika meledak kerusuhan antaretnis seperti Ambon, Galela, Timor Timur, Sampit, hingga bencana besar seperti Tsunami Aceh, kapal-kapal Pelni-lah yang pertama-tama turun langsung dengan semangat “padamu negeri” membawa balabantuan atau mengungsikan ribuan penduduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, Pelni adalah pertaruhan politik nasionalisme pemerintah. Bagaimana pun keadaannya, pemerintah tetap memberi subsidi penuh kepada Pelni. Karena kedatangan kapal-kapal putih berbendera Pelni itulah warga di pelabuhan-pelabuhan pelosok itu tetap merasa bahwa mereka bagian dari Indonesia Raya. Sebab mereka merasa disambangi, diperhatikan, dan sekaligus mendapat kesempatan membawa diri ke kota-kota di Indonesia yang diimpikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bersama Kapal Buku Menunggang Gelombang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau selama ini Pelni rutin memuntahkan manusia dan barang dari dalam perutnya, kenapa tidak sesekali ia berkaok memanggil-manggil anak-anak pulau terjauh untuk datang membaca buku, menonton film bermutu, atau melihat book exhibition dalam perutnya yang kembung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kapal Pelni yang lain. Inilah kapal buku. Sudah bisa dibayangkan sejak awal bahwa pengadaan kapal-buku adalah proyek rugi. Namun ini adalah tabungan yang tak ternilai untuk masa depan (nalar) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran menghadirkan kapal-buku ini didorong dua alasan. Kesatu, Pelni memiliki beberapa bahtera yang sudah uzur dan tak kuat mengelilingi seluruh Indonesia. Paling-paling hanya bisa memutari satu atau dua pulau. Kedua, saat ini RUU Perpustakaan sedang digodok di Parlemen. RUU ini membahas banyak hal, terutama sekali manajemen Perpustakaan Nasional, invasi penguatan perpustakaan di daerah, serta pengadaan perpustakaan terapung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai Saudara, mahal betul rencana kapal buku atau perpustakaan terapung itu? Memang mahal; tapi bukankah ongkos untuk itu bisa dipundaki bersama. Ringan sama dijinjing, berat bisa ditanggung dermawan kaya-raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu penting pihak Perpustakaan bekerjasama dengan Pelni. Apalagi kapal-kapal Pelni sudah banyak yang batuk-batuk. Biasanya kapal-kapal ini dihibahkan kepada Angkatan Laut. Langkah Pelni itu sudah benar. Sebab serdadu laut butuh kapal banyak untuk menjagai laut Indonesia yang luas ini. Namun sesekali boleh dong memarkir sebiji atau dua biji kapalnya di Perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Perpustakaan bisa memakai jalan “swasta” dengan melobi orang-orang superkaya di Indonesia yang jumlahnya konon cuma 10 orang. Bisa juga kapal ini dibeli secara patungan. Misalnya, pihak perpusnas mengajukan proposal kepada ketiga maharaja media, seperti Dahlan Iskan, Jacob Utama, dan Surya Paloh. Kalau memang ini untuk kecesplengan nalar anak-anak bangsa pastilah mereka terketuk hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau uang dari 10 orang terkaya itu, ada misalnya berasal dari pendapatan yang haram atau korupsi? Gampang kok, anggap saja itu uang yang dikembalikan kepada negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, soalnya sekarang kembali pada bagaimana para pelobi tangguh Perpustakaan mendekati mereka ini. Kerap kali sosok-sosok kaya-raya ini adalah manusia dermawan. Kita saja yang tak tahu bagaimana cara merebut hatinya untuk sekadar menyumbang sebiji kapal baru untuk kepentingan bangsa lebih besar, yakni pemerataan pengetahuan dan pencerahan akal budi manusia-manusia di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayan kan Perpustakaan Nasional punya 10+1 kapal buku mewah yang membaca di dalamnya serasa membaca buku di kafe-kafe mewah di jantung Jakarta. &lt;br /&gt;Kapal-kapal yang didapat dari Pelni atau sumbangan dari dermawan kaya-raya inilah yang kemudian disulap menjadi ruang perpustakaan lengkap dengan fasilitas pendukung seperti ruang pameran, bioskop, cafe, dan sebagainya. Nah, untuk urusan sulap-menyulap ini Perpustakaan bisa menyerahkannya pada pihak Koja Bahari, Tanjung Priok, atau PT Pal, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nantinya kapal buku itu bisa dinamai dari penyumbang kapal ini: Kapal Buku DJS (berdasarkan urutan abjad, bukan kuantitas kekayaan), Kapal Buku Bakrie, Kapal Buku Liong, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kapal-kapal buku inilah seorang bocah di Teluk Wondama, Kab Monokwari, misalnya, akan dengan wajah berbinar memasuki kapal berpendingin dan betah seharian membaca buku. Atau menyaksikan bazar buku murah lengkap dengan acara diskusi buku dan temu pengarang beken dari kota-kota penting di Indonesia. Lalu sorenya si bocah pulang menjinjing dua biji buku cerita dan akan dikembalikan sepekan kemudian ketika kapal putih berbendera merah-putih secara reguler kembali merapat di pinggir pulau mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran kapal-buku milik Pelni dan Perpustakaan ini tak hanya menyusutkan sedikit demi sedikit rasa takut akan monster yang selalu datang dari laut, tapi juga mengabarkan bahwa di atas gelombangnya mengapung ribuan pengetahuan dan ketakjuban. Di sini, di kapal buku. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-2447433086276795516?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/2447433086276795516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=2447433086276795516' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2447433086276795516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/2447433086276795516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/04/pada-sebuah-kapal-buku.html' title='Pada Sebuah Kapal Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Ri92zomBpeI/AAAAAAAAAAg/P0xWeLPIcaQ/s72-c/kapal+pelni.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-86797065380435581</id><published>2007-04-18T17:58:00.000-07:00</published><updated>2007-04-26T01:12:56.142-07:00</updated><title type='text'>Magliabechi si Pemburu Buku</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Sri Wahyuningsih/Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Antonio Magliabechi. Hidup di Florentina pada abad 17. Ia adalah pemburu buku yang tak pernah lelah hingga orang-orang menjulukinya, ”si pemamah buku”. Dalam bahasa latin, namanya ditranskripkan menjadi Antonius Magliabechius, yang jika diacak huruf-hurufnya bisa menciptakan sebuah anagram berbunyi Is unus bibliotheca magna—“perpustakaan besar itu ya dalam diriku ini”. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magliabechi hidup mapan hingga usia 82, tetapi tak ada data yang memastikan kapan ia keluar dari kota kecil di Italia itu. Separuh hidupnya dihabiskan sebagai penyendiri virtual di antara tumpukan keping-keping buku. Lahir pada 1633 dari orangtua “kelas menengah ke bawah”. Ia pernah jadi buruh serabutan hingga tetangganya yang seorang penjual buku mengambilnya sebagai anak buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, kemampuan dan keterampilan bibliografisnya menanjak cepat. Tahun 1673, putra mahkota Tuscany, Cosimo II, mempekerjakannya di perpustakaan istana dan di sinilah Magliabechi selama 41 tahun berikutnya, “bersenang-senang tiada henti dalam kemewahan belajar-buku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya ingatnya luar biasa dan pengetahuan akan koleksi buku hebat sekali. Seorang Pangeran Florentina berkata, pernah sekali ia menanyainya salah satu judul buku langka yang wajib dikoleksi lagi. “Tidak, Tuan,” jawab Magliabechi. “Kopi buku itu hanya ada di Constantinopel, di perpustakaan Sultan. Volume ketujuhnya berada di rak kedua, tepat di kanan Anda jika masuk ke sana.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengagetkan lagi, semua hal tentang buku di luar Florentina yang diketahuinya didapatkan Magliabechi hanya melalui surat-menyurat detil yang ia lakukan dengan kolektor-kolektor penting, pegawai perpus, dan penjual buku di masa itu. Mestinya Magliabechi bisa tinggal enak di istana. Namun kesempatan itu tak diambilnya. Ia malah memilih tidur di ayunan kayu yang ia bentang di antara rak-rak dalam perpus dan dikelilingi gunungan buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang lelaki, segelintir orang mengejeknya, yang “hidup  di atas judul dan indeks buku, serta berbantal folio”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerapkan aturan ketat dalam mengakses buku-buku yang menjadi tanggung jwabnya, Magliabechi tumbuh menjadi intelektual tiran. Ahli sejarah Eric Cochrane bahkan berujar, ”Kondisi segala aktivitas skolar yang tak dapat dihindari selama akhir abad ke 17 dan awal abad 18 ialah takluk pada ensiklopedi skolar jelmaan, pustakawan Cosimo III. Magliabechi tak harus membuktikan pembelajarannya dengan menulis buku. Jumlah penulis yang menghubunginya untuk sebuah informasi membuat namanya selalu terpajang dalam jajaran orang penting pada lembar dedikasi dan ucapan terimakasih di separuh buku yang terbit selama ia hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magliabechi ditemukan meninggal pada 1714 dalam posisi terduduk di kursi rotan dan sekeping buku tergeletak di pangkuannya dalam kondisi terbuka dan tampaknya tak selesai dibacanya. Ia terlihat begitu dekil, awut-awutan, namun terlihat bahagia layaknya seorang raja sehabis memakzulkan musuh-musuhnya. Dalam surat wasiatnya ia meminta agar 3 ribuan koleksinya dipindahtangankan kepada pemerintah kota Florentina dengan syarat boleh dibaca publik tanpa pungutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama lebih dari seabad, koleksinya itu dikenal sebagai Biblioteca Magliabechiana. Tahun 1860, ia muncul dengan nama Biblioteca Palatina untuk membentuk/format Biblioteca Nazionale Centrale, di mana tetap eksis hingga hari ini. Biblioteca ini tiap harinya terus dimonitori diam-diam oleh patung yang selalu tersenyum dan bersolek dari seorang lelaki yang ”dalam dirinyalah perpustakaan itu berdiri”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7491373662362513605-86797065380435581?l=esaibuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esaibuku.blogspot.com/feeds/86797065380435581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7491373662362513605&amp;postID=86797065380435581' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/86797065380435581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7491373662362513605/posts/default/86797065380435581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esaibuku.blogspot.com/2007/04/mulanya-kertas-gulungan-dan-karet.html' title='Magliabechi si Pemburu Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7491373662362513605.post-6086944321503353382</id><published>2007-04-18T17:46:00.000-07:00</published><updated>2007-04-26T01:14:17.828-07:00</updated><title type='text'>Dari Kantor Pos ke Revolusi Informasi</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu meresmikan Perpustakaan Bung Hatta pada pekan terakhir September 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan agar masyarakat Indonesia membudayakan gemar membaca dan mengembangkan tempat gemar membaca atau perpustakaan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohlah India," kata Presiden, "negara itu menghadapi demikian banyak persoalan sebagaimana Indonesia. Tetapi hal itu mereka anggap sebagai salah satu imagination, karena India telah menguasai IT. Mengapa India bisa menguasai IT, karena bangsa India telah mengembangkan budaya belajar dan membaca."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, bukan hanya istana yang punya suara. Parlemen di Senayan pun sama sadarnya bahwa buku adalah salah satu fondasi utama bagaimana bangsa ini mampu melahirkan generasi-generasi unggul. Dan itu bukan sekadar wacana, melainkan dimulainya rencana pembahasan Rancangan Undang-Undang Perbukuan yang diajukan pemerintah via Departemen Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tiga pemangku kepentingan yang wajib termaktub dalam UU Perbukuan ini nantinya, yakni penulis, percetakan, distributor dan toko buku. Parlemen? Cukuplah ia pembuat aturan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah? Cukuplah ia pengadil di lapangan. Dan kini peraturan itu sedang digodok dan akan menjadi pedoman bagi para pelaku usaha di bidang perbukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Borong Hak Cipta &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam bidang perbukuan, profesi penulis tampak mewah dan cemerlang karena ia menjadi manusia terpilih yang tiap saat bergelut dengan idealisme dan kreativitas. Namun hanya sedikit nasibnya berkilau. Selebihnya, bertarung mati-matian dengan kutukan 3.000 eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buku itu, apalagi yang serius, memang melelahkan. Coba dengarkan keluhan penulis sekaligus cendekiawan Muslim Jalaluddin Rahmat di pembuka buku "serius"-nya, Psikologi Agama: "Menulis buku ilmiah tidak mudah, dan yang pasti tak menguntungkan. Tidak mudah karena kita harus punya banyak waktu dan duit; di samping perlu sedikit kecerdasan intelektual yang verbal. Tidak menguntungkan karena menguras waktu dan duit; di samping mendatangkan sejumlah besar tekanan emosional dan fisikal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena beratnya penanggungan ini, orang lebih memilih menulis makalah seminar ketimbang meniatkan diri menulis buku yang asli buku. Dan tentu pemerintah tak ingin membunuh penulis dan orang-orang yang akan memilih hidup di lajur ini. Karena itu, mesti ada upaya-upaya terobosan yang radikal dalam RUU Perbukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya bisa ditempuh beberapa jalur. Pertama, naikkan royalti mereka yang jika selama ini hanya 10 persen menjadi 20 persen per eksemplar buku. Kedua, pemerintah bisa membeli hak cipta buku-buku penulis dengan harga wajar. Harga itu sekaligus menjadi suntikan ekonomi agar penulis bisa mengakses pengetahuan-pengetahuan baru, sekaligus menghidupi keluarganya. Dengan demikian, posisi penulis tak hanya agung di tingkat peran dan anggapan, melainkan sejahtera di tingkat ekonomi dan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memberdayakan penulis pribumi, RUU ini mendorong pemerintah mengambil inisiatif radikal untuk memborong hak cipta penulis-penulis asing di se antero Eropa dan Amerika. Dengan memborong hak cipta itu, pemerintah pun bisa menekan lambungan harga buku dan sedikit memperbaiki muka bahwa Indonesia salah satu surga pembajakan buku dunia. Sekaligus, buku-buku yang selama ini secara eksklusif hanya beredar di antara penerbit-penerbit besar dan kaya-raya, bisa terfragmentasi dan sampai di tangan masyarakat dengan sangat murah, bahkan gratis didapatkan di perpustakaan-perpustakaan sekolah di pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Revolusi ’Balai Pustaka’ &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mendukung penuh ide Depdiknas dalam RUU Perbukuan untuk menyemarakkan keberadaan e-book yang digadang-gadang bisa berdampak efektif dalam Revolusi Kedua Gutenberg. Namun, yang jadi soal, seberapa jauh jangkauan masyarakat untuk bisa mengakses e-book ini karena ide ini mengandaikan tersedianya fasilitas komputer dan jaringan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang banyak pesimistis ide ini bisa terealisasi. Namun jangan lupa, pemerintah memiliki institusi lain yang bisa digerakkan, yakni PT Telkom. Terobosan Telkom ini, misalnya, sudah dinikmati pelajar-pelajar di lereng Gunung Slamet, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Masyarakat yang tergabung di dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat itu sebagian besar pelajarnya adalah petani. Namun mereka tak gagap teknologi karena mereka secara leluasa menjelajahi dunia lewat internet berkat akses telepon tanpa kabel (Telkom Flexi).&lt;br /&gt;Seturut pendapat praktisi internet Onno W Purbo, pengadaan internet di sekolah-sekolah sebetulnya bukan barang mahal, tapi supermurah. Cukup iuran bulanan Rp 5.000 atau bahkan Rp 1.000 per siswa, sekolah-sekolah di seantero Nusantara bisa menikmati perangkat internet. Dan, Onno yakin itu bisa dikerjakan secara swadaya. Tinggal soalnya, Telkom mau tidak mengubah paradigmanya, bahwa pembuatan internet itu murah meriah; bukan barang mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika e-book via internet masih impian Depdiknas, tak apalah. Namun jangan tinggalkan buku bermedium konvensional. Banyak praktisi buku dan media cetak masih berkeyakinan bahwa buku konvensional masih terlalu kokoh untuk tersingkir keberadaannya. Karena itu, cetak konvensional masih menjadi pilihan. Tapi bagaimana pemerintah bisa menggerakkan energi dalam percetakan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya dua hal bisa dilakukan. Pertama, pemerintah bekerja sama dengan penerbit- penerbit swasta (penerbit besar/mapan maupun rumahan) dengan cara mengatur perniagaan kertas sedemikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, selama ini yang paling dikeluhkan penerbit adalah mahalnya kertas yang ekuivalen mendorong naiknya harga buku. Jika pemerintah mematok kertas khusus untuk cetak dengan harga di bawah standar, maka kendala mahalnya harga buku bisa ditekan. Atau bisa juga pemerintah menentukan jenis kertas cetak murah yang bisa diambil dari kertas dengan teknologi daur ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara kedua adalah membangunkan kembali penerbit negara bernama Balai Pustaka. Penerbit ini pernah memiliki kecemerlangan. Karena tak bisa mengoreksi diri dengan zaman, ia pun tersuruk. Pilihan buku maupun visualisasi terbitannya tampak kusut, "jadul", dan sama sekali tak menarik. Maka, penting untuk merombak Balai Pustaka dan memasukkan manusia-manusia muda yang dinamis sehingga tak terkesan sebagai penerbit yang dikelola pegawai negeri dengan asal-asalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi langkah awal pemerintah adalah mengubah status Balai Pustaka menjadi penerbit publik, sebagaimana yang terjadi di institusi publik lainnya seperti TVRI dan RRI. Dengan b
